Ali Mukhni Ditengah Kehebatan dan Nyentriknya Bupati Anas Malik dan Muhammad Nur
Padang
Pariaman---Pujian dari banyak orang tak membuat dia tersanjung.
Sementara, cacian dan cemoohan orang lain tidak pula membuat dia marah
dan sakit hati. Barangkali ini yang tergambar dari seorang Bupati Ali
Mukhni dalam menjalankan roda pemerintahan di Padang Pariaman. Sebagai
orang nomor satu yang dipilih rakyat pada 2010 lalu, tentu dia tidak
akan terlepas dari dua hal tersebut. Cacian dan pujian dari
masyarakatnya sendiri.
Dari sekian banyak bupati yang telah
memerintah dan bertugas di daerah ini, Ali Mukhni termasuk bupati yang
pantas dicatat sejarah, setelah Bupati Muhammad Nur dan Anas Malik. Dua
nama tersebut, jauh menjabat sebelum Ali Mukhni; Anas Malik dan Muhammad
Nur terkenal sangat nyentrik, dan dekat dengan masyarakat. Bupati Ali
Mukhni yang akan menyelesaikan tugasnya pada periode pertama ini juga
terkesan begitu.
Bupati Ali Mukhni tampak sangat tidak berjarak
dengan masyarakatnya. Bahkan, anggota DPR RI dari Partai Demokrat
Mulyadi menilai Bupati Ali Mukhni lebih hebat dari Presiden Joko Widodo.
Apa yang disebut Mulyadi, memang itu adanya. Ali Mukhni mampu bertugas
dari pagi hingga larut malam. "Sejak pagi tagi, sudah 13 kali melakukan
pertemuan dengan masyarakat. Membahas berbagai persoalan yang kita
hadapi saat ini," kata dia suatu ketika.
Bayangkanlah itu. Padang
Pariaman hanya punya 17 kecamatan. Sementara, dalam hari yang sama
Bupati Ali Mukhni bersua dengan masyarakat sebanyak 13 kali pertemuan.
Artinya, nyaris semua kecamatan yang ada telah dikunjunginya dalam waktu
sehari. Baginya, kepentingan masyarakat dan banyak orang sangat utama
bila dibandingkan dengan kepentingan pribadi dan keluarganya.
Tahun ini dan tahun depan merupakan tahun politik. Tak heran, dari
berbagai tokoh adat, agama dan tokoh masyarakat Padang Pariaman mulai
mengalir suara dukungan untuk Ali Mukhni agar bisa kembali maju menjadi
orang nomor satu. Tetapi, bagi Ali Mukhni sendiri, dukungan itu dianggap
sebagai apresiasi masyarakat kepada dirinya. Dia tak begitu terlonjak
mendengarkan keinginan yang entah serius atau hanya sekedar basa-basi,
karena memang momennya politik saat ini.
Anas Malik terkenal
sebagai bupati yang berhasil memberatas kebersihan, dengan menertibkan
wc terpanjang di dunia. Biasa orang buang air besar di tepi pantai,
sekarang sudah ada wc. Dia tak segan-segan menegur masyarakat yang
berbuat semau gue, membuang sampah sembarangan. Sedangkan Bupati
Muhammad Nur dinilai berhasil membuka jalan utama menembus Gunung Tigo
yang tidak terbayangkan oleh banyak orang dulunya akan ada jalan di
gunung itu. Bahkan, sebagian orang ada yang akan bersunat kembali, kalau
jalan Gunung Tigo itu tembus. Bupati Muhammad Nur yang orang Padang
Sago tak mempedulikan itu.
Kesungguhannya membuahkan hasil. Jalan
dari Padang Sago menuju Gunuang Padang Alai, dan bisa juga ke Malalak
tembus sudah. Artinya, kebangkitan ekonomi masyarakat Nagari Gunuang
Padang Alai, Tandikek dan Padang Sago terbuka lebar. Masyarakat Nagari
Padang Alai tak perlu lagi ke Pariaman untuk menuju Tandikek dan Padang
Sago. Begitu juga sebaliknya. Jalan lancar, ekonomi menggeliat, hasil
pertanian dengan mudahnya diangkut ke pasar nagari masing-masing.
Sedangkan Bupati Ali Mukhni yang sebelumnya menjabat Wakil Bupati
Padang Pariaman mendampingi Muslim Kasim, tidak ingin yang muluk-muluk.
Dia langsung membuktikan apa yang sudah direncanakan ditengah
masyarakatnya sendiri. Apa yang menjadi wacana jauh sebelum dia jadi
bupati, saat ini terwujud sudah. Sebut saja keberadaan jalan lingkar
Duku-Sicincin, yang tahun depan mulai diaspal hotmix. Empat jembatan
yang dibangun dengan anggaran pusat di sepanjang jalan lingkar itu telah
hampir selesai dikerjakan.
Sebagai pemimpin, Ali Mukhni tidak
ingin pula hanya menerima laporan asal bapak senang dari banyak anak
buahnya. Dia langsung terjun, berbaur dengan masyarakat setempat, saat
meninjau pengerjaan yang sedang berjalan. Bahkan, hampir tiap sebentar
dia memonitor para pekerja. Dia tanyakan, apa yang jadi kendala, kenapa
kok masih begini atau begitu. Sedangkan terhadap proyek yang hampir
gagal dilakukan, berkat kesungguhan dan kegigihan Ali Mukhni, akhirnya
jebol. Seperti yang terjadi saat akan memulai pengerjaan MAN Insan
Cendikia di Sintuak, Kecamatan Sintuak Toboh Gadang.
Filosofi,
dima langit dijujung, disitu bumi dipijak, disana pula aia disauak,
agaknya menjadi senjata oleh Bupati Ali Mukhni dalam menghadapi
masyarakat yang terdiri dari 60 nagari dan 17 kecamatan itu. "Kalau
dengan kebersamaan, tidak ada yang tidak bisa dilakukan. Semuanya bisa,
dan harus bisa. Semua pejabat pada saat menjelang lebaran tidak lagi
berani ke kantor, lantaran tak sanggup berhadapan dengan banyak
wartawan, saya satu-satunya yang berani. Mobil saya tetap parkir di
depan lobi saat menjelang lebaran," kata Bupati Ali Mukhni.
Diakhir masa jabatannya, Bupati Ali Mukhni telah memperlihatkan banyak
pretasi yang diraihnya. Tentunya prestasi demikian adalah buah manis
dari kesungguhannya dalam memberikan pengabdian di tengah masyarakat.
Dan hampir pula semua proyek besar selesai menjelang akhir tugasnya
tahun depan tersebut. Banyak yang memujinya sebagai langkah bagus dan
hebat. Tentu tak sedikit pula yang memberikan cibiran sekaligus
cemoohan. Dasar orang Piaman, tentu tidak asing dengan persoalan cemooh
itu. Tetapi Bupati Ali Mukhni tetap terus melangkah maju kedepan.
Baginya, cemooh merupakan pelecut, sekaligus penyemangat dalam bertugas.
(damanhuri)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar