wartawan singgalang

Senin, 24 September 2012

Awak tak Kuat, Anak Stroke Pula

Awak tak Kuat, Anak Stroke Pula

Lubuk Alung---Beti Gusneli (40) sudah tiga bulan tergolek diatas tempat tidurnya. Ibu tiga anak itu mengalami penyakit stroke yang sangat berat. Seluruh tubuhnya sangat sakit ketika digarikkan. Dia hanya bisa menangis, dan tak lagi pandai bicara. Sedihnya, Beti Gusneli setiap harinya diberisin oleh ibuya yang sudah tua pula, Bastinur (72). Penyakit penakutkan banyak orang itu telah cukup lama menyerang Beti. Namun, yang paling parah itu kondisinya dalam tiga bulan terakhir ini.
    Sebagai keluarga miskin, Bastinur tak kuat untuk berbuat banyak kepada anaknya itu. Apalagi, sejak Beti Gusneli sakit, Bastinur tak lagi membuat karupuak ubi, yang selama ini ditekuninya untuk keperluan biaya hidupnya, lantaran kesibukkan mengemasi anaknya yang sakit berat. Sedangkan Awal Agus (42), suami Beti Gusneli hanya seorang buruh kasar di salah satu gudang batubata di Pasie Laweh Lubuk Alung.
    Setiap hari Awal Agus bolak balik-balik dari rumahnya, di Sungai Abang, Lubuk Alung ke Pasie Laweh. Dia buat batubata, sesuai permintaan induk semangnya. Semakin banyak batubata yang dia buat, semakin banyak pula pitih yang dia dapatkan. Namun, akhir-akhir ini permintaan akan batubata semakin berkurang, sehingga tukang cetaknya pun tak bisa banyak kerja. Paling banyak itu penghasilan Awal Agus Rp60 ribu sehari. Itupun kalau lagi musim cetak banyak.
    "Alah tigo rumah sakik yang dituruik. Ke rumah sakit tentara dan M. Djamil di Padang dan ke Pariaman. Tapi belum cegak. Saat itu dibawa kerumah sakit, karena ada orang lain yang mengasih uang. Kalau tidak begitu tak kuat untuk berobat kerumah sakit. Kini, penyakitnya hanya diobati dengan diurut oleh orang pintar, yang datang kerumah," cerita Bastinur saat Singgalang mendatangi rumahnya bersama Walinagari Lubuk Alung, Harry Subrata, Minggu kemarin.
    Dulu, Bastinur punya penghasilan yang cukup lumayan. Ada sekitar Rp100 ribu uang kemasukkannya dalam sepekan dari hasil penjualan karupuak balado, yang dia buat setiap harinya. "Ndak kuat lagi nak untuk mengobatinya. Suaminya pun tak punya banyak pitih untuk itu. Sedangkan, anak Beti Gusneli yang kecil juga mengalami sakit step," ujar Bastinur lagi.
    Sejak tiga bulan belakangan, Bastinur yang telah tua usia itu hanya banyak bergelut dengan menyuapi makan dan minum akannya yang tak tak pandai lagi berjalan itu. Lebih dari itu, kotoran yang keluar dari bandannya pun harus dibersihkan. Sedih memang. Dia ingin sekali anaknya itu cepat sembuh, dan bisa kembali beraktivitas seperti sediakala. Apalagi ketiga anaknya masih kecil-kecil, yang butuh bimbingan orangtua. Segala usaha, sebatas kemapuan sebagai orang kampung miskin telah dilakukan kesana-kemari mencari obat. Namun, kesembuhan masih belum berpihak kepadanya.
    Manakala ada orang kampung lainnya yang iba terhadap keluarga itu, dibantulah pengobatan Beti Gusneli. Bagi Bastinur, bantuan dari orang lain itu sangat besar sekali artinya, karena dia orang yang tak punya. Dari lima putra-putrinya hanya dua orang yang tinggal dikampung. Disamping, Beti Gusneli yang sakit stroke, ada lagi seorang kakak Beti yang tinggal dikampung istrinya. Bastinur adalah seorang ibu janda, yang telah ditinggal suaminya yang meninggal sejak beberapa tahun yang silam.
    Bastinur pun bagaikan mengayuh biduk kehidupan ditengah gelombang besar, ditambah pendayungnya yang patah pula. Tiap hari dia berusaha, berdoa bagaimana anak perempuannya itu bisa sembuh. (damanhuri)

