Setiap pondok pesantren salafiyah memiliki ciri khas tersendiri dalam menjabarkan berbagai disiplin ilmu yang terangkum dalam kitab klasik. Seperti misalnya di salah satu pesantren yang paling menonjol hanya kajian tasawuf saja, atau ilmu nahwu sharaf (gramatika) saja. Tetapi bukan kajian lain tidak dipelajari di pesantren yang bersangkutan. Semua kitab yang menjadi pelajaran pokok, pasti dipelajari. Cuma, di setiap pesantren itu paling satu bidang studi yang paling menonjol, sehingga untuk mendalami ilmu lain, seorang santri harus pindah ke pesantren lain.
Begitu pula pesantren Madrasatul ‘Ulum Lubuk Pandan ketika dipimpin Abdullah Aminuddin. Yang paling menonjol adalah kajian gramatikan dan kajian fiqh (hukum Islam), sehingga kajian tasawuf atau kajian thariqat tidak begitu menonjol di Madrasatul ‘Ulum. Hal itu terbukti, mayoritas lulusan pesantren ini tidak begitu terkenal kajian tasawufnya. Santri dan alumni Madrasatul ‘Ulum tidak mewarisi silsilah guru, seperti yang diajarkan oleh kalangan thariqat.
Bagi ulama yang mendalami thariqat sebelum mengajarkan ilmu itu kepada santrinya, terlebih dahulu dia menjelaskan hubungan dia dengan gurunya sampai jenjang sahabat Nabi, bahkan sampai kepada Nabi Muhammad saw. Penjelasan dari guru ke guru yang lainya sampai ke atas itu menjadi sebuah keharusan di kalangan kaum thariqat. Tak mengherankan kalau banyak kaum thariqat ini melakukan kunjungan yang dikemas ke dalam bahasa "ziarah" ke makam-makam ulama yang dianggap ada pertaliannya dengan guru yang mengajarkan mereka ilmu, terutama ilmu thariqat. Kemudian memajang foto-foto para ulama terdahulu, yang punya pertalian dengan gurunya, menjadi kebanggaan tersendiri. Hal itu mengingat, agar santri yang sama sekali tidak melihat wajah gurunya, bisa mengenali guru-gurunya sampai ke atas. Di kalangan kaum thariqat, guru merupakan faktor utama yang harus dicontoh dalam kehidupan sehari-hari, serta berkat gurulah kita mampu mencapai puncak, ma'ripatullah dalam mengamalkan ilmu thariqat tersebut.
Abdullah Aminuddin yang membina dan mendirikan Madrasatul ‘Ulum dari 1940 M sampai 1996 M, lebih mengutamakan ilmu yang berkaitan dengan hukum Islam, yang merupakan pakaian sehari-hari mutlak didalami setiap umat Islam. Setiap yang kita lakukan selalu ada kaitannya dengan ilmu fiqh yang tersebar di sejumlah kitab kuning yang ditulis oleh ulama-ulama yang tidak diragukan lagi kematangan ilmunya di bidang fiqh tersebut.
Namun, bukan berarti Abdullah Aminuddin tidak memiliki ilmu thariqat. Bagi ulama yang satu ini, thariqat adalah sebuah ilmu yang harus disejalankan dengan kajian hukum, sehingga bisa disingkronisasikan dalam melakukan amalan sehari-hari. Kemudian untuk mendalami ilmu thariqat tidak begitu sulit, bila dibandingkan dengan ilmu fiqh. Untuk ilmu fiqh ini perlu penafsiran yang matang dan didukung dengan banyak referensi dari ilmu gramatika, sehingga fiqh itu mampu dibaca dan dipelajari tanpa harus dibimbing oleh guru.
Salah seorang alumni Madrasatul ‘Ulum, Marulis Tuanku Mudo menyebutkan, selama Abdullah Aminuddin membina santri dan santriwati tidak pernah mengajarkan ilmu thariqat