Kiprah M-KRPL Lubuk Alung
Kebiasaan Gunjing Kaum Perempuan Hilang
Lubuk Alung---Tidak banyak wanita yang berkumpul di Kelompok Wanita Tani (KWT) Persaudaraan Muslimah (Salimah), Rombo Panjang, Korong Sungai Abang, Lubuk Alung. Hanya 20 ibu-ibu rumah tangga. Tetapi, Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (M-KRPL) yang didirikannya sejak awal 2012 lalu berhasil mengubah pola pikir kaum hawa dilokasi tersebut.
Dulu, boleh dikatakan kesibukan para perempuan ini banyak yang negatif. Seperti bergunjing misalnya, yang memang sudah akrap pada kalangan perempuan. Bahkan, ada yang bercakak bagai, lantaran persoalan kecil pada masing-masing keluarganya. Namun, kini maiset itu berubah 180 derajat. Mereka kini sibuk bergunjing soal perkembangan tanaman sayur-sayuran yang ditanam pada masing-masing pekarangan rumahnya.
Armaneli, Ketua KWT Salimah menceritakan aktivitas M-KRPL tersebut. "Memang tidak salah kelompok kecil ini dijadikan percontohan. Saat ini, para ibu-ibu itu tidak lagi membeli sayur ke Pasar Lubuk Alung. Apa yang ingin mereka masak pagi petang, itu sudah tersedia didepan dan sekeling rumahnya," kata dia.
"Tiap Sabtu dan Minggu kita yang 20 orang itu melakukan kerja bakti bersama alias goro di komplek pembibitan. Kalau tidak ada yang dibersihkan, ya membuat pupuk organik. Sebab, semua tanaman sayuran demikian dipupuk dengan pupuk non kimia. Jadi, tidak sekedar mengembangkan tanaman untuk dimakan saja, tetapi mampu pula membuat, mengolah serta mengembangkannya dengan lebih rancak," cerita Armaneli.
Sayur, mulai dari bayam, terung, kunyit, jahe, bahkan tanaman jenis obat-obatan mulai berkembang. Ini semua terjadi, adalah bimbingan langsung dari pembina KWT ini, Dasril dan penanggungjawabnya, Dewi Astati. "Pengeluaran keuangan keluarga berkurang, lantaran tidak banyak lagi yang harus dibeli tiap hari. Memang, untuk kesuksesan ini, banyak ocehan dan cimeeh yang kita terima. Maklum, budaya rang Piaman akrap dengan cimeeh. Tetapi, setelah berhasil seperti saat ini, para perempuan lainnya mulai iri dan ingin pula membuat hal yang serupa," sebut Armaneli dengan bangganya.
Dia ingin, M-KRPL yang masih terbilang kecil ini mengembangkan sayapnya secara lebih besar lagi. Sebab, dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangganya dibunyikan, selain organisasi sosial yang bergerak pada agri bisnis, khusus pertanian, juga akan dikembangkan peternakan dan perikanan. Lahan untuk itu ada, dan tinggal memanfaatkannya lagi. (damanhuri)
Sabtu, 22 Juni 2013
Sabtu, 15 Juni 2013
Tidak Punya Uang Untuk Operasi Andi Keneddy Menyayat Sendiri Penyakitnya
Tidak Punya Uang Untuk Operasi
Andi Keneddy Menyayat Sendiri Penyakitnya
Lubuk Alung----Sudah dua tahun Andi Keneddy S menanggung penyakit pembengkakkan di pipi kanannya. Saat berobat ke M. Djamil Padang, mantan Kepala Desa Buayan, Kecamatan Batang Anai ini disuruh operasi atau ganti plat oleh dokter yang menanganinya. Namun, apa hendak dikata, biaya untuk itu benar yang tidak dipunyainya. Apalagi, sejak penyakit itu menyerang dirinya, sudah sekian pula lamanya dia menganggur alias tidak bisa mencari uang.
Jumat kemarin, bapak berusia 56 tahun ini merasa terenyuh sekaligus tersanjung melihat kehadiran Camat Lubuk Alung, H. Azminur bersama Ketua BPC Hipmi Padang Pariaman, Riza Marjohan dan caleg Gerindra, Topik Hidayat ke rumahnya di Korong Kapalo Banda, Nagari Aie Tajun Lubuk Alung, Padang Pariaman.
Saking sakitnya pembengkakkan itu, dia beranikan menyayatnya dengan sebilah pisau tajam. Keluarlah darah dan nanah yang sudah sekian lama bersarang didalamnya. Kini, dia dan tiga orang putra-putrinya hanya menggantungkan hidup lewat usaha cuma-cuma yang dilakoni istrinya, Nurhayati. Tinggal jauh tersuruk didalam kampung, di sebuah pondok yang tidak pula layak dihuni.
Bekas sayatannya itu tampak menyembur keluar. Dia kasihlah bebak supaya bisa kering dari aliran darah dan nanah. "Dokter bilang, penyakit itu bermula lantaran rahangnya sudah banyak yang keropos. Namun, tidak ada yang makanan yang keras-keras yang saya hentikan. Semuanya tetap bisa dimakan," ceritanya.
Baru pasca disayat inilah sudah mulai susah makan. Kalaupun terjadi lapar, dicarilah bubur, atau makanan yang lunak-lunak, supaya tidak terjadi kesakitan. Bila malam hari, Andi Keneddy ini paling susah tidur. Paling dia bisa tertidur itu ketika menjelang pagi. Dan itu hampir tiap malam terjadinya. Rasa sakitnya datang tiap sebentar.
Malang bagi bapak ini, sejak penyakit itu menimpa dirinya, anaknya yang sudah hampir tamat pendidikan SMP di Aie Tajun, harus berhenti dari sekolah, lantaran tak bisa lagi dibiayainya. Sebagai orang kampung, apapun obat yang disarankan banyak orang selaku dipakainya, terutama obat ala kampung. Selain itu dia rutin pula makan obat medis untuk menghilangkan rasa sakitnya.
"Ambo merasa terharu. Sudah sekian lama penyakit ini tumbuhnya, baru kali ini ada pemimpin yang datang melihat," kata dia saat menerima camat Azminur bersama rombongan. Sepatutnya, orang seperti Andi Keneddy S, pernah lama menjadi kepala desa di kampungnya, Buayan, tentu menjadi perhatian tersendiri oleh masyarakat.