Kamis, 13 September 2012

Permintaan Susu Kambing Etawa yang tak Terpenuhi

Permintaan Susu Kambing Etawa yang tak Terpenuhi

Patamuan---Nizam (35) ingin menjadikan Bukit Gadang sebagai sentra pengembangan ternak kambing. Kini, kampung kecil yang terletak di Nagari Tandikek, Kecamatan Patamuan, Padang Pariaman itu telah diisi dengan berbagai jenis kambing, dengan luas lahan pengembalaan sekitar 30 hektare. Ada 400 ekor kambing dari berbagai jenis yang dikelolanya saat ini.
    Dia mengembangkan kambing jenis Peranakan Etawa (PE), Boer, Merino, Jawaran, Kambing Kacang Lokal dan Kacang Lembayung. Usaha pengembangan dan perternakan kambing itu telah dimulainya sejak tahun 2007 silam. Dari sekian banyak kambing etawa yang dikelolanya, mampu mengeluarkan susu sedikitnya 10 liter sehari.
    "Permintaan akan susu kambing etawa ini tidak terpenuhi. Saat ini saja para pembeli datang langsung kerumah. Susu kambing itu setiap pagi diperah. Dan itu berlaku bagi kambing etawa yang telah dipisahkan dari induknya, dan berumur sekitar dua bulan. Susu kambing itu diminum mentah dan mempunyai banyak kasiat," cerita Nizam saat bertemu Singgalang, Rabu lalu.
    Diantara kasiatnya, mampu menyembuhkan persoalan penyakit yang berhubungan dengan metabulisme atau pencernaan, mengobati asma, TBC, mencegah pertumbuhan kanker, mengobati reproduksi perempuan, kecantikan kulit dan wajah, serta mampu meningkatkan daya tahan tubuh.
    Dari mengelola sebanyak itu jenis kambing, bapak empat orang putra-putri ini mempekerjakan 12 orang karyawan. Semua karyawannya orang Jawa. Digaji Rp1,5 juta sebulan setiap karyawan itu. Kambing dikelola dengan sistem kurungan dan gembala. "Disamping tersedia susu kambing etawa, kita juga menyediakan kambing ternak, kambing aqiqah, dan lain sebagainya. Namun, yang paling menarik itu, tingginya permintaan terhadap susu kambing etawa, yang masih sulit untuk dipenuhi, karena keterbatasan jenis kambing demikian," sebutnya.
    Susu kambing etawa itu dia jual Rp40 ribu seliternya. Usaha itulah yang membuat dia bersama keluarganya bisa enjoy. Apalagi permintaan akan susu semakin meningkat terus. Bagi Nizam, mengelola kambing harus banyak sabar dan tabah, dan tentunya telaten, sehingga binatang itu bisa berkembang dengan pesatnya. Disamping dikasih tanaman hijau, kambingnya juga diberikan kosentrat. Paling tidak dua kilogram kosentrat sehari yang dibutuhkan.
    Sedangkan untuk mencari tanaman hijau, Nizam bersama anak buahnya tidak merasa kesulitan. Disamping lahan pengembalaan yang dia sediakan cukup luas, juga dilahan lainnya, dimana rumput masih dianggap tanaman yang tak membawa manfaat banyak oleh masyarakat kampung itu. Itulah yang dimanfaatkannya untuk menghidupi kambing yang sebanyak itu.
    "Disamping di Bukit Gadang, Lubuak Aro, sebagian kandang kambing ditempatkan dilokasi rumahnya, Puncuang Anam, Tandikek. Seperti kambing etawa ini kandangnya di khususnya dirumah. Sedangkan kambing jenis lainnya ditempatkan di Bukit Gadang demikian," ungkapnya. (damanhuri)

