Korong Kuburan Massa
Pulau Aie Belum Bangkit
Pariaman---Setahun
sudah berlalu gempa bumi yang sangat dahsyat itu terjadi. Sebanyak 46
Kepala Keluarga (KK) di Korong Pulau Aie, Kenagarian Tandikek, Kecamatan
Patamuan, Padang Pariaman hingga kini masih setia menempati shelter
yang dibuatkan oleh Aksi Cepat Tanggap (ACT). Pulau Aie, merupakan satu
korong yang mengalami longsor akibat gempa diakhir September 2009 lalu.
Dikampung itu juga dikuburkan sejumlah anggota masyarakat secara massal
di dua tempat, yang pascalongsor itu sangat tidak memungkinkan untuk
digali lagi. Pulau Aie ini bertetangga dengan Korong Cumanak, yang
juga kampung yang ikut tenggelam. Banyak cerita dari kampung yang
mayoritas masyarakat bertani itu mengalir dari satu mulut kemulut
lainnya. Hingga saat ini, gempa dan longsor bagi masyarakat tersebut
adalah sebuah cerita, kisah sedih yang tidak akan pernah terlupakan.
Apalagi saat ini, cerita kelam yang ditinggalkan oleh gempa, adalah
hancurkan sumber perekonomian masyarakat. Dua irigasi, yakni Banda Baru I
dan II, yang sebelum gempa terjadi berfungsi untuk mengaliri sawah
masyarakat. Sejak kejadian itu tidak lagi berfungsi. Bantuan yang datang
pascagempa dari berbagai pihak, merupakan setitik air yang turun
ditengah padang sahara, yang sangat gersang. Sebanyak 178 rumah
masyarakat yang ikut hancur, rusak berat dan tenggelam bersama
penghuninya, hingga kini belum ada yang bangkit. Bagi masyarakat,
bantuan shelter yang diberikan ACT, sungguh tiada ternilai harganya.
Rumah berupa pondok dari kayu, yang tersusun berjejeran dengan rapi,
yang dilengkapi dengan sarana ibadah, olahraga, sekolah itu menjadi
tempat pertama bagi masyarakat, setelah 15 hari tinggal dengan apa
adanya. Ali Azwar, salah seorang keluarga korban longsor yang masih
hidup saat ini, melihat peristiwa demikian sungguh sebuah cobaan yang
maha dahsyat, yang diberikan Tuhan kepada hamba-Nya. Saat kejadian naas
tersebut, Ali Azwar tidak sedang berada dikampung. Dia tengah melakukan
sebuah keperluan ke negara tetangga, Malaysia. Nun jauh disana. Dia
menyimak peristiwa demi peristiwa itu lewat layar kaca, yang sengaja dia
tonton. Saat menyaksikan hal itu, hatinya sangat galau. Dia ingin
cepat-cepat pulang. Kalau saja tiket yang telah dia pesan itu bisa
dipercepat pas setelah melihat tayangan TV itu, otomatis dia langsung
terbang dari Kuala Lumpur ke Ketaping, Kecamatan Batang Anai, tempat BIM
beroperasi. Memang selama dia melihat apa yang ditayangkan TV, tak
satupun yang menyebut nama tujuh anggota keluarganya yang ikut
tenggelam. Istri serta empat anaknya yang masih kecil-kecil, ibu dan
ayah mertuanya ikut menjadi maut. Dan diantara sebanyak itu ada yang
terpaksa dikuburkan secara massal, lantaran tidak lagi mungkin untuk
terus digali saat itu. Kini, Ali Azwar yang juga putra Lubuk Alung itu,
masih merasakan betapa gelak dan tawa manja anak-anaknya, saat dia
pulang bekerja, begitu memanggil-manggil ayahnya. "Suara itu seakan-akan
masih menghimbau saya. Apalagi tatkala saya menziarahi makam mereka.
Kenangan manis dan pahit, hidup bersama keluarga sekian tahun sangat
susah untuk dilupakan," ceritanya. Rivai Marlaut, selaku walikorong
di kampung itu agaknya orang yang paling super sibuk. Walikorong yang
dikenal dengan jujur, dekat dengan masyarakat itu memang menjadi tulang
punggung bagi masyarakat yang tersisa di Pulau Aie tersebut. "Saat
kejadian Rabu menjelang magrib itu, saya baru saja usai mencukur rambut
di pasar Tandikek. Suara pekikan histeris saling bersahutan dari warga
yang tinggal di komplek pasar tradisional itu. Pandangan tertuju pada
pohon kelapa, yang dilihat banyak orang bagaikan terbang disebelah barat
pasar Tandikek. Suara gemuruh memecahkan kampung, yang selama ini
terkenal dengan aman, nyaman dan penuh dengan kedamaian telah
meluluh-lantakkan dan membenamkan sejumlah perkampungan," ujarnya.
Pertolongan pertama yang dicari Rivai Marlaut selaku pemimpin ditengah
masyarakat, adalah kantor polisi. Pria kurus itu langsung mandacak
hondanya dengan cigin ke Sungai Sariak, tepatnya Kapolsek VII Koto
Sungai Sariak, sebagai aparat keamanan yang menaungi tiga kecamatan,
yang dulunya satu kesatuan. Dia melihat pemandangan yang maha
mengejutkan. Banyak orang berkendaraan menuju arah kampungnya, bila
dibandingkan kendaraan yang menuju Sungai Sariak tersebut. Dia tidak
menghiraukannya. Baginya penyelamatan masyarakat adalah paling utama.
Sesampainya di kantor Polsek itu, hanya betemu dengan seorang petugas
yang sedang piket. Dia langsung meninggalkan nomor hp nya pada petugas
tersebut, dan langsung balik ke Pulau Aie, melihat dari dekat kondisi
sanak kemenakan dan masyarakatnya sendiri. Rivai merasa bersyukur
dengan adanya kesehatan yang prima yang dia punyai. "Selama 15 hari,
siang dan malam, nyaris tidak tidur. Sibuk kesana kemari, bekerja
menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan. Aparat yang pertama kali masuk
kekampungnya, yang berada di kaki Gunuang Tigo itu, adalah Brimob dari
Palembang, Sumatra Selatan. Mereka itulah yang pertama kali melakukan
evakuasi mayat, yang masih bisa diselamatkan. Dan seterusnya, berbagai
elemen masyarakat LSM, pemerintah dalam dan luar negeri yang datang
sangat cepat. "Bantuan yang diberikan berbagai pihak di Pulau Aie,
memang terasa banyak. Tetapi yang namanya bantuan, tetap saja tidak
sanggup untuk membangkitkan masyarakat secara utuh. Buktinya, hingga
saat ini belum satupun masyarakat yang bisa membangun kembali rumah
tempat tinggalnya. Kini tengah berjalan bantuan rumah dari Kanada, yang
telah dialokasikan untuk 110 rumah, yang terserak dalam tiga kampung di
Korong Pulau Aie ini, yakni Kampuang Palak, Mudiak Balai dan Sialangan.
Rumah bantuan itu saat ini masih dalam tahapan pengerjaan. Kita berharap
rumah itu segera dihuni oleh masyarakat," ungkap Rivai. Menurut dia,
sebagai tempat yang sangat bersejarah, kuburan massal yang ada di Pulau
Aie itu akan dibuatkan tugunya, sebagai tempat duka nestapa yang pernah
dialami masyarakat Pulau Aie. Upaya untuk mewujudkan itu masih disimpan
begitu saja, lantaran belum waktunya dibuka dalam rapat-rapat bersama
masyarakat. "Apalagi ditengah perekonomian masyarakat yang saat ini
tidak jalan, tentu sangat tidak layak hal demikian dibicarakan bersama.
Tetapi yang jelas, keinginan untuk itu menjadi sebuah keharusan
nantinya, untuk dikenang bagi generasi yang akan mewarisi kampung yang
cukup subur ini," kata Rivai bercerita. Penanganan Korban Gempa
Penangan korban gempa yang dilakukan Pemkab Padang Pariaman selama
setahun ini penuh dengan dinamikanya. Banyak pihak menilai, bahwa
penanganan gempa di Padang Pariaman penuh dengan carut marut.