Camat Azminur merasa prihatin melihat kondisi demikian. Dia tidak bisa menjanjikan apa-apa terkait kesembuhan bapak tersebut. Namun, Azminur bersama Riza Marjohan dan Topik Hidayat berusaha menghubungi pihak Dinas Kesehatan. Tentu dengan kondisi seperti ini, harus pula dipersiapkan segala sesuatunya, kalau belum punya Jamkesmas. (damanhuri)
Andi Keneddy Menyayat Sendiri Penyakitnya
Lubuk Alung----Sudah dua tahun Andi Keneddy S menanggung penyakit pembengkakkan di pipi kanannya. Saat berobat ke M. Djamil Padang, mantan Kepala Desa Buayan, Kecamatan Batang Anai ini disuruh operasi atau ganti plat oleh dokter yang menanganinya. Namun, apa hendak dikata, biaya untuk itu benar yang tidak dipunyainya. Apalagi, sejak penyakit itu menyerang dirinya, sudah sekian pula lamanya dia menganggur alias tidak bisa mencari uang.
Jumat kemarin, bapak berusia 56 tahun ini merasa terenyuh sekaligus tersanjung melihat kehadiran Camat Lubuk Alung, H. Azminur bersama Ketua BPC Hipmi Padang Pariaman, Riza Marjohan dan caleg Gerindra, Topik Hidayat ke rumahnya di Korong Kapalo Banda, Nagari Aie Tajun Lubuk Alung, Padang Pariaman.
Saking sakitnya pembengkakkan itu, dia beranikan menyayatnya dengan sebilah pisau tajam. Keluarlah darah dan nanah yang sudah sekian lama bersarang didalamnya. Kini, dia dan tiga orang putra-putrinya hanya menggantungkan hidup lewat usaha cuma-cuma yang dilakoni istrinya, Nurhayati. Tinggal jauh tersuruk didalam kampung, di sebuah pondok yang tidak pula layak dihuni.
Bekas sayatannya itu tampak menyembur keluar. Dia kasihlah bebak supaya bisa kering dari aliran darah dan nanah. "Dokter bilang, penyakit itu bermula lantaran rahangnya sudah banyak yang keropos. Namun, tidak ada yang makanan yang keras-keras yang saya hentikan. Semuanya tetap bisa dimakan," ceritanya.
Baru pasca disayat inilah sudah mulai susah makan. Kalaupun terjadi lapar, dicarilah bubur, atau makanan yang lunak-lunak, supaya tidak terjadi kesakitan. Bila malam hari, Andi Keneddy ini paling susah tidur. Paling dia bisa tertidur itu ketika menjelang pagi. Dan itu hampir tiap malam terjadinya. Rasa sakitnya datang tiap sebentar.
Malang bagi bapak ini, sejak penyakit itu menimpa dirinya, anaknya yang sudah hampir tamat pendidikan SMP di Aie Tajun, harus berhenti dari sekolah, lantaran tak bisa lagi dibiayainya. Sebagai orang kampung, apapun obat yang disarankan banyak orang selaku dipakainya, terutama obat ala kampung. Selain itu dia rutin pula makan obat medis untuk menghilangkan rasa sakitnya.
"Ambo merasa terharu. Sudah sekian lama penyakit ini tumbuhnya, baru kali ini ada pemimpin yang datang melihat," kata dia saat menerima camat Azminur bersama rombongan. Sepatutnya, orang seperti Andi Keneddy S, pernah lama menjadi kepala desa di kampungnya, Buayan, tentu menjadi perhatian tersendiri oleh masyarakat.
Camat Azminur merasa prihatin melihat kondisi demikian. Dia tidak bisa menjanjikan apa-apa terkait kesembuhan bapak tersebut. Namun, Azminur bersama Riza Marjohan dan Topik Hidayat berusaha menghubungi pihak Dinas Kesehatan. Tentu dengan kondisi seperti ini, harus pula dipersiapkan segala sesuatunya, kalau belum punya Jamkesmas. (damanhuri)
Ali Mukhni Sosok Bupati Rendah Hati
Ali Mukhni Sosok Bupati Rendah Hati
Pariaman---Sejak dilantik jadi Bupati Padang Pariaman pada 2010 lalu, H. Ali Mukhni yang berduet dengan H. Damsuar Datuak Bandaro Putiah, tidak terasa sudah hampir berjalan empat tahun, karena dia dilantik pada menjelang akhir 2010. Banyak yang sudah dibuatnya untuk masyarakat, tentu masih banyak pula yang belum terlaksana. Yang jelas kepemimpinan itu sedang berjalan.
Bupati Ali Mukhni yang sebelum menjabat dikenal sebagai seorang guru olahraga. Terkesan oleh sebagian warganya dengan sosok pemimpin yang rendah hati. Ini terkesan, setiap kali akan memulai sambutannya dalam berbagai acara serimonial ditengah masyarakat, dia selalu memulainya dengan minta maaf. Tidak sekedar itu. Bahkan, dari lubuk hati yang paling dalam, saya minta maaf atas keterlambatan ini, kata dia yang acapkali dia lontarkan.
Ini mencerminkan dari sikapnya yang selalu merendah, meskipun berhadapan dengan rakyatnyanya sendiri. Zaman sekarang, sangat jarang sekali ada pejabat yang bisa berkata-kata seperti demikian. Malah yang terjadi sebaliknya. Mentang-mentang seorang pejabat penting, masyarakat dibiarkan berpeluh menunggunya lama-lama. Lalu, ketika bicara tidak pernah merasa bersalah. Dalam yang satu ini, sejumlah tokoh masyarakat daerah ini angkat tangan dengan sikap seorang Ali Mukhni.
Sepertinya kata-kata itu terlontar secara spontan, dan tidak dibuat-buat oleh Ali Mukhni. Dia sangat menghargai betul masyarakatnya dalam menunggu kedatangan dia, yang mungkin diantara sekian banyak orang ada yang merasa kecewa, jengkel dan sedikit muak dengan tingkah pejabat yang sering datang terlambat dalam acara yang diadakan masyarakat.
Barangkali disinilah pengalaman seorang Ali Mukhni yang pernah jadi guru, berlanjut jadi wakil bupati, dan terpilih jadi bupati. Artinya, dia cukup merasakan apa yang dialami oleh banyak masyarakatnya. Rasa rendah hati dan hormat, serta menghargai rakyat dari pemimpin bukanlah perkara mudah. Yang paling banyak itu, rakyatlah yang merasa menghormati pemimpinnya. Tetapi Ali Mukhni mampu mengaplikasikan, bahwa dia seorang pemimpin atas kemauan dan pilihan dari masyarakatnya sendiri. Masyarakat harus dilayani. Dan itulah tugas pemimpin. Bukan minta dilayani.
Meskipun disana-sini masih ada ocehan dan cemoohan, karena dasar masyarakat yang dipimpinnya terkenal dengan budaya dan tradisi demikian, dia tetap melaju kencang. Berbagai momen dan kesempatan selalu dijemputnya ke pusat sana, demi untuk kesejahteraan masyarakat Padang Pariaman. Dengan keputusan berani, serba keterbatasan, dia huni kantornya di Parit Malintang. Ditengah ributnya soal bantuan gempa 2009, datang angin segar atas inisiatifnya untuk membangun Balai Pendidikan dan Pelatihan Ilmu Perikanan (BP2IP), serta pembangunan dermaga di Pantai Tiram, Kecamatan Ulakan Tapakis.
Sebentar lagi, akan dimulai pula pembangunan asrama haji di Nagari Sungai Buluah, Kecamatan Batang Anai. Begitu juga rencana pembangunan Madrasah Aliyah Negeri Insan Cedikia (MAN-IC) di Nagari Sintuak, Kecamatan Sintuak Toboh Gadang, serta sejumlah bengkalai lainnya yang akan dituntasnya. Tentu semuanya itu berkat tangan dingin dari Ali Mukhni yang pernah jadi Wakil Muslim Kasim dulunya itu.
Kemudian, masyarakat Padang Pariaman juga melihat seorang Ali Mukhni sebagai pemimpin yang gigit. Dekat dengan masyarakat. Kalau Ali Mukhni sudah mengenal seorang masyarakat, sepertinya tidak akan lupa oleh dia. Ali Mukhni selalu resah dan gelisah, manakala daerah yang dipimpinnya ini tidak maju-maju. Dia pun berkeinginan, Padang Pariaman harus terbebas dari daerah tertinggal. Untuk ini, berbagai sektor pembangunan yang berujung pada kesejahteraan masyarakat, selalu menjadi utama dalam kepemimpinannya.
Anggota DPRD Padang Pariaman dari PPRN yang sudah pindah ke PAN, Bagindo Rosman pernah menyatakan, bahwa Bupati Ali Mukhni dinilainya termasuk hebat dan lihai dalam menerobos berbagai proyek besar dari pusat untuk daerah ini. Namun, yang perlu menjadi perhatian itu masih adanya pejabat yang kurang pada tempatnya, sehingga programnya juga kurang berjalan sebagaimana mestinya. (damanhuri)
Pariaman---Sejak dilantik jadi Bupati Padang Pariaman pada 2010 lalu, H. Ali Mukhni yang berduet dengan H. Damsuar Datuak Bandaro Putiah, tidak terasa sudah hampir berjalan empat tahun, karena dia dilantik pada menjelang akhir 2010. Banyak yang sudah dibuatnya untuk masyarakat, tentu masih banyak pula yang belum terlaksana. Yang jelas kepemimpinan itu sedang berjalan.
Bupati Ali Mukhni yang sebelum menjabat dikenal sebagai seorang guru olahraga. Terkesan oleh sebagian warganya dengan sosok pemimpin yang rendah hati. Ini terkesan, setiap kali akan memulai sambutannya dalam berbagai acara serimonial ditengah masyarakat, dia selalu memulainya dengan minta maaf. Tidak sekedar itu. Bahkan, dari lubuk hati yang paling dalam, saya minta maaf atas keterlambatan ini, kata dia yang acapkali dia lontarkan.
Ini mencerminkan dari sikapnya yang selalu merendah, meskipun berhadapan dengan rakyatnyanya sendiri. Zaman sekarang, sangat jarang sekali ada pejabat yang bisa berkata-kata seperti demikian. Malah yang terjadi sebaliknya. Mentang-mentang seorang pejabat penting, masyarakat dibiarkan berpeluh menunggunya lama-lama. Lalu, ketika bicara tidak pernah merasa bersalah. Dalam yang satu ini, sejumlah tokoh masyarakat daerah ini angkat tangan dengan sikap seorang Ali Mukhni.
Sepertinya kata-kata itu terlontar secara spontan, dan tidak dibuat-buat oleh Ali Mukhni. Dia sangat menghargai betul masyarakatnya dalam menunggu kedatangan dia, yang mungkin diantara sekian banyak orang ada yang merasa kecewa, jengkel dan sedikit muak dengan tingkah pejabat yang sering datang terlambat dalam acara yang diadakan masyarakat.
Barangkali disinilah pengalaman seorang Ali Mukhni yang pernah jadi guru, berlanjut jadi wakil bupati, dan terpilih jadi bupati. Artinya, dia cukup merasakan apa yang dialami oleh banyak masyarakatnya. Rasa rendah hati dan hormat, serta menghargai rakyat dari pemimpin bukanlah perkara mudah. Yang paling banyak itu, rakyatlah yang merasa menghormati pemimpinnya. Tetapi Ali Mukhni mampu mengaplikasikan, bahwa dia seorang pemimpin atas kemauan dan pilihan dari masyarakatnya sendiri. Masyarakat harus dilayani. Dan itulah tugas pemimpin. Bukan minta dilayani.
Meskipun disana-sini masih ada ocehan dan cemoohan, karena dasar masyarakat yang dipimpinnya terkenal dengan budaya dan tradisi demikian, dia tetap melaju kencang. Berbagai momen dan kesempatan selalu dijemputnya ke pusat sana, demi untuk kesejahteraan masyarakat Padang Pariaman. Dengan keputusan berani, serba keterbatasan, dia huni kantornya di Parit Malintang. Ditengah ributnya soal bantuan gempa 2009, datang angin segar atas inisiatifnya untuk membangun Balai Pendidikan dan Pelatihan Ilmu Perikanan (BP2IP), serta pembangunan dermaga di Pantai Tiram, Kecamatan Ulakan Tapakis.
Sebentar lagi, akan dimulai pula pembangunan asrama haji di Nagari Sungai Buluah, Kecamatan Batang Anai. Begitu juga rencana pembangunan Madrasah Aliyah Negeri Insan Cedikia (MAN-IC) di Nagari Sintuak, Kecamatan Sintuak Toboh Gadang, serta sejumlah bengkalai lainnya yang akan dituntasnya. Tentu semuanya itu berkat tangan dingin dari Ali Mukhni yang pernah jadi Wakil Muslim Kasim dulunya itu.
Kemudian, masyarakat Padang Pariaman juga melihat seorang Ali Mukhni sebagai pemimpin yang gigit. Dekat dengan masyarakat. Kalau Ali Mukhni sudah mengenal seorang masyarakat, sepertinya tidak akan lupa oleh dia. Ali Mukhni selalu resah dan gelisah, manakala daerah yang dipimpinnya ini tidak maju-maju. Dia pun berkeinginan, Padang Pariaman harus terbebas dari daerah tertinggal. Untuk ini, berbagai sektor pembangunan yang berujung pada kesejahteraan masyarakat, selalu menjadi utama dalam kepemimpinannya.
Anggota DPRD Padang Pariaman dari PPRN yang sudah pindah ke PAN, Bagindo Rosman pernah menyatakan, bahwa Bupati Ali Mukhni dinilainya termasuk hebat dan lihai dalam menerobos berbagai proyek besar dari pusat untuk daerah ini. Namun, yang perlu menjadi perhatian itu masih adanya pejabat yang kurang pada tempatnya, sehingga programnya juga kurang berjalan sebagaimana mestinya. (damanhuri)
Rabu, 15 Mei 2013
Nasib Pasukan Kuning Lubuk Alung Awak Miskin Anak Sakit Pula
Nasib Pasukan Kuning Lubuk Alung
Awak Miskin Anak Sakit Pula
Lubuk Alung----Malang benar nasib yang ditanggung Zainal Abidin. Sudahlah hidup miskin, satu dari lima orang putra-putrinya dapat penyakit pula. Orang kampung bilang, penyakit Wendra Saputra, nama anak nomor limanya itu sibudak. Bidan bilang step. Terlihat, anak yang berusia dua tahun tersebut bagaikan mengalami penyakit busung lapar, lantaran badannya semakin mengecil.
Zainal Abidin bersama istrinya, Maidarnis hanya disuruh oleh bidan yang menangani imunisasinya tiap pekannya untuk selalu diberi bubur kacang hijau. Tidak ada tindakan lebih lanjut, bagaimana memulihkan anaknya. Bayangkan saja, dalam usia dua tahun anak itu belum juga pandai berjalan. Kedua telinga anak ini juga ada kelainan dari telinga orang biasanya.
Yang membuat meris itu, Zainal Abidin yang tinggal dikomplek paling padat penduduk, Kabun Kopi, Balah Hilia, Lubuk Alung, Padang Pariaman, hanya satu rumahnya saja yang mencolok. Rumahnya tak layak huni. Disamping terbuat dari kayu yang sudah lama, juga tidak punya jendela yang memadai. Bila malam datang, jendela yang hanya pakai telaris itu dia tutupi dengan kain lusuh.
Senin (13/5) Singgalang diajak bertandang kerumahnya itu oleh pengurus Karang Taruna Nagari Lubuk Alung. Mereka; Ketua; Jasman Jay, Sekretaris; M. Maneza Ade. Kemudian Landi Effendi, Sekretaris Bamus Lubuk Alung, dan Ketua DPC PAN Lubuk Alung, Hilman H. Anak muda ini merasa prihatin melihat nasib kehidupan yang ditanggung pasangan keluarga ini. Rumah itu dibuatnya, setelah yang punya tanah mau menyewakan tanah untuk dibangunnya sebuah pondok.
"Dulu kami tinggal di Kampuang Baru, Pungguang Kasiak. Lantaran tak kuat menyewa, pindah kesini. Disamping aktif mengikuti imunisasi, obat kampung juga sering dilakukan. Namun, perubahannya belum kelihatan," keluh dia.
Dalam pondok berukuran sangat kecil dan tak layak huni itulah Zainal Abidin tinggal. Dia merasa kesulitan untuk mengobati anaknya ke rumah sakit, lantaran tidak punya Jamkesmas dan Jamkesda. Sore menjelang, bila pedagang Pasar Lubuk Alung telah berkemas, Bulek, begiti Zainal senang disapa banyak orang datang ke pasar itu untuk membersihkan sampah pasar yang berserakkan disana-sini.
Dia bekerja sebagai tenaga kebersihan sudah puluhan tahun. Tidak ada yang tak kenal dengan Bulek. Sebagai pasukan kuning, seharusnya dia mendapatkan kehidupan yang layak pula. Tetapi apa hendak dikata. Hanya Rp1 juta dia digaji oleh pihak pasar dalam sebulan. Dengan uang sebanyak itu ia menghidupi lima anak dan seorang istrinya. Anaknya yang paling besar, baru sekolah di bangku SMP. Bulek adalah asli Padusunan, Pariaman. Sedangkan istrinya, Maidarnis asli Badinah, Nagari Lurah Ampalu, Kecamatan VII Koto Sungai Sariak.
Soal kebersihan Pasar Lubuk Alung, jangan tanya kerja Bulek. Sampai tengah malam dia bekerja. Sudah sampah dikumpulkan, ditunggu pula mobil pengangkut datang, dinaikkan ke mobil sekitar pukul 00.00 Wib, kadang lewat dari jam itu. Setelah itu, baru dia bisa pulang ke rumahnya di Kabun Kopi. Pagi menjelang sore, dia ikut membantu kerja di huller milik kakanya, menjemur padi. "Ya, dari pada tak ada kerjaan mejelang sore, kan mendingan," katanya.
Atasnama Karang Taruna Nagari Lubuk Alung, Jasman Jay menyerahkan sebuah amplop yang berisi sejumlah uang. "Jangan lihat isinya. Ini hanya untuk penambah beli bubur kacang hijau," kata Hilman menambahkan. (damanhuri)
Awak Miskin Anak Sakit Pula
Lubuk Alung----Malang benar nasib yang ditanggung Zainal Abidin. Sudahlah hidup miskin, satu dari lima orang putra-putrinya dapat penyakit pula. Orang kampung bilang, penyakit Wendra Saputra, nama anak nomor limanya itu sibudak. Bidan bilang step. Terlihat, anak yang berusia dua tahun tersebut bagaikan mengalami penyakit busung lapar, lantaran badannya semakin mengecil.
Zainal Abidin bersama istrinya, Maidarnis hanya disuruh oleh bidan yang menangani imunisasinya tiap pekannya untuk selalu diberi bubur kacang hijau. Tidak ada tindakan lebih lanjut, bagaimana memulihkan anaknya. Bayangkan saja, dalam usia dua tahun anak itu belum juga pandai berjalan. Kedua telinga anak ini juga ada kelainan dari telinga orang biasanya.
Yang membuat meris itu, Zainal Abidin yang tinggal dikomplek paling padat penduduk, Kabun Kopi, Balah Hilia, Lubuk Alung, Padang Pariaman, hanya satu rumahnya saja yang mencolok. Rumahnya tak layak huni. Disamping terbuat dari kayu yang sudah lama, juga tidak punya jendela yang memadai. Bila malam datang, jendela yang hanya pakai telaris itu dia tutupi dengan kain lusuh.
Senin (13/5) Singgalang diajak bertandang kerumahnya itu oleh pengurus Karang Taruna Nagari Lubuk Alung. Mereka; Ketua; Jasman Jay, Sekretaris; M. Maneza Ade. Kemudian Landi Effendi, Sekretaris Bamus Lubuk Alung, dan Ketua DPC PAN Lubuk Alung, Hilman H. Anak muda ini merasa prihatin melihat nasib kehidupan yang ditanggung pasangan keluarga ini. Rumah itu dibuatnya, setelah yang punya tanah mau menyewakan tanah untuk dibangunnya sebuah pondok.
"Dulu kami tinggal di Kampuang Baru, Pungguang Kasiak. Lantaran tak kuat menyewa, pindah kesini. Disamping aktif mengikuti imunisasi, obat kampung juga sering dilakukan. Namun, perubahannya belum kelihatan," keluh dia.
Dalam pondok berukuran sangat kecil dan tak layak huni itulah Zainal Abidin tinggal. Dia merasa kesulitan untuk mengobati anaknya ke rumah sakit, lantaran tidak punya Jamkesmas dan Jamkesda. Sore menjelang, bila pedagang Pasar Lubuk Alung telah berkemas, Bulek, begiti Zainal senang disapa banyak orang datang ke pasar itu untuk membersihkan sampah pasar yang berserakkan disana-sini.
Dia bekerja sebagai tenaga kebersihan sudah puluhan tahun. Tidak ada yang tak kenal dengan Bulek. Sebagai pasukan kuning, seharusnya dia mendapatkan kehidupan yang layak pula. Tetapi apa hendak dikata. Hanya Rp1 juta dia digaji oleh pihak pasar dalam sebulan. Dengan uang sebanyak itu ia menghidupi lima anak dan seorang istrinya. Anaknya yang paling besar, baru sekolah di bangku SMP. Bulek adalah asli Padusunan, Pariaman. Sedangkan istrinya, Maidarnis asli Badinah, Nagari Lurah Ampalu, Kecamatan VII Koto Sungai Sariak.
Soal kebersihan Pasar Lubuk Alung, jangan tanya kerja Bulek. Sampai tengah malam dia bekerja. Sudah sampah dikumpulkan, ditunggu pula mobil pengangkut datang, dinaikkan ke mobil sekitar pukul 00.00 Wib, kadang lewat dari jam itu. Setelah itu, baru dia bisa pulang ke rumahnya di Kabun Kopi. Pagi menjelang sore, dia ikut membantu kerja di huller milik kakanya, menjemur padi. "Ya, dari pada tak ada kerjaan mejelang sore, kan mendingan," katanya.
Atasnama Karang Taruna Nagari Lubuk Alung, Jasman Jay menyerahkan sebuah amplop yang berisi sejumlah uang. "Jangan lihat isinya. Ini hanya untuk penambah beli bubur kacang hijau," kata Hilman menambahkan. (damanhuri)
Minggu, 12 Mei 2013
Suami Diserang Gula dan Asam Urat Epi Sendirian Mengayuh Kehidupan
Suami Diserang Gula dan Asam Urat Epi Sendirian Mengayuh Kehidupan
Lubuk Alung---Sejak empat bulan lalu Epi mengayuh biduk kehidupan rumah tangganya secara sendirian. Suaminya, Amrizal hanya bisa duduk dan tidur dalam kamar, lantaran diserang penyakit komplikasi. Gula dan asam urat menyerangnya, disamping penyakit polio yang dideritanya sejak terlahir kedunia 42 tahun yang silam. Ibu dua anak, berusia 38 tahun ini berjualan kecil-kecilan didepan rumahnya. Disamping jualan kebutuhan anak-anak, juga ada kebutuhan dapur, seperti sayuran.
Sebelum Amrizal mengalami penyakit gula basah dan asam urat, lelaki yang selalu senyum dan riang gembira ini berkeliling ke berbagai sekolah yang ada di Lubuk Alung. Dia menjual gorengan yang dibuat istri tercintanya, Epi. Dia jualan pakai sepeda motor yang diolah dari roda dua menjadi roda tiga, lantaran kaki kanannya kecil, dan tak kuat pakai motor seperti orang biasa.
Sepasang anaknya sudah bersekolah. Yang besar di SMP, dan yang kecil sudah hampir tamat SD. Rabu kemarin, Singgalang bertandang ke rumahnya di komplek Pasar Baru Anak Nagari. Tepatnya di Sungai Abang, Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman bersama Kepala Korong Sungai Abang, Alfios Mardia, Walinagari Harry Subrata, Ketua DPC PAN Lubuk Alung, Hilman H, Sekretaris Bamus, Landi Effendi, dan Mirza Harmadi, warga Lubuk Alung yang bertugas di Bappeda Padang Pariaman.
Walaupun beratnya beban penyakit yang ditanggung Amrizal, dia tampak cerah dan gembira saja. Tak sedikitpun rasa sedih dan putus asa yang tampak pada raut wajahnya. Dia duduk diatas tempat tidur dalam kamarnya. Melalui kartu Jamkesmas yang dimilikinya, sekali dua minggu istrinya, Epi mengambil obat ke RSUD Padang Pariaman di Parit Malintang. Sejak penyakit gula mendatangi tubuh Amrizal, ia jadi susah untuk mengatur pola makannya. Dan bahkan laki-laki yang asli Ringan-Ringan, Pakandangan ini pernah pula diserang penyakit maag.
"Dulu lai talok sumbayang. Kini, terpaksa duduk saja shalatnya diatas tempat tidur. Susahnya, karena tidak ada kursi roda, adalah ketika uda ingin buang air besar atau kecil. Badannya lumayan berat. Awak surang pula memapahnya ke kamar mandi," cerita Epi dengan sedihnya.
Cerita Amrizal, penyakit gula yang ditanggungnya itu sepertinya sudah keturunan. Mulai dari ibunya. Terakhir kakaknya juga mengalami penyakit yang sama dengannya. Amrizal sempat disuruh operasi oleh dokter di rumah sakit. Dia tidak mau, lantaran tidak punya uang untuk itu. Dan ia lebih memilih dengan mengambil obat buat kebutuhan dua kali dalam sepekan.
Dengan kondisi begitu, Amrizal tetap punya semangat yang lumayan kuat. Hidup miskin, diderita pula oleh penyakit yang mematikan, dia tetap ingin kedua buah hatinya lanjut sekolah. Dia ingin anak-anaknya itu punya impian yang sukses dalam dunia pendidikan, yang pada akhirnya mampu menopang kehidupan rumah tangganya, yang saat ini berjalan dengan terseok-seok itu.
Begitu juga dengan Epi. Dia berusaha terus menjadi ibu rumah tangga yang baik untuk anak dan istri yang penuh dengan kesetiaan bagi suaminya. Sepertinya, Epi tidak ingin mengeluh ditengah kesusahan yang yang mendera bahtera rumah tangganya. Dengan setianya dia beresin anak dan suaminya saban hari. Siang dan malam. Selesai itu dia cari pula kemasukan buat membiayai kehidupan keluarganya.
Walinagari Harry Subrata dan rombongan yang datang ke rumah itu merasa terenyuh melihat parasaian keluarga tersebut. Harry Subrata sedikit memberikan bantuan buat tambahan biaya beli obatnya. "Yang sabar dan jangan mengeluh. Mungkin ini sudah menjadi takdir dalam hidup kita," kata Harry Subrata memberikan semangat kepada keluarga demikian. (damanhuri)
Lubuk Alung---Sejak empat bulan lalu Epi mengayuh biduk kehidupan rumah tangganya secara sendirian. Suaminya, Amrizal hanya bisa duduk dan tidur dalam kamar, lantaran diserang penyakit komplikasi. Gula dan asam urat menyerangnya, disamping penyakit polio yang dideritanya sejak terlahir kedunia 42 tahun yang silam. Ibu dua anak, berusia 38 tahun ini berjualan kecil-kecilan didepan rumahnya. Disamping jualan kebutuhan anak-anak, juga ada kebutuhan dapur, seperti sayuran.
Sebelum Amrizal mengalami penyakit gula basah dan asam urat, lelaki yang selalu senyum dan riang gembira ini berkeliling ke berbagai sekolah yang ada di Lubuk Alung. Dia menjual gorengan yang dibuat istri tercintanya, Epi. Dia jualan pakai sepeda motor yang diolah dari roda dua menjadi roda tiga, lantaran kaki kanannya kecil, dan tak kuat pakai motor seperti orang biasa.
Sepasang anaknya sudah bersekolah. Yang besar di SMP, dan yang kecil sudah hampir tamat SD. Rabu kemarin, Singgalang bertandang ke rumahnya di komplek Pasar Baru Anak Nagari. Tepatnya di Sungai Abang, Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman bersama Kepala Korong Sungai Abang, Alfios Mardia, Walinagari Harry Subrata, Ketua DPC PAN Lubuk Alung, Hilman H, Sekretaris Bamus, Landi Effendi, dan Mirza Harmadi, warga Lubuk Alung yang bertugas di Bappeda Padang Pariaman.
Walaupun beratnya beban penyakit yang ditanggung Amrizal, dia tampak cerah dan gembira saja. Tak sedikitpun rasa sedih dan putus asa yang tampak pada raut wajahnya. Dia duduk diatas tempat tidur dalam kamarnya. Melalui kartu Jamkesmas yang dimilikinya, sekali dua minggu istrinya, Epi mengambil obat ke RSUD Padang Pariaman di Parit Malintang. Sejak penyakit gula mendatangi tubuh Amrizal, ia jadi susah untuk mengatur pola makannya. Dan bahkan laki-laki yang asli Ringan-Ringan, Pakandangan ini pernah pula diserang penyakit maag.
"Dulu lai talok sumbayang. Kini, terpaksa duduk saja shalatnya diatas tempat tidur. Susahnya, karena tidak ada kursi roda, adalah ketika uda ingin buang air besar atau kecil. Badannya lumayan berat. Awak surang pula memapahnya ke kamar mandi," cerita Epi dengan sedihnya.
Cerita Amrizal, penyakit gula yang ditanggungnya itu sepertinya sudah keturunan. Mulai dari ibunya. Terakhir kakaknya juga mengalami penyakit yang sama dengannya. Amrizal sempat disuruh operasi oleh dokter di rumah sakit. Dia tidak mau, lantaran tidak punya uang untuk itu. Dan ia lebih memilih dengan mengambil obat buat kebutuhan dua kali dalam sepekan.
Dengan kondisi begitu, Amrizal tetap punya semangat yang lumayan kuat. Hidup miskin, diderita pula oleh penyakit yang mematikan, dia tetap ingin kedua buah hatinya lanjut sekolah. Dia ingin anak-anaknya itu punya impian yang sukses dalam dunia pendidikan, yang pada akhirnya mampu menopang kehidupan rumah tangganya, yang saat ini berjalan dengan terseok-seok itu.
Begitu juga dengan Epi. Dia berusaha terus menjadi ibu rumah tangga yang baik untuk anak dan istri yang penuh dengan kesetiaan bagi suaminya. Sepertinya, Epi tidak ingin mengeluh ditengah kesusahan yang yang mendera bahtera rumah tangganya. Dengan setianya dia beresin anak dan suaminya saban hari. Siang dan malam. Selesai itu dia cari pula kemasukan buat membiayai kehidupan keluarganya.
Walinagari Harry Subrata dan rombongan yang datang ke rumah itu merasa terenyuh melihat parasaian keluarga tersebut. Harry Subrata sedikit memberikan bantuan buat tambahan biaya beli obatnya. "Yang sabar dan jangan mengeluh. Mungkin ini sudah menjadi takdir dalam hidup kita," kata Harry Subrata memberikan semangat kepada keluarga demikian. (damanhuri)
Selasa, 07 Mei 2013
Bermula Sakit Maag Anggraini Harus Pakai Tongkat
Bermula Sakit Maag
Anggraini Harus Pakai Tongkat
Kapalo Hilalang---Bermula dari sakit maag yang dialami Maidatul Anggraini pada akhir 2012 lalu, akhirnya merembet kelain tubuhnya. Saat ini, perempuan kelahiran 1996 ini tidak bisa berjalan, selain harus dibantu dengan sebilah tongkat. Sewaktu penyakit maag, dia pernah dirawat di RSUD Pariaman selama 10 hari.
Setelah diizinkan pulang kerumah, seminggunya lagi dia terpaksa kembali dilarikan ke rumah sakit tersebut. Kata dokter yang menangani penyakitnya, siswi MTsN Kapalo Hilalang, Kecamatan 2x11 Kayutanam, Padang Pariaman ini mengalami penyakit diagnosa roptor ligaman colateral beru dextra.
Saking tingginya biaya yang harus ditanggung Syafinar dan Suhermi, ibu dan ayah dari Maidatul Anggraini untuk mengulangi berobat ke rumah sakit, dia memutuskan anaknya tidak lagi dirawat disitu. Maklum, warga Simpang Balai Kamih, Nagari Kapalo Hilalang ini terbilang masyarakat miskin dalam nagari itu.
Maidatul merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Sejak sakitnya semakin menjadi-jadi, Maidatul tidak bisa lagi sekolah. Dia hanya bisa duduk, dan sesekali berjalan-jalan sambil ditemani oleh sebuah tongkat. "Untuk biaya terapi Rp90 ribu serta beli obatnya untuk tiga kali dalam sepekan, kita tak punya pitih," kata kedua orangtuanya saat ditemui kemarin.
Menurut dia, obat yang dianjurkan selama menjalani terapi tersebut; susu hello teea. Itu ndak punya uang pula untuk membelinya. "Alhamdulillah, belum ada yang melihat kerumah. Pihak sekolahnya sudah diberitahu, tetapi belum ada kepedulian dan kesungguhannya untuk bisa saling berbagi," ceritanya dengan sedih.
Maidatul sendiri merasakan sakit yang luar biasa sekali. "Saat ini kalau berjalan harus pakai tongkat. Tumit kaki kanan terasa sakit bila diinjakkan. Nafsu makan sangat berkurang," kata dia merasakannya.
Secara pisikologis, Maidatul merasakan malu sendiri. Malu ketemu orang. Dan bahkan ada pula rasa takut dalam dirinya yang selalu menghantui setiap saat. Dia pun tidak bisa memastikan tentang kelanjutan sekolahnya. Baginya, hari-hari yang penuh dengan ceria bagi gadis jolong gadang seusia dia, terpaksa dijalaninya dengan banyak sedih dan takut.
Ingin dia seperti kebanyakan orang lain di kampungnya, Kapalo Hilalang, tetapi apa hendak dikata. Bermimpi saja terasa susah, lantaran perasaan cemas dan takut selalu menyelimuti jiwanya siang dan malam. Orangtuanya yang dirundung kesusahan dalam hidup pun tidak lagi bisa berbuat banyak. Untuk biaya makan saja sangat susah, apalagi untuk berobat. Hanya keajaiban Tuhan yang bisa menolongnya. (damanhuri)
Anggraini Harus Pakai Tongkat
Kapalo Hilalang---Bermula dari sakit maag yang dialami Maidatul Anggraini pada akhir 2012 lalu, akhirnya merembet kelain tubuhnya. Saat ini, perempuan kelahiran 1996 ini tidak bisa berjalan, selain harus dibantu dengan sebilah tongkat. Sewaktu penyakit maag, dia pernah dirawat di RSUD Pariaman selama 10 hari.
Setelah diizinkan pulang kerumah, seminggunya lagi dia terpaksa kembali dilarikan ke rumah sakit tersebut. Kata dokter yang menangani penyakitnya, siswi MTsN Kapalo Hilalang, Kecamatan 2x11 Kayutanam, Padang Pariaman ini mengalami penyakit diagnosa roptor ligaman colateral beru dextra.
Saking tingginya biaya yang harus ditanggung Syafinar dan Suhermi, ibu dan ayah dari Maidatul Anggraini untuk mengulangi berobat ke rumah sakit, dia memutuskan anaknya tidak lagi dirawat disitu. Maklum, warga Simpang Balai Kamih, Nagari Kapalo Hilalang ini terbilang masyarakat miskin dalam nagari itu.
Maidatul merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Sejak sakitnya semakin menjadi-jadi, Maidatul tidak bisa lagi sekolah. Dia hanya bisa duduk, dan sesekali berjalan-jalan sambil ditemani oleh sebuah tongkat. "Untuk biaya terapi Rp90 ribu serta beli obatnya untuk tiga kali dalam sepekan, kita tak punya pitih," kata kedua orangtuanya saat ditemui kemarin.
Menurut dia, obat yang dianjurkan selama menjalani terapi tersebut; susu hello teea. Itu ndak punya uang pula untuk membelinya. "Alhamdulillah, belum ada yang melihat kerumah. Pihak sekolahnya sudah diberitahu, tetapi belum ada kepedulian dan kesungguhannya untuk bisa saling berbagi," ceritanya dengan sedih.
Maidatul sendiri merasakan sakit yang luar biasa sekali. "Saat ini kalau berjalan harus pakai tongkat. Tumit kaki kanan terasa sakit bila diinjakkan. Nafsu makan sangat berkurang," kata dia merasakannya.
Secara pisikologis, Maidatul merasakan malu sendiri. Malu ketemu orang. Dan bahkan ada pula rasa takut dalam dirinya yang selalu menghantui setiap saat. Dia pun tidak bisa memastikan tentang kelanjutan sekolahnya. Baginya, hari-hari yang penuh dengan ceria bagi gadis jolong gadang seusia dia, terpaksa dijalaninya dengan banyak sedih dan takut.
Ingin dia seperti kebanyakan orang lain di kampungnya, Kapalo Hilalang, tetapi apa hendak dikata. Bermimpi saja terasa susah, lantaran perasaan cemas dan takut selalu menyelimuti jiwanya siang dan malam. Orangtuanya yang dirundung kesusahan dalam hidup pun tidak lagi bisa berbuat banyak. Untuk biaya makan saja sangat susah, apalagi untuk berobat. Hanya keajaiban Tuhan yang bisa menolongnya. (damanhuri)
Senin, 29 April 2013
14 Tahun Mustafa Kamal Tinggal di Pondok Buruak
14 Tahun Mustafa Kamal Tinggal di Pondok Buruak
Lubuak Aluang---Sudah 14 tahun Mustafa Kamal tinggal disebuah pondok. Layaknya pondok kayu darurat, lantaran tak pakai listrik. Hingga saat ini dia bersama tiga putra-putrinya dengan setianya menghuni pondok demikian. Sejak tiga tahun belakangan, bapak berusia sekitar 45 tahun ini sudah berpisah pula dengan istrinya, Mardiana.
Mardiana, perempuan asli Kabupaten Kepulauan Mentawai berpisah dengannya, lantaran semakin kerasnya tuntutan hidup yang ditanggungnya dalam keseharian. Mak Etek, begitu dia sering disapa banyak orang di Lubuak Aluang kerja serabutan. Dulu, dia banyak menghabiskan waktunya ditepi Sungai Batang Anai yang melintasi kampungnya, Balah Hilia Utara, Lubuak Aluang, Kabupaten Padang Pariaman. Bersama kawan-kawannya dia mengeluarkan pasir dari dalam sungai, lalu menaikkannya keatas mobil.
Dari kerja itulah dia menggantungkan hidupnya bersama keluarga tercintanya. Sejak berpisah dengan istrinya, tak banyak lagi kerja yang menghasilkan pitih yang bisa dia lakukan. "Pernah berladang ditanah pusako orangtua. Menanam bingkuang. Karena harga jual bingkuang sangat murah waktu itu, banyak mengalami kerugian. Bingkuang terbuang begitu saja. Sehabis itu tidak ada lagi kerja yang jelas," cerita dia saat bersua Singgalang, Senin kemarin.
"Alhamdulillah, dengan tidak ada kepastian hidup, ketiga anak-anak pada sekolah. Yang paling besar duduk di kelas empat SD. Pondok ini sudah tiga kali berganti atap. Sebab, memakai atap rumbia, yang daya tahannya tak bisa diharapkan untuk lama. Sedangkan lantainya dibuat dari papan sibiran, yang harganya sama saja dengan dikasih oleh yang punya usaha sawmil," ungkapnya.
Bila malam tiba, Mustafa Kamal hanya ditemani sebuah lampu togok. Soal nonton tv jangan tanya pada bapak ini. Tak ada peralatan elektronik dalam rumahnya. Padahal, anak-anak lain yang sebaya dengan anaknya itu sangat gemar sekali nonton tv. "Apa hendak dikata. Sebenarnya kita sangat ingin sekali punya tv, tinggal dalam rumah yang layak huni. Itu hanya bisa lewat mimpi," ulas dia lagi.
Bagi dia yang penting saat ini bisa mencari kemasukan buat makan dan biaya sekolah anaknya. "biarlah awak yang tak cukup sekolah. Ditengah keterbatasan ini, hendaknya anak mampu melebihi diri saya yang tak lanjut sekolah, lantaran pahitnya kehidupan orangtua dulunya," katanya sedih.
Belakangan, pondok yang didiami Mustafa Kamal sudah di survei oleh pihak-pihak dalam Kecamatan Lubuak Aluang, dan selanjutnya diajukan untuk dapat bantuan rumah layak huni dari pemerintah. Dia pun sangat berharap dan bermimpi, pondoknya bisa diganti dengan rumah sederhana. (damanhuri)
Lubuak Aluang---Sudah 14 tahun Mustafa Kamal tinggal disebuah pondok. Layaknya pondok kayu darurat, lantaran tak pakai listrik. Hingga saat ini dia bersama tiga putra-putrinya dengan setianya menghuni pondok demikian. Sejak tiga tahun belakangan, bapak berusia sekitar 45 tahun ini sudah berpisah pula dengan istrinya, Mardiana.
Mardiana, perempuan asli Kabupaten Kepulauan Mentawai berpisah dengannya, lantaran semakin kerasnya tuntutan hidup yang ditanggungnya dalam keseharian. Mak Etek, begitu dia sering disapa banyak orang di Lubuak Aluang kerja serabutan. Dulu, dia banyak menghabiskan waktunya ditepi Sungai Batang Anai yang melintasi kampungnya, Balah Hilia Utara, Lubuak Aluang, Kabupaten Padang Pariaman. Bersama kawan-kawannya dia mengeluarkan pasir dari dalam sungai, lalu menaikkannya keatas mobil.
Dari kerja itulah dia menggantungkan hidupnya bersama keluarga tercintanya. Sejak berpisah dengan istrinya, tak banyak lagi kerja yang menghasilkan pitih yang bisa dia lakukan. "Pernah berladang ditanah pusako orangtua. Menanam bingkuang. Karena harga jual bingkuang sangat murah waktu itu, banyak mengalami kerugian. Bingkuang terbuang begitu saja. Sehabis itu tidak ada lagi kerja yang jelas," cerita dia saat bersua Singgalang, Senin kemarin.
"Alhamdulillah, dengan tidak ada kepastian hidup, ketiga anak-anak pada sekolah. Yang paling besar duduk di kelas empat SD. Pondok ini sudah tiga kali berganti atap. Sebab, memakai atap rumbia, yang daya tahannya tak bisa diharapkan untuk lama. Sedangkan lantainya dibuat dari papan sibiran, yang harganya sama saja dengan dikasih oleh yang punya usaha sawmil," ungkapnya.
Bila malam tiba, Mustafa Kamal hanya ditemani sebuah lampu togok. Soal nonton tv jangan tanya pada bapak ini. Tak ada peralatan elektronik dalam rumahnya. Padahal, anak-anak lain yang sebaya dengan anaknya itu sangat gemar sekali nonton tv. "Apa hendak dikata. Sebenarnya kita sangat ingin sekali punya tv, tinggal dalam rumah yang layak huni. Itu hanya bisa lewat mimpi," ulas dia lagi.
Bagi dia yang penting saat ini bisa mencari kemasukan buat makan dan biaya sekolah anaknya. "biarlah awak yang tak cukup sekolah. Ditengah keterbatasan ini, hendaknya anak mampu melebihi diri saya yang tak lanjut sekolah, lantaran pahitnya kehidupan orangtua dulunya," katanya sedih.
Belakangan, pondok yang didiami Mustafa Kamal sudah di survei oleh pihak-pihak dalam Kecamatan Lubuak Aluang, dan selanjutnya diajukan untuk dapat bantuan rumah layak huni dari pemerintah. Dia pun sangat berharap dan bermimpi, pondoknya bisa diganti dengan rumah sederhana. (damanhuri)
Langganan:
Postingan (Atom)