Rabu, 12 September 2012

Menjadikan Masjid Raya Toboh Gadang Sebagai Kekuatan Syarak dan Adat

Menjadikan Masjid Raya Toboh Gadang Sebagai Kekuatan Syarak dan Adat

Toboh Gadang---Keberadaan Masjid Raya Toboh Gadang tidak sekedar simbol kekuatan agama ditengah masyarakat nagari setempat. Tetapi, lebih dari itu, juga simbol dari kekuatan adat istiadat yang berlaku di salingka nagari itu sendiri. Tak heran, di masjid itu ada mufti, imam, khatib, bilal, garin dan labai, yang merupakan perpaduan antara kekuatan syarak (agama) dan adat.
    "Imam dan khatib merupakan induk semangnya labai. Di Nagari Toboh Gadang, Padang Pariaman ini ada 20 labai. Semua labai itu harus tunduk dan patuh kepada imam dan khatib demikian. Seorang yang memangku jabatan imam nagari, adalah orang pilihan. Kalau di Toboh Gadang, mereka yang berasal dari Ampek Lareh, dan khatib dari Duo Lareh," cerita Syafri Tuanku Imam Sutan Sari Alam.
    Masjid Raya Toboh Gadang terbilang masjid yang paling tua di nagari itu. Pertama kali dibangun pada 1930 atau 70 tahun yang silam. Pada awal dibangun, masjid itu masih memakai atap rumbia dengan ukuran 17 x 15 meter. "Kini, setelah dirombak, masjid itu dibangun dengan ukuran 20 x 22 meter. Ini tentunya, sekaitan semakin bertambah banyak dan berkembangnya masyarakat nagari itu sendiri," kata Tuanku Imam Nagari Toboh Gadang ini.
    Dulu, ulama yang menjadi mufti nagari pada umumnya berdiam dan mengajar di masjid tersebut. Sebut saja pada zamannya Syekh Tuanku Sutan Jangguik, Syekh Busin Tuanku Tuo Sikaladi. Itu mereka mengajar siang dan malam dulunya. Disamping juga menghidupkan suasana agamais di masjid. Namun, akhir-akhir ini, masjid berfungsi hanya pada musiman. Mulai dari musiman Jumat, acara maulid, peringatan israk mikraj setiap tahunnya. Dan lagi, keberadaan masjid semakin bertambah pula ditempat lainnya di Toboh Gadang itu.
    Sekaitan masjid demikian yang pertama kali dibangun, maka kampungnya pun dibuat dengan nama Korong Toboh Masjid. Besar kemungkinan, sebelum kampung itu dihuni banyak orang, masjid itulah yang pertama kali dibuat oleh pembuat nagari.
    Syafri melihat, pergeseran yang terjadi akibat perubahan zaman, membuat aktivitas masjid pun mengalami kemunduran. Namun demikian, intinya masjid sebagai kekuatan adat dan agama masih tetap kental dan kuat. Buktinya, lihatlah pada bulan maulid, dimana perayaan peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW itu sangat meriah dan paling besar dilakukan di Masjid Raya Toboh Gadang ini. Tersebab itu pulalah pergantian imam, khatib, mufti dan lain sebagainya dilakukan pada saat yang sedang menjabat mengakhiri hidupnya.
    "Disamping mendalami ilmu agama, mulai dari ilmu syariat, thariqat, hakikat dan ilmu makrifat, di masjid itu dulunya juga dipejari ilmu kesenian bela diri. Mulai dari ilmu silek, ilmu petatah-petitih. Nah, ilmu itu pada umunya dipelajari dimalam hari. Surau Puduang tempatnya. Dibangun disebelah masjid. Dulu, boleh dikatakan tak ada anak nagari yang tak pandai mengaji dan bersilek. Sebelum mereka pergi jauh merantau, terlebih dahulu dibekali dengan ilmu jiwa dan agama dimaksud, agar keutuhan jiwa dan semangatnya dalam mengarungi bahtera kehidupan tak mudah digoyahkan oleh berbagai gelombang hidup yang semakin keras," ungkapnya.
    Saat ini, lanjut Syafri, masjid yang menjadi kebanggaan rang Toboh Gadang itu masih dalam tahapan penyelesaian pembangunannya kembali pascagempa kahir 2009 silam. Butuh bantuan dari berbagai pihak, termasuk dari perantau kampung itu yang banyak berserakkan diberbagai daerah di nusantara ini. Selaku orang yang ditetapkan sebagai imam nagari, Syafri ingin menjadikan masjid itu sebagai simbol kekuatan nagari itu sendiri.
    "Semua komponen yang bertugas, baik yang dibidang adat, maupun dibidang agama menguatkan perannya masing-masing, sehingga anak nagari bisa dibina dengan baik. Diberi pengetahuan agama dan adat, sebagai bekal dirinya dalam menghadapi dunia dan akhirat," katanya. (damanhuri)