Suara-suara sumbang ditengah masyarakat, hingga saat ini masih saja
bersileweran. Suasana buncah terhadap hal itu, persis seperti pembagian
Uang Lauk Pauk (ULP) diawal-awal kejadian gempa dulu. Tim fasilitator
gempa yang ditempatkan di seluruh nagari, telah menjadi problem
tersendiri. Padahal, anggota dewan terhormat bersama sebagian aparat
terkait lainnya telah melakukan studi perbandingan penangan gempa yang
terjadi di daerah lainnya, di nusantara ini. Tetapi yang namanya
penanganan gempa di Padang Pariaman tetap saja dinilai banyak pihak
tidak tepat sasaran. Mulai dari pemotongan uang korban gempa, yang
dilakukan oknum camat, disebagian kecamatan, pemotongan uang ini dan
itu, yang sampai detik ini masih menimbulkan kontroversi didaerah yang
baru saja usai melakukan Pilkada itu. Begitu juga bantuan yang
meresahkan terhadap aqidah masyarakat, juga masih mewarnai di sejumlah
perkampungan. Anehnya, yang jadi korban iming-iming bantuan dari Bank
Dunia, rampasan perang dan lain sebagainya itu banyak dari kalangan
induak-induak. Ratusan kaum hawa di Padang Pariaman, menurut kajian yang
dilakukan pihak berkopeten, dinilai tengah terancam. Bagi kebanyakan
perempuan Padang Pariaman, bantuan yang tengah dijanjikan dengan nilai
ratusan juta itu sangat penting artinya. Tak peduli, apakah bantuan itu
memang ada, atau hanya sekedar menpengaruhi masyarakat itu sendiri.
Kamis, 23 Agustus 2012
Catatan Dua Tahun Pascagempa 2009
Dua Tahun Gempa 2009
Masih Ada Masyarakat yang Mendiami Rumah tak Layak Huni
Tandikek---Batuan gempa 2009 dari pemerintah bagi masyarakat yang pernah mendiami kampung yang telah dicap sebagai zona merah, seperti di Korong Lareh Nan Panjang, Lubuak Aro dan Pulau Aie dalam Kenagarian Tandikek, Kecamatan Patamuan, Padang Pariaman agaknya belum punya arti apa-apa. Betapa tidak, masyarakat kampung lain, bantuan sebanyak Rp15 juta itu bisa merehab dan membangun lagi sebagian rumahnya. Namun, bagi masyarakat disana justru untuk melunasi beli tanah, karena mereka tidak boleh lagi mendiami kampung yang bernama Cumanak tersebut.
Apakah semua masyarakat sisa korban longsor itu yang mampu beli tanah ? Tidak. Buktinya, hingga kini telah dua tahun sudah gempa akhir 2009 berlalu, masih ada diantara mereka yang rela mendiami rumah yang tidak layak huni. Menurut Ardi Bastian, Walikorong Lareh Nan Panjang, sebagian masyarakat sisa korban longsong dikampungnya, disamping ikut beli tanah, juga ada yang pindah tinggal dikampung lainnya, bahkan diluar Padang Pariaman, seperti ke Bukittinggi, ikut bersama keluarganya.
"Soal tempat tinggal, walaupun ada sebagian kecil yang masih setia dengan rumahnya yang dinilai tidak layak huni, Alhamdulillah, semua masyarakat telah punya rumah kembali. Namun, persoalan ekonominya sama sekali tidak ada. Bagi yang tua-tua, untunglah punya anak yang tinggal dirantau, yang punya kepedulian pula, sehingga sesekali dikirimin uang. Mereka tinggal ditempat yang baru, tentu tidak bisa mendapatkan uang, seperti dilahan mereka sendiri," cerita Ardi Bastian.
Sebagai seorang pemimpin ditengah masyarakat, Ardi Bastian sejak kejadian gempa dan longsor dua tahun yang silam, hingga kini terus dengan kesibukkannya mengurusi masyarakat. Belakangan, dia juga ditunjuk menjadi tim dalam soal bantuan rumah sederhana dari Genesis, sebuah NGO dari Kanada. Ada 890 rumah yang dia kelola, tersebar di Kenagarian Tandikek, dan sebagian di Nagari Batu Kalang, Kecamatan Padang Sago. Rumah demikian sangat dirasakan masyarakat, ditengah sulitnya membangun rumah pascagempa.
Selama ini sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Padang Pariaman untuk membuat sebuah rumah butuh waktu lama, dan dengan julo-julo. Artinya, dibuat kelompok yang diisi sekitar 40-50 anggota. Setiap bulan dilakukan iyuran, dan bergiliran menerimanya. Ada yang dinamakan dengan julo-julo semen. Setiap bulan, anggota mengeluarkan uang serharga semen saat anggota lain menerimanya. Itulah tradisi kebersamaan yang sudah lama tertanamnya dikalangan masyarakat perkampungan daerah itu.
Ardi Bastian melihat perlu pendampingan bagi masyarakat. Sebab, lahan sawah dan ladang yang selama ini mereka garap, kini sudah tidak bisa lagi. Untuk itu, butuh pendampingan dalam membangun kembali perekonomian masyarakat. Apalagi, kondisi irigasi tak lagi mengalir seperti biasanya. Ini tentu sangat memprihatinkan.
Sementara, mantan Walikorong Pulau Aie, Rivai Marlaut justru menginginkan adanya pembangunan industri kecil yang difasilitasi oleh pemerintah. "Masyarakat yang tidak lagi dibolehkan tinggal dilahannya, telah tinggal berpencar-pencar. Mereka merasa kehilangan arah, untuk mencari sumber kehidupan barunya. Untuk itu, butuh pendampingan, sehingga mereka bisa kembali membangun masa depan yang lebih baik lagi," kata dia.
Memang, kata Rivai, soal rumah tempat tinggal, walaupun kondisinya saat ini masih dalam suasana mencicil tanah yang belum lunas, sudah bisa dikatakan oke, dan bisa dianggap aman bagi mereka bila dimalam hari. Masyarakat memberanikan diri untuk beli tanah dengan cara mencicil, karena tidak ada kepastian yang jelas soal transmigrasi lokal yang didengung-dengungkan pemerintah.
"Sebenarnya, kalau ada sosialisasi transmigrasi lokal itu terhadap masyarakat, kita yakin sebagian masyarakat akan menerima dengan senang hati. Tetapi hal itu belum pernah terjadi. Termasuk juga perlakukan khusus yang akan diberlakukan bagi korban longsor Tandikek, sampai saat ini juga tidak terwujud," sebut Rivai.
Disamping itu mereka berpendapat, untuk membangkitkan kembali gairah perekonomian masyarakat agaknya butuh irigasi yang sehat. Dikampung itu hanya ada sawah dan ladang sebagai ekonomi andalan masyarakat. Sejak longsor, irigasi tak lagi berfungsi. Seiring dua tahun perjalanan gempa dan longsor, saatnya pemerintah membangun fasilitas yang bisa memajukan sumber kehidupan itu lagi.
Memang, membangkitkan masyarakat yang tidak lagi mendiami kampung asalnya, butuh waktu panjang, dan banyak proses yang harus dilakukan, bila dibandingkan dengan membangkitkan masyarakat Padang Pariaman di kenagarian lainnya. Masyarakat korban gempa yang tinggal jauh dari lokasi longsor, boleh dikatakan tidak ada lagi persoalan, selain dari pencairan bantuan gempa bagi yang belum menerimanya sampai saat ini. Tetapi, bagi mereka yang disebut sebagai sisa longsor, harus tinggal dilokasi baru, memulai kehidupan baru, yang tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi tempat tinggal yang baru itu tidak disediakan pemerintah, atau pihak yang peduli, seperti LSM dan NGO yang sering memberikan berbagai bantuan pada saat gempa dulu. Mereka tinggal dikampung, tetapi harus menyewa atau dengan terpaksa mencicil uang untuk mendapatkan tanah buat bangun rumah, karena ada masyarakat yang punya lahan luas, dan mau menjual sebagian lahannya dengan cara mencicil, pun dengan harga yang sangat manenggang. Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Padang Pariaman, Anwar ketika dihubungi menilai persoalan transmigrasi lokal memang lokasi daerahnya telah ditentukan, yakni Kabupaten Lima Puluh Kota dan Kabupaten Dharmasraya. "Namun, kapan waktunya masyarakat akan dipindahkan, kita masih menunggu keputusan pemerintah pusat. Sebanyak 600 KK lebih dari daerah ini telah kita usulkan untuk tinggal didaerah transmigrasi demikian," kata Anwar.
"Menurut informasi dari pihak provinsi, untuk tahun ini ada jatah 100 KK yang akan ditransmigrasikan, namun hal itu belum tahu, apa ada jatah Padang Pariaman atau tidak, belum ada kepastian. Sebab, hal itu jatah untuk Sumatra Barat. Yang jelas, prosedural masyarakat yang akan dipindahkan, mengingat kultur kampungnya yang tidak lagi layak dihuni, telah kita selesaikan dengan baik dan benar," ujarnya. (damanhuri)
Masih Ada Masyarakat yang Mendiami Rumah tak Layak Huni
Tandikek---Batuan gempa 2009 dari pemerintah bagi masyarakat yang pernah mendiami kampung yang telah dicap sebagai zona merah, seperti di Korong Lareh Nan Panjang, Lubuak Aro dan Pulau Aie dalam Kenagarian Tandikek, Kecamatan Patamuan, Padang Pariaman agaknya belum punya arti apa-apa. Betapa tidak, masyarakat kampung lain, bantuan sebanyak Rp15 juta itu bisa merehab dan membangun lagi sebagian rumahnya. Namun, bagi masyarakat disana justru untuk melunasi beli tanah, karena mereka tidak boleh lagi mendiami kampung yang bernama Cumanak tersebut.
Apakah semua masyarakat sisa korban longsor itu yang mampu beli tanah ? Tidak. Buktinya, hingga kini telah dua tahun sudah gempa akhir 2009 berlalu, masih ada diantara mereka yang rela mendiami rumah yang tidak layak huni. Menurut Ardi Bastian, Walikorong Lareh Nan Panjang, sebagian masyarakat sisa korban longsong dikampungnya, disamping ikut beli tanah, juga ada yang pindah tinggal dikampung lainnya, bahkan diluar Padang Pariaman, seperti ke Bukittinggi, ikut bersama keluarganya.
"Soal tempat tinggal, walaupun ada sebagian kecil yang masih setia dengan rumahnya yang dinilai tidak layak huni, Alhamdulillah, semua masyarakat telah punya rumah kembali. Namun, persoalan ekonominya sama sekali tidak ada. Bagi yang tua-tua, untunglah punya anak yang tinggal dirantau, yang punya kepedulian pula, sehingga sesekali dikirimin uang. Mereka tinggal ditempat yang baru, tentu tidak bisa mendapatkan uang, seperti dilahan mereka sendiri," cerita Ardi Bastian.
Sebagai seorang pemimpin ditengah masyarakat, Ardi Bastian sejak kejadian gempa dan longsor dua tahun yang silam, hingga kini terus dengan kesibukkannya mengurusi masyarakat. Belakangan, dia juga ditunjuk menjadi tim dalam soal bantuan rumah sederhana dari Genesis, sebuah NGO dari Kanada. Ada 890 rumah yang dia kelola, tersebar di Kenagarian Tandikek, dan sebagian di Nagari Batu Kalang, Kecamatan Padang Sago. Rumah demikian sangat dirasakan masyarakat, ditengah sulitnya membangun rumah pascagempa.
Selama ini sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Padang Pariaman untuk membuat sebuah rumah butuh waktu lama, dan dengan julo-julo. Artinya, dibuat kelompok yang diisi sekitar 40-50 anggota. Setiap bulan dilakukan iyuran, dan bergiliran menerimanya. Ada yang dinamakan dengan julo-julo semen. Setiap bulan, anggota mengeluarkan uang serharga semen saat anggota lain menerimanya. Itulah tradisi kebersamaan yang sudah lama tertanamnya dikalangan masyarakat perkampungan daerah itu.
Ardi Bastian melihat perlu pendampingan bagi masyarakat. Sebab, lahan sawah dan ladang yang selama ini mereka garap, kini sudah tidak bisa lagi. Untuk itu, butuh pendampingan dalam membangun kembali perekonomian masyarakat. Apalagi, kondisi irigasi tak lagi mengalir seperti biasanya. Ini tentu sangat memprihatinkan.
Sementara, mantan Walikorong Pulau Aie, Rivai Marlaut justru menginginkan adanya pembangunan industri kecil yang difasilitasi oleh pemerintah. "Masyarakat yang tidak lagi dibolehkan tinggal dilahannya, telah tinggal berpencar-pencar. Mereka merasa kehilangan arah, untuk mencari sumber kehidupan barunya. Untuk itu, butuh pendampingan, sehingga mereka bisa kembali membangun masa depan yang lebih baik lagi," kata dia.
Memang, kata Rivai, soal rumah tempat tinggal, walaupun kondisinya saat ini masih dalam suasana mencicil tanah yang belum lunas, sudah bisa dikatakan oke, dan bisa dianggap aman bagi mereka bila dimalam hari. Masyarakat memberanikan diri untuk beli tanah dengan cara mencicil, karena tidak ada kepastian yang jelas soal transmigrasi lokal yang didengung-dengungkan pemerintah.
"Sebenarnya, kalau ada sosialisasi transmigrasi lokal itu terhadap masyarakat, kita yakin sebagian masyarakat akan menerima dengan senang hati. Tetapi hal itu belum pernah terjadi. Termasuk juga perlakukan khusus yang akan diberlakukan bagi korban longsor Tandikek, sampai saat ini juga tidak terwujud," sebut Rivai.
Disamping itu mereka berpendapat, untuk membangkitkan kembali gairah perekonomian masyarakat agaknya butuh irigasi yang sehat. Dikampung itu hanya ada sawah dan ladang sebagai ekonomi andalan masyarakat. Sejak longsor, irigasi tak lagi berfungsi. Seiring dua tahun perjalanan gempa dan longsor, saatnya pemerintah membangun fasilitas yang bisa memajukan sumber kehidupan itu lagi.
Memang, membangkitkan masyarakat yang tidak lagi mendiami kampung asalnya, butuh waktu panjang, dan banyak proses yang harus dilakukan, bila dibandingkan dengan membangkitkan masyarakat Padang Pariaman di kenagarian lainnya. Masyarakat korban gempa yang tinggal jauh dari lokasi longsor, boleh dikatakan tidak ada lagi persoalan, selain dari pencairan bantuan gempa bagi yang belum menerimanya sampai saat ini. Tetapi, bagi mereka yang disebut sebagai sisa longsor, harus tinggal dilokasi baru, memulai kehidupan baru, yang tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi tempat tinggal yang baru itu tidak disediakan pemerintah, atau pihak yang peduli, seperti LSM dan NGO yang sering memberikan berbagai bantuan pada saat gempa dulu. Mereka tinggal dikampung, tetapi harus menyewa atau dengan terpaksa mencicil uang untuk mendapatkan tanah buat bangun rumah, karena ada masyarakat yang punya lahan luas, dan mau menjual sebagian lahannya dengan cara mencicil, pun dengan harga yang sangat manenggang. Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Padang Pariaman, Anwar ketika dihubungi menilai persoalan transmigrasi lokal memang lokasi daerahnya telah ditentukan, yakni Kabupaten Lima Puluh Kota dan Kabupaten Dharmasraya. "Namun, kapan waktunya masyarakat akan dipindahkan, kita masih menunggu keputusan pemerintah pusat. Sebanyak 600 KK lebih dari daerah ini telah kita usulkan untuk tinggal didaerah transmigrasi demikian," kata Anwar.
"Menurut informasi dari pihak provinsi, untuk tahun ini ada jatah 100 KK yang akan ditransmigrasikan, namun hal itu belum tahu, apa ada jatah Padang Pariaman atau tidak, belum ada kepastian. Sebab, hal itu jatah untuk Sumatra Barat. Yang jelas, prosedural masyarakat yang akan dipindahkan, mengingat kultur kampungnya yang tidak lagi layak dihuni, telah kita selesaikan dengan baik dan benar," ujarnya. (damanhuri)
Rabu, 15 Agustus 2012
Zikir yang Baik
Al-hafiz Imam Al-Mundzirily dalam kitab Attarghiib wat Tarhiib menuliskan faedah-faedah berdzikir itu seperti berikut:-
1. Orang yang berdzikir itu diliputi oleh rahmat dan 'inayat Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dengan dzikir kita menunjukkan sangka baik kita terhadap Allah disertai amal sholih yang tekun dan rapi.
2. Allah menyebut nama orang yang berdzikir itu dalam udara yang tenang di hadapan hamba-hambanya yang suci dan ikhlas.
3. Orang yang berdzikir itu senantiasa menyibukkan dirinya dan hatinya dengan Allah. (Lidahmu selalu basah karena menyebut Allah.)
4. Memingit diri untuk berdzikir kepada Allah itu lebih afdhal daripada infaq yang banyak dan daripada membela tanah air, tanpa ikhlas.
5. Dzikrullah merupakan perbentengan dari was-was setan, dan pertahanan yang kuat daripada jatuh ke dalam kemaksiatan.
6. Dzikrullah salah satu dari empat perkara yang dapat menarik kepada kebahagiaan dunia dan akhirat dan yang memberikan kepada orang yang berdzikir itu kepercayaan yang sempurna, dan menghiasinya dengan sifat istiqamah dan kebaikan dan ketepatan pada amalnya serta kebenaran pada cara berfikirnya.
7. Dzikrullah itu menyinari hati dan membersihkannya dari kotorannya dan menuntunnya ke arah jalan yang besar dan menjadikannya hidup. Sedang orang yang tidak berdzikir hatinya rusak dan gelap, sedang dia dianggap mati.
8. Orang yang berdzikir telah mengikuti perintah-perintah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan mendapat kebahagiaan dari kebahagiaan.
