Pengalaman Itu Bertambah Setelah Masuk Partai Politik
Berbekalkan senang beroganisasi itu aku kepincut masuk partai politik. Pertama masuk kedalam partai, dengan PPP. Tahun 1997 itu PPP masih berlambang bintang. Buya Ismael Hasan Metarium ketua umum-nya di pusat. Aku bergabung dengan partai ini bersama Afredison. Kami berdua mengurus KTA ke Pariaman, yang ditandatangani ketua dan sekretaris DPC PPP Anas Yusuf dan Lazwardi. Masuk PPP sejarahnya karena sering nongkrong di Masjid Al-Muttaqien Sungai Sariak. Senior aku Zulkifli Sabata, Alm Armen. Aku dan Afredison ditempatkan sebagai anggota Komcat PPP VII Koto Sungai Sariak. Pemilu 1997 itu aku ditugaskan sebagai saksi partai di TPS II Ambung Kapur. Waktu itulah Pemilu terkontor sepanjang sejarah berakhirnya. Sebab, setahun setelah itu reformasi bergulir. Setahunnya lagi, 1999 Pemilu kembali digelar.
Ada yang menarik, saat aku masuk PPP di penghujung Orde Baru. Acap mendengar orang hebat PPP, seperti Rusdi Hamka, Shaleh Khalid dan tokoh lainnya memberikan kampanye. Pada Pemilu terakhir di Orde Baru itu aku dan seluruh saksi PPP ditolak oleh Ketua KPPS dengan alasan beragam. Mulai dari tak punya hak pilih disitu, hingga tak diterima dengan alasan yang hanya dibuat-buat oleh KPPS yang notabene juga kepala desa di wilayah bersangkutan. Setelah tak diterima di TPS, kami seluruh saksi ngumpul di Masjid Muttaqien melakukan evaluasi dari seluruh saksi yang ditolak. Waktu Pemilu dua tahun kemudian aku masih tetap dengan PPP. Kali ini salah seorang wakil sekretaris DPAC Kecamatan VII Koto Sungai Sariak. Saat itu lambang PPP dari bintang berganti dengan Ka'bah. Sempat ditawari menjadi caleg, tapi belum mau.
PPP VII Koto berhasil menantarkan Zulkifli Sabata jadi anggota dewan. Dia kembali terpilih pada Pemilu 2004 juga dari PPP. Untuk periode kedua Zulkifli Sabata berhasil jadi wakil ketua DPRD Padang Pariaman yang ketua-nya Yulius Danil. Namun, tahun 2002 aku tak lagi di PPP, tapi pindah partai ke PKB. Muscab PKB pertama aku jadi sekretaris Dewan Syura PKB Padang Pariaman bersama Razak TM ketua-nya, setelah sebelumnya jadi ketua DPAV PKB Kecamatan VII Koto Sungai Sariak. Sedangkan Ketua Tanfidz-nya Amiruddin Tuanku Bagindo dengan sekretaris-nya Zulhelmi Tuanku Sidi. Masuk partai PKB aku juga sekalin bertugas sebagai wartawan Media Sumbar. Pemilu 1999 dan 2004 PKB belum bisa meraih kursi di daerah itu.
Menjelang Muktamar II PKB di Semarang, Jawa Tengah 2005 terjadi pergolakan. Ketua DPC PKB dari Amiruddin bertukar dengan Usman Fond, karena Amiruddin memilih jadi Rais Syuriyah PCNU Padang Pariaman bersama Rahmat Tuanku Sulaiman. Posisi aku tetap sekretaris Dewan Syura. Otomatis aku jadi peserta penuh dalam Muktamar Semarang karena peserta empat orang dan seorang peninjau setiap DPC dan DPW. Disamping masuk partai, aku juga gemar berorganisasi. Jadi pengurus PC GP Ansor pertama ditempatkan sebagai sekretaris mendampingi ketua-nya Afredison. Dalam masa sekretaris Ansor pada periode 2003-2006 itu aku juga dijadikan sebagai salah seorang wakil sekretaris DPD KNPI Padang Pariaman dibawah ketua-nya, Eri Zulfian. Berikutnya, konfercab Ansor aku jadi ketua di Padang Pariaman. Muswil II PKB Sumbar, menempatkan aku sebagai salah seorang wakil sekretaris. Sering pulang balik ke Padang mengikuti rapat rutin mengguan. Ketua DPW PKB Azwandi Rahman. Aku merasa tak nyaman lagi di DPC PKB Padang Pariaman karena adanya sentimen salah seorang teman, karena aku sering bareng sama ketua Usman Fond. Berikutnya PKB tak henti-hentinya dirundung malang, konflik yang berkepanjangan di pusat sana. Aku termasuk orang yang mudah di terima semua kawan-kawan. Makanya, mulai dari ketua DPW Azwandi Rahman hingga saat ini 2014 di pegang H. Febby Datuak Bangso Nan Putiah aku masih tetap sebagai salah seorang pengurus harian DPW PKB Sumbar.
Selasa, 22 April 2014
Pendewasaan Jiwa Lewat Organisasi
Pendewasaan Jiwa Lewat Organisasi
Belajar berorganisasi aku mulai di lingkungan pesantren. Di Lubuk Pandan OSIP namnya. Organisasi ini mengatur perjalanan santri dalam tatatertib menuntut ilmu, membuat peraturan secara bersama. OSIP di Lubuk Pandan lahir sekitar 1994, yang waktu itu aku termasuk santri baru di lingkungan pesantren yang berdiri sejak 1940 tersebut. Kata senior aku, organisasi ini terinspirasi dari kunjungannya ke pesantren Nurul Yaqin, Ringan-Ringan. Aku sempat jadi ketua organisasi ini, setahun setalah aku menyelesaikan marapulai tafsir.
Kepengurusan organisasi ini diperbaharui tiap sekali setahun. Dan setiap tahun pula dilakukan revesi peraturan yang sudah di buat pada tahun lalu. Artinya pengurus berganti, peraturan juga ditambah, dikurangi atau direvisi. Setelah peraturan ditetapkan secara bersama dalam rapat OSIP, maka marapulai bertugas menjalankan atau menegakkan peraturan demikian. Santri yang kedapatan nonton tv diluar waktu yang dibolehkan, marapulai dengan tegas menindak yang bersangkutan. Ada dikenakan sanksi bayar beras, uang dan ada pula yang dibebankan mencari kayu, tergantung besarnya kesalahan yang dilakukan santri bersangkutan.
OSIP berhadapan langsung dengan pimpinan dan guru besar pesantren. Sebab, sebagian besar pengurus organisasi ini adalah kawan-kawan yang senior, punya kharisma dalam bicara dan berperilaku. Sistem pemilihan ketua-nya ada yang voting dan ada pula dengan aklamasi, tergantung kesepahaman peserta rapat. Termasuk untuk menentukan siapa marapulai tafsir tahun depannya, itu OSIP langsung yang berumbuk dengan pimpinan dan guru besar. Guru besar; Buya Tuanku Shaliah Pengka, sebagai orang pertama yang mendirikan pesantren itu. Sedangkan pimpinan dijabat Iskandar Tuanku Mudo, dan setelahnya oleh Marzuki Tuanku Nan Basa. Sekarang tidak terdengar lagi istilah guru besar, sejak beliau berpulang 1996, aktivitas pesantren sepertinya ditangani seorang Tuanku Marzuki bersama gurutuo yang ada.
Semakin lama kiprah OSIP nampaknya semakin redup pula. Gaungnya tak begitu kuat seperti yang pernah ada dulunya. Semasa guru besar masih ada, kiprah OSIP sangat-sangat menentukan. Tentunya faktor demikian, karena tidak atau kurang terpolanya pengkaderan dalam organisasi ini dengan baik. Bahkan, akhir-akhir ini ada yang jadi ketua sampai tiga periode. Ini tentunya kurang elok, dianggap gagal dalam melakukan pengkaderan secara berkesinambungan. Aku pernah sekali menata organisasi ini kembali. Aku coba memenej dari dalam, dimulai dengan musyawarah mufakat secara bersama menetukan siapa ketua, bagaimana pengurus lama menyampaikan laporan pertanggungjawabannya ditengah peserta musyawarah. Namun, hanya sekali itu adanya. Sehabis itu, OSIP kembali tak berketentuan. Ndak punya konsep dan visi misi yang jelas dalam mengembangkan diri dan dan potensi santri.
Padahal, kalau dilihat dan dikembangkan dengan baik, para santri punya sumber potensi diri yang bisa di kembangkan. Kita lihat, sebagian besar orang besar yang hebat berawal dari kiprahnya dalam organisasi. Organisasilah yang membentuk kemampuan diri kita bicara di depan banyak orang. Bisa berdebat dengan baik, punya kedewasaan jiwa karena lama di asah dengan perbedaan pendapat. Orang yang besar di organisasi dengan yang tidak, akan jauh bedanya bila sama-sama berkiprah di tengah masyarakat.
Aku sempat memberikan materi jurnalistik dikalangan teman-teman Lubuk Pandan. Namun, itu tak lama. Tujuan aku memberikan ilmu itu, bagaimana santri lebih mampu lagi mengembangkan dakwahnya lewat tulisan. Menurut aku, santri harus bisa jadi penulis. Itu benar yang ingin aku capai dari kawan santri Lubuk Pandan, tempat aku terinspirasi jadi wartawan karena tiap pekan melihat seorang Zakirman Tanjung, yang saat itu jadi wartawan Canang. Memang, ilmu jurnalistik harus dibarengi dengan minat dan bakat dari calon orang akan menerima ilmu tersebut. Kalau tidak, hanya bagai menjatuhkan batu ke lubuk, hilang begitu saja. Apalagi, santri saat ini tak lagi punya media sebagai bahan bacaan yang pernah kami lakukan dulu. Dulu, sebulan sekali ada Media Dakwah yang masuk pesantren itu. Belum lagi aku yang seminggu sekali membeli Tabloid Aksi dan koran Republika.
Belajar berorganisasi aku mulai di lingkungan pesantren. Di Lubuk Pandan OSIP namnya. Organisasi ini mengatur perjalanan santri dalam tatatertib menuntut ilmu, membuat peraturan secara bersama. OSIP di Lubuk Pandan lahir sekitar 1994, yang waktu itu aku termasuk santri baru di lingkungan pesantren yang berdiri sejak 1940 tersebut. Kata senior aku, organisasi ini terinspirasi dari kunjungannya ke pesantren Nurul Yaqin, Ringan-Ringan. Aku sempat jadi ketua organisasi ini, setahun setalah aku menyelesaikan marapulai tafsir.
Kepengurusan organisasi ini diperbaharui tiap sekali setahun. Dan setiap tahun pula dilakukan revesi peraturan yang sudah di buat pada tahun lalu. Artinya pengurus berganti, peraturan juga ditambah, dikurangi atau direvisi. Setelah peraturan ditetapkan secara bersama dalam rapat OSIP, maka marapulai bertugas menjalankan atau menegakkan peraturan demikian. Santri yang kedapatan nonton tv diluar waktu yang dibolehkan, marapulai dengan tegas menindak yang bersangkutan. Ada dikenakan sanksi bayar beras, uang dan ada pula yang dibebankan mencari kayu, tergantung besarnya kesalahan yang dilakukan santri bersangkutan.
OSIP berhadapan langsung dengan pimpinan dan guru besar pesantren. Sebab, sebagian besar pengurus organisasi ini adalah kawan-kawan yang senior, punya kharisma dalam bicara dan berperilaku. Sistem pemilihan ketua-nya ada yang voting dan ada pula dengan aklamasi, tergantung kesepahaman peserta rapat. Termasuk untuk menentukan siapa marapulai tafsir tahun depannya, itu OSIP langsung yang berumbuk dengan pimpinan dan guru besar. Guru besar; Buya Tuanku Shaliah Pengka, sebagai orang pertama yang mendirikan pesantren itu. Sedangkan pimpinan dijabat Iskandar Tuanku Mudo, dan setelahnya oleh Marzuki Tuanku Nan Basa. Sekarang tidak terdengar lagi istilah guru besar, sejak beliau berpulang 1996, aktivitas pesantren sepertinya ditangani seorang Tuanku Marzuki bersama gurutuo yang ada.
Semakin lama kiprah OSIP nampaknya semakin redup pula. Gaungnya tak begitu kuat seperti yang pernah ada dulunya. Semasa guru besar masih ada, kiprah OSIP sangat-sangat menentukan. Tentunya faktor demikian, karena tidak atau kurang terpolanya pengkaderan dalam organisasi ini dengan baik. Bahkan, akhir-akhir ini ada yang jadi ketua sampai tiga periode. Ini tentunya kurang elok, dianggap gagal dalam melakukan pengkaderan secara berkesinambungan. Aku pernah sekali menata organisasi ini kembali. Aku coba memenej dari dalam, dimulai dengan musyawarah mufakat secara bersama menetukan siapa ketua, bagaimana pengurus lama menyampaikan laporan pertanggungjawabannya ditengah peserta musyawarah. Namun, hanya sekali itu adanya. Sehabis itu, OSIP kembali tak berketentuan. Ndak punya konsep dan visi misi yang jelas dalam mengembangkan diri dan dan potensi santri.
Padahal, kalau dilihat dan dikembangkan dengan baik, para santri punya sumber potensi diri yang bisa di kembangkan. Kita lihat, sebagian besar orang besar yang hebat berawal dari kiprahnya dalam organisasi. Organisasilah yang membentuk kemampuan diri kita bicara di depan banyak orang. Bisa berdebat dengan baik, punya kedewasaan jiwa karena lama di asah dengan perbedaan pendapat. Orang yang besar di organisasi dengan yang tidak, akan jauh bedanya bila sama-sama berkiprah di tengah masyarakat.
Aku sempat memberikan materi jurnalistik dikalangan teman-teman Lubuk Pandan. Namun, itu tak lama. Tujuan aku memberikan ilmu itu, bagaimana santri lebih mampu lagi mengembangkan dakwahnya lewat tulisan. Menurut aku, santri harus bisa jadi penulis. Itu benar yang ingin aku capai dari kawan santri Lubuk Pandan, tempat aku terinspirasi jadi wartawan karena tiap pekan melihat seorang Zakirman Tanjung, yang saat itu jadi wartawan Canang. Memang, ilmu jurnalistik harus dibarengi dengan minat dan bakat dari calon orang akan menerima ilmu tersebut. Kalau tidak, hanya bagai menjatuhkan batu ke lubuk, hilang begitu saja. Apalagi, santri saat ini tak lagi punya media sebagai bahan bacaan yang pernah kami lakukan dulu. Dulu, sebulan sekali ada Media Dakwah yang masuk pesantren itu. Belum lagi aku yang seminggu sekali membeli Tabloid Aksi dan koran Republika.
