wartawan singgalang

Rabu, 01 Januari 2014

Bermula Dari Kesalahan Suntikan Polio 25 Tahun Sudah Rahmat Mengalami Cacat, Orangtuanya Pasrah

Bermula Dari Kesalahan Suntikan Polio
25 Tahun Sudah Rahmat Mengalami Cacat, Orangtuanya Pasrah

Kayutanam---Malang benar nasib Desrita. Ibu rumah tangga berusia 54 tahun ini sudah 25 tahun mengurus anaknya, Rahmat Affandi yang sakit lemah sehabis disuntik polio saat bayi dulu. Hingga saat ini, anak nomor lima dari tujuh bersaudara itu tak bisa bicara lurus. Kalau berjalan hanya berinsut-insut. Untung ada sebuah kursi roda yang dikasih dunsanaknya, sehingga tak begitu menyulitkan pada saat Rahmat ingin bermain keluar rumah.
    Ayahnya Syamsuar, seorang tukang bangunan rumah tampak pasrah dengan segala penderitaan yang ditanggung keluarganya itu. Yang namanya tukang, kadang-kadang ada pekerjaan, kadang-kadang kosong. Sedangkan istrinya, Desrita hanya bisa bergelut dengan anak itu saja dalam keseharian. Tak ada pekerjaan yang bisa menghasilkan uang yang dapat dilakukannya.
    Selasa kemarin, Singgalang diajak bertandang kerumahnya di Pasar Tangah, Nagari Kayutanam oleh anggota DPRD Padang Pariaman, Masrizal yang saat ini mencalonkan diri untuk DPRD Sumbar di Dapil II, Padang Pariaman dan Kota Pariaman. Selaku warga masyarakat Kayutanam, Masrizal merasa terenyuh atas penderitaan yang dialami kelurga miskin tersebut. Sedangkan adik Rahmat yang bungsu, juga mengalami putus sekolah SD. Masrizal memfasilitasi kepada anak tersebut bisa ujian Paket A yang setara SD, untuk mendapatkan ijazah yang bisa melanjutkannya ke SMP nantinya.
    Desrita dan Syamsuar menceritakan kalau anaknya Rahmat Affandi saat lahir lumayan gapuak. Hampir empat kilo beratnya. Badannya rancak. Dikasih nama Rahmat, lantaran dia lahir pada saat makan sahur di bulan puasa pada 1988 yang silam. "Datangnya sakit lemah ini pada saat sehabis disuntik polio bagian pahanya yang dilakukan oleh bidan di Kayutanam. Malam sehabis disuntik siangnya itu dia merasakan sakit yang luar biasa, dan berlanjut hingga saat ini," kata dia.
    "Kalau dia mintak makan, dulu bisa menyebut mamam. Sekarang tidak lagi. Hanya dengan menangis saja bila dia merasa lapar. Kalau kita tidak juga mengerti, dipukul-pukul wajahnya sendiri, hingga terluka. Dan itu sangat acap terjadinya. Apalagi, kalau kami sedang tak bersama dia, maka berlumuran darahlah wwajahnya karena dipukul terus," ceritanya sedih.
    Kemanapun tempat yang bisa mengobati anaknya itu, Desrita dan Syamsuar terus menurutnya. Sampai ke Barulak, Kabupaten Tanah Datar bagai, serta kampung lainnya diluar Padang Pariaman. Baginya, kesembuhan anak itu sangat diharapkan sekali. "Bayangkanlah, sudah 25 tahun usianya belum bisa disunat. Dia punya perasaan yang sama juga seperti anak normal lainnya. Melihat kondisinya, dia lelaki yang punya keinginan untuk kawin. Itu ditandai dari jenis kelamin yang dimilikinya pada saat sedang tidur atau bangun tidur," ungkap Desrita.
    Rahmat Affandi dalam kesehariannya butuh hiburan juga. Dia bisa menghidupkan tivi dan tave. Kalau waktunya mandi, ya terpaksa ayahnya yang memandikan. Kalau mau makan harus pula disuapin. Manakala tidak ada hiburan yang didengarnya, Rahmat banyak menung-menung. Bila sudah demikian, air liurnya meleleh sendiri yang berlanjut dengan muntah-muntah. Beberapa waktu lalu, Rahmat sempat dirawat di RSUD Padang Pariaman di Parit Malintang, Kecanmatan Enam Lingkung.       
    Pada kesempatan tersebut, Masrizal memberikan bantuan seperlunya. Calon wakil rakyat untuk DPRD Sumbar dari PPP dengan nomor urut dua itu berusaha mencarikan jalan keluar dari penderitaan tersebut. Dia mencoba menghubungi Pemkab Padang Pariaman, lewat Dinas Kesehatan supaya bisa dibantu untuk mengobati Rahmat Affandi.
    Disamping itu, keponakan Desrita, anak dari Gustini yang terhalang ikut ujian di salah satu SMP swasta di Kayutanam, lantaran belum bayar uang sekolah juga dibantu Masrizal. Insya Allah, dua hari lagi anak itu sudah bisa sekolah dan ikut ujian. (damanhuri)