9. Orang yang berdzikir itu datang di hari kiamat secara terhormat, dibesarkan dan dimuliakan.
10. Orang yang tidak berdzikir itu menyesal dan merasa susah kerana menyia-nyiakan dzikir.
11. Allah merasa bangga dengan orang-orang yang berdzikir itu di hadapan para malaikat-Nya.
12. Orang yang berdzikir itu adalah ahli kebaikan, pemilik kebahagiaan dan penghimpun dan pelaksana kebajikan.
13. Orang yang berdzikir itu menjamin keampunan dan meyakini ridha Allah Jalla wa'Ala dan mereka tidak akan berpaling dari berdzikir, melainkan apabila telah penuh lembaran-lembaran mereka dengan kebaikan-kebaikan, dan menampakkan Allahd engan pemberian nikmat atas mereka.
14. Dzikir-dzikir itu adalah ibarat phon kayu besar, buahnya sangat nikmat.
15. Dzikir mewariskan sifat kasih sayang yang merupakan ruh Islam, kutub pusaran agama dan tempat bererdarnya kebahagiaan dan kemenangan. Allah telah menjadikan segala sesuatu ada sebabnya, dan sebab kasih sayang ialah terus menerus berdzikir.
16. Dzikir mewariskan keperihatinan, tergolong ihsan.
17. Dzikir mewariskan inabah, iaitu kembali kepada Allah 'Azza wa Jalla. Orang yang selalu kembali kepada Allah dengan berdzikir menyebabkan hatinya selalu kembali kepada Nya dalam segala situasi dan kondisi. Allah tempat kembalinya, tempat perlindungannya dan kiblat hatinya ketika ditimpa malapetaka atau cobaan-cobaan.
18. Dzikir mewariskan selalu dekat kepada Allah. Menyebabkan lidah selalu sibuk dengan mengingat Allah, karena itul idah tidak akan terlibat lagi dalam pergunjingan, kedustaan, kata-kata yang kotor dan yang bathil.
19. Orang yang menangis kerana berdzikir di tempat yang sepi nanti akan dilindungi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala pada hari kiamat di bawah lindungan 'Arasy-Nya. Sedang orang banyak berada di bawah sengatan matahari yang panas.
20. Dzikir adalah ibadat yang termudah, tetapi yang terbesar dan yang lebih afdhal karena gerak lidah adalah gerakan anggota badan yang paling ringan dan paling mudah.
21. Dzikir itu adalah tanaman syurga. Menurut Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, "Barangsiapa yang mengucapkan subhaanalaahi wa bihamdihi (Maha suci Allah dengan memujiNya) akan ditanamlah untuknya pohon kurma di dalam syurga.
22. Dzikir itu adalah puncak kesyukuran keapda Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tidaklah dianggap bersyukur orang yang tidak berdzikir.
1. Orang yang berdzikir itu diliputi oleh rahmat dan 'inayat Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dengan dzikir kita menunjukkan sangka baik kita terhadap Allah disertai amal sholih yang tekun dan rapi.
2. Allah menyebut nama orang yang berdzikir itu dalam udara yang tenang di hadapan hamba-hambanya yang suci dan ikhlas.
3. Orang yang berdzikir itu senantiasa menyibukkan dirinya dan hatinya dengan Allah. (Lidahmu selalu basah karena menyebut Allah.)
4. Memingit diri untuk berdzikir kepada Allah itu lebih afdhal daripada infaq yang banyak dan daripada membela tanah air, tanpa ikhlas.
5. Dzikrullah merupakan perbentengan dari was-was setan, dan pertahanan yang kuat daripada jatuh ke dalam kemaksiatan.
6. Dzikrullah salah satu dari empat perkara yang dapat menarik kepada kebahagiaan dunia dan akhirat dan yang memberikan kepada orang yang berdzikir itu kepercayaan yang sempurna, dan menghiasinya dengan sifat istiqamah dan kebaikan dan ketepatan pada amalnya serta kebenaran pada cara berfikirnya.
7. Dzikrullah itu menyinari hati dan membersihkannya dari kotorannya dan menuntunnya ke arah jalan yang besar dan menjadikannya hidup. Sedang orang yang tidak berdzikir hatinya rusak dan gelap, sedang dia dianggap mati.
8. Orang yang berdzikir telah mengikuti perintah-perintah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan mendapat kebahagiaan dari kebahagiaan.
9. Orang yang berdzikir itu datang di hari kiamat secara terhormat, dibesarkan dan dimuliakan.
10. Orang yang tidak berdzikir itu menyesal dan merasa susah kerana menyia-nyiakan dzikir.
11. Allah merasa bangga dengan orang-orang yang berdzikir itu di hadapan para malaikat-Nya.
12. Orang yang berdzikir itu adalah ahli kebaikan, pemilik kebahagiaan dan penghimpun dan pelaksana kebajikan.
13. Orang yang berdzikir itu menjamin keampunan dan meyakini ridha Allah Jalla wa'Ala dan mereka tidak akan berpaling dari berdzikir, melainkan apabila telah penuh lembaran-lembaran mereka dengan kebaikan-kebaikan, dan menampakkan Allahd engan pemberian nikmat atas mereka.
14. Dzikir-dzikir itu adalah ibarat phon kayu besar, buahnya sangat nikmat.
15. Dzikir mewariskan sifat kasih sayang yang merupakan ruh Islam, kutub pusaran agama dan tempat bererdarnya kebahagiaan dan kemenangan. Allah telah menjadikan segala sesuatu ada sebabnya, dan sebab kasih sayang ialah terus menerus berdzikir.
16. Dzikir mewariskan keperihatinan, tergolong ihsan.
17. Dzikir mewariskan inabah, iaitu kembali kepada Allah 'Azza wa Jalla. Orang yang selalu kembali kepada Allah dengan berdzikir menyebabkan hatinya selalu kembali kepada Nya dalam segala situasi dan kondisi. Allah tempat kembalinya, tempat perlindungannya dan kiblat hatinya ketika ditimpa malapetaka atau cobaan-cobaan.
18. Dzikir mewariskan selalu dekat kepada Allah. Menyebabkan lidah selalu sibuk dengan mengingat Allah, karena itul idah tidak akan terlibat lagi dalam pergunjingan, kedustaan, kata-kata yang kotor dan yang bathil.
19. Orang yang menangis kerana berdzikir di tempat yang sepi nanti akan dilindungi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala pada hari kiamat di bawah lindungan 'Arasy-Nya. Sedang orang banyak berada di bawah sengatan matahari yang panas.
20. Dzikir adalah ibadat yang termudah, tetapi yang terbesar dan yang lebih afdhal karena gerak lidah adalah gerakan anggota badan yang paling ringan dan paling mudah.
21. Dzikir itu adalah tanaman syurga. Menurut Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, "Barangsiapa yang mengucapkan subhaanalaahi wa bihamdihi (Maha suci Allah dengan memujiNya) akan ditanamlah untuknya pohon kurma di dalam syurga.
22. Dzikir itu adalah puncak kesyukuran keapda Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tidaklah dianggap bersyukur orang yang tidak berdzikir.
Anjuran Untuk Membaca Alquran
Syahdan tersebutlah Seorang kakek tua tinggal di sebuah perkebunan
di sebuah desa yang cukup terpencil bersama cucu laki-lakinya. Setiap
pagi Sang kakek bangun pagi dan duduk dekat perapian sambil
menghangaatkan diri membaca Al-qur’an. Sang cucu ingin menjadi seperti
kakeknya dan memcoba menirunya seperti yang disaksikannya setiap hari.
Suatu hari ia bertanya pada kakeknya : “ Kakek, aku coba membaca Al-Qur’an sepertimu tapi aku tak bisa memahaminya, dan walaupun ada sedikit yang aku pahami segera aku lupa begitu aku selesai membaca dan menutupnya. Jadi apa gunanya membaca Al-quran jika tak memahami artinya ?
Sang kakek dengan tenang sambil meletakkan batu-batu di perapian, memjawab pertanyaan sang cucu : “Cobalah ambil sebuah keranjang batu ini dan bawa ke sungai, dan bawakan aku kembali dengan sekeranjang air.”
Anak itu mengerjakan seperti yang diperintahkan kakeknya, tetapi semua air yang dibawa habis sebelum dia sampai di rumah. Kakeknya tertawa dan berkata, “Kamu harus berusaha lebih cepat lain kali “.
Kakek itu meminta cucunya untuk kembali ke sungai bersama keranjangnya untuk mencoba lagi. Kali ini anak itu berlari lebih cepat, tapi lagi-lagi keranjangnya kosong sebelum sampai di rumah.
Dengan terengah-engah dia mengatakan kepada kakeknya, tidak mungkin membawa sekeranjang air dan dia pergi untuk mencari sebuah ember untuk mengganti keranjangnya.
Kakeknya mengatakan : ”Aku tidak ingin seember air, aku ingin sekeranjang air. Kamu harus mencoba lagi lebih keras. ” dan dia pergi ke luar untuk menyaksikan cucunya mencoba lagi. Pada saat itu, anak itu tahu bahwa hal ini tidak mungkin, tapi dia ingin menunjukkan kepada kakeknya bahwa meskipun dia berlari secepat mungkin, air tetap akan habis sebelum sampai di rumah. Anak itu kembali mengambil / mencelupkan keranjangnya ke sungai dan kemudian berusaha berlari secepat mungkin, tapi ketika sampai di depan kakeknya, keranjang itu kosong lagi. Dengan terengah-engah, ia berkata : ”Kakek, ini tidak ada gunanya. Sia-sia saja”.
Sang kakek menjawab : ”Nak, mengapa kamu berpikir ini tak ada gunanya?. Coba lihat dan perhatikan baik-baik keranjang itu .”
Anak itu memperhatikan keranjangnya dan baru ia menyadari bahwa keranjangnya nampak sangat berbeda. Keranjang itu telah berubah dari sebuah keranjang batu yang kotor, dan sekarang menjadi sebuah keranjang yang bersih, luar dan dalam. ” Cucuku, apa yang terjadi ketika kamu membaca Qur’an ? Boleh jadi kamu tidak mengerti ataupun tak memahami sama sekali, tapi ketika kamu membacanya, tanpa kamu menyadari kamu akan berubah, luar dan dalam.
Suatu hari ia bertanya pada kakeknya : “ Kakek, aku coba membaca Al-Qur’an sepertimu tapi aku tak bisa memahaminya, dan walaupun ada sedikit yang aku pahami segera aku lupa begitu aku selesai membaca dan menutupnya. Jadi apa gunanya membaca Al-quran jika tak memahami artinya ?
Sang kakek dengan tenang sambil meletakkan batu-batu di perapian, memjawab pertanyaan sang cucu : “Cobalah ambil sebuah keranjang batu ini dan bawa ke sungai, dan bawakan aku kembali dengan sekeranjang air.”
Anak itu mengerjakan seperti yang diperintahkan kakeknya, tetapi semua air yang dibawa habis sebelum dia sampai di rumah. Kakeknya tertawa dan berkata, “Kamu harus berusaha lebih cepat lain kali “.
Kakek itu meminta cucunya untuk kembali ke sungai bersama keranjangnya untuk mencoba lagi. Kali ini anak itu berlari lebih cepat, tapi lagi-lagi keranjangnya kosong sebelum sampai di rumah.
Dengan terengah-engah dia mengatakan kepada kakeknya, tidak mungkin membawa sekeranjang air dan dia pergi untuk mencari sebuah ember untuk mengganti keranjangnya.
Kakeknya mengatakan : ”Aku tidak ingin seember air, aku ingin sekeranjang air. Kamu harus mencoba lagi lebih keras. ” dan dia pergi ke luar untuk menyaksikan cucunya mencoba lagi. Pada saat itu, anak itu tahu bahwa hal ini tidak mungkin, tapi dia ingin menunjukkan kepada kakeknya bahwa meskipun dia berlari secepat mungkin, air tetap akan habis sebelum sampai di rumah. Anak itu kembali mengambil / mencelupkan keranjangnya ke sungai dan kemudian berusaha berlari secepat mungkin, tapi ketika sampai di depan kakeknya, keranjang itu kosong lagi. Dengan terengah-engah, ia berkata : ”Kakek, ini tidak ada gunanya. Sia-sia saja”.
Sang kakek menjawab : ”Nak, mengapa kamu berpikir ini tak ada gunanya?. Coba lihat dan perhatikan baik-baik keranjang itu .”
Anak itu memperhatikan keranjangnya dan baru ia menyadari bahwa keranjangnya nampak sangat berbeda. Keranjang itu telah berubah dari sebuah keranjang batu yang kotor, dan sekarang menjadi sebuah keranjang yang bersih, luar dan dalam. ” Cucuku, apa yang terjadi ketika kamu membaca Qur’an ? Boleh jadi kamu tidak mengerti ataupun tak memahami sama sekali, tapi ketika kamu membacanya, tanpa kamu menyadari kamu akan berubah, luar dan dalam.
Menjadikan Sabar Sebagai Penolong
Kita sering mengasosiakan khusyu' dengan kontemplasi, semedi
atau meditasi yang biasa dilakukan dalam praktek ritual agama lain.
Kita menjadi lupa untuk menggali bagaimana Al Qur'an menjelaskan
mengenai khusyu' itu.
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (QS Al Baqarah [2] 45-46).
Dari kedua ayat tersebut, dapat disimpulkan khusyu' bukanlah konsentrasi, tetapi keyakinan sedang menghadap Allah.
Keyakinan sangat mempengaruhi sikap seseorang. Orang yang yakin di pohon kamboja ada hantunya, maka dia akan ketakutan jika malam-malam lewat di bawahnya. Sebaliknya, jika orang tersebut berkeyakinan pohon kamboja adalah pohon yang indah, maka orang tersebut justru menemukan kesenangan di bawahnya. Dia akan memungut bunga-bunga yang berguguran untuk diselipkan ditelinga, dibuat rangkaian bunga atau diletakkan mengapung diatas kolam air.
Dalam beberapa hadits, tampak bahwa Nabi menjaga sikapnya ketika sedang shalat. Beliau berpendapat ketika shalat sesungguhnya orang sedang berhadapan dengan Allah, seperti halnya ketika Beliau mi’raj. Karena itu, Beliau melarang orang yang sedang shalat meludah ke depan, memberi tanda batas tempat shalatnya (sutrah) dan mencegah orang melewatinya.
Allah Ta'ala tetap (senantiasa) berhadapan dengan hambaNya yang sedang shalat dan jika ia mengucap salam (menoleh) maka Allah meninggalkannya. (HR. Mashobih Assunnah)
Nabi juga telah mengajarkan caranya agar kita dapat “menemui” dan “kembali” kepada Allah sebagaimana yang dimaksudkan dalam Al Baqarah 46. Petunjuknya dikemas ringkas dalam doa iftitah yang dibaca setelah takbiratul ihram. Jadi ketika kita baru memulai shalat, kita selalu diingatkan Beliau tentang apa yang harus dilakukan di dalam shalat agar kita menjadi orang yang khusyu’.
Aku hadapkan wajahku kepada wajah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, dengan lurus dan berserah diri .
Sesungguhnya ibadahku, shalatku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam ..
Kita hanya perlu memiliki sangkaan/keyakinan sehingga bisa bersikap untuk menghadapkan diri kita kepada Allah dengan sadar dan rela mengembalikan seluruh jiwa raga kita kepada Allah. Karena itu, menurut saya, lebih tepat jika arti khusyu’ dalam Al Baqarah ayat 46 diatas diterjemahkan sebagai :
Orang-orang yang (bersikap) seolah-olah, mereka sedang menemui Tuhannya, dan seolah-olah mereka sedang kembali (berserah diri) kepada-Nya.
Kata khusyu' sendiri disebutkan di dalam Al Qur'an pada 16 ayat 2. Makna bahasanya berkisar pada hina/menunduk, rendah/ tenang, ketakutan, kering/mati, seperti:
1. Hina dan menunduk
"Banyak muka pada hari itu tunduk terhina". (QS. Al Ghaasyiyaah [88]:2).
"Pandangannya tunduk". QS. (An-Naazi'aat [79]: 9).
"Sambil menundukkan pandangan-pandangan mereka keluar dari kuburan seakan-akan mereka belalang yang beterbangan" QS. (Al Qamar [54]: 7).
2. Rendah dan tenang
". Dan merendahlah semua suara kepada Rabb Yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja". (QS. (Thaahaa [20]: 108).
3. Merendahkan dan menundukkan diri
"Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir". (QS. Al Hasyr [59] : 21).
"(dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera". (QS. Al Qalam [68] : 43).
4. Kering dan mati
"Dan diantara tanda-tanda kekuasaaan-Nya (ialah) bahwa engkau lihat bumi kering dan gersang, maka apabila Kami turunkan air diatasnya, niscaya ia bergerak dan subur". (QS. Fushshilat [41]: 39).
Berdasarkan ayat-ayat tersebut diatas, maka untuk mendapatkan rasa khusyu’ kita hanya perlu bersikap seolah-olah ketika shalat kita sedang berhadapan dengan Allah dan berserah diri kepada Nya. Sikap yang patut kita lakukan ketika menghadap Allah adalah tenang, menundukkan pandangan dan merendahkan diri serendah-rendahnya. Sikap yang sepatutnya dilakukan oleh seorang hamba yang hina dihadapan Tuhan semesta alam, Tuhan Yang Maha Agung. Seperti sikap bumi yang kering kerontang dimusim kemarau mengharapkan pertolongan dari Allah swt dalam bentuk curahan hujan agar dapat kembali subur makmur
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (QS Al Baqarah [2] 45-46).
Dari kedua ayat tersebut, dapat disimpulkan khusyu' bukanlah konsentrasi, tetapi keyakinan sedang menghadap Allah.
Keyakinan sangat mempengaruhi sikap seseorang. Orang yang yakin di pohon kamboja ada hantunya, maka dia akan ketakutan jika malam-malam lewat di bawahnya. Sebaliknya, jika orang tersebut berkeyakinan pohon kamboja adalah pohon yang indah, maka orang tersebut justru menemukan kesenangan di bawahnya. Dia akan memungut bunga-bunga yang berguguran untuk diselipkan ditelinga, dibuat rangkaian bunga atau diletakkan mengapung diatas kolam air.
Dalam beberapa hadits, tampak bahwa Nabi menjaga sikapnya ketika sedang shalat. Beliau berpendapat ketika shalat sesungguhnya orang sedang berhadapan dengan Allah, seperti halnya ketika Beliau mi’raj. Karena itu, Beliau melarang orang yang sedang shalat meludah ke depan, memberi tanda batas tempat shalatnya (sutrah) dan mencegah orang melewatinya.
Allah Ta'ala tetap (senantiasa) berhadapan dengan hambaNya yang sedang shalat dan jika ia mengucap salam (menoleh) maka Allah meninggalkannya. (HR. Mashobih Assunnah)
Nabi juga telah mengajarkan caranya agar kita dapat “menemui” dan “kembali” kepada Allah sebagaimana yang dimaksudkan dalam Al Baqarah 46. Petunjuknya dikemas ringkas dalam doa iftitah yang dibaca setelah takbiratul ihram. Jadi ketika kita baru memulai shalat, kita selalu diingatkan Beliau tentang apa yang harus dilakukan di dalam shalat agar kita menjadi orang yang khusyu’.
Aku hadapkan wajahku kepada wajah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, dengan lurus dan berserah diri .
Sesungguhnya ibadahku, shalatku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam ..
Kita hanya perlu memiliki sangkaan/keyakinan sehingga bisa bersikap untuk menghadapkan diri kita kepada Allah dengan sadar dan rela mengembalikan seluruh jiwa raga kita kepada Allah. Karena itu, menurut saya, lebih tepat jika arti khusyu’ dalam Al Baqarah ayat 46 diatas diterjemahkan sebagai :
Orang-orang yang (bersikap) seolah-olah, mereka sedang menemui Tuhannya, dan seolah-olah mereka sedang kembali (berserah diri) kepada-Nya.
Kata khusyu' sendiri disebutkan di dalam Al Qur'an pada 16 ayat 2. Makna bahasanya berkisar pada hina/menunduk, rendah/ tenang, ketakutan, kering/mati, seperti:
1. Hina dan menunduk
"Banyak muka pada hari itu tunduk terhina". (QS. Al Ghaasyiyaah [88]:2).
"Pandangannya tunduk". QS. (An-Naazi'aat [79]: 9).
"Sambil menundukkan pandangan-pandangan mereka keluar dari kuburan seakan-akan mereka belalang yang beterbangan" QS. (Al Qamar [54]: 7).
2. Rendah dan tenang
". Dan merendahlah semua suara kepada Rabb Yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja". (QS. (Thaahaa [20]: 108).
3. Merendahkan dan menundukkan diri
"Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir". (QS. Al Hasyr [59] : 21).
"(dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera". (QS. Al Qalam [68] : 43).
4. Kering dan mati
"Dan diantara tanda-tanda kekuasaaan-Nya (ialah) bahwa engkau lihat bumi kering dan gersang, maka apabila Kami turunkan air diatasnya, niscaya ia bergerak dan subur". (QS. Fushshilat [41]: 39).
Berdasarkan ayat-ayat tersebut diatas, maka untuk mendapatkan rasa khusyu’ kita hanya perlu bersikap seolah-olah ketika shalat kita sedang berhadapan dengan Allah dan berserah diri kepada Nya. Sikap yang patut kita lakukan ketika menghadap Allah adalah tenang, menundukkan pandangan dan merendahkan diri serendah-rendahnya. Sikap yang sepatutnya dilakukan oleh seorang hamba yang hina dihadapan Tuhan semesta alam, Tuhan Yang Maha Agung. Seperti sikap bumi yang kering kerontang dimusim kemarau mengharapkan pertolongan dari Allah swt dalam bentuk curahan hujan agar dapat kembali subur makmur
Selasa, 14 Agustus 2012
Surau Balenggek Telah Melahirkan Ratusan Ulama dan Intelektual Islam
Lewat Kajian Kitab Kuning dan Thariqat
Surau Balenggek Telah Melahirkan Ratusan Ulama dan Intelektual Islam
Lubuk Alung---Surau Balenggek di Balah Hilia, adalah sama kedudukannya dengan Surau Gadang di Koto Buruak, Singguliang dan Sungai Abang. Cuma bedanya, di Surau Balenggek tempat mencetak ulama dan intelektual Islam dulunya. Sedangkan di Surau Gadang hal itu tidak ada. Sangat banyak ulama Padang Pariaman yang lahir di surau itu. Mereka belajar agama langsung dengan ulama besar, Buya H. Yusuf namanya. Bahkan, berdirinya MAN Lubuk Alung bermula dari Surau Balenggek demikian. Di Surau Balenggek itulah dimulainya sekolah 'Persiapan IAIN', yakni MAN sekarang.
Menurut sejarahnya, Surau Balenggek didirikan tak lama setelah berdirinya Masjid Raya Ampek Lingkuang. Artinya, Surau Balenggek sudah ada paling tidak sejak 80 tahun yang silam. Ikut mewarnai percaturan dunia Islam di zamanya. Buya H. Yusuf dikenal dengan ulama ahli thariqat Syatthariyah. Beliau bekerja di Mahkamah Syariah (sekarang Pengadilan Agama). Tak heran, asuhan Buya H. Yusuf ini banyak yang jadi pegawai di zamanya.
Buya H. Yusuf adalah orang Ulakan. Santrinya banyak bedatangan dari berbagai daerah dan wilayah di Padang Pariaman. Disamping diajarkan kitab kuning, dari berbagai bidang studi, seperti fiqh, tafsir, nahwu, sharaf dan lainnya, para santri Surau Balenggek juga dimatangkan dengan kajian tasawuf, yang dikenal dengan Thariqat Syatthariyah.
Ketua KAN Lubuk Alung, Suharman Datuak Pado Basa melihat fungsi Surau Balenggek sangat besar zaman saisuak. Dinamakan Surau Balenggek, karena surau itu bertingkat dua. Lantai satu untuk shalat berjamaah, dan lantai atas untuk mengaji kitab gundul dan thariqat. "Boleh dikatakan ratusan ulama yang lahir di surau itu. Buya H. Yusuf sendiri sudah merasa orang Lubuk Alung. Sejak dia memulai mengajar, hingga wafat dan dimakamkan di komplek Surau Balenggek itu sendiri," kata dia.
"Hingga kini, Surau Balenggek telah berkali-kali mengalami renovasi. Namun, kondisi pembangunan surau tidak pernah berubah dari berlantai dua. Semua orang tahu, kalau pengaruh Surau Balenggek, Balah Hilia, Lubuk Alung sejak dulunya sangat besar. Tetapi, sepeninggal Buya H. Yusuf, nama besar Surau Balenggek pun mulai berkurang. Khalifah Buya H. Yusuf ada. Sebut saja Tuanku Syukur, orang Sungai Asam. Setelah Tuanku Syukur wafat dan dimakamkan di kampungnya, Sungai Asama, Kecamatan 2 X 11 Enam Lingkung, Surau Balenggek dikendalikan oleh khalifah berikutnya, Tuanku Malin," kata Datuak Pado Basa.
Setahunya, Tuanku Malin putra Lubuk Alung asli, dan sempat lama mengembangkan kajian thariqat yang dia dapatkan di Surau Balenggek tersebut, dan akhirnya beliau wafat dan dimakamkan di komplek surau itu. Selanjutnya, Tuanku Bonjo. Orang Sungai Limau yang pernah jadi santri Buya H. Yusuf. Tuanku Bonjo sempat kawin dengan orang Lubuk Alung. Tak lama mengembangkan ilmu di Surau Balenggek, akhirnya beliau wafat dan dimakamkan juga di komplek makam Surau Balenggek.
Kini, Surau Balenggek dikendalikan oleh Tuanku Syamsu, orang Pauah, Sicincin yang punya hubungan guru dan murid juga dengan Buya H. Yusuf itu sendiri. Dari sekian banyak khalifah yang mengembangkan ilmunya di Surau Balenggek hingga saat itu, dinilai tak lagi membawa kebesaran nama Surau Balenggek yang dikenal gadang dan hebat pada zaman dulu. Sebab, disamping adanya perbedaan dalam pengembangan kajian, juga pengaruh kebesaran seorang ulama zaman dulu yang tak bisa diturunkan kepada santri atau muridnya.
Menurut Datuak Pado Basa, saat ini Surau Balenggek hanya berfungsi sebagai tempat anak-anak mengaji Quran, dan menjelang serta selama bulan puasa dilakukan acara ritual sembahyang 40 hari. Disamping juga ada acara ritual mingguan, seperti wirid pengajian, dan peringatan hari besar Islam. Kajian kitab kuning tak ada lagi. Pendalaman kajian thariqat mungkin sudah terbatas, dan tak sehebat dulu lagi.
"Kita sangat merindukan peran Surau Balenggek seperti dulu. Waktu dulu orang belum seberapa. Tetapi mampu mengisi kekosongan yang terjadi dalam membangun dunia intelektual Islam. Sekarang malah sebaliknya. Orang semakin banyak. Pertumbuhan penduduk semakin kencang, namun pengaruh ulama semakin redup pula. Agaknya ini perlu jadi kajian tersendiri oleh seluruh pihak dalam Nagari Lubuk Alung. Kini, Surau Balenggek sudah ditinggalkan banyak orang. Bahkan, letaknya saja membuat kita ngeri. Lihatlah, bila musim kemarau, debu memenuhi surau, yang membuat surau kumal dan kotor. Kalau musim hujan, lumpur sampai kehalaman surau, karena letak surau yang berpas-pasan dengan pintu keluar masuk mobil pengangkut galian C," ujarnya. (damanhuri)
Surau Balenggek Telah Melahirkan Ratusan Ulama dan Intelektual Islam
Lubuk Alung---Surau Balenggek di Balah Hilia, adalah sama kedudukannya dengan Surau Gadang di Koto Buruak, Singguliang dan Sungai Abang. Cuma bedanya, di Surau Balenggek tempat mencetak ulama dan intelektual Islam dulunya. Sedangkan di Surau Gadang hal itu tidak ada. Sangat banyak ulama Padang Pariaman yang lahir di surau itu. Mereka belajar agama langsung dengan ulama besar, Buya H. Yusuf namanya. Bahkan, berdirinya MAN Lubuk Alung bermula dari Surau Balenggek demikian. Di Surau Balenggek itulah dimulainya sekolah 'Persiapan IAIN', yakni MAN sekarang.
Menurut sejarahnya, Surau Balenggek didirikan tak lama setelah berdirinya Masjid Raya Ampek Lingkuang. Artinya, Surau Balenggek sudah ada paling tidak sejak 80 tahun yang silam. Ikut mewarnai percaturan dunia Islam di zamanya. Buya H. Yusuf dikenal dengan ulama ahli thariqat Syatthariyah. Beliau bekerja di Mahkamah Syariah (sekarang Pengadilan Agama). Tak heran, asuhan Buya H. Yusuf ini banyak yang jadi pegawai di zamanya.
Buya H. Yusuf adalah orang Ulakan. Santrinya banyak bedatangan dari berbagai daerah dan wilayah di Padang Pariaman. Disamping diajarkan kitab kuning, dari berbagai bidang studi, seperti fiqh, tafsir, nahwu, sharaf dan lainnya, para santri Surau Balenggek juga dimatangkan dengan kajian tasawuf, yang dikenal dengan Thariqat Syatthariyah.
Ketua KAN Lubuk Alung, Suharman Datuak Pado Basa melihat fungsi Surau Balenggek sangat besar zaman saisuak. Dinamakan Surau Balenggek, karena surau itu bertingkat dua. Lantai satu untuk shalat berjamaah, dan lantai atas untuk mengaji kitab gundul dan thariqat. "Boleh dikatakan ratusan ulama yang lahir di surau itu. Buya H. Yusuf sendiri sudah merasa orang Lubuk Alung. Sejak dia memulai mengajar, hingga wafat dan dimakamkan di komplek Surau Balenggek itu sendiri," kata dia.
"Hingga kini, Surau Balenggek telah berkali-kali mengalami renovasi. Namun, kondisi pembangunan surau tidak pernah berubah dari berlantai dua. Semua orang tahu, kalau pengaruh Surau Balenggek, Balah Hilia, Lubuk Alung sejak dulunya sangat besar. Tetapi, sepeninggal Buya H. Yusuf, nama besar Surau Balenggek pun mulai berkurang. Khalifah Buya H. Yusuf ada. Sebut saja Tuanku Syukur, orang Sungai Asam. Setelah Tuanku Syukur wafat dan dimakamkan di kampungnya, Sungai Asama, Kecamatan 2 X 11 Enam Lingkung, Surau Balenggek dikendalikan oleh khalifah berikutnya, Tuanku Malin," kata Datuak Pado Basa.
Setahunya, Tuanku Malin putra Lubuk Alung asli, dan sempat lama mengembangkan kajian thariqat yang dia dapatkan di Surau Balenggek tersebut, dan akhirnya beliau wafat dan dimakamkan di komplek surau itu. Selanjutnya, Tuanku Bonjo. Orang Sungai Limau yang pernah jadi santri Buya H. Yusuf. Tuanku Bonjo sempat kawin dengan orang Lubuk Alung. Tak lama mengembangkan ilmu di Surau Balenggek, akhirnya beliau wafat dan dimakamkan juga di komplek makam Surau Balenggek.
Kini, Surau Balenggek dikendalikan oleh Tuanku Syamsu, orang Pauah, Sicincin yang punya hubungan guru dan murid juga dengan Buya H. Yusuf itu sendiri. Dari sekian banyak khalifah yang mengembangkan ilmunya di Surau Balenggek hingga saat itu, dinilai tak lagi membawa kebesaran nama Surau Balenggek yang dikenal gadang dan hebat pada zaman dulu. Sebab, disamping adanya perbedaan dalam pengembangan kajian, juga pengaruh kebesaran seorang ulama zaman dulu yang tak bisa diturunkan kepada santri atau muridnya.
Menurut Datuak Pado Basa, saat ini Surau Balenggek hanya berfungsi sebagai tempat anak-anak mengaji Quran, dan menjelang serta selama bulan puasa dilakukan acara ritual sembahyang 40 hari. Disamping juga ada acara ritual mingguan, seperti wirid pengajian, dan peringatan hari besar Islam. Kajian kitab kuning tak ada lagi. Pendalaman kajian thariqat mungkin sudah terbatas, dan tak sehebat dulu lagi.
"Kita sangat merindukan peran Surau Balenggek seperti dulu. Waktu dulu orang belum seberapa. Tetapi mampu mengisi kekosongan yang terjadi dalam membangun dunia intelektual Islam. Sekarang malah sebaliknya. Orang semakin banyak. Pertumbuhan penduduk semakin kencang, namun pengaruh ulama semakin redup pula. Agaknya ini perlu jadi kajian tersendiri oleh seluruh pihak dalam Nagari Lubuk Alung. Kini, Surau Balenggek sudah ditinggalkan banyak orang. Bahkan, letaknya saja membuat kita ngeri. Lihatlah, bila musim kemarau, debu memenuhi surau, yang membuat surau kumal dan kotor. Kalau musim hujan, lumpur sampai kehalaman surau, karena letak surau yang berpas-pasan dengan pintu keluar masuk mobil pengangkut galian C," ujarnya. (damanhuri)
Selasa, 07 Agustus 2012
Zulkarnaen Dajabar yang Hobi Main Domino
Zulkarnaen Dajabar yang Hobi Main Domino
Sicincin---Acara Lawyer Club yang ditayangkan TV One dua malam yang lalu, membahas masalah korupsi kitab suci Alquran membuat masyarakat Sicincin tambah tapurangah. Zulkarnaen Djabar tersangka persoalan itu, adalah orang Sicincin asli, bersuku Sikubang. Bagi masyarakat Sicincin, Kecamatan 2 X 11 Enam Lingkung, seorang Zulkarnaen Dajabar merupakan anak yang telah lama hilang dari kampung halaman. Dia baru muncul kekampung sejak tiga tahun terakhir, terutama sejak gempa melanda daerah ini 2009 silam.
"Dia dilahirkan di kampung. Sama sekolah dan sepermainan dengan Alwi Datuak Garang, yang kini jadi Walinagari Sicincin. Di Surau Lubuak Dukuang, yang merupakan surau kaum Suku Sikumbang itulah Zulkarnaen Djabar mengajinya waktu ketek dulu. Namun, sejak dia duduk di DPR RI pada Pemilu 2009 dari daerah pemilihan Jawa Barat, saya yang paling banyak dihubunginya. Terutama bila dia pulang kampung, malapehkan taragak main domino," cerita Zaiful Leza, salah seorang tokoh pemuda Sicincin yang ditemui Singgalang kemarin.
Kondisi sebagai tersangka kasus pengadaan kitab suci umat Islam yang melibatkan dirinya, dilihat oleh Zaiful Leza sebagai pukulan yang sangat berat bagi masyarakat Sicincin itu sendiri. Sebab, walapun Zulkarnaen Djabar tidak mewakili daerah Sumatra Barat, perhatiannya kekampung halaman sangat tinggi. Bahkan, seluruh surau dan masjid yang ada di Sicincin akan dibantunya sebanyak Rp50 juta. "Dia paling senang main domino dan main musik. Karena waktu kecil dulu, Zulkarnaen itu adalah anak orkes musik. Pintar juga dia bernyanyi," ujar anggota DPRD Padang Pariaman dari PDI P ini.
Zaiful Leza melihat semua keluarganya, baik yang di Sicincin, maupun keluarga urang rumahnya di Koto Mambang, Nagari Sungai Durian, bahkan masyarakat Padang Pariaman sangat merasakan duka yang sangat mendalam. "Untuk diketahui, jebolnya pembangunan asrama haji di Sungai Buluah, Kecamatan Batang Anai, adalah hasil kerja Zulkarnaen Djabar, karena dia duduk di Komisi VIII DPR RI. Anda lihat sendirilah, Bupati Ali Mukhni, Kepala Kemenag, Taslim Mukhtar yang disebut-sebut orang paling dekat dan dipercayai oleh Zulkarnaen, merasakan betul dampak yang menimpa diri dan anak Zulkarnaen itu," sebutnya.
"Kini, apa yang hendak dikata. Kita orang kecil ini tak bisa berbuat apa-apa. Orang kampung ketika mendengar dan melihat di media massa seorang Zulkarnaen Dajar tersangkut kasus korupsi hanya terpana dan terkesima. Ooo, kan anak sianu, yang rumah rang gaeknya dibelakang terminal bus Sicincin itu kan? Hanya itu omongan yang bersilewaran disudut-sudut lapau kopi. Rumah yang dibelinya sejak beberapa bulan belakangan dipinggir jalan Sicincin-Bukittinggi, tepatnya didepan Restoran Sudimoro, kabarnya juga telah didatangi petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Memang, rumah yang harganya sekitar Rp1,5 miliar untuk ukuran kampung sudah rumah mewah," ungkap Zaiful lagi.
Saat ini, tambah Zaiful, orang Sicincin hanya bisa pasrah dan berdoa, semoga Tuhan melindunginya. Terjual habispun telon asin Sicincin tak akan mampu menolong Zulkarnaen Djabar.
Kepala Kemenag Padang Pariaman, H. Taslim Mukhtar yang merupakan dunsanak Zulkarnaen Djabar saat dihubungi mengaku rencana pembangunan asrama haji di Sungai Buluah tetap ok. Tidak ada hubungannya dengan persoalan yang kini menimpa Zulkarnaen itu. "Anggaran Rp15 miliar dari pusat telah dialokasikan untuk bangunan tersebut. Memang, pembangunan itu hasil kerja keras yang dilakukan bersama antara Pemkab Padang Pariaman dengan seorang Zulkarnaen yang duduk di Komisi VIII, membidangi persoalan haji," kata Taslim.
Salah seorang keluarga istri Zulkarnaen yang enggan ditulis namanya mengaku syok terhadap kasus yang menimpa rang sumandonya itu. "Walau bagaimanpun perhatian terhadap Padang Pariaman dari seorang Zulkarnaen sangat tinggi, jauh melebihi perhatian yang dilakukan oleh anggota DPR RI yang berasal dari Piaman sendiri. Semua orang tahu itu. Kini, kita dari Koto Mambang bersama memberikan dukungan moril ke Jakarta," kata dia dari balik ponselnya. (damanhuri)
Sicincin---Acara Lawyer Club yang ditayangkan TV One dua malam yang lalu, membahas masalah korupsi kitab suci Alquran membuat masyarakat Sicincin tambah tapurangah. Zulkarnaen Djabar tersangka persoalan itu, adalah orang Sicincin asli, bersuku Sikubang. Bagi masyarakat Sicincin, Kecamatan 2 X 11 Enam Lingkung, seorang Zulkarnaen Dajabar merupakan anak yang telah lama hilang dari kampung halaman. Dia baru muncul kekampung sejak tiga tahun terakhir, terutama sejak gempa melanda daerah ini 2009 silam.
"Dia dilahirkan di kampung. Sama sekolah dan sepermainan dengan Alwi Datuak Garang, yang kini jadi Walinagari Sicincin. Di Surau Lubuak Dukuang, yang merupakan surau kaum Suku Sikumbang itulah Zulkarnaen Djabar mengajinya waktu ketek dulu. Namun, sejak dia duduk di DPR RI pada Pemilu 2009 dari daerah pemilihan Jawa Barat, saya yang paling banyak dihubunginya. Terutama bila dia pulang kampung, malapehkan taragak main domino," cerita Zaiful Leza, salah seorang tokoh pemuda Sicincin yang ditemui Singgalang kemarin.
Kondisi sebagai tersangka kasus pengadaan kitab suci umat Islam yang melibatkan dirinya, dilihat oleh Zaiful Leza sebagai pukulan yang sangat berat bagi masyarakat Sicincin itu sendiri. Sebab, walapun Zulkarnaen Djabar tidak mewakili daerah Sumatra Barat, perhatiannya kekampung halaman sangat tinggi. Bahkan, seluruh surau dan masjid yang ada di Sicincin akan dibantunya sebanyak Rp50 juta. "Dia paling senang main domino dan main musik. Karena waktu kecil dulu, Zulkarnaen itu adalah anak orkes musik. Pintar juga dia bernyanyi," ujar anggota DPRD Padang Pariaman dari PDI P ini.
Zaiful Leza melihat semua keluarganya, baik yang di Sicincin, maupun keluarga urang rumahnya di Koto Mambang, Nagari Sungai Durian, bahkan masyarakat Padang Pariaman sangat merasakan duka yang sangat mendalam. "Untuk diketahui, jebolnya pembangunan asrama haji di Sungai Buluah, Kecamatan Batang Anai, adalah hasil kerja Zulkarnaen Djabar, karena dia duduk di Komisi VIII DPR RI. Anda lihat sendirilah, Bupati Ali Mukhni, Kepala Kemenag, Taslim Mukhtar yang disebut-sebut orang paling dekat dan dipercayai oleh Zulkarnaen, merasakan betul dampak yang menimpa diri dan anak Zulkarnaen itu," sebutnya.
"Kini, apa yang hendak dikata. Kita orang kecil ini tak bisa berbuat apa-apa. Orang kampung ketika mendengar dan melihat di media massa seorang Zulkarnaen Dajar tersangkut kasus korupsi hanya terpana dan terkesima. Ooo, kan anak sianu, yang rumah rang gaeknya dibelakang terminal bus Sicincin itu kan? Hanya itu omongan yang bersilewaran disudut-sudut lapau kopi. Rumah yang dibelinya sejak beberapa bulan belakangan dipinggir jalan Sicincin-Bukittinggi, tepatnya didepan Restoran Sudimoro, kabarnya juga telah didatangi petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Memang, rumah yang harganya sekitar Rp1,5 miliar untuk ukuran kampung sudah rumah mewah," ungkap Zaiful lagi.
Saat ini, tambah Zaiful, orang Sicincin hanya bisa pasrah dan berdoa, semoga Tuhan melindunginya. Terjual habispun telon asin Sicincin tak akan mampu menolong Zulkarnaen Djabar.
Kepala Kemenag Padang Pariaman, H. Taslim Mukhtar yang merupakan dunsanak Zulkarnaen Djabar saat dihubungi mengaku rencana pembangunan asrama haji di Sungai Buluah tetap ok. Tidak ada hubungannya dengan persoalan yang kini menimpa Zulkarnaen itu. "Anggaran Rp15 miliar dari pusat telah dialokasikan untuk bangunan tersebut. Memang, pembangunan itu hasil kerja keras yang dilakukan bersama antara Pemkab Padang Pariaman dengan seorang Zulkarnaen yang duduk di Komisi VIII, membidangi persoalan haji," kata Taslim.
Salah seorang keluarga istri Zulkarnaen yang enggan ditulis namanya mengaku syok terhadap kasus yang menimpa rang sumandonya itu. "Walau bagaimanpun perhatian terhadap Padang Pariaman dari seorang Zulkarnaen sangat tinggi, jauh melebihi perhatian yang dilakukan oleh anggota DPR RI yang berasal dari Piaman sendiri. Semua orang tahu itu. Kini, kita dari Koto Mambang bersama memberikan dukungan moril ke Jakarta," kata dia dari balik ponselnya. (damanhuri)
Langganan:
Postingan (Atom)