Senin, 14 April 2014
DPRD Sumbar, PBB Taklukkan Lubuk Alung Rekap Suara Belum Selesai, Kursi Telah Dibagi Habis
DPRD Sumbar, PBB Taklukkan Lubuk Alung
Rekap Suara Belum Selesai, Kursi Telah Dibagi Habis
Padang Pariaman--Suara hasil Pileg 9 April lalu belum selesai direkap oleh penyelenggara. Bahkan, hingga hari ini masih ada yang belum tuntas rekap suara tingkat panitia pemungutan suara (PPS). Tetapi, para caleg dan orang banyak sudah membagi kursi yang tersedia di Dapil terkait.
Di Kecamatan Lubuk Alung, Padang Pariaman, Minggu malam masih merekap tingkat nagari atau PPS. Yardi, Ketua PPK Kecamatan Lubuk Alung ikut nimbrung melakukan perekapan demikian. Padahal, tugasnya merekap untuk kecamatan.
Itulah semangat kerja yang dilakukannya. Dia mengaku capek, karena sejak sehari menjelang pencoblosan sampai saat ini belum bisa tidur nyenyak. "Rata-rata sampai pukul tiga dinihari. Ya, itulah tugas. Soal berapa suara siapa, saya tak bisa beberkan," kata dia.
Lubuk Alung yang terkenal wilayah paling panas, memang berdampak luar biasa ke Pileg Rabu lalu. Pantauan Singgalang, Minggu malam untuk suara DPRD Sumbar di kecamatan ini paling unggul PBB. Partai dengan lokomotif Yusril Ihza Mahendra ini mampu meraup 2.187 suara. Berikutnya yang juga untuk DPRD Sumbar ditempati PDI Perjuangan.
Partai yang dipimpin Megawati Soekarnoputri ini dapat 1.800 suara. Peringkat ketiga disabet Partai Demokrat, dengan perolehan suara DPRD Sumbar sebanyak 1.608. Dibawahnya PAN dan Golkar yang dapat suara Sumbar sebanyak 1.600.
Data tersebut berbalik harus dengan perolehan Sumbar di Kecamatan Batang Anai. Kecamatan yang berbatasan dengan Kota Padang ini paling tinggi suara Sumbar, adalah Partai Gerindra. Partai yang didirikan Prabowo Subianto ini mendapatkan 2.384 dukungan, minus satu nagari; Ketaping yang belum masuk.
Posisi kedua untuk DPRD Sumbar di kecamatan ini, adalah Partai Demokrat yang dapat 2.167 suara. Ketiga PBB sebanyak 1.637 suara. Posisi berikutnya di ambil Golkar dan PAN yang dapat 1.467 dan 1.122 suara.
Prakiraan DPRD Sumbar
Berkaca dari peroleharan suara di satu Dapil itu, kemungkinan tujuh orang anggota DPRD Sumbar di Dapil II, Padang Pariaman dan Kota Pariaman akan diisi oleh Golkar, Gerindra, Demokrat, PAN, PDI Perjuangan, masing-masingnya dapat satu kursi. Kemudian dua kursi panas terakhir akan diperebutkan oleh PPP, PBB, PKB, dan Hanura. Siapa diantara caleg-nya yang akan melaju ke jalan Khatib Sulaiman, Kota Padang, besok kita sambung cerita ini. (damanhuri)
Rekap Suara Belum Selesai, Kursi Telah Dibagi Habis
Padang Pariaman--Suara hasil Pileg 9 April lalu belum selesai direkap oleh penyelenggara. Bahkan, hingga hari ini masih ada yang belum tuntas rekap suara tingkat panitia pemungutan suara (PPS). Tetapi, para caleg dan orang banyak sudah membagi kursi yang tersedia di Dapil terkait.
Di Kecamatan Lubuk Alung, Padang Pariaman, Minggu malam masih merekap tingkat nagari atau PPS. Yardi, Ketua PPK Kecamatan Lubuk Alung ikut nimbrung melakukan perekapan demikian. Padahal, tugasnya merekap untuk kecamatan.
Itulah semangat kerja yang dilakukannya. Dia mengaku capek, karena sejak sehari menjelang pencoblosan sampai saat ini belum bisa tidur nyenyak. "Rata-rata sampai pukul tiga dinihari. Ya, itulah tugas. Soal berapa suara siapa, saya tak bisa beberkan," kata dia.
Lubuk Alung yang terkenal wilayah paling panas, memang berdampak luar biasa ke Pileg Rabu lalu. Pantauan Singgalang, Minggu malam untuk suara DPRD Sumbar di kecamatan ini paling unggul PBB. Partai dengan lokomotif Yusril Ihza Mahendra ini mampu meraup 2.187 suara. Berikutnya yang juga untuk DPRD Sumbar ditempati PDI Perjuangan.
Partai yang dipimpin Megawati Soekarnoputri ini dapat 1.800 suara. Peringkat ketiga disabet Partai Demokrat, dengan perolehan suara DPRD Sumbar sebanyak 1.608. Dibawahnya PAN dan Golkar yang dapat suara Sumbar sebanyak 1.600.
Data tersebut berbalik harus dengan perolehan Sumbar di Kecamatan Batang Anai. Kecamatan yang berbatasan dengan Kota Padang ini paling tinggi suara Sumbar, adalah Partai Gerindra. Partai yang didirikan Prabowo Subianto ini mendapatkan 2.384 dukungan, minus satu nagari; Ketaping yang belum masuk.
Posisi kedua untuk DPRD Sumbar di kecamatan ini, adalah Partai Demokrat yang dapat 2.167 suara. Ketiga PBB sebanyak 1.637 suara. Posisi berikutnya di ambil Golkar dan PAN yang dapat 1.467 dan 1.122 suara.
Prakiraan DPRD Sumbar
Berkaca dari peroleharan suara di satu Dapil itu, kemungkinan tujuh orang anggota DPRD Sumbar di Dapil II, Padang Pariaman dan Kota Pariaman akan diisi oleh Golkar, Gerindra, Demokrat, PAN, PDI Perjuangan, masing-masingnya dapat satu kursi. Kemudian dua kursi panas terakhir akan diperebutkan oleh PPP, PBB, PKB, dan Hanura. Siapa diantara caleg-nya yang akan melaju ke jalan Khatib Sulaiman, Kota Padang, besok kita sambung cerita ini. (damanhuri)
Minggu, 13 April 2014
Sering Mancing Belut dan Ikan Puyu
Sering Mancing Belut dan Ikan Puyu
Mencari belut dan ikan puyu termasuk mainan yang aku sukai selama lima tahun mondok di Darul 'Ulum, Padang Magek, Tanah Datar. Sewaktu tinggal di Surau Tabiang, Kandar Koncen acap membawaku memancing belut di sawah. Begitu juga Uda Hendri, anak Rambatan yang sering tidur di surau itu juga pernah mengajak aku menangkap belut dengan lukah. Saat kelamaan nangkap belut sama Kandar Koncen, anak Pasa Usang itu sempat aku libur ngaji. Akibatnya, Tuo Zamzami dan Ajo Mael berang. Guru itu memarahi kami. Sebab, tujuan ke Padang Magek bukan mencari belut, tapi mencari ilmu. Untuk itu, aktivitas lain ndak boleh mengalahkan ngaji selama menuntut ilmu. Seminggu sekali kami main bola di lapangan Tanah Sirah, Guguak Baruah. Sementara kalau mencari ikan puyu ada sebuah sungai dekat Surau Tabiang. Sungai itu banyak melahirkan ikan puyu. Dan memang dalam nagari itu ikan puyu pula yang paling banyak. Baik ikan puyu maupun belut di Batusangkar itu terasa enak bila dibandingkan dengan belut dan ikan puyu yang ada di Piaman. Bahkan, di bandar sawah di kampung itu banyak ditemui ikan puyu. Dengan itu pula kami sering memasak ikan puyu untuk sambal makan.