Selasa, 24 Desember 2013

Givo Saputra Anak Kampung Sungai Geringging Itu Raih Prestasi Nasional

Givo Saputra
Anak Kampung Sungai Geringging Itu Raih Prestasi Nasional

Padang Pariaman--Senanglah hati orangtuanya yang tinggal nun jauh disana, paling Utara Padang Pariaman demikian. Begitu juga, keluarga besar MTsN Sungai Geringging yang pernah dikepalai oleh H. Maswar pada tahun 1990 an itu. Para gurunya menyambut gembira, saat mendengar kabar tentang seorang anak didiknya meraih prestasi yang sangat luar biasa sekali. Dikancah Nasional lagi. Hebat anak itu rupanya.
    Acara yang diadakan dari 6-10 Desember itu, membuat nama Kabupaten Padang Pariaman yang dikenal sebagai gudang agama di Sumatera Barat kembali bergema. Meskipun pada MTQ tingkat Sumbar di Pasaman Barat yang lalu, daerah ini hanya bertengger pada peringkat 16, dibawah Mentawai lagi, tentu prestasi seorang Givo Saputra, anak kampung Sungai Geringging mampu mengobati insan-insan penggiat seni keagamaan tersebut.
    Dalam acara yang dilaksanakan oleh Ditjen Penerangan Islam Kementerian Agama RI yang bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, DPP LASQI dan DPW LASQI Kalimantan Timur. Festival tingkat nasional yang ke-XVIII tahun 2013 ini, membuat Kepala Kemenag Padang Pariaman, H. Masrican Tuanku Marajo Basa bersemangat.
    Acaranya dibuka secara resmi oleh Wakil Menteri Agam RI, Prof. Nasaruddin Umar. Sebanyak lima cabang dilombakan, dengan 139 penampilan. Para juara disamping dapat penghargaan, juga diberikan uang pembinaan sebesar Rp250 juta. Givo Saputra yang juara I pun meraih demikian. Sangat senang hatinya. Anak kampung sebesar itu merasa puas, bisa naik pesawat pulang dan pergi. Dapat prestasi lagi.
    Disamping festival Seni, pada kesempatan itu juga dilangsungkan Munas LASQI. Tujuan Festival Seni Qasidah menurut Ketua Panitia Pelaksana, Hj. Euis Sri Mulyani, Ditjen Penerangan Islam Kementerian Agama RI, sebagai upaya pengembangan potensi seni budaya yang bernuansa Islami kepada masyarakat bangsa Indonesia, memberikan apresiasi kepada pencipta seni qasidah, serta melestarikan dan memperkenalkan akan ketinggian dan keluhuran seni budaya Islam kepada generasi muda. (damanhuri)

Givo Saputra raih juara I pada Festival Seni Qasidah tingkat Nasional di Balikpapan, Kalimatan Timur. Siswa Kelas II MTsN Sungai Geringging, Kabupaten Padang Pariaman ini merupakan utusan Sumatera Barat dalam ajang yang diadakan tiga tahun sekali tersebut.

Penghargaan Adiwiyata Nasional Untuk SMA Lubuak Aluang Kado Terindah Diakhir Tahun

Penghargaan Adiwiyata Nasional Untuk SMA Lubuak Aluang Kado Terindah Diakhir Tahun