Rabu, 29 Agustus 2012

Ditangan Ajo Manih Ular Itu Bisa Jinak

Ditangan Ajo Manih Ular Itu Bisa Jinak

Sungai Limau---Kebanyakan orang sangat takut dan galinggaman melihat ular. Maklum, binatang yang satu ini sangat membahayakan. Tetapi tidak bagi Fendi. Dia bisa menjinakkan ular. Sudah banyak ular yang besar-besar yang dia tangkap, dan dipeliharanya dengan baik, layaknya memelihara binatang yang paling disenangi.
    Sabtu (25/8) lalu, Ajo Manih, begitu Fendi akrap disapa rekan sejawatnya memainkan ular Sipatin ditengah ramainya pengunjung Pantai Arta Sungai Limau, Padang Pariaman. Dia menari dan bergoyang, sambil menggalungkan ular Sanca yang beratnya mencapai 32 kilogram, dengan panjang sekitar tiga meter. Sesaat ketika anak nan jolong gadang sedang asik bergoyang bersama sebuah orgen tunggal yang dimainkan di pantai itu, secara mengejutkan Ajo Manih menyelinap datang, dengan memainkan ular, sesekali mulut ular itu dia masukkan kedalam mulutnya.
    Ajo Manih mengaku telah bermain bersama ular selama 30 tahun. Tak heran, ketika dirumah masyarakat ada seekor ular, Ajo Manih selalu dipanggil untuk menangkapnya. Baginya, ular adalah binatang yang bisa juga mengerti dengan bahasa manusia. Untuk itu, setiap kali menangkap ular, pria berusia 48 tahun ini tidak merasa kesulitan. Banyak sudah ular yang dia tangkap. Ada yang dijual, ada juga yang dilepaskan kembali. "Tergantung ularnya. Kalau masih kecil, itu kita lepaskan kealamnya, biar bisa hidup dan berkembang biak," kata dia.
    Menurut dia, ular sangat berpantangan dengan anak bayi, dan dukun. Untuk itu, ketika dia memelihara ular, tidak boleh anak bayi yang datang, dan keluarganya pun dilarang untuk membawa dukun kerumah. "Kadang-kadang dukun itu banyak juga yang berulah. Kalaulah berulah dukun, maka ular yang dipelihara sering melawan ke kita. Pada saat kita mengasih makan, selalu ingin menggigit tangan kita. Itu risikonya," cerita Ajo Manih yang didampingi Walinagari Kuranji Hilia, Firdaus Khatab dan Heri Bongkar, salah seorang tokoh masyarakat setempat.
    Ular yang lebih populer dengan sebutan ular Sanca itu sama sekali tidak membahayakan bagi Ajo Manih. Dia bukan dukun dan bukan pula tukang jualan obat. Tetapi bisa berteman dengan ular. Dia melihat ular jenis itulah yang paling banyak di kampung ini. Ular itu sering masuk ke kandang ayam, dan memakan ayam tersebut. Ular yang sedang dia permainkan itu ternyata telah berumur sembilan tahun. Dia tangkap pas sudah memakan dua ekor ayam milik masyarakat Sungai Paku.
    Bagi Ajo Manih, tidak ada ular jadi-jadian, seperti yang sering diperbincangkan banyak orang di sudut-sudut kampung. Ular, ya binatang yang juga makhluk Tuhan. Butuh hidup dan berkembang biak. Dia merasa kasihan sekali, ketika ada orang lain yang dengan senangnya membunuh ular. Awal puasa kemarin Ajo Manih merasa sedih, ketika ular tangkapannya lepas begitu saja. "Biasanya, ada datang mimpi. Sebab, ular yang sudah ditangkap itu, mulutnya langsung dikasih plester, agar tidak mengeluarkan racun. Dengan pakai itu ular akan susah untuk makan. Nah, biasanya datang mimpi, lalu dicari ketempat yang ditunjukkannya, insya Allah ularnya ketemu lagi," ujar dia.
    Lewat kesenangan dengan ular itu pula, Ajo Manih ingin membuat pertunjukkan akrobat, agar pengunjung Pantai Arta Sungai Limau lebih banyak lagi. Dia bermimpi akan membuat tarian dan joget dengan ular, sehingga mampu mendatangkan banyak pengunjung lagi. Soal ularnya itu gampang. Penarinya juga banyak yang lihai dalam masalah itu. Tinggal lagi kemauan dan dukungan dari masyarakat Sungai Limau, selaku pemilik Pantai Artai. Sebab, objek wisata yang dibangun sejak tahun 80 an ini, sangat menarik bagi banyak pengunjung. Untuk itu butuh hiburan yang lebih menarik lagi. (damanhuri)

Monumen Tugu Perjuangan Rakyat Sintuak yang Terlupakan

67 Tahun Kemerdekaan RI
Monumen Tugu Perjuangan Rakyat Sintuak yang Terlupakan

Sintuak---Pembangunan tugu monumen perjuangan rakyat Sintuak telah dimulai pada 2001 silam. Namun, setelah batu pertama dimulai, tidak ada lagi kelanjutannya. Mungkinkah itu batu pertama, sekaligus batu terakhir? Tugu itu dibangun di komplek Surau Batu, Korong Simpang Tigo, Nagari Sintuak, Kecamatan Sintuak Toboh Gadang, Padang Pariaman. Pembangunan tugu sebagai monumen perjuangan rakyat Sintuak itu, erat sekali kaitannya dengan peristiwa berdarah Surau Batu yang terjadi pada Selasa 7 Juni 1949, empat tahun setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya.
    Dalam buku Peristiwa Surau Batu Sintuak, Sejarah yang Terlupakan, yang ditulis oleh panitia pembangunan monumen perjuangan Sintuak, 2001 silam tercatat, bahwa peristiwa Surau Batu adalah sejarah kelam perjuangan urang awak untuk mengusir penjajah Belanda, pasca kemerdekaan RI 1945. Sebanyak 40 pejuang, termasuk juga TRI/TNI yang ikut didalamnya, tahun 1949 itu ditembak oleh Belanda. Mereka ditembak dari belakang secara bersama didepan Surau Batu.
    Menurut catatan buku tersebut, rencana pembangunan tugu monumen tersebut adalah bagian dari menghargai dan menghormati perjuangan zaman dulunya. Namun, entah dimana letak lemahnya, hingga saat ini sudah 67 tahun pula Indonesia meredeka, tugu itu tak juga kunjung selesai. Dan Surau Batu pun, sebagai saksi bisu atas keganasan pasukan Belanda, juga telah rata dengan tanah, akibat dihoyak gampo pada akhir 2009 lalu.
    Kronologi kejadian berdarah Surat Batu Sintuak, seperti yang tertulis dalam buku itu, pada pagi Selasa 7 Juni 1949, satu kompi serdadu Belanda sesudah hujan reda melakukan penyisiran kearah barat Lubuk Alung, tepat Pungguang Kasiak, Sintuak, Pakandangan, Toboh Gadang, Bintuangan Tinggi, Pauh Kambar. Operasi itu langsung dipimpin oleh Kapten Backer. Komando Markas Teritorial Belanda itu langsung menyisir kampung tersebut.
    Hasil penyisiran itu, Belanda menangkap setiap laki-laki dewasa yang ditemuinya. Ada ratusan orang yang ditangkap, dan dikumpulkan di Sintuak, dan dibagi per kelompok. Sebagian kelompok ada yang disuruh pulang kembali, dan sebagian ditahan. Nah, yang ditahan itu dibawa ketepi Sungai Batang Tapakih, tepatnya didepan Surau Batu. Mereka semua dituduh pengkhianat, gerilya, dan tuduhan lainnya oleh Belanda. Lalu, yang ditangkap sebanyak 40 orang itu disuruh menghadap sungai, dan ditembak dari belakangnya. Dari 40 itu, 3 orang diantaranya setelah mendengar tembakan, langsung menceburkan diri ke sungai, dan selamat lah mereka dari tembakan.
    Dalam buku itu juga ditulis, diantara 40 pejuang yang ditembak Belanda tersebut; Tengkarangan Datuak Sati dari Toboh Olo, Babot Datuak Tuah dari Toboh Kandang Gadang, Juri asal Toboh Apa, Hamid (TNI) asal Sintuak, Yusuf Jalang asal Sintuak, Nazir Labai Itiak asal sintuak, dan nama-nama lainnya. Mereka semua adalah pejuang yang terlupakan sejarahnya oleh perjalanan waktu.
    Sebenarnya pihak Belanda telah lama mengetahui, bahwa di Sintuak dan sekitarnya itu banyak pemuda pemberani, tangguh dalam perjuangan. Seperti pejuang Datuak Siam, Buyuang Kaliang, Karim Naum, Buyuang Dullah, dan pejuang Sintuak lainnya. Makanya, Belanda membuang sebagian orang itu ke Digul, dan sebagian ada yang tertanggap, seperti Buyuang Kaliang ditangkap oleh Belanda di halaman Masjid Raya Lubuk Pandan. Dan saat ini telah berdiri kokoh tugu perjuangan dihalaman Masjid Raya Lubuk Pandan tersebut, sebagai buah dari mengenang jasa Buyuang Kaliang, yang sebelum ditangkap dan dibunuh Belanda, berhasil membunuh Komandan Operasi Teritorial Belanda, Letnan De Haas dengan tusukkan pisaunya.
    Melihat tugu perjuangan di depan Masjid Raya Lubuk Pandan, Kecamatan 2 X 11 Enam Lingkung itu, tampak sebuah pisau pada bagian atasnya. Dan tugu itu selalu dirawat dan diperbaiki oleh masyarakat nagari Lubuk Pandan. Sedangkan, di Sintuak tugu yang direncanakan itu, yang dimulai peletakkan batu pertamanya oleh H. Sudirman Gani, yang saat itu (2001) menjabat Sekdakab Padang Pariaman, hingga saat ini tak jelas lagi ujung pangkalnya.
    Agaknya, tugu perjuangan Surau Batu Sintuak sangat penting artinya. Panitia pembangunannya pada 2001 silam telah berusaha mengumpulkan kekuatan untuk mewujudkan tugu monumen dimaksud. Namun, belum kesampaian. Sebagai bangsa yang besar, para petinggi di Nagari Sintuak harus proaktif lagi, untuk mewujudkan tugu tersebut. Anggota dewan Padang Pariaman asal nagari itu harus berjibaku, agar pembangunan monumen itu bisa dirampungkan, lewat anggaran APBD.
    Orang dulu telah membuat sejarah. Mereka berjuang tidak saja dengan kekuatan yang ada, tetapi juga dengan nilai-nilai kebersamaan dan doa. Tanpa perjuangan yang mereka lakukan, mustahil kehidupan saat ini kita dapati. Mereka yang gugur, ditembak secara menggenaskan itu harus dikenang, sebagai penghargaan kita kepada mereka. Walaupun mereka berjuang dulunya tidak minta dihargai, dan dihormati. Tetapi, sebagai generasi pelanjut, kita harus merawat dan mengisi kemerdekaan itu dengan baik. (damanhuri)

Kamis, 23 Agustus 2012

Tradisi Mambatai Adat Masih Dipertahankan

Idul Fitri di Padang Pariaman
Tradisi Mambatai Adat Masih Dipertahankan

Pariaman---Ada satu kekuatan adat bagi sebagian masyarakat di Padang Pariaman pada momen Idul Fitri. Mambantai adat namanya. Hal ini nyaris berlaku disetiap kampung. Namun, tatacara pelaksanaannya yang berbeda. Yang paling sakral dan kental nuansa adatnya ada di Nagari Ulakan, Kecamatan Ulakan Tapakis. Disana dilakukan penyembelihan kerbau secara serentak sehabis shalat Id.
    Diperkirakan ratusan kerbau yang didabiah. Bertambah banyak penduduk, maka bertambah pula kerbau yang di 'bunuh' untuk santapan rayo. Hebatnya di Ulakan itu, setiap masyarakat korong menyembelih dalam satu tempat, yakni di tanah lapangan pakudoan, Kampuang Galapuang. Uang untuk pembeli kerbau itu diangsur oleh masyarakat kepada orang yang dituakan dalam satu korong. Dibuat kesatuannya disetiap surau.
    Menjelang shalat Id, semua kebutuhan masyarakat terhadap daging telah dilunasinya. Daging dibagi secara berumpuk-umpuk. Satu umpuknya senilai Rp80 ribu. Masyarakat membelinya sesuai kebutuhan. Setiap kerbai itu disembelih oleh orang siak yang ada di surau dimaksud. Para pemuda kampung mengerjakannya secara sukarela.
    MZ. Datuak Bungsu, salah seorang tokoh adat di Nagari Ulakan menyebutkan mambantai adat ini telah berlangsung lama. Bahkan tercatat sejak sebelum Syekh Burhanuddin datang mengembangkan agama Islam. "Boleh dikatakan kegiatan itu adalah tradisi orang Hindu dulunya, yang diteruskan hingga saat ini. Namun, pelaksanaannya tentu dengan syariat agama Islam itu sendiri," kata dia.
    "Disebut mambatai adat, karena yang menyelenggarakannya itu adalah kaum adat, yang yang terdiri dari para niniak mamak, atas restu para ulama, yang dulunya oleh Syekh Burhanuddin itu sendiri. Hal ini boleh dibilang sebagai acara 'bancakkan binatang', yang kalau didaerah lainnya banyak juga dilakukan. Seperti kita lihat di Kalimantan bancakkan kerbau, sama juga dengan di Ulakan ini. Sedangkan disebagian daerah Tapanuli sana disebut dengan bancakkan babi," ujarnya.
    Menurut Datuak Bungsu, tidak kurang dari 300 ekor yang disembelih setiap tahunnya. Kegiatan ini juga sama dengan yang dilakukan oleh masyarakat Nagari Tapakis dan Nagari Ketaping, karena tiga nagari itu merupakan Nan Sabaris lama. Khusus untuk Nagari Ulakan, tidak boleh masyarakat korong yang menyembelih di suraunya. Melainkan harus dilakukan disatu tempat. Itu berlaku sejak zaman saisuak.
    Jadi, katanya, dalam kegiatan mambantai adat itu tak seorang pun dilokasi pemantaian orang yang berjualan daging. Kalau pun ada, itu tidak laku, karena semua masyarakat telah punya daging yang dibelinya secara bersama. Uangnya dikumpulkan untuk satu dua ekor kerbau di setiap surau yang ada.
    Hal yang sama juga terjadi di Nagari Sintuak, Kecamatan Sintuak Toboh Gadang. Untuk tahun ini ada 15 ekor kerbau yang disembelih. Tiga ekor diantaranya disembelih oleh masyarakat sehari sebelum shalat Is, atau pada saat melihat bulan akhir Ramadhan. Yang tiga ekor itu, di Surau Tembok, Surau Batang Tapakih dan Surau Toboh Baru.
    Menurut Zeki Ali Wardana, salah seorang panitia penyembelihan, yang tiga ekor itu telah berlangsung sejak lama. Namun, secara adatnya tetap tercatat dalam kenagarian. Mereka tetap membayar uang adatnya, seperti kerbau lainnya yang disembelih dilokasi Pasar Sintuak pada saat usai Shalat Id. (damanhuri)

Meneladani Perjuangan Rasul

Lelaki itu memandang ufuk senja di Aleppo, 1183 M. Kilau redup pedang panglima perang ini seakan mengabarkan padanya bahwa kaum Muslimin tengah mengalami kelesuan setelah hampir seabad berperang tanpa tahu kapan akan berakhir. Yerusalem masih dal...am kekuasaan pasukan Salib. Ia mendengar cerita dari para leluhurnya bahwa, semasa Perang Salib I, dalam waktu 2 hari 2 malam, 40.000 kaum Muslim dan Yahudi, termasuk wanita dan anak-anak, di Yerusalem tewas dibantai oleh pasukan Salib dengan bantuan para Ksatria Templar. Kini perang telah memasuki fase ke III. Namun pasukan Muslimin sedang letih. Apa yang mesti dilakukannya sebagai panglima perang tertinggi untuk membangkitkan semangat juang kaum Muslim yang sudah menguasai Mesir, Turki, Syiria dan kawasan Mesopotamia? Kekhalifahan telah berhasil ia satukan; ia merasa kini saatnya merebut kembali

Yerusalem, salah satu tanah suci kaum Muslimin, yg sedang berada cengkeraman pasukan Salib. Ia tertunduk, merenungkan kembali kisah peperangan yang dilakukan junjungan kaum Muslimin, Muhammad Rasulullaah SAW, mengingat kembali perang-perang dahsyat pada zaman beliau: Badar, Uhud, Khandaq, Tabuk.... dan ia ingat pada kecintaan para sahabat yang tanpa memikirkan diri dan keluarganya, maju ke medan laga mendampingi nabi demi membela Dinul Islam yang diancam eksistensinya oleh kaum kafir Quraisy. Tafakurnya membuatnya sadar: ya, Kecintaan pada Rasulullah itulah yang menyebabkan para sahabat rela mengorbankan segalanya. Cinta mereka kepada Rasulullah telah mengakar begitu dalam hingga ke bagian terdalam dari jiwa dan ruh mereka. Salahuddin al-Ayyubi, kini menegakkan kepala, telah mengambil keputusan penting yang akan memengaruhi sejarah peradaban Islam hingga saat ini ...

Atas persetujuan Khalifah an-Nashir, maka pada bulan Haji 579 H (1183), Shalahudiin, sebagai penguasa Haramayn, mengeluarkan perintah kepada seluruh jamaah haji, agar saat mereka pulang ke kampung halaman, mereka harus mensosialisasikan instruksi agar mulai tahun 580 Hijriah (1184 Masehi) tanggal 12 Rabiul-Awwal dirayakan sebagai hari maulid nabi dengan berbagai kegiatan yang membangkitkan semangat juang dan kecintaan umat Islam kepada Rasulullah SAW. Salah satu agenda yg dilakukan adalah mengundang seluruh ulama dan sastrawan untuk festival menyusun syair dan pujian kepada Rasulullaah -- dan salah satu pemenangnya adalah Syair karya Ja'far al-Barzanji yg tersohor itu. Hampir setahun lamanya kaum muslimin mendengarkan syair-syair indah yang mengisahkan perjalaanan hidup Rasulullah: mulai dari kelahirannya, akhlaknya, perjuangannya, mukjizat2nya dan lain sebagainya.

Karena syair-syair itu disusun dari orang-orang yang hatinya dipenuhi oleh Cinta kepada Rasulullaah, efeknya sungguh luar biasa: barokah Rasulullah seolah-olah mengalir melalui syair-syair semacam Barzanji itu. Para pemuda Muslim sadar kembali betapa junjungan mereka adalah pahlawan sejati yang tangguh di segala bidang kehidupan, tangguh dan cakap mulai dari soal urusan rumah tangga, dakwah, akhlak, hingga ke medan perang. maka, ribuan pemuda Muslimin mendaftar menjadi tentara Shalahuddin al-Ayyubi. Sejak itu wilayah kekuasaan Shalahuddin semakin luas. Pada 1187, setelah dirasa cukup kuat, Shalahuddin memimpin langsung pasukannya untuk membebaskan Palestina. Benteng Yerusalem dikepung oleh puluhan ribu tentara dengan persenjataan yang canggih untuk ukuran zamannya.

Sementara itu, penguasa Nasrani di Yerusalem tengah terlibat friksi dan intrik internal yang melemahkan posisi mereka. perang dahsyat terjadi. Pasukan Salib terdesak. Kaum Nasrani di Yerusalem dilanda ketakutan hebat, takut kalau-kalau Shalahuddin membalaskan dendam atas pembantaian 40.000 kaum Muslimin pada masa penaklukan Yerusalem oleh pasukan Salib pada Perang Salib I. Maka Panglima Yerusalem keluar menemui Shalahudiin untuk merundingkan gencatan senjata. Shalahuddin menawarkan agar kaum Nasrani menyerah dan keluar dari Yerusalem, dan mereka semuanya tanpa kecuali akan dijamin keselamatannya oleh Shalahudiin. Panglima Salib kaget, dan ia pun bertanya: "Mengapa" "Karena aku adalah Shalahudiin," jawab Sang Panglima Muslim sambil tersenyum... sebuah jawaban yang penuh makna bagi mereka yang punya mata hati....

Demikianlah, seluruh kaum Nasrani dan Yahudi keluar dari Yerusalem dengan aman, dan Shalahudiin masuk ke Yerusalem. Ia membersihkan kota, memperbaiki bangunan-bangunan dan masjid-masjid. Salahuddin sama sekali tidak meluluhlantakkan bangunan ibadah nasrani dan Yahudi, bahkan ia memerintahkan bangunan ibadah mereka itu ikut diperbaiki. Konon, saat masuk ke sebuah gereja besar, ia melihat salib jatuh tergeletak di lantai. Shalahuddin memungutnya, dan meletakkan kembali salib itu di atas meja persembahyangan kaum Nasrani...

Ya, Shalahudiin benar-benar berjuang demi Islam, bukan demi balas dendam. dan ia berjuang dan berperang tidak sembarangan: ia mengikuti perintah junjungan dan kekasih hatinya, Rasulullah SAW, yang pernah memerintahkan sahabatnya bahwa dalam peperangan diharamkan membunuh orang-orang yang tak terlibat dalam peperangan (penduduk sipil. anak dan wanita), tidak boleh merusak rumah penduduk, bangunan tempat ibadah, bahkan tidak boleh merusak tanaman dan menyakiti hewan. Jatuhnya Yerusalem ke tangan Shalahudiin menggemparkan eropa. Paus Gregory VII memerintahkan penyiapan pasukan perang untuk merebut kembali Yerusalem.

Dan kelak, sejarah akan menyaksikan pertempuran yang fair dan elegan antara dua ksatria perang salib yg paling terkenal: Shalahuddin al-Ayyubi melawan King Richard the Lionheart.... Perayaan Maulud Nabi, salah satu warisan Shalahuddin, masih lestari hingga kini. KItab-kitab Maulid dan syair2 pujian semacam Barzanji, Maulid Diba', Simtud Durror, dan lain sebagainya, telah mengilhami ribuan ulama yg saleh, membangkitkan kembali kecintaan kepada Rasulullah SAW. Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad 'adada ma fi ilmillahi shalatan da'imatan bidawami mulkillahi Allahumma shalli ala nuril anwari wa siriil asrari wa tiryawil aghyari wa mifathi babil yasari sayyidina Muhamadinil mukhtari wa alihil athhari wa ashhabihi akhyari adada ni'amillahi wa ifdhalih. Allahumma shalli wa sallim wa barik alaih... , Menjelang Peringatan Kelahiran Rasulullah.