Saat tinggal di Surau Tabiang kami tak begitu susah mengambil air untuk di masak. Ada di belakang surau, tepatnya di samping halaman Etek Dar. Dari air sumur Etek ini kami menyauk pagi petang buat dimasak. Dapur Surau Tabiang pas dibagian Mihrabnya. Surau itu punya kamar tempat Tuo Zam dan Ajo Mael tidur. Sementara, sebuah warung tempat keluarga Mak Kakan jualan pun ada kamar tempat tidur. Kami kalau siang jam istirahat acap tidur disitu sama Kamil dan Uda Kamal, termasuk juga dengan Uda Kas dan Uda Hendri. Saat aku di Surau Tabiang tiga uda itu sekolah di MAN II Batusangkar di Limo Kaum. Sedangkan Kamil di MTsN Rambatan. Kami juga acap melihat kesenian randai. Yang paling ngetop Grup Randai Siti Baheram. Waktu itu adik Etek Dar jadi pemainnya. Randai di Batusangkar memang terkenal. Setiap kali ada kesenian itu selalu ramai oleh penonton. Sampai-sampai kami melihat randai itu ke Rabatan, Pabalutan dan Simpang Gobah. Itulah hiburan kami saat di Padang Magek.
Asyiknya di Padang Magek, saat Etek Dar panen padi. Karena sawahnya jauh, terpaksa habis dihiriak dijaga pada malam hari. Kami tidur di pondok darurat, tapi tidurnya nyenyak karena jerami yang tebal ganti kasurnya. Ada dua malam tidur ditengah sawah, baru padi bisa sampai semuanya di rumah Etek tersebut. Aku juga pernah turun ke sawah, tapi nolong Apuak Mahyuddin dan Mak Kakan saja. Ada yang ikut saat menyabit padi, dan ada pula mengangkut padi yang sudah panen. Mak Kakan punya tanah yang lumayan luas disitu. Tanah ladangnya ada di Padang Magek, ada pula di Rambatan. Sebagian yang di Padang Magek diserahkannya kepada santri yang tinggal di surau dia untuk ditanami apa saja. Pernah ditanami oleh Pak Ali Akbar, suaminya Etek Dar. Ajo Buyuang yang anak Salisikan pernah pula berladang.
Ajo Buyuang terkenal dengan santri yang agak kelainan jiwa. Tapi dia taat beribadah. Dialah santri satu-satunya yang berkekalan wudhu. Tak heran, mukanya jernih. Biasanya sehabis wudhuk dia langsung ngaji. Kalau waktu shalat masuk dia azan. Soal ngaji meskipun umurnya udah jauh tuanya dari kami tetap saja seangkatan. Sebab dia termasuk yang lemah daya tangkapnya terhadap pengajian. Umumnya, di Surau Tabiang itu isinya kawan-kawan dari Pasa Usang. Mereka mengaji ke Padang Magek karena diantar oleh kakaknya Mak Kakan, Tuanku Mudo Mursyid. Anehnya, dari sekian banyak anak Pasa Usang di Padang Magek tak seorang pun yang jadi dalam menuntut ilmu. Hampir semuanya gagal. Pulang kampung dan hilang dari peredaran, seperti kebanyakan orang kampung biasa. Bahkan, Ajo Kiman berhenti di Padang Magek lantaran diusir oleh Mak Kakan.
Mencari belut dan ikan puyu termasuk mainan yang aku sukai selama lima tahun mondok di Darul 'Ulum, Padang Magek, Tanah Datar. Sewaktu tinggal di Surau Tabiang, Kandar Koncen acap membawaku memancing belut di sawah. Begitu juga Uda Hendri, anak Rambatan yang sering tidur di surau itu juga pernah mengajak aku menangkap belut dengan lukah. Saat kelamaan nangkap belut sama Kandar Koncen, anak Pasa Usang itu sempat aku libur ngaji. Akibatnya, Tuo Zamzami dan Ajo Mael berang. Guru itu memarahi kami. Sebab, tujuan ke Padang Magek bukan mencari belut, tapi mencari ilmu. Untuk itu, aktivitas lain ndak boleh mengalahkan ngaji selama menuntut ilmu. Seminggu sekali kami main bola di lapangan Tanah Sirah, Guguak Baruah. Sementara kalau mencari ikan puyu ada sebuah sungai dekat Surau Tabiang. Sungai itu banyak melahirkan ikan puyu. Dan memang dalam nagari itu ikan puyu pula yang paling banyak. Baik ikan puyu maupun belut di Batusangkar itu terasa enak bila dibandingkan dengan belut dan ikan puyu yang ada di Piaman. Bahkan, di bandar sawah di kampung itu banyak ditemui ikan puyu. Dengan itu pula kami sering memasak ikan puyu untuk sambal makan.
Saat tinggal di Surau Tabiang kami tak begitu susah mengambil air untuk di masak. Ada di belakang surau, tepatnya di samping halaman Etek Dar. Dari air sumur Etek ini kami menyauk pagi petang buat dimasak. Dapur Surau Tabiang pas dibagian Mihrabnya. Surau itu punya kamar tempat Tuo Zam dan Ajo Mael tidur. Sementara, sebuah warung tempat keluarga Mak Kakan jualan pun ada kamar tempat tidur. Kami kalau siang jam istirahat acap tidur disitu sama Kamil dan Uda Kamal, termasuk juga dengan Uda Kas dan Uda Hendri. Saat aku di Surau Tabiang tiga uda itu sekolah di MAN II Batusangkar di Limo Kaum. Sedangkan Kamil di MTsN Rambatan. Kami juga acap melihat kesenian randai. Yang paling ngetop Grup Randai Siti Baheram. Waktu itu adik Etek Dar jadi pemainnya. Randai di Batusangkar memang terkenal. Setiap kali ada kesenian itu selalu ramai oleh penonton. Sampai-sampai kami melihat randai itu ke Rabatan, Pabalutan dan Simpang Gobah. Itulah hiburan kami saat di Padang Magek.
Asyiknya di Padang Magek, saat Etek Dar panen padi. Karena sawahnya jauh, terpaksa habis dihiriak dijaga pada malam hari. Kami tidur di pondok darurat, tapi tidurnya nyenyak karena jerami yang tebal ganti kasurnya. Ada dua malam tidur ditengah sawah, baru padi bisa sampai semuanya di rumah Etek tersebut. Aku juga pernah turun ke sawah, tapi nolong Apuak Mahyuddin dan Mak Kakan saja. Ada yang ikut saat menyabit padi, dan ada pula mengangkut padi yang sudah panen. Mak Kakan punya tanah yang lumayan luas disitu. Tanah ladangnya ada di Padang Magek, ada pula di Rambatan. Sebagian yang di Padang Magek diserahkannya kepada santri yang tinggal di surau dia untuk ditanami apa saja. Pernah ditanami oleh Pak Ali Akbar, suaminya Etek Dar. Ajo Buyuang yang anak Salisikan pernah pula berladang.
