Nasib Pasukan Kuning Lubuk Alung
Awak Miskin Anak Sakit Pula
Lubuk Alung----Malang benar nasib yang ditanggung Zainal Abidin. Sudahlah hidup miskin, satu dari lima orang putra-putrinya dapat penyakit pula. Orang kampung bilang, penyakit Wendra Saputra, nama anak nomor limanya itu sibudak. Bidan bilang step. Terlihat, anak yang berusia dua tahun tersebut bagaikan mengalami penyakit busung lapar, lantaran badannya semakin mengecil.
Zainal Abidin bersama istrinya, Maidarnis hanya disuruh oleh bidan yang menangani imunisasinya tiap pekannya untuk selalu diberi bubur kacang hijau. Tidak ada tindakan lebih lanjut, bagaimana memulihkan anaknya. Bayangkan saja, dalam usia dua tahun anak itu belum juga pandai berjalan. Kedua telinga anak ini juga ada kelainan dari telinga orang biasanya.
Yang membuat meris itu, Zainal Abidin yang tinggal dikomplek paling padat penduduk, Kabun Kopi, Balah Hilia, Lubuk Alung, Padang Pariaman, hanya satu rumahnya saja yang mencolok. Rumahnya tak layak huni. Disamping terbuat dari kayu yang sudah lama, juga tidak punya jendela yang memadai. Bila malam datang, jendela yang hanya pakai telaris itu dia tutupi dengan kain lusuh.
Senin (13/5) Singgalang diajak bertandang kerumahnya itu oleh pengurus Karang Taruna Nagari Lubuk Alung. Mereka; Ketua; Jasman Jay, Sekretaris; M. Maneza Ade. Kemudian Landi Effendi, Sekretaris Bamus Lubuk Alung, dan Ketua DPC PAN Lubuk Alung, Hilman H. Anak muda ini merasa prihatin melihat nasib kehidupan yang ditanggung pasangan keluarga ini. Rumah itu dibuatnya, setelah yang punya tanah mau menyewakan tanah untuk dibangunnya sebuah pondok.
"Dulu kami tinggal di Kampuang Baru, Pungguang Kasiak. Lantaran tak kuat menyewa, pindah kesini. Disamping aktif mengikuti imunisasi, obat kampung juga sering dilakukan. Namun, perubahannya belum kelihatan," keluh dia.
Dalam pondok berukuran sangat kecil dan tak layak huni itulah Zainal Abidin tinggal. Dia merasa kesulitan untuk mengobati anaknya ke rumah sakit, lantaran tidak punya Jamkesmas dan Jamkesda. Sore menjelang, bila pedagang Pasar Lubuk Alung telah berkemas, Bulek, begiti Zainal senang disapa banyak orang datang ke pasar itu untuk membersihkan sampah pasar yang berserakkan disana-sini.
Dia bekerja sebagai tenaga kebersihan sudah puluhan tahun. Tidak ada yang tak kenal dengan Bulek. Sebagai pasukan kuning, seharusnya dia mendapatkan kehidupan yang layak pula. Tetapi apa hendak dikata. Hanya Rp1 juta dia digaji oleh pihak pasar dalam sebulan. Dengan uang sebanyak itu ia menghidupi lima anak dan seorang istrinya. Anaknya yang paling besar, baru sekolah di bangku SMP. Bulek adalah asli Padusunan, Pariaman. Sedangkan istrinya, Maidarnis asli Badinah, Nagari Lurah Ampalu, Kecamatan VII Koto Sungai Sariak.
Soal kebersihan Pasar Lubuk Alung, jangan tanya kerja Bulek. Sampai tengah malam dia bekerja. Sudah sampah dikumpulkan, ditunggu pula mobil pengangkut datang, dinaikkan ke mobil sekitar pukul 00.00 Wib, kadang lewat dari jam itu. Setelah itu, baru dia bisa pulang ke rumahnya di Kabun Kopi. Pagi menjelang sore, dia ikut membantu kerja di huller milik kakanya, menjemur padi. "Ya, dari pada tak ada kerjaan mejelang sore, kan mendingan," katanya.
Atasnama Karang Taruna Nagari Lubuk Alung, Jasman Jay menyerahkan sebuah amplop yang berisi sejumlah uang. "Jangan lihat isinya. Ini hanya untuk penambah beli bubur kacang hijau," kata Hilman menambahkan. (damanhuri)
Rabu, 15 Mei 2013
Minggu, 12 Mei 2013
Suami Diserang Gula dan Asam Urat Epi Sendirian Mengayuh Kehidupan
Suami Diserang Gula dan Asam Urat Epi Sendirian Mengayuh Kehidupan
Lubuk Alung---Sejak empat bulan lalu Epi mengayuh biduk kehidupan rumah tangganya secara sendirian. Suaminya, Amrizal hanya bisa duduk dan tidur dalam kamar, lantaran diserang penyakit komplikasi. Gula dan asam urat menyerangnya, disamping penyakit polio yang dideritanya sejak terlahir kedunia 42 tahun yang silam. Ibu dua anak, berusia 38 tahun ini berjualan kecil-kecilan didepan rumahnya. Disamping jualan kebutuhan anak-anak, juga ada kebutuhan dapur, seperti sayuran.
Sebelum Amrizal mengalami penyakit gula basah dan asam urat, lelaki yang selalu senyum dan riang gembira ini berkeliling ke berbagai sekolah yang ada di Lubuk Alung. Dia menjual gorengan yang dibuat istri tercintanya, Epi. Dia jualan pakai sepeda motor yang diolah dari roda dua menjadi roda tiga, lantaran kaki kanannya kecil, dan tak kuat pakai motor seperti orang biasa.
Sepasang anaknya sudah bersekolah. Yang besar di SMP, dan yang kecil sudah hampir tamat SD. Rabu kemarin, Singgalang bertandang ke rumahnya di komplek Pasar Baru Anak Nagari. Tepatnya di Sungai Abang, Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman bersama Kepala Korong Sungai Abang, Alfios Mardia, Walinagari Harry Subrata, Ketua DPC PAN Lubuk Alung, Hilman H, Sekretaris Bamus, Landi Effendi, dan Mirza Harmadi, warga Lubuk Alung yang bertugas di Bappeda Padang Pariaman.
Walaupun beratnya beban penyakit yang ditanggung Amrizal, dia tampak cerah dan gembira saja. Tak sedikitpun rasa sedih dan putus asa yang tampak pada raut wajahnya. Dia duduk diatas tempat tidur dalam kamarnya. Melalui kartu Jamkesmas yang dimilikinya, sekali dua minggu istrinya, Epi mengambil obat ke RSUD Padang Pariaman di Parit Malintang. Sejak penyakit gula mendatangi tubuh Amrizal, ia jadi susah untuk mengatur pola makannya. Dan bahkan laki-laki yang asli Ringan-Ringan, Pakandangan ini pernah pula diserang penyakit maag.
"Dulu lai talok sumbayang. Kini, terpaksa duduk saja shalatnya diatas tempat tidur. Susahnya, karena tidak ada kursi roda, adalah ketika uda ingin buang air besar atau kecil. Badannya lumayan berat. Awak surang pula memapahnya ke kamar mandi," cerita Epi dengan sedihnya.
Cerita Amrizal, penyakit gula yang ditanggungnya itu sepertinya sudah keturunan. Mulai dari ibunya. Terakhir kakaknya juga mengalami penyakit yang sama dengannya. Amrizal sempat disuruh operasi oleh dokter di rumah sakit. Dia tidak mau, lantaran tidak punya uang untuk itu. Dan ia lebih memilih dengan mengambil obat buat kebutuhan dua kali dalam sepekan.
Dengan kondisi begitu, Amrizal tetap punya semangat yang lumayan kuat. Hidup miskin, diderita pula oleh penyakit yang mematikan, dia tetap ingin kedua buah hatinya lanjut sekolah. Dia ingin anak-anaknya itu punya impian yang sukses dalam dunia pendidikan, yang pada akhirnya mampu menopang kehidupan rumah tangganya, yang saat ini berjalan dengan terseok-seok itu.
Begitu juga dengan Epi. Dia berusaha terus menjadi ibu rumah tangga yang baik untuk anak dan istri yang penuh dengan kesetiaan bagi suaminya. Sepertinya, Epi tidak ingin mengeluh ditengah kesusahan yang yang mendera bahtera rumah tangganya. Dengan setianya dia beresin anak dan suaminya saban hari. Siang dan malam. Selesai itu dia cari pula kemasukan buat membiayai kehidupan keluarganya.
Walinagari Harry Subrata dan rombongan yang datang ke rumah itu merasa terenyuh melihat parasaian keluarga tersebut. Harry Subrata sedikit memberikan bantuan buat tambahan biaya beli obatnya. "Yang sabar dan jangan mengeluh. Mungkin ini sudah menjadi takdir dalam hidup kita," kata Harry Subrata memberikan semangat kepada keluarga demikian. (damanhuri)
Lubuk Alung---Sejak empat bulan lalu Epi mengayuh biduk kehidupan rumah tangganya secara sendirian. Suaminya, Amrizal hanya bisa duduk dan tidur dalam kamar, lantaran diserang penyakit komplikasi. Gula dan asam urat menyerangnya, disamping penyakit polio yang dideritanya sejak terlahir kedunia 42 tahun yang silam. Ibu dua anak, berusia 38 tahun ini berjualan kecil-kecilan didepan rumahnya. Disamping jualan kebutuhan anak-anak, juga ada kebutuhan dapur, seperti sayuran.
Sebelum Amrizal mengalami penyakit gula basah dan asam urat, lelaki yang selalu senyum dan riang gembira ini berkeliling ke berbagai sekolah yang ada di Lubuk Alung. Dia menjual gorengan yang dibuat istri tercintanya, Epi. Dia jualan pakai sepeda motor yang diolah dari roda dua menjadi roda tiga, lantaran kaki kanannya kecil, dan tak kuat pakai motor seperti orang biasa.
Sepasang anaknya sudah bersekolah. Yang besar di SMP, dan yang kecil sudah hampir tamat SD. Rabu kemarin, Singgalang bertandang ke rumahnya di komplek Pasar Baru Anak Nagari. Tepatnya di Sungai Abang, Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman bersama Kepala Korong Sungai Abang, Alfios Mardia, Walinagari Harry Subrata, Ketua DPC PAN Lubuk Alung, Hilman H, Sekretaris Bamus, Landi Effendi, dan Mirza Harmadi, warga Lubuk Alung yang bertugas di Bappeda Padang Pariaman.
Walaupun beratnya beban penyakit yang ditanggung Amrizal, dia tampak cerah dan gembira saja. Tak sedikitpun rasa sedih dan putus asa yang tampak pada raut wajahnya. Dia duduk diatas tempat tidur dalam kamarnya. Melalui kartu Jamkesmas yang dimilikinya, sekali dua minggu istrinya, Epi mengambil obat ke RSUD Padang Pariaman di Parit Malintang. Sejak penyakit gula mendatangi tubuh Amrizal, ia jadi susah untuk mengatur pola makannya. Dan bahkan laki-laki yang asli Ringan-Ringan, Pakandangan ini pernah pula diserang penyakit maag.
"Dulu lai talok sumbayang. Kini, terpaksa duduk saja shalatnya diatas tempat tidur. Susahnya, karena tidak ada kursi roda, adalah ketika uda ingin buang air besar atau kecil. Badannya lumayan berat. Awak surang pula memapahnya ke kamar mandi," cerita Epi dengan sedihnya.
Cerita Amrizal, penyakit gula yang ditanggungnya itu sepertinya sudah keturunan. Mulai dari ibunya. Terakhir kakaknya juga mengalami penyakit yang sama dengannya. Amrizal sempat disuruh operasi oleh dokter di rumah sakit. Dia tidak mau, lantaran tidak punya uang untuk itu. Dan ia lebih memilih dengan mengambil obat buat kebutuhan dua kali dalam sepekan.
Dengan kondisi begitu, Amrizal tetap punya semangat yang lumayan kuat. Hidup miskin, diderita pula oleh penyakit yang mematikan, dia tetap ingin kedua buah hatinya lanjut sekolah. Dia ingin anak-anaknya itu punya impian yang sukses dalam dunia pendidikan, yang pada akhirnya mampu menopang kehidupan rumah tangganya, yang saat ini berjalan dengan terseok-seok itu.
Begitu juga dengan Epi. Dia berusaha terus menjadi ibu rumah tangga yang baik untuk anak dan istri yang penuh dengan kesetiaan bagi suaminya. Sepertinya, Epi tidak ingin mengeluh ditengah kesusahan yang yang mendera bahtera rumah tangganya. Dengan setianya dia beresin anak dan suaminya saban hari. Siang dan malam. Selesai itu dia cari pula kemasukan buat membiayai kehidupan keluarganya.
Walinagari Harry Subrata dan rombongan yang datang ke rumah itu merasa terenyuh melihat parasaian keluarga tersebut. Harry Subrata sedikit memberikan bantuan buat tambahan biaya beli obatnya. "Yang sabar dan jangan mengeluh. Mungkin ini sudah menjadi takdir dalam hidup kita," kata Harry Subrata memberikan semangat kepada keluarga demikian. (damanhuri)
Selasa, 07 Mei 2013
Bermula Sakit Maag Anggraini Harus Pakai Tongkat
Bermula Sakit Maag
Anggraini Harus Pakai Tongkat
Kapalo Hilalang---Bermula dari sakit maag yang dialami Maidatul Anggraini pada akhir 2012 lalu, akhirnya merembet kelain tubuhnya. Saat ini, perempuan kelahiran 1996 ini tidak bisa berjalan, selain harus dibantu dengan sebilah tongkat. Sewaktu penyakit maag, dia pernah dirawat di RSUD Pariaman selama 10 hari.
Setelah diizinkan pulang kerumah, seminggunya lagi dia terpaksa kembali dilarikan ke rumah sakit tersebut. Kata dokter yang menangani penyakitnya, siswi MTsN Kapalo Hilalang, Kecamatan 2x11 Kayutanam, Padang Pariaman ini mengalami penyakit diagnosa roptor ligaman colateral beru dextra.
Saking tingginya biaya yang harus ditanggung Syafinar dan Suhermi, ibu dan ayah dari Maidatul Anggraini untuk mengulangi berobat ke rumah sakit, dia memutuskan anaknya tidak lagi dirawat disitu. Maklum, warga Simpang Balai Kamih, Nagari Kapalo Hilalang ini terbilang masyarakat miskin dalam nagari itu.
Maidatul merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Sejak sakitnya semakin menjadi-jadi, Maidatul tidak bisa lagi sekolah. Dia hanya bisa duduk, dan sesekali berjalan-jalan sambil ditemani oleh sebuah tongkat. "Untuk biaya terapi Rp90 ribu serta beli obatnya untuk tiga kali dalam sepekan, kita tak punya pitih," kata kedua orangtuanya saat ditemui kemarin.
Menurut dia, obat yang dianjurkan selama menjalani terapi tersebut; susu hello teea. Itu ndak punya uang pula untuk membelinya. "Alhamdulillah, belum ada yang melihat kerumah. Pihak sekolahnya sudah diberitahu, tetapi belum ada kepedulian dan kesungguhannya untuk bisa saling berbagi," ceritanya dengan sedih.
Maidatul sendiri merasakan sakit yang luar biasa sekali. "Saat ini kalau berjalan harus pakai tongkat. Tumit kaki kanan terasa sakit bila diinjakkan. Nafsu makan sangat berkurang," kata dia merasakannya.
Secara pisikologis, Maidatul merasakan malu sendiri. Malu ketemu orang. Dan bahkan ada pula rasa takut dalam dirinya yang selalu menghantui setiap saat. Dia pun tidak bisa memastikan tentang kelanjutan sekolahnya. Baginya, hari-hari yang penuh dengan ceria bagi gadis jolong gadang seusia dia, terpaksa dijalaninya dengan banyak sedih dan takut.
Ingin dia seperti kebanyakan orang lain di kampungnya, Kapalo Hilalang, tetapi apa hendak dikata. Bermimpi saja terasa susah, lantaran perasaan cemas dan takut selalu menyelimuti jiwanya siang dan malam. Orangtuanya yang dirundung kesusahan dalam hidup pun tidak lagi bisa berbuat banyak. Untuk biaya makan saja sangat susah, apalagi untuk berobat. Hanya keajaiban Tuhan yang bisa menolongnya. (damanhuri)
Anggraini Harus Pakai Tongkat
Kapalo Hilalang---Bermula dari sakit maag yang dialami Maidatul Anggraini pada akhir 2012 lalu, akhirnya merembet kelain tubuhnya. Saat ini, perempuan kelahiran 1996 ini tidak bisa berjalan, selain harus dibantu dengan sebilah tongkat. Sewaktu penyakit maag, dia pernah dirawat di RSUD Pariaman selama 10 hari.
Setelah diizinkan pulang kerumah, seminggunya lagi dia terpaksa kembali dilarikan ke rumah sakit tersebut. Kata dokter yang menangani penyakitnya, siswi MTsN Kapalo Hilalang, Kecamatan 2x11 Kayutanam, Padang Pariaman ini mengalami penyakit diagnosa roptor ligaman colateral beru dextra.
Saking tingginya biaya yang harus ditanggung Syafinar dan Suhermi, ibu dan ayah dari Maidatul Anggraini untuk mengulangi berobat ke rumah sakit, dia memutuskan anaknya tidak lagi dirawat disitu. Maklum, warga Simpang Balai Kamih, Nagari Kapalo Hilalang ini terbilang masyarakat miskin dalam nagari itu.
Maidatul merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Sejak sakitnya semakin menjadi-jadi, Maidatul tidak bisa lagi sekolah. Dia hanya bisa duduk, dan sesekali berjalan-jalan sambil ditemani oleh sebuah tongkat. "Untuk biaya terapi Rp90 ribu serta beli obatnya untuk tiga kali dalam sepekan, kita tak punya pitih," kata kedua orangtuanya saat ditemui kemarin.
Menurut dia, obat yang dianjurkan selama menjalani terapi tersebut; susu hello teea. Itu ndak punya uang pula untuk membelinya. "Alhamdulillah, belum ada yang melihat kerumah. Pihak sekolahnya sudah diberitahu, tetapi belum ada kepedulian dan kesungguhannya untuk bisa saling berbagi," ceritanya dengan sedih.
Maidatul sendiri merasakan sakit yang luar biasa sekali. "Saat ini kalau berjalan harus pakai tongkat. Tumit kaki kanan terasa sakit bila diinjakkan. Nafsu makan sangat berkurang," kata dia merasakannya.
Secara pisikologis, Maidatul merasakan malu sendiri. Malu ketemu orang. Dan bahkan ada pula rasa takut dalam dirinya yang selalu menghantui setiap saat. Dia pun tidak bisa memastikan tentang kelanjutan sekolahnya. Baginya, hari-hari yang penuh dengan ceria bagi gadis jolong gadang seusia dia, terpaksa dijalaninya dengan banyak sedih dan takut.
Ingin dia seperti kebanyakan orang lain di kampungnya, Kapalo Hilalang, tetapi apa hendak dikata. Bermimpi saja terasa susah, lantaran perasaan cemas dan takut selalu menyelimuti jiwanya siang dan malam. Orangtuanya yang dirundung kesusahan dalam hidup pun tidak lagi bisa berbuat banyak. Untuk biaya makan saja sangat susah, apalagi untuk berobat. Hanya keajaiban Tuhan yang bisa menolongnya. (damanhuri)
Senin, 29 April 2013
14 Tahun Mustafa Kamal Tinggal di Pondok Buruak
14 Tahun Mustafa Kamal Tinggal di Pondok Buruak
Lubuak Aluang---Sudah 14 tahun Mustafa Kamal tinggal disebuah pondok. Layaknya pondok kayu darurat, lantaran tak pakai listrik. Hingga saat ini dia bersama tiga putra-putrinya dengan setianya menghuni pondok demikian. Sejak tiga tahun belakangan, bapak berusia sekitar 45 tahun ini sudah berpisah pula dengan istrinya, Mardiana.
Mardiana, perempuan asli Kabupaten Kepulauan Mentawai berpisah dengannya, lantaran semakin kerasnya tuntutan hidup yang ditanggungnya dalam keseharian. Mak Etek, begitu dia sering disapa banyak orang di Lubuak Aluang kerja serabutan. Dulu, dia banyak menghabiskan waktunya ditepi Sungai Batang Anai yang melintasi kampungnya, Balah Hilia Utara, Lubuak Aluang, Kabupaten Padang Pariaman. Bersama kawan-kawannya dia mengeluarkan pasir dari dalam sungai, lalu menaikkannya keatas mobil.
Dari kerja itulah dia menggantungkan hidupnya bersama keluarga tercintanya. Sejak berpisah dengan istrinya, tak banyak lagi kerja yang menghasilkan pitih yang bisa dia lakukan. "Pernah berladang ditanah pusako orangtua. Menanam bingkuang. Karena harga jual bingkuang sangat murah waktu itu, banyak mengalami kerugian. Bingkuang terbuang begitu saja. Sehabis itu tidak ada lagi kerja yang jelas," cerita dia saat bersua Singgalang, Senin kemarin.
"Alhamdulillah, dengan tidak ada kepastian hidup, ketiga anak-anak pada sekolah. Yang paling besar duduk di kelas empat SD. Pondok ini sudah tiga kali berganti atap. Sebab, memakai atap rumbia, yang daya tahannya tak bisa diharapkan untuk lama. Sedangkan lantainya dibuat dari papan sibiran, yang harganya sama saja dengan dikasih oleh yang punya usaha sawmil," ungkapnya.
Bila malam tiba, Mustafa Kamal hanya ditemani sebuah lampu togok. Soal nonton tv jangan tanya pada bapak ini. Tak ada peralatan elektronik dalam rumahnya. Padahal, anak-anak lain yang sebaya dengan anaknya itu sangat gemar sekali nonton tv. "Apa hendak dikata. Sebenarnya kita sangat ingin sekali punya tv, tinggal dalam rumah yang layak huni. Itu hanya bisa lewat mimpi," ulas dia lagi.
Bagi dia yang penting saat ini bisa mencari kemasukan buat makan dan biaya sekolah anaknya. "biarlah awak yang tak cukup sekolah. Ditengah keterbatasan ini, hendaknya anak mampu melebihi diri saya yang tak lanjut sekolah, lantaran pahitnya kehidupan orangtua dulunya," katanya sedih.
Belakangan, pondok yang didiami Mustafa Kamal sudah di survei oleh pihak-pihak dalam Kecamatan Lubuak Aluang, dan selanjutnya diajukan untuk dapat bantuan rumah layak huni dari pemerintah. Dia pun sangat berharap dan bermimpi, pondoknya bisa diganti dengan rumah sederhana. (damanhuri)
Lubuak Aluang---Sudah 14 tahun Mustafa Kamal tinggal disebuah pondok. Layaknya pondok kayu darurat, lantaran tak pakai listrik. Hingga saat ini dia bersama tiga putra-putrinya dengan setianya menghuni pondok demikian. Sejak tiga tahun belakangan, bapak berusia sekitar 45 tahun ini sudah berpisah pula dengan istrinya, Mardiana.
Mardiana, perempuan asli Kabupaten Kepulauan Mentawai berpisah dengannya, lantaran semakin kerasnya tuntutan hidup yang ditanggungnya dalam keseharian. Mak Etek, begitu dia sering disapa banyak orang di Lubuak Aluang kerja serabutan. Dulu, dia banyak menghabiskan waktunya ditepi Sungai Batang Anai yang melintasi kampungnya, Balah Hilia Utara, Lubuak Aluang, Kabupaten Padang Pariaman. Bersama kawan-kawannya dia mengeluarkan pasir dari dalam sungai, lalu menaikkannya keatas mobil.
Dari kerja itulah dia menggantungkan hidupnya bersama keluarga tercintanya. Sejak berpisah dengan istrinya, tak banyak lagi kerja yang menghasilkan pitih yang bisa dia lakukan. "Pernah berladang ditanah pusako orangtua. Menanam bingkuang. Karena harga jual bingkuang sangat murah waktu itu, banyak mengalami kerugian. Bingkuang terbuang begitu saja. Sehabis itu tidak ada lagi kerja yang jelas," cerita dia saat bersua Singgalang, Senin kemarin.
"Alhamdulillah, dengan tidak ada kepastian hidup, ketiga anak-anak pada sekolah. Yang paling besar duduk di kelas empat SD. Pondok ini sudah tiga kali berganti atap. Sebab, memakai atap rumbia, yang daya tahannya tak bisa diharapkan untuk lama. Sedangkan lantainya dibuat dari papan sibiran, yang harganya sama saja dengan dikasih oleh yang punya usaha sawmil," ungkapnya.
Bila malam tiba, Mustafa Kamal hanya ditemani sebuah lampu togok. Soal nonton tv jangan tanya pada bapak ini. Tak ada peralatan elektronik dalam rumahnya. Padahal, anak-anak lain yang sebaya dengan anaknya itu sangat gemar sekali nonton tv. "Apa hendak dikata. Sebenarnya kita sangat ingin sekali punya tv, tinggal dalam rumah yang layak huni. Itu hanya bisa lewat mimpi," ulas dia lagi.
Bagi dia yang penting saat ini bisa mencari kemasukan buat makan dan biaya sekolah anaknya. "biarlah awak yang tak cukup sekolah. Ditengah keterbatasan ini, hendaknya anak mampu melebihi diri saya yang tak lanjut sekolah, lantaran pahitnya kehidupan orangtua dulunya," katanya sedih.
Belakangan, pondok yang didiami Mustafa Kamal sudah di survei oleh pihak-pihak dalam Kecamatan Lubuak Aluang, dan selanjutnya diajukan untuk dapat bantuan rumah layak huni dari pemerintah. Dia pun sangat berharap dan bermimpi, pondoknya bisa diganti dengan rumah sederhana. (damanhuri)
Minggu, 28 April 2013
Ibu-ibu Tangguh yang Tidak Senang Hanya Menerima
Ibu-ibu Tangguh yang Tidak Senang Hanya Menerima
Sicincin---Siang kemarin cuaca hari sedikit agak manenggang. Panas tidak terlalu trik, sehingga amak-amak dan uniang-uniang yang menjual talua asin merasa senang sendiri. Ada sejumlah kaum perempuan tangguh dan gigih yang setiap hari menggantungkan hidupnya di pelataran parkir Masjid Jami' Muhammadiyah, Sicincin. Mereka menjual makanan. Yang paling terkenal; talua asin.
"Talua asin, talua, sala lauak, cubadak, pisang abuih," kira-kira begitu sejumlah ibuk-ibuk itu bersuara ketika melihat ada mobil pribadi yang berhenti di masjid tersebut. Mereka menghabiskan harinya disitu, demi untuk kehidupan rumah tangganya yang lebih layak lagi. Bagi mereka tak kenal hujan dan panas. Yang penting tiap hari harus menjual dagangannya.
Bagi mereka, ketika ada mobil berhenti, agaknya anugrah tersendiri. Apalagi kalau pemilik dan penumpang mobil sempat pula membeli talua asin. "Kalau sebuah talau Rp3.500. Tapi kalau bali tigo, bisa Rp10 ribu. Iko punyo urang pulo nan awak juakan mah nak. Lumayan juga. Kadang lai banyak habisnya," kata Janimar.
Uniang Janimar, begitu dia sering disapa banyak orang, merupakan salah seorang pedagang talua asin yang terbilang sudah lama mangkal di Sicincin, Kecamatan 2x11 Enam Lingkung, Padang Pariaman tersebut. Dengan cara itu pula dia membantu suaminya mencarikan kemasukan buat rumah tangga. Bagi dia, tidak ada istilah capek dalam berusaha. "Yang penting halal. Sering juga pergi jauh, bahkan sampai ke Padang, ketika naik pada salah bus angkutan umum," ujar dia.
Tak heran, Uniang dengan lima orang putra-putri ini sangat akrap pula dengan sejumlah sopir, karena acapkali naik mobilnya. "Kalau ongkosnya tidak boleh membayar oleh sopirnya. Kita seolah-olah langganan saja. Ya, adalah sekedar basa-basi untuk sang sopir. Kadang lai nyo ambiak, kandang dia tidak suka. Mungkin lagi kenyang perutnya barangkali," cerita uniang berkisah.
Uniang menjual talau asin itu hanya mendapatkan persentase dari induk semangnya. Pagi-pagi dia datangi rumah induk semangnya di Pauah Sicincin. Tak jauh dari rumahnya. Dia angkut dagangan itu. Kadang dia mangkal di SPBU. Diterminal Sicincin ada pula. "Yang paling sering di masjid ini. Sebab, disamping kita mangurehkan hidup, bisa sekalian menjalankan ibadah dengan shalat berjamaah setiap waktunya," ungkap dia.
Baginya, jadi perempuan tidak boleh hanya menunggu pitih dari suami. "Membangun rumah tangga itu, ya berdua. Alhamdulillah, dengan ikut berjualan ini, semua anak-anak sekolah. Bahkan, seorang anak sedang kuliah pula. RA Kartini mengajarkan kepada kita kaum perempuan tentang emansipasi wanita. Artinya, ada persamaan hak, antara laki-laki dan perempuan. Kita juga boleh berusaha seperti yang dilakukan suami, asalkan tidak menyia-nyiakan keluarga," ucap Uniang lagi.
Memang nasib Uniang ini lagi dibawah. Selama itu dia berjualan talua asin, bahkan berbilang tahun, masih tetap menjadi anak buah orang. "Ndak ado modal untuk buka surang. Ini saja sanggup sudah syukur. Namun, kita tetap berharap, suatu ketika nanti usaha ini bisa gadang, dan mampu pula mempekerjakan banyak orang," mimpinya. (damanhuri)
Sicincin---Siang kemarin cuaca hari sedikit agak manenggang. Panas tidak terlalu trik, sehingga amak-amak dan uniang-uniang yang menjual talua asin merasa senang sendiri. Ada sejumlah kaum perempuan tangguh dan gigih yang setiap hari menggantungkan hidupnya di pelataran parkir Masjid Jami' Muhammadiyah, Sicincin. Mereka menjual makanan. Yang paling terkenal; talua asin.
"Talua asin, talua, sala lauak, cubadak, pisang abuih," kira-kira begitu sejumlah ibuk-ibuk itu bersuara ketika melihat ada mobil pribadi yang berhenti di masjid tersebut. Mereka menghabiskan harinya disitu, demi untuk kehidupan rumah tangganya yang lebih layak lagi. Bagi mereka tak kenal hujan dan panas. Yang penting tiap hari harus menjual dagangannya.
Bagi mereka, ketika ada mobil berhenti, agaknya anugrah tersendiri. Apalagi kalau pemilik dan penumpang mobil sempat pula membeli talua asin. "Kalau sebuah talau Rp3.500. Tapi kalau bali tigo, bisa Rp10 ribu. Iko punyo urang pulo nan awak juakan mah nak. Lumayan juga. Kadang lai banyak habisnya," kata Janimar.
Uniang Janimar, begitu dia sering disapa banyak orang, merupakan salah seorang pedagang talua asin yang terbilang sudah lama mangkal di Sicincin, Kecamatan 2x11 Enam Lingkung, Padang Pariaman tersebut. Dengan cara itu pula dia membantu suaminya mencarikan kemasukan buat rumah tangga. Bagi dia, tidak ada istilah capek dalam berusaha. "Yang penting halal. Sering juga pergi jauh, bahkan sampai ke Padang, ketika naik pada salah bus angkutan umum," ujar dia.
Tak heran, Uniang dengan lima orang putra-putri ini sangat akrap pula dengan sejumlah sopir, karena acapkali naik mobilnya. "Kalau ongkosnya tidak boleh membayar oleh sopirnya. Kita seolah-olah langganan saja. Ya, adalah sekedar basa-basi untuk sang sopir. Kadang lai nyo ambiak, kandang dia tidak suka. Mungkin lagi kenyang perutnya barangkali," cerita uniang berkisah.
Uniang menjual talau asin itu hanya mendapatkan persentase dari induk semangnya. Pagi-pagi dia datangi rumah induk semangnya di Pauah Sicincin. Tak jauh dari rumahnya. Dia angkut dagangan itu. Kadang dia mangkal di SPBU. Diterminal Sicincin ada pula. "Yang paling sering di masjid ini. Sebab, disamping kita mangurehkan hidup, bisa sekalian menjalankan ibadah dengan shalat berjamaah setiap waktunya," ungkap dia.
Baginya, jadi perempuan tidak boleh hanya menunggu pitih dari suami. "Membangun rumah tangga itu, ya berdua. Alhamdulillah, dengan ikut berjualan ini, semua anak-anak sekolah. Bahkan, seorang anak sedang kuliah pula. RA Kartini mengajarkan kepada kita kaum perempuan tentang emansipasi wanita. Artinya, ada persamaan hak, antara laki-laki dan perempuan. Kita juga boleh berusaha seperti yang dilakukan suami, asalkan tidak menyia-nyiakan keluarga," ucap Uniang lagi.
Memang nasib Uniang ini lagi dibawah. Selama itu dia berjualan talua asin, bahkan berbilang tahun, masih tetap menjadi anak buah orang. "Ndak ado modal untuk buka surang. Ini saja sanggup sudah syukur. Namun, kita tetap berharap, suatu ketika nanti usaha ini bisa gadang, dan mampu pula mempekerjakan banyak orang," mimpinya. (damanhuri)
Rabu, 03 April 2013
Rekonstruksi Pembunuhan Nurdin Ada Indikasi Tersangka Ingin Melarikan Diri
Rekonstruksi Pembunuhan Nurdin
Ada Indikasi Tersangka Ingin Melarikan Diri
Batang Anai---Rabu pagi kemarin matahari baru saja naik sepenggalahan dari tempat persembunyiannya. Masyarakat Sungai Pinang sudah berduyun-duyun mendatangi rumah kontrakkan Rosmaini, tersangka pembunuhan Nurdin, suaminya sendiri. Karena pagi itu digelar rekonstruksi ulang kasus yang terjadi pada 16 Maret silam oleh Polres Padang Pariaman, terhadap tersangka. Rencana rekonstruksi yang semua dijadwalkan pukul 09.00 Wib, ternyata molor, dikarenakan sesuatu lain hal. Namun, prosesnya berjalan lancar.
' Sepertinya, masyarakat Sungai Pinang sudah tak tahan lagi ingin menyaksikan langsung, seperti apa seorang Rosmaini menghabisi nyawa suaminya. Ada ratusan masyarakat yang berdatangan dari kampung entah berantah sekitar Nagari Kasang, Kecamatan Batang Anai demikian. Proses rekonstruksi yang menampilkan 22 reka ulang itu menjadi peristiwa yang mencengangkan sekali. Sebab, selama ini hal itu hanya ditonton lewat tv oleh bajibun pengunjung yang kebanyakan dari kalangan induak-induak tersebut.
Prosesnya dihadiri langsung oleh Kapolres Padang Pariaman, AKBP Amirjan, disaksikan oleh pihak Kejari Pariaman dan personil Polsek Batang Anai. Terkesan ada sikap rasa tak bersalah dari tersangka, ketika menjalani rekonstruksi itu. Ibu rumah tangga yang sudah dua bulan tinggal di rumah milik HJ. Yusna ini, kata kebanyakan orang adalah asli Pesisir Selatan. Dia sering pindah tempat tinggal. "Baru dua bulan dia kontrak rumah ini. Sebulannya dia sewa sebanyak Rp350 ribu," kata Yusna kepada Singgalang.
Yusna, sang pemilik rumah yang jadi saksi pertama, sekaligus orang pertama pula yang melaporkan kejadian itu ke aparat polisi lalu lintas yang tengah bertugas di fly over BIM. Kedua polisi itu juga menjadi saksi dalam reka ulang yang dilakukan kemaren.
Menurut Kapolres Amirjan, tersangka terkesan sudah lama menyimpan rasa sakit hati, kurang senang yang mengakibatkan keretakkan pada rumahtangganya. Terhadap kejadian ini, tersangka dijerat dengan pasal 340 dan 341 KUHP, tentang penganiayaan yang sangat berat, sampai hilangnya nyawa seseorang.
Dalam reka ulang itu, sebelum tersangka Rosmaini yang merupakan istri ketiga Nurdin diamankan pihak polisi, ada indikasi akan melarikan diri. Setelah dia mengambil HP dan uang sekitar Rp6 juta dari saku korban, suaminya yang sudah tak bernyawa lagi itu, dia pergi keluar rumah, yang sebelumnya mengunci pintu rumah kontrakkan dengan gembok. Namun, polisi cepat datang. "Tangkoklah awak," itu katanya, seperti diulang lagi saat dua petugas sudah berada didepan matanya.
Yusna bergegas melaporkan itu, karena tak tahan melihat darah berceceran dalam rumah yang sengaja untuk disewakan itu. "Kau pangaan laki kau tu," kata Yusna kepada Rosmaini, saat mendatangi rumah yang terletak di sebelah rumah yang dihuni Yusna, ketika mendengar suara mintak tolong dari suaminya. Tentang kisah pasangan Nurdin dan Rosmaini ini tak banyak warga setempat yang tahu. Menurut Yusna, Nurdin kabarnya dimakamkan di Kalumbuak, Kota Padang, yakni di rumah istrinya yang paling tua. Disitu ada lima anaknya. Sedangkan dengan Rosmaini, Nurdin tak punya anak sekudung juga. (damanhuri)
Ada Indikasi Tersangka Ingin Melarikan Diri
Batang Anai---Rabu pagi kemarin matahari baru saja naik sepenggalahan dari tempat persembunyiannya. Masyarakat Sungai Pinang sudah berduyun-duyun mendatangi rumah kontrakkan Rosmaini, tersangka pembunuhan Nurdin, suaminya sendiri. Karena pagi itu digelar rekonstruksi ulang kasus yang terjadi pada 16 Maret silam oleh Polres Padang Pariaman, terhadap tersangka. Rencana rekonstruksi yang semua dijadwalkan pukul 09.00 Wib, ternyata molor, dikarenakan sesuatu lain hal. Namun, prosesnya berjalan lancar.
' Sepertinya, masyarakat Sungai Pinang sudah tak tahan lagi ingin menyaksikan langsung, seperti apa seorang Rosmaini menghabisi nyawa suaminya. Ada ratusan masyarakat yang berdatangan dari kampung entah berantah sekitar Nagari Kasang, Kecamatan Batang Anai demikian. Proses rekonstruksi yang menampilkan 22 reka ulang itu menjadi peristiwa yang mencengangkan sekali. Sebab, selama ini hal itu hanya ditonton lewat tv oleh bajibun pengunjung yang kebanyakan dari kalangan induak-induak tersebut.
Prosesnya dihadiri langsung oleh Kapolres Padang Pariaman, AKBP Amirjan, disaksikan oleh pihak Kejari Pariaman dan personil Polsek Batang Anai. Terkesan ada sikap rasa tak bersalah dari tersangka, ketika menjalani rekonstruksi itu. Ibu rumah tangga yang sudah dua bulan tinggal di rumah milik HJ. Yusna ini, kata kebanyakan orang adalah asli Pesisir Selatan. Dia sering pindah tempat tinggal. "Baru dua bulan dia kontrak rumah ini. Sebulannya dia sewa sebanyak Rp350 ribu," kata Yusna kepada Singgalang.
Yusna, sang pemilik rumah yang jadi saksi pertama, sekaligus orang pertama pula yang melaporkan kejadian itu ke aparat polisi lalu lintas yang tengah bertugas di fly over BIM. Kedua polisi itu juga menjadi saksi dalam reka ulang yang dilakukan kemaren.
Menurut Kapolres Amirjan, tersangka terkesan sudah lama menyimpan rasa sakit hati, kurang senang yang mengakibatkan keretakkan pada rumahtangganya. Terhadap kejadian ini, tersangka dijerat dengan pasal 340 dan 341 KUHP, tentang penganiayaan yang sangat berat, sampai hilangnya nyawa seseorang.
Dalam reka ulang itu, sebelum tersangka Rosmaini yang merupakan istri ketiga Nurdin diamankan pihak polisi, ada indikasi akan melarikan diri. Setelah dia mengambil HP dan uang sekitar Rp6 juta dari saku korban, suaminya yang sudah tak bernyawa lagi itu, dia pergi keluar rumah, yang sebelumnya mengunci pintu rumah kontrakkan dengan gembok. Namun, polisi cepat datang. "Tangkoklah awak," itu katanya, seperti diulang lagi saat dua petugas sudah berada didepan matanya.
Yusna bergegas melaporkan itu, karena tak tahan melihat darah berceceran dalam rumah yang sengaja untuk disewakan itu. "Kau pangaan laki kau tu," kata Yusna kepada Rosmaini, saat mendatangi rumah yang terletak di sebelah rumah yang dihuni Yusna, ketika mendengar suara mintak tolong dari suaminya. Tentang kisah pasangan Nurdin dan Rosmaini ini tak banyak warga setempat yang tahu. Menurut Yusna, Nurdin kabarnya dimakamkan di Kalumbuak, Kota Padang, yakni di rumah istrinya yang paling tua. Disitu ada lima anaknya. Sedangkan dengan Rosmaini, Nurdin tak punya anak sekudung juga. (damanhuri)
Senin, 01 April 2013
Walinagari Gigih Itu Telah Pergi Selamanya
Walinagari Gigih Itu Telah Pergi Selamanya
Sungai Limau---Sejak dua pekan silam, Firdaus Khatab dirawat di RSUD Pariaman. Walinagari Kuranji Hilia, Kecamatan Sungai Limau ini masuk rumah sakit lantaran diserang penyakit kulit. Orang kampung bilang, biriang nama penyakitnya. Sabtu lalu dia keluar dari rumah sakit, dan dibawa ke rumah istrinya, di Simpang Lapai, Kota Pariaman. Senin siang kemarin dia meninggal dunia. Innalillahi wainna ilaihi rajiun.
Singgalang pertama kali dapat kabar duka itu dari Ismet Jaya Piliang, adik dari Indra Jaya Piliang, yang secara kebetulan sedang berada dikampung, melalui telepon genggam. Kemudian, datang lagi telepon dari Ketua Forum Walinagari Kabupaten Padang Pariaman, Harpianda Datuak Sari Marajo Alam. Berikutnya, istri almarhum, Sofya Liani, yang dengan tegar mengontak ponsel Singgalang, mengabarkan hal itu.
Meninggalnya Firdaus Khatab, memang membuat Singgalang merasa terkejut dan terkesima. Sebab, sejak awal-awal menjelang yang bersangkutan akan maju menjadi Walinagari Kuranji Hilia, dia sangat aktif berkomunikasi. Bahkan, sejak terpilih, hingga saat ini pun masih banyak melakukan berbagai terobosan, yang sangat jarang sekali tidak diberitakan Singgalang.
Kabarnya penyakit tersebut sudah lama ditanggung almarhum. Terakhir, sepengetahuan Ali Akbar yang pernah menjenguknya di rumah sakit, kondisi badannya dingin sampai menggigil. Kedinginan itu ditanggungnya siang dan malam. Terakhir Firdaus Khatab mengontak Singgalang sudah empat hari masuk rumah sakit. Dia mengabarkan, kalau kampungnya dilanyau banjir, dan dirinya sedang terbaring pula di rumah sakit.
Firdaus Khatab dikenal sebagai seorang pemimpin yang gigih. Punya obsesi yang jauh kedepan dalam memajukan tanah kelahirannya, Kuranji Hilia. Pemimpin kelahiran Aia Manih, Kuranji Hilia pada 1964 ini dikarunia lima orang putra-putri. Banyak kemajuan yang sudah ditorehkannya. Ditangannya pula Nagari Kuranji Hilia dimekarkan menjadi tiga nagari. Disamping nagari induk, lahir Nagari Guguak Kuranji Hilia dan Koto Tinggi Kuranji Hilia.
Dia punya sejarah panjang dengan nagari itu. Ayahnya, almarhum Sofyan Khatab merupakan walinagari yang dikenal hebat. Jadi, walinagari yang dijabat sampai akhir hayat Firdaus Khatab demikian, punya historis yang sangat luar biasa sekali. Sebelum jadi walinagari pun, Firdaus dikenal sebagai orang yang gemar berorganisasi.
Dari rumah duka di Simpang Lapai dan Sungai Limau diperoleh informasi, almarhum akan dimakamnya Selasa (2/4) ini di Batang Sariak, Korong Lampanjang, Kuranji Hilia. Sejak Senin kemarin sudah banyak sanak famili dan rekan sejawatnya yang melayat. Bagi masyarakat Kuranji Hilia, kehilangan seorang walinagari, jelas berita duka cita yang amat sangat mendalam sekali, apalagi keluarganya sendiri. Masih banyak yang belum sempat dilakukannya di nagari itu, tentu menjadi pekerjaan rumah bagi generasi yang akan melanjutkan kepemimpin yang bersangkutan. (damanhuri)
Sungai Limau---Sejak dua pekan silam, Firdaus Khatab dirawat di RSUD Pariaman. Walinagari Kuranji Hilia, Kecamatan Sungai Limau ini masuk rumah sakit lantaran diserang penyakit kulit. Orang kampung bilang, biriang nama penyakitnya. Sabtu lalu dia keluar dari rumah sakit, dan dibawa ke rumah istrinya, di Simpang Lapai, Kota Pariaman. Senin siang kemarin dia meninggal dunia. Innalillahi wainna ilaihi rajiun.
Singgalang pertama kali dapat kabar duka itu dari Ismet Jaya Piliang, adik dari Indra Jaya Piliang, yang secara kebetulan sedang berada dikampung, melalui telepon genggam. Kemudian, datang lagi telepon dari Ketua Forum Walinagari Kabupaten Padang Pariaman, Harpianda Datuak Sari Marajo Alam. Berikutnya, istri almarhum, Sofya Liani, yang dengan tegar mengontak ponsel Singgalang, mengabarkan hal itu.
Meninggalnya Firdaus Khatab, memang membuat Singgalang merasa terkejut dan terkesima. Sebab, sejak awal-awal menjelang yang bersangkutan akan maju menjadi Walinagari Kuranji Hilia, dia sangat aktif berkomunikasi. Bahkan, sejak terpilih, hingga saat ini pun masih banyak melakukan berbagai terobosan, yang sangat jarang sekali tidak diberitakan Singgalang.
Kabarnya penyakit tersebut sudah lama ditanggung almarhum. Terakhir, sepengetahuan Ali Akbar yang pernah menjenguknya di rumah sakit, kondisi badannya dingin sampai menggigil. Kedinginan itu ditanggungnya siang dan malam. Terakhir Firdaus Khatab mengontak Singgalang sudah empat hari masuk rumah sakit. Dia mengabarkan, kalau kampungnya dilanyau banjir, dan dirinya sedang terbaring pula di rumah sakit.
Firdaus Khatab dikenal sebagai seorang pemimpin yang gigih. Punya obsesi yang jauh kedepan dalam memajukan tanah kelahirannya, Kuranji Hilia. Pemimpin kelahiran Aia Manih, Kuranji Hilia pada 1964 ini dikarunia lima orang putra-putri. Banyak kemajuan yang sudah ditorehkannya. Ditangannya pula Nagari Kuranji Hilia dimekarkan menjadi tiga nagari. Disamping nagari induk, lahir Nagari Guguak Kuranji Hilia dan Koto Tinggi Kuranji Hilia.
Dia punya sejarah panjang dengan nagari itu. Ayahnya, almarhum Sofyan Khatab merupakan walinagari yang dikenal hebat. Jadi, walinagari yang dijabat sampai akhir hayat Firdaus Khatab demikian, punya historis yang sangat luar biasa sekali. Sebelum jadi walinagari pun, Firdaus dikenal sebagai orang yang gemar berorganisasi.
Dari rumah duka di Simpang Lapai dan Sungai Limau diperoleh informasi, almarhum akan dimakamnya Selasa (2/4) ini di Batang Sariak, Korong Lampanjang, Kuranji Hilia. Sejak Senin kemarin sudah banyak sanak famili dan rekan sejawatnya yang melayat. Bagi masyarakat Kuranji Hilia, kehilangan seorang walinagari, jelas berita duka cita yang amat sangat mendalam sekali, apalagi keluarganya sendiri. Masih banyak yang belum sempat dilakukannya di nagari itu, tentu menjadi pekerjaan rumah bagi generasi yang akan melanjutkan kepemimpin yang bersangkutan. (damanhuri)
Langganan:
Postingan (Atom)