Padang Pariaman---Senja menjelang Magrib, Sabtu (21/12) lalu suasana terminal BIM agak ramai. Para penunggu menyemut. Tempat parkir mobil juga nyaris penuh. Tiba-tiba ditengah kerumunan orang banyak itu mencogok Dian Mulyati Syarfi. Kepala SMAN 1 Kecamatan Lubuak Aluang, Kabupaten Padang Pariaman ini baru saja keluar dari pesawat Garuda membawa sebuah penghargaan Adiwiyata yang baru saja diterimanya dari Mendiknas RI, lantaran berhasil dalam bidang lingkungan di sekolahnya.
    Tidak tanggung-tanggung. Sejumlah majelis guru dan siswanya menyambut kedatangan sang kepala sekolah yang juga istri terkasih Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat, Syamsulrizal itu bagaikan pejuang yang baru saja pulang dari medan tempur. Ibuk Dian pun sampai berpeluh, karena saking terenyuhnya melihat sambutan demikian. Tidak itu saja. Bupati Ali Mukhni, Sekdakab; Jonpriadi, Kepala Dinas Pendidikan Sumbar; Syamsulrizal, Kepala KLH; AK Jailani, Kepala Bappeda; H. Taslim, Kepala Dinas Perhubungan; Budi Utama, Kasat Pol PP; Syafrimen, Kepala BKD; Muhadek Salman ikut menyambutnya.
    "Luar biasa. Piagamnya seperti biasa saja. Namun, yang paling berkesan itu karena ada tingkat nasionalnya. Itulah yang paling berarti sekali. Dan ini satu-satunya SMA di Sumatera Barat yang menerima Adiwiyata tahun ini. Tentunya, penghargaan ini kado terindah di akhir tahun untuk Padang Pariaman, disamping juga penghargaan nasional dari DKP dan juara satu seni kasidah tingkat nasional yang pernah diraih putra daerah ini," kata Ali Mukhni, saat menerima piagam dari Dian Mulyati Syarfi.
    Memang, SMA Lubuak Aluang merupakan sekolah terhebat dan unggul yang pernah dimiliki daerah itu. Kalau saja Mahkamah Konstitusi (MK) tidak membubarkan RSBI, maka sekolah yang terletak di Sungai Abang Lubuak Aluang ini masih saja menyandang status demikian. Kepedulian Dian Mulyati Syarfi dalam menerapkan lingkungan asri, hijau dan bersih patut diacungi jempol. Dengan inilah terjadinya ramah lingkungan yang terpatri dikalangan sekolah yang telah melahirkan orang-orang hebat dan pintar di Padang Pariaman dan Sumatera Barat itu.
    Menurut Dian, dengan predikat Adiwiyata ini pihaknya berkewajiban melakukan pembinaan yang sama, minimal untuk 10 sekolah SMA di Padang Pariaman. Dan lagi, pesan ramah lingkungan itu berantai, sampai ke tengah masyarakat yang tentunya melalui siswa dan siswi sekolah yang telah dibinanya itu.
    Setelah melakukan serangkaian serimonial dan foto bersama di bandara yang terletak di Nagari Ketaping, Kecamatan Batang Anai tersebut, Dian yang telah hilang rasa capeknya sehabis terbang selama satu setengah jam dari Jakarta, bersama keluarga besar SMA Lubuak Aluang yang datang menjemput dijamu langsung oleh Bupati Ali Mukhni dengan makam malam bersama di Restoran Lamun Ombak, Pasa Usang.
    Bagi Bupati Ali Mukhni yang pernah jadi guru dulunya, penghargaan demikian sangat besar sekali artinya. Apalagi, yang dibawa Dian dan SMA Lubuak Aluang tidak lagi Kabupaten Padang Pariaman. Tetapi Provinsi Sumatera Barat. Sebuah prestasi yang patut sekali dihargai dan dijunjung tinggi oleh pemerintah daerah. (damanhuri)

Minggu, 17 November 2013

Melihat Usaha Peternak Lebah yang Hampir Punah

Melihat Usaha Peternak Lebah yang Hampir Punah

VII Koto---Madu lebah merupakan obat untuk segala macam penyakit. Dan itu sudah disebutkan dalam kitab suci Alquran oleh Yang Maha Kuasa. Namun, untuk mendapatkan madu lebah yang asli sangat sulit sekali zaman sekarang. Banyak orang berjualan madu, tetapi tak bisa dijamin keasliannya. Sebab, memisahkan antara madu asli dengan non asli tak mudah. Begitu pula untuk mendapatkan madu lebah, banyak pengorbanan yang harus dilakukan orang. Mungkin itu pula sebabnya kenapa yang namanya madu lebah itu dijual dengan harga yang cukup tinggi.
    Risman Tarolik, salah seorang peternak lebah di Palak Juha, Nagari Lurah Ampalu, Kecamatan VII Koto Sungai Sariak, Padang Pariaman. Dia termasuk satu dari sekian banyak peternak lebah yang mampu bertahan hingga sekarang. Dengan cara beternak itu pula, Risman menjual madu lebah hanya yang asli. Lebah itu dibuatkan kandang di sekeliling rumahnya. Kadang yang terbuat dari kayu dibikin segi empat dalam ukuran yang tidak terlalu besar itulah lebah menyimpan madunya setiap kali binatang tersebut mengeluarkan madu.
    "Beternak lebah butuh banyak persyaratan dan kesabaran yang tinggi. Dan banyak pula pantangannya. Misalkan ada saja pertengkaran dalam rumah kita, atau sesama peternak lebah lainnya, lebah dengan sendirinya akan melarikan dari, menjauh dari sangkar yang sudah kita sediakan. Memang, lebah adalah sebuah makhluk Tuhan yang agak istimewa," cerita dia.
    Itu kesulitan yang harus dijaga dalam soal beternak lebah. "Namun, kemudahannya, beternak lebah merupakan sebuah pekerjaan atau profesi yang dijalankan hanya sambil lalu. Kita tidak perlu mengasih lebah itu makanan. Dia akan terbang sendirian, mencari yang namanya saripati bunga untuk dimakannya. Tak perlu diperhatikan, dikampung mana atau bunga dari saripati buah siapa yang dimakannya. Kita tak perlu tahu. Yang jelas, ketika saatnya lebah mau pulang, dengan sendirinya dia masuk kembali ke kandang yang sudah kita buatkan," kata Risman Tarolik yang mengaku sudah cukup lama melakoni usaha ternak lebah demikian.   
    Menurut dia, sebuah kandang lebah akan diisi dengan sisiran yang terbuat dari kawat, yang gunakan untuk menyimpan madu yang akan dikeluarkan lebah. Untuk sebuah kandang akan memuat tujuh sampai sembilan sisiran. Dalam tempo dua bulan sejak awal pembuatan kandang yang diisi lebah, butuh waktu dua bulan untuk menghasilkan madu murni. Itu panen perdanya. Sedangkan untuk kelanjutannya, madu bisa dipetik sekali dalam sebulan. Paling sedikit, setiap kandang lebah akan menghasilkan seperempat kilogram madu.
    Risman menceritakan, kalau setiap kandang yang disediakannya diisi pula dengan seekor ratu lebah. Tak boleh lebih dari satu ekor. Sebab, akan menimbulkan pembunuhan diantara ratu tersebut. Pergantian ratu demikian butuh waktu yang cukup panjang. Biasanya tahan sampai lima tahun. Setelah itu akan muncul ratu baru, menggantikan ratu lama yang telah dimakan usia.
    Awal Risman beternak lebah pada 1989 silam dengan cara kecil-kecilan. Dikelola secara sendirian. Berlanjut dengan dibuatnya sebuah kelompok permanen yang terdaftar di instansi terkait. Kelompok Apiari Sakato namanya. Kelompok ini sempat dijadikan percontohan oleh Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat, khusus dalam pengembangan ternak lebah. Dinamakan demikian kelompoknya, lantaran lebah yang dikelolanya adalah lebah jenis Apris Indika.
    Melalui percontohan itu pula, Risman acapkali mengirim bibit lebah ke sejumlah kabupaten dan kota di Sumatera Barat ini untuk dikembangkan. Namun, dari informasi yang didapatkannya, bibit yang dikirimnya itu tak banyak yang berhasil. "Ya itu tadi. Beternak lebah butuh pengetahuan yang tinggi dan kesabaran yang kuat," sebutnya.
    Untuk ukuran botol kecil, Risman menjual madu lebahnya seharga Rp50 ribu. Sedangkan botol besar sampai Rp100 ribu. Dia merasakan sekarang permintaan akan madu agak berkurang. Namun, usaha demikian tetap dilakoninya. Dulu, usaha ternak lebah banyak dilakoni masyarakat Lurah Ampalu. Hampir di sepanjang Barangan, Koto Tabang dan Palak Juha itu banyak ditemukan kandang lebah. Sekarang nyaris habis. Hanya Risman satu-satunya yang bertahan hingga sekarang. (damanhuri)

Selasa, 12 November 2013

Empat Tahun Diserang Kanker Payudara Bupati Datang Semangat Sehat Arnida Kembali Tumbuh

Empat Tahun Diserang Kanker Payudara
Bupati Datang Semangat Sehat Arnida Kembali Tumbuh

Lubuak Aluang---Raut bahagia terpancar dari wajah Arnida. Perempuan muda yang menderita penyakit kanker payudara itu, Rabu lalu dikunjungi Bupati Padang Pariaman H. Ali Mukhni. Perempuan berusia 28 tahun dengan seorang anak ini sudah empat tahun mengalami penyakit yang sangat menakutkan tersebut. Banyak sudah tempat berobat yang didatanginya. Baik ke rumah sakit, maupun dengan pengobatan tradisional, alias obat kampung. Namun, penyakitnya tak juga kunjung pergi.   
    Belakangan Arnida mencoba berobat dengan cara terapi di salah satu tempat di Lubuak Aluang. Ada perubahannya, namun biayanya sangat mahal pula. Butuh dana berjuta-juta tiap bulan yang mesti dia cari untuk menutupi biaya terapi itu. Bagi Arnida, biaya yang sebanyak itu tentu lumayan banyak dan menyusahkan mencarinya. Dia termasuk keluarga miskin dalam kampungnya.
    Arnida masih tinggal di rumah orangtuanya, di Korong Indaruang, Nagari Aia Tajun Lubuak Aluang. Saking lamanya penyakit itu dideritanya, sampai-sampai badannya menyusut. Dan hampir setiap penghasilan yang didapatkan oleh suami tercintanya dalam bekerja, hanya dihabiskan untuk berobat kian kemari. Jati, orangtua Arnida pun tak bisa berbuat banyak terhadap penyakit demikian.   
    Bupati Ali Mukhni bersama sejumlah pejabat daerah yang tengah melakukan kegiatan goro bersama, Rabu lalu di Indaruang demikian diberitahu oleh Walinagari Syamsurizal tentang penyakit yang diderita oleh warganya; Arnida. Bupati Ali Mukhni pun sehabis goro langsung ke rumah yang bersangkutan. Tentunya memberikan bantuan moril paling tidak, agar Arnida mampu menerima cobaan dari Yang Maha Kuasa tersebut.
    Kedatangan Bupati Ali Mukhni membuat suasana haru dari orangtua Arnida. Karena tanpa disangka-sangka, bupati hadir di rumah yang sangat sederhana tersebut. "Ndak kami sangko Pak Bupati tibo doh. Sanang bana hati kami sekeluarga rasonyo, bisa basobok jo urang nomor satu yang ikut kita pilih pada 2010 yang lalu," kata Jati, orangtua Arnida.
    Walinagari Syamsurizal menjelaskan kepada keluarga itu, bahwa yang dilakukan saat ini adalah bentuk kepedulian dari seorang Bupati Ali Mukhni. Walinagari dari kalangan anak muda ini memang sedikit terkenal dalam soal sosial kemasyarakatan. Dia cepat tahu dan tanggap, apapun yang terjadi ditengah masyarakatnya. Mumpung induk semangnya lagi sedang ikut goro, maka diberitahunya tentang hal itu ke Bupati Ali Mukhni, agar bupati ikut pula memberikan sumbangsih terhadap keringanan penderitaan Arnida.
    Pada kesempatan tersebut, Bupati Ali Mukhni langsung merespon dengan mendatangkan tenaga medis dari Puskesmas Lubuak Aluang dan RSUD Parit Malintang. "Nanti dilakukan check up oleh tim medis. Kita hanya berusaha. Termasuk langkah untuk mengobati ini, adalah bagian dari usaha kita untuk bagaimana bisa sehat seperti sediakala," kata Ali Mukhni.
    Bupati Ali Mukhni menjelaskan bahwa setiap warga miskin sudah tertampung pada Jamkesmas, Jamkesda dan Jampersal. Jadi masyarakat tidak perlu kawatir jika sakit datang. "Saya himbau kepada camat dan walinagari agar selalu proaktif dalam mensosialisasikan program Jamkes tersebut. Program ini harus merata pada setiap orang miskin. Jangan sampai ada yang ketinggalan, sehingga ketika sakit datang, mereka tak lagi kasak-kusuk mencari yang namanya Jamkesmas tersebut," ungkapnya. (damanhuri)

Sabtu, 09 November 2013

Mengayuh Biduk Kehidupan Sendirian Kartini Tinggal di Pondok Darurat tak Pula Berlistrik

Mengayuh Biduk Kehidupan Sendirian
Kartini Tinggal di Pondok Darurat tak Pula Berlistrik

Kapalo Hilalang---Terlalu berat beban hidup yang ditanggung Kartini. Ibu beranak lima berusia sekitar 35 tahun ini mengayuh biduk kehidupan sendirian. Tiap hari dia pergi ke kebun getah milik orang lain, untuk mendapatkan uang guna menyambung hidup dia dan anak-anaknya. Sejak dua bulan belakangan, kerja menakiak getah itu tak lagi dilakukannya, lantaran musim hujan. Dan memang, kerja mengambil getah butuh musim kemarau.
    Bersama anaknya, Kartini tinggal di sebuah pondok darurat. Terbuat dari kayu yang sudah ditopang pula dengan sebuah tonggak, agar pondok demikian jangan rebah. Ingin sekali keluarga ini menonton tv dikalan malam atau di waktu istirahat, tapi tak bisa. Listrik belum masuk kerumahnya hingga saat ini. Rumah Kartini jauh terletak diujung Korong Tarok, Nagari Kapalo Hilalang, Kecamatan 2x11 Kayutanam, Kabupaten Padang Pariaman. Supaya rumah keluarga miskin itu bisa masuk listrik, butuh sekitar lima buah tiang lampu. Tentu sangat tidak memungkinkan bagi dia untuk membeli tiang sebanyak itu. Suaminya telah lama pergi meninggalkan dia.
    Otomatis, semua beban hidup sepenuhnya ditanggung Kartini. Dan sejak dua bulan belakangan pula, anaknya yang paling besar tidak lagi bersekolah di sebuah SMK di daerah itu, lantaran tak lagi punya biaya untuk melanjutkannya. Dengan demikian, terancamlah masa depan yang cerah bagi anak-anaknya. Kalau musim hujan seperti saat ini, Kartini mengaku bekerja di sawah orang lain. Dia diupah untuk mengerjakan sawah orang. "Kadang menyiangi sawah. Ada pula yang bertanam. Ya, tergantung apa yang musim di sawah tersebut," cerita Kartini.
    Rabu kemarin Kartini merasa terkejut dan terharu. Pondok daruratnya didatangi Aljufri, calon anggota DPRD Sumbar dari Partai Hanura di Dapil II, Padang Pariaman dan Kota Pariaman. Ketua FKPM Padang Pariaman itu datang bersama Afrizal, caleg Hanura untuk DPRD Padang Pariaman di Dapil III, dan Asrizal Rajo Sutan, seorang tokoh masyarakat Kapalo Hilalang. Aljufri merasa terenyuh melihat penderitaan yang ditanggung Kartini.
    Kepada mereka itu Kartini menceritakan, kalau dia sudah lama tak menakiak getah. Kekuatan Kartini dalam menakiak getah lumayan juga. "Manakala cuaca hari sedang rancak, itu bisa 15 kilogram terambilnya. Sebagai seorang pekerja, ambo dapat uang separoh dari hasil yang didapatkan. Artinya, hasil penjualan getah dibagi dua dengan sang pemilik. Ya, paling Rp40-50 dalam sehari," kata dia.
    Pada kesempatan itu, Aljufri menyerahkan sejumlah bantuan berupa indomie, dan sejumlah uang. "Ini bantuan spontanitas. Pemerintah perlu memikirkan hal ini. Apalagi kondisi rumahnya yang jauh dari pusat keramaian, sehingga acapkali terlupakan dalam soal bantuan, baik itu bantuan dari pusat maupun dari daerah," ujar Aljufri, caleg dengan nomor urut dua ini.
    Sebagai tokoh masyarakat Kapalo Hilalang, Asrizal Rajo Sutan mengakui kalau Kartini tak pernah tersentuh bantuan apapun jua. "Upaya menopang pondoknya dengan sebuah tonggak, adalah kebersamaan warga yang kita kerahkan beberapa waktu lalu. Saat itu rumahnya nyaris saja rebah. Terima kasih atas bantuan yang diberikan Aljufri dalam masalah ini. Semoga bantuan itu bermanfaat bagi Kartini," ungkapnya. (damanhuri)

Jumat, 01 November 2013

Surantiah, Kampung Tersuruk yang Kaya Dengan Keindahan Alam

Surantiah, Kampung Tersuruk yang Kaya Dengan Keindahan Alam

Lubuk Alung---Surantiah dulu hanya sebuah dusun dalam Desa Koto Buruak. Tetapi luasnya mintak ampun. Masyarakat disana menyebutkan, kalau Surantiah dua kali lipat luasnya dari Nagari Sikabu Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman. Kampung ini jauh tersuruknya. Nun, di bagian Timur Lubuk Alung, berbatasan dengan Kabupaten Solok. Walau tersuruk dan tertinggal, kampung ini kaya akan keindahan alam. Ada tempat wisata nan rancak. Babang Indah namanya. Terletak di Surantiah Hulu.
    Rabu kemarin, Singgalang diajak bertandang ke Surantiah oleh Walinagari Lubuk Alung, Harry Subrata. Ikut juga Landi Efendi, anak muda kreatif yang kini jadi anggota Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Lubuk Alung. Banyaklah dapat cerita-cerita hebat yang pernah terjadi di Surantiah pada zaman saisuak, yang diceritan Raoyan, tokoh masyarakat setempat. Termasuk juga cerita tentang Babang Indah yang hingga saat ini mulai dilirik orang luar.
    "Disebut dengan Babang Indah, ada sebuah batu besar yang kalau kita kesana bisa berteduh saat hujan dan panas. Disampingnya ada pula air terjun, yang juga disebut Air Terjun Babang Indah, yang tidak kalah hebatnya dari Air Terjun Nyarai, yang terlerak di Korong Salibutan, Lubuk Alung. Nama ini sudah lama tenarnya. Dulu, ada orang tinggal disana. Dia pakai pondok disitu. Sekarang tidak adalagi," kata dia.
    Sebagian besar sumber kehidupan masyarakat Surantiah bertumpu pada pertanian; sawah dan ladang. Ada ladang sawit dan karet. Disana juga banyak buah durian, dan tentunya sawah yang luas. Sebagai sebuah perkampungan, mengalir sungai dengan airnya yang sangat jernih. Batang Surantiah kata orang kampung itu. Di sungai itulah setiap pagi dan petang anak nagari mandi, mencuci serta keperluan lainnya.
    Meskipun sebuah dusun, yang kalau sekarang disebut jorong. Nama kampung Surantiah ini banyak pula. Ada Surantiah Palak Pisang, Surantiah Hilia, Surantiah Hulu, Surantiah Kelok, dan Surantiah Kabun. Raoyan yang pernah menjabat walijorong di Surantiah tak bisa berbuat banyak, adanya sebagian masyarakat Surantiah yang adnimistrasi pemerintahannya bernaung di Nagari Sungai Buluah, Kecamatan Batang Anai, yakni Surantiah Palak Pisang. Dan ini harus dikaji ulang, dan didudukkan persoalannya secara bersama ditengah masyarakat Nagari Lubuk Alung.
    "Persoalan ini terjadi ketika peristiwa Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) tahun 1958-1960. Ceritanya, ada seseorang yang meninggal dunia akibat korban peristiwa demikian di Surantiah Palak Pisang. Tradisi kampung, kalau ada kematian tentu dikajikan. Nah, para orang siak dari Surantiah merasa takut ke sana. Dan masyarakat disana tak ingin anggotanya tidak dikajikan. Maka dijembutnyalah orang siak dari Kampuang Apa, Nagari Sungai Buluah untuk mengajikan tersebut," cerita Raoyan.
    Mulai sejak itu, sebut Raoyan, hingga sekarang Nagari Sungai Buluah pun telah mengklaim, kalau Surantiah Palak Pisang bagian dari wilayahnya. Namun, secara adat istiadat masyarakat Surantiah Palak Pisang kalau shalat Id masih di Masjid Raya Surantiah ini. Tetapi, secara kependudukan, pemerintahannya sudah di Sungai Buluah.
    Dengan kekayaan sumber air yang bagus, Surantiah pernah dilirik oleh sejumlah perusahan air mineral yang ingin berinvestasi disitu. Termasuk juga PDAM Padang Pariaman akan menjadikan sumber air utama disitu. Namun, semuanya gagal, karena belum adanya sarana pendukung, seperti jalan. Hingga saat ini, jalan di kampung itu masih sisa aspal tahun 80 an, yang sudah banyak terkelupas. Jembatan yang melewati sungai kecil pun mulai lapuk, yang mesti diperbaik dan diganti dengan yang baru. (damanhuri)