Ajo Buyuang terkenal dengan santri yang agak kelainan jiwa. Tapi dia taat beribadah. Dialah santri satu-satunya yang berkekalan wudhu. Tak heran, mukanya jernih. Biasanya sehabis wudhuk dia langsung ngaji. Kalau waktu shalat masuk dia azan. Soal ngaji meskipun umurnya udah jauh tuanya dari kami tetap saja seangkatan. Sebab dia termasuk yang lemah daya tangkapnya terhadap pengajian. Umumnya, di Surau Tabiang itu isinya kawan-kawan dari Pasa Usang. Mereka mengaji ke Padang Magek karena diantar oleh kakaknya Mak Kakan, Tuanku Mudo Mursyid. Anehnya, dari sekian banyak anak Pasa Usang di Padang Magek tak seorang pun yang jadi dalam menuntut ilmu. Hampir semuanya gagal. Pulang kampung dan hilang dari peredaran, seperti kebanyakan orang kampung biasa. Bahkan, Ajo Kiman berhenti di Padang Magek lantaran diusir oleh Mak Kakan.
Sabtu, 12 April 2014
Ketua Umum MUI Padang Pariaman Itu Resmi Bergelar Doktor
Ketua Umum MUI Padang Pariaman Itu Resmi Bergelar Doktor
Lubuk Alung--Zainal Tuanku Mudo akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan S-3 nya di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Dengan demikian, Ketua MUI Padang Pariaman resmi bergelar doctor. Putra Pungguang Kasiak Lubuk Alung ini menyelesaikan program dotoralnya pada Kamis (10/4), tepatnya sehari setelah pencoblosan.
Zainal, putra kelahiran 1977 ini menyelesaikan S-3 dalam lima semester, dengan yudisium cum laude yang nilai rata-ratanya 3,68. Sekarang dia beraktifitas sebagai dosen tetap di IAIN Imam Bonjol Padang, tepatnya di Fakultas Dakwah, disamping juga menjadi dosen luar biasa pada STIT Syekh Burhanuddin Pariaman, dan STAI Yastis Padang.
Karirnya di dunia pendidikan sudah dimulai semenjak 1996-1998 sebagai tenaga pengajar di Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan, Pakandangan, guru di SMP Ashabul Kahfi, Asam Pulau 2002-2003, di SMK Indonesia Raya, Balah Hilia 2003-2008. Ketika memasuki perguruan tinggi sebagai mahasiswa di IAIN Imam Bonjol tahun 1998, mulai merintis pendirian lembaga pendidikan Islam; Pondok Pesantren Bustanul Yaqin namnya di Punggung Kasik, kampunya sendiri dan langsung bertindak sebagai pengasuh sekaligus pimpinan.
Hari-harinya banyak dihabiskan di Ponpes Bustanul Yaqin sambil mengajar ngaji anak-anak kampung. Pendidikan formalnya SDN 1 Pungguang Kasiak 1990, melanjutkan ke Pondok Pesantren Nurul Yaqin hingga 1996, disamping menamatkan studi di MTsN Kapalo Hilalang 1993. Kemudian juga menyelesaikan pendidikan di MAN Lubuk Alung, jurusan ilmu sosial 1996. Selepas dari Ponpes Nurul Yaqin Ringan-Ringan, diberi gelar kehormatan; Tuanku Mudo.
S1 ditempuh Zainal di IAIN Imam Bonjol Padang, di Fakultas Dakwah, Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam, lulus 2002 dengan yudisium cum laude. Pendidikan S2 dilanjutkannya di kampus yang sama, dengan memilih konsentarsi Sejarah Peradaban Islam dan selesai pada 2005. Pertengahan 2011, Zainal memberanikan diri menimba ilmu S3 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, ditengah ketatnya peraturan izin kuliah di Kemenag RI, serta beratnya sistem perkuliahan yang diterapkan SPs UIN Syarif Hidayatullah.
Konsentrasi yang dipilihnya, adalah Sejarah Peradaban Islam. Karya Ilmiyah yang telah diterbitkan: Dakwah Transformatif, Penerbit PP Lakspesdan NU 2006 (Buku), Minat Masyarakat Mengikuti Dakwah Penerbit Fakultas Dakwah IAIN Imam Bonjol Padang 2009 (Jurnal Tahtwir PMI), Kontekstualisasi Ajaran Islam (Renungan Dinamisasi Islamisasi Kultur) Penerbit Fakultas Dakwah IAIN Imam Bonjol Padang 2009 (Jurnal Tahwir PMI), Jangkar Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah di Sumatera Barat dalam Tinjauan Sejarah, Penerbit STIT Syekh Burhanuddin Pariaman, 2011 (Jurnal Mau’izah).
Zainal juga aktif di berbagai organisasi. Selama mahasiswa dia aktif di HMI, sebagai pengurus di Komisariat Fakultas Dakwah IAIN Imam Bonjol Padang. 2003-2005 aktif menjadi pengurus di KNPI Padang-Pariaman. 2005 ditunjuk menjadi Ketua Umum MUI Kecamatan Lubuk Alung periode 2005-2010, dan 2007 ditugasi menjadi Sekretaris Umum MUI Padang-Pariaman, periode 2007-2012. Pada 2013 diserahi jabatan Ketua Umum MUI Padang-Pariaman.
Saat bersamaan, Zainal juga aktif sebagai Ketua Umum LP Ma’arif NU Padang-Pariaman periode 2008-2013. Di tingkat Provinsi Sumatera Barat, dia menjadi Ketua PW IPNU periode 2006-2008, Sekretaris Umum Lakpesdam NU Sumatera Barat 2005-2010, terkahir menjadi Wakil Sekretaris PW NU Sumatera Barat periode 2010-2015. (damanhuri)
Lubuk Alung--Zainal Tuanku Mudo akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan S-3 nya di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Dengan demikian, Ketua MUI Padang Pariaman resmi bergelar doctor. Putra Pungguang Kasiak Lubuk Alung ini menyelesaikan program dotoralnya pada Kamis (10/4), tepatnya sehari setelah pencoblosan.
Zainal, putra kelahiran 1977 ini menyelesaikan S-3 dalam lima semester, dengan yudisium cum laude yang nilai rata-ratanya 3,68. Sekarang dia beraktifitas sebagai dosen tetap di IAIN Imam Bonjol Padang, tepatnya di Fakultas Dakwah, disamping juga menjadi dosen luar biasa pada STIT Syekh Burhanuddin Pariaman, dan STAI Yastis Padang.
Karirnya di dunia pendidikan sudah dimulai semenjak 1996-1998 sebagai tenaga pengajar di Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan, Pakandangan, guru di SMP Ashabul Kahfi, Asam Pulau 2002-2003, di SMK Indonesia Raya, Balah Hilia 2003-2008. Ketika memasuki perguruan tinggi sebagai mahasiswa di IAIN Imam Bonjol tahun 1998, mulai merintis pendirian lembaga pendidikan Islam; Pondok Pesantren Bustanul Yaqin namnya di Punggung Kasik, kampunya sendiri dan langsung bertindak sebagai pengasuh sekaligus pimpinan.
Hari-harinya banyak dihabiskan di Ponpes Bustanul Yaqin sambil mengajar ngaji anak-anak kampung. Pendidikan formalnya SDN 1 Pungguang Kasiak 1990, melanjutkan ke Pondok Pesantren Nurul Yaqin hingga 1996, disamping menamatkan studi di MTsN Kapalo Hilalang 1993. Kemudian juga menyelesaikan pendidikan di MAN Lubuk Alung, jurusan ilmu sosial 1996. Selepas dari Ponpes Nurul Yaqin Ringan-Ringan, diberi gelar kehormatan; Tuanku Mudo.
S1 ditempuh Zainal di IAIN Imam Bonjol Padang, di Fakultas Dakwah, Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam, lulus 2002 dengan yudisium cum laude. Pendidikan S2 dilanjutkannya di kampus yang sama, dengan memilih konsentarsi Sejarah Peradaban Islam dan selesai pada 2005. Pertengahan 2011, Zainal memberanikan diri menimba ilmu S3 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, ditengah ketatnya peraturan izin kuliah di Kemenag RI, serta beratnya sistem perkuliahan yang diterapkan SPs UIN Syarif Hidayatullah.
Konsentrasi yang dipilihnya, adalah Sejarah Peradaban Islam. Karya Ilmiyah yang telah diterbitkan: Dakwah Transformatif, Penerbit PP Lakspesdan NU 2006 (Buku), Minat Masyarakat Mengikuti Dakwah Penerbit Fakultas Dakwah IAIN Imam Bonjol Padang 2009 (Jurnal Tahtwir PMI), Kontekstualisasi Ajaran Islam (Renungan Dinamisasi Islamisasi Kultur) Penerbit Fakultas Dakwah IAIN Imam Bonjol Padang 2009 (Jurnal Tahwir PMI), Jangkar Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah di Sumatera Barat dalam Tinjauan Sejarah, Penerbit STIT Syekh Burhanuddin Pariaman, 2011 (Jurnal Mau’izah).
Zainal juga aktif di berbagai organisasi. Selama mahasiswa dia aktif di HMI, sebagai pengurus di Komisariat Fakultas Dakwah IAIN Imam Bonjol Padang. 2003-2005 aktif menjadi pengurus di KNPI Padang-Pariaman. 2005 ditunjuk menjadi Ketua Umum MUI Kecamatan Lubuk Alung periode 2005-2010, dan 2007 ditugasi menjadi Sekretaris Umum MUI Padang-Pariaman, periode 2007-2012. Pada 2013 diserahi jabatan Ketua Umum MUI Padang-Pariaman.
Saat bersamaan, Zainal juga aktif sebagai Ketua Umum LP Ma’arif NU Padang-Pariaman periode 2008-2013. Di tingkat Provinsi Sumatera Barat, dia menjadi Ketua PW IPNU periode 2006-2008, Sekretaris Umum Lakpesdam NU Sumatera Barat 2005-2010, terkahir menjadi Wakil Sekretaris PW NU Sumatera Barat periode 2010-2015. (damanhuri)
Minggu, 06 April 2014
Berikan Contoh Taat Aturan Caleg Menanggalkan APK-nya Sendiri
Berikan Contoh Taat Aturan
Caleg Menanggalkan APK-nya Sendiri
Ketaping--Sabtu (5/4) lalu menjadi hari terakhir bagi partai politik dan caleg untuk berkampanye. Dan hari itu pula terakhirnya alat peraga kampanye (APK) terpasangnya diberbagai lokasi.
Bagindo Rosman, calon anggota DPRD Padang Pariaman dari PAN di Dapil IV daerah itu memperlihatkan contoh yang baik, yang harus ditiru semua caleg. Betapa tidak, mulai siang Sabtu itu semua APK miliknya dicopot oleh tim-nya.
Mulai dari spanduk, baliho kecil, bendera partai yang dia pasang selama kampanye, jelang Magrib masuk, Sabtu itu tak satu pun lagi yang terlihat. Puluhan anggota tim sukses dia berjalan memakai dua unit mobil menanggalkan semua APK yang dipasangnya di tiga kecamatan dalam Dapil tersebut. "Sebelum orang lain menanggalkan secara paksa, mendingan kita sendiri yang melakukannya. Dan itu aturan Pemilu yang mesti kita ikuti dengan baik," kata dia.
Sebelum berangkat, timnya diberikan arahan, agar tidak salah dalam melakukan kerja demikian. "Yang ditanggalkan hanya punya kita. Milik caleg lain jangan dibuka, karena bukan wewenang kita," kata dia.
Marsedes Amir, Syamsul Bahri, ketua pemuda Tabek, Nagari Ketaping memuji apa yang dilakukan Rosman bersama timnya. Dari sekian banyak anak Nagari Ketaping yang maju, Rosman caleg yang pantas dipilih. Apalagi dia mantan anggota dewan vokal yang pernah mewarnai perpolitikan Padang Pariaman.
M. Yani, pimpinan TK Mercy Lubuk Alung dan Datuak Toma, panghulu Suku Nias di Ketaping menilai, sikap taat akan aturan adalah perilaku yang mesti diperlihatkan calon anggota dewan terhormat, seperti yang Dibuat Rosman saat ini.
"Kita bisa lihat, belum jadi anggota dewan saja sudah banyak caleg yang melanggar peraturan, apalagi kalau terpilih nantinya. Rosman adalah calon pertama yang pernah ada dalam pusaran taat akan aturan itu. Patut diberikan apresiasi.
Rahman, sekretaris DPD PAN Padang Pariaman menyebutkan, baru Rosman yang pertama menanggalkan APK-nya, dari 40 orang caleg partai untuk daerah ini. Dan memang, hal itu telah diintruksikan partai kepada semua caleg dan simpatisan agar menanggalkan APK sebelum ditanggalkan pihak lain.
"Secara pribadi, saya tersentuh dan terkejut melihat aksi yang dilakukan mantan anggota dewan yang saat ini calon nomor urut delapan tersebut. Kita butuh politisi kayak Rosman ditubuh PAN Padang Pariaman," kata dia. (525)
Caleg Menanggalkan APK-nya Sendiri
Ketaping--Sabtu (5/4) lalu menjadi hari terakhir bagi partai politik dan caleg untuk berkampanye. Dan hari itu pula terakhirnya alat peraga kampanye (APK) terpasangnya diberbagai lokasi.
Bagindo Rosman, calon anggota DPRD Padang Pariaman dari PAN di Dapil IV daerah itu memperlihatkan contoh yang baik, yang harus ditiru semua caleg. Betapa tidak, mulai siang Sabtu itu semua APK miliknya dicopot oleh tim-nya.
Mulai dari spanduk, baliho kecil, bendera partai yang dia pasang selama kampanye, jelang Magrib masuk, Sabtu itu tak satu pun lagi yang terlihat. Puluhan anggota tim sukses dia berjalan memakai dua unit mobil menanggalkan semua APK yang dipasangnya di tiga kecamatan dalam Dapil tersebut. "Sebelum orang lain menanggalkan secara paksa, mendingan kita sendiri yang melakukannya. Dan itu aturan Pemilu yang mesti kita ikuti dengan baik," kata dia.
Sebelum berangkat, timnya diberikan arahan, agar tidak salah dalam melakukan kerja demikian. "Yang ditanggalkan hanya punya kita. Milik caleg lain jangan dibuka, karena bukan wewenang kita," kata dia.
Marsedes Amir, Syamsul Bahri, ketua pemuda Tabek, Nagari Ketaping memuji apa yang dilakukan Rosman bersama timnya. Dari sekian banyak anak Nagari Ketaping yang maju, Rosman caleg yang pantas dipilih. Apalagi dia mantan anggota dewan vokal yang pernah mewarnai perpolitikan Padang Pariaman.
M. Yani, pimpinan TK Mercy Lubuk Alung dan Datuak Toma, panghulu Suku Nias di Ketaping menilai, sikap taat akan aturan adalah perilaku yang mesti diperlihatkan calon anggota dewan terhormat, seperti yang Dibuat Rosman saat ini.
"Kita bisa lihat, belum jadi anggota dewan saja sudah banyak caleg yang melanggar peraturan, apalagi kalau terpilih nantinya. Rosman adalah calon pertama yang pernah ada dalam pusaran taat akan aturan itu. Patut diberikan apresiasi.
Rahman, sekretaris DPD PAN Padang Pariaman menyebutkan, baru Rosman yang pertama menanggalkan APK-nya, dari 40 orang caleg partai untuk daerah ini. Dan memang, hal itu telah diintruksikan partai kepada semua caleg dan simpatisan agar menanggalkan APK sebelum ditanggalkan pihak lain.
"Secara pribadi, saya tersentuh dan terkejut melihat aksi yang dilakukan mantan anggota dewan yang saat ini calon nomor urut delapan tersebut. Kita butuh politisi kayak Rosman ditubuh PAN Padang Pariaman," kata dia. (525)
Selasa, 01 April 2014
Santri yang Jadi Wartawan
Santri yang Jadi Wartawan
Di Lubuk Pandan ada OSIP. Yakni Organisasi Santri Intra Pesantren. Aku sempat menjabat Ketua OSIP itu satu periode. Disamping itu, sebagai bahan bacaan umum pesantren berlangganan Media Dahwah yang terbit sebulan sekali. Bermula dari acap membaca itu, aku jadi terbiasa membaca koran dan majalah. Tak heran, setiap Selasa aku ke Lubuk Alung membeli Koran Republika dan Tabloid Adil. Dua koran itu yang sering aku baca saat di Lubuk Pandan. Rebublika yang penuh dengan nuansa Islami menjadi kegemaran aku dalam berinteraksi dengan berbagai tulisan yang diolah oleh penulis hebat. Keseringan membaca, timbul niat dalam hati, kapan ya aku bisa menulis di koran? Itu kata-kata yang acap terlintas dalam angan-anganku.
Zaman itu adik Abak, Amiruddin yang tamat MTI Batang Kabung dan IAIN sedang menjadi wartawan Haluan. Motivasiku untuk menulis dan jadi wartawan terus menyeruak, tatkala melihat Zakirman Tanjung yang setiap Jumat melakukan sembahyang seminggu sekali itu di kampungnya; Masjid Raya Lubuk Pandan. Sebelum sembahyang, pengurus masjid mengumpulkan infak dari jamaah. "Zakirman Tanjung, wartawan Canang seribu rupiah," kata pengurus. Aku lihat dan aku perhatikan terus dia. Dalam hatiku berkata, wartawan bapak ini rupanya. Dan itu hampir tiap minggu aku perhatikan.
Sementara kecanduan membaca koran dan majalah, termasuk juga tabloid semakin candu bagiku. Ibaratnya, rumah tampak jalan tak tahu. Itu barangkali keinginanku tentang pekerjaan tulis menulis tersebut. Impian menulis itu terwujud, setelah aku kawin, dan melakukan banyak pekerjaan pula sebelumnya. Aku sempat jadi tukang cetak foto kolat lima menit siap di Ulak Karang Padang. Sempat pula jadi kuli bangunan di Mentawai, dan sempat pula sebulan mengajar anak mengaji di Kandis, Riau.
Tahun 1999 setelah Pemilu, aku ditawari Pak Amiruddin mengantarkan koran Padang Pos seminggu sekali. Ada sekitar 150 orang langganan yang harus diantarkan. Mulai dari Batang Anai sampai Batang Gasan. Dari Ulakan terus ke Kayutanam. Kota Pariaman terus ke VII Koto Sungai Sariak lama. Sambil mengantar koran itulah keinginan menulis yang tumbuh sejak di pesantren itu mulai aku wujudkan. Perlahan aku mulai menulis opini. Mulai pertama akhirnya ketagihan, dan lama-lama sudah jadi kebiasaan. Waktu HUT pertama Padang Pos, aku termasuk loper berpretasi, sehingga dapat penghargaan pada malam anugrah yang diadakan di Pangeran Hotel itu.
Kemudian Padang Pos mengadakan kemah bakti di Sungai Limau. Hadir juga Pak Infai yang saat itu menjabat Pemimpin perusahaan Padang Pos. Dia langsung sebut namaku. "Damanhuri ya," katanya. Iya pak," kata aku. Sekarang coba mulai menulis berita. Jangan opini terus. Biar jadi wartawan pula. Paka Infai memberikan contoh tekhnis penulisan berita. Dengan siapa harus konfirmasi. Diberikannya contoh tentang taman di Pantai Arta Sungai Limau. Lalu aku coba dengan topik yang lain, yang menurut seleraku layak jadi pulikasi berita. Saat itu aku belum pakai komputer. Hanya numpang ngetik di Kantor Desa Padang Toboh Ulakan, dengan mesin tik yang cukup tua. Pernah mesin ketik itu aku bawa ke Surau Kampung Paneh, tempat aku mengajar anak-anak mengaji dan sekalian tempat tinggal.
Sedang enak jadi wartawan, relasi mulai bertambah, Padang Pos pun terseok-seok terbitnya. Surat tugas aku sebagai wartawan langsung ditandatangai Basril Basyar sebagai Pemred koran itu. Lalu datang pengangguran, karena Padang Pos sudah dianggap tak lagi rutin terbit tiap pekan. Datang Armaidi Tanjung menawari aku jadi wartawan Harian Semangat Demokrasi, yang kala itu sudah terbit tiga kali seminggu. Pemrednya Pak Infai yang aku kenal sejak di Padang Pos dulu.
Tak berselang lama, Semangat Demokrasi habis. Aku diajak menjadi wartawan Media Nusantara untuk Pariaman bersama Netty Herawati. Bos koran ini Asli Khaidir. Hanya setahun, Media Nusantara berganti nama dengan Media Sumbar. Anehnya, berganti bos besarnya, Media Sumbar pun tak mampu rutin terbit. Sampai tahun 2005 aku di Media Sumbar, sempat raun-raun ke Malaysia dan Singapuran tahun 2004 bersama Pemkab Padang Pariaman. Tak berselang lama di Media Sumbar, aku diminta bergabung dengan Publik. Tabloid yang dipimpin AA Datuak Rajo Djohan ini aku masuki untuk kepala perwakilan Pariaman. Sama hal dengan Media Nusantara, Media Sumbar di Publik aku juga mengantarkan berita seminggu sekali, sambil mengantarkan uang tagihan. Untuk Media Sumbar dan Publik aku menjabat wartawan dan kepala perwakilan Pariaman.
Hanya dua tahun aku di Publik. Sempat raun sekali ke Bali bersama wartawan dan Humas Pemkab Padang Pariaman tahun 2006, lalu masuk ke Harian Bersama terbitan Medan. Di koran ini aku mengisi seminggu sekali. Dalam mengisi Harian Bersama ini, aku juga ikut membantu A Basril H di Serambi Pos Pariaman. Sampai kode namaku dimasukkan bergandengan dengan nama Abe. Sekali seminggu aku mengantarkan Abe ke kantor Serambi di Tabing, Padang. November 2008, Gusnaldi Saman yang menjadi Korda Harian Singgalang di Pariaman ditarik ke redaksi menjadi Korlip. Sebelum ke Padang dia menghubungi aku yang saat itu sedang dalam perjalanan dari Pasaman Barat ke Lubuk Sikaping. Kata dia, ada peluang masuk ke Singgalang, apa masih ingin jadi wartawan, kata dia dalam telp.
Aku langsung meresponnya dengan mengantarkan lamaran tiga hari setelah ditelp tersebut. Akhirnya awal Desember 2008 sampai sekarang aku resmi jadi wartawan Singgalang untuk daerah liputan Pariaman.
Di Lubuk Pandan ada OSIP. Yakni Organisasi Santri Intra Pesantren. Aku sempat menjabat Ketua OSIP itu satu periode. Disamping itu, sebagai bahan bacaan umum pesantren berlangganan Media Dahwah yang terbit sebulan sekali. Bermula dari acap membaca itu, aku jadi terbiasa membaca koran dan majalah. Tak heran, setiap Selasa aku ke Lubuk Alung membeli Koran Republika dan Tabloid Adil. Dua koran itu yang sering aku baca saat di Lubuk Pandan. Rebublika yang penuh dengan nuansa Islami menjadi kegemaran aku dalam berinteraksi dengan berbagai tulisan yang diolah oleh penulis hebat. Keseringan membaca, timbul niat dalam hati, kapan ya aku bisa menulis di koran? Itu kata-kata yang acap terlintas dalam angan-anganku.
Zaman itu adik Abak, Amiruddin yang tamat MTI Batang Kabung dan IAIN sedang menjadi wartawan Haluan. Motivasiku untuk menulis dan jadi wartawan terus menyeruak, tatkala melihat Zakirman Tanjung yang setiap Jumat melakukan sembahyang seminggu sekali itu di kampungnya; Masjid Raya Lubuk Pandan. Sebelum sembahyang, pengurus masjid mengumpulkan infak dari jamaah. "Zakirman Tanjung, wartawan Canang seribu rupiah," kata pengurus. Aku lihat dan aku perhatikan terus dia. Dalam hatiku berkata, wartawan bapak ini rupanya. Dan itu hampir tiap minggu aku perhatikan.
Sementara kecanduan membaca koran dan majalah, termasuk juga tabloid semakin candu bagiku. Ibaratnya, rumah tampak jalan tak tahu. Itu barangkali keinginanku tentang pekerjaan tulis menulis tersebut. Impian menulis itu terwujud, setelah aku kawin, dan melakukan banyak pekerjaan pula sebelumnya. Aku sempat jadi tukang cetak foto kolat lima menit siap di Ulak Karang Padang. Sempat pula jadi kuli bangunan di Mentawai, dan sempat pula sebulan mengajar anak mengaji di Kandis, Riau.
Tahun 1999 setelah Pemilu, aku ditawari Pak Amiruddin mengantarkan koran Padang Pos seminggu sekali. Ada sekitar 150 orang langganan yang harus diantarkan. Mulai dari Batang Anai sampai Batang Gasan. Dari Ulakan terus ke Kayutanam. Kota Pariaman terus ke VII Koto Sungai Sariak lama. Sambil mengantar koran itulah keinginan menulis yang tumbuh sejak di pesantren itu mulai aku wujudkan. Perlahan aku mulai menulis opini. Mulai pertama akhirnya ketagihan, dan lama-lama sudah jadi kebiasaan. Waktu HUT pertama Padang Pos, aku termasuk loper berpretasi, sehingga dapat penghargaan pada malam anugrah yang diadakan di Pangeran Hotel itu.
Kemudian Padang Pos mengadakan kemah bakti di Sungai Limau. Hadir juga Pak Infai yang saat itu menjabat Pemimpin perusahaan Padang Pos. Dia langsung sebut namaku. "Damanhuri ya," katanya. Iya pak," kata aku. Sekarang coba mulai menulis berita. Jangan opini terus. Biar jadi wartawan pula. Paka Infai memberikan contoh tekhnis penulisan berita. Dengan siapa harus konfirmasi. Diberikannya contoh tentang taman di Pantai Arta Sungai Limau. Lalu aku coba dengan topik yang lain, yang menurut seleraku layak jadi pulikasi berita. Saat itu aku belum pakai komputer. Hanya numpang ngetik di Kantor Desa Padang Toboh Ulakan, dengan mesin tik yang cukup tua. Pernah mesin ketik itu aku bawa ke Surau Kampung Paneh, tempat aku mengajar anak-anak mengaji dan sekalian tempat tinggal.
Sedang enak jadi wartawan, relasi mulai bertambah, Padang Pos pun terseok-seok terbitnya. Surat tugas aku sebagai wartawan langsung ditandatangai Basril Basyar sebagai Pemred koran itu. Lalu datang pengangguran, karena Padang Pos sudah dianggap tak lagi rutin terbit tiap pekan. Datang Armaidi Tanjung menawari aku jadi wartawan Harian Semangat Demokrasi, yang kala itu sudah terbit tiga kali seminggu. Pemrednya Pak Infai yang aku kenal sejak di Padang Pos dulu.
Tak berselang lama, Semangat Demokrasi habis. Aku diajak menjadi wartawan Media Nusantara untuk Pariaman bersama Netty Herawati. Bos koran ini Asli Khaidir. Hanya setahun, Media Nusantara berganti nama dengan Media Sumbar. Anehnya, berganti bos besarnya, Media Sumbar pun tak mampu rutin terbit. Sampai tahun 2005 aku di Media Sumbar, sempat raun-raun ke Malaysia dan Singapuran tahun 2004 bersama Pemkab Padang Pariaman. Tak berselang lama di Media Sumbar, aku diminta bergabung dengan Publik. Tabloid yang dipimpin AA Datuak Rajo Djohan ini aku masuki untuk kepala perwakilan Pariaman. Sama hal dengan Media Nusantara, Media Sumbar di Publik aku juga mengantarkan berita seminggu sekali, sambil mengantarkan uang tagihan. Untuk Media Sumbar dan Publik aku menjabat wartawan dan kepala perwakilan Pariaman.
Hanya dua tahun aku di Publik. Sempat raun sekali ke Bali bersama wartawan dan Humas Pemkab Padang Pariaman tahun 2006, lalu masuk ke Harian Bersama terbitan Medan. Di koran ini aku mengisi seminggu sekali. Dalam mengisi Harian Bersama ini, aku juga ikut membantu A Basril H di Serambi Pos Pariaman. Sampai kode namaku dimasukkan bergandengan dengan nama Abe. Sekali seminggu aku mengantarkan Abe ke kantor Serambi di Tabing, Padang. November 2008, Gusnaldi Saman yang menjadi Korda Harian Singgalang di Pariaman ditarik ke redaksi menjadi Korlip. Sebelum ke Padang dia menghubungi aku yang saat itu sedang dalam perjalanan dari Pasaman Barat ke Lubuk Sikaping. Kata dia, ada peluang masuk ke Singgalang, apa masih ingin jadi wartawan, kata dia dalam telp.
Aku langsung meresponnya dengan mengantarkan lamaran tiga hari setelah ditelp tersebut. Akhirnya awal Desember 2008 sampai sekarang aku resmi jadi wartawan Singgalang untuk daerah liputan Pariaman.
Langganan:
Postingan (Atom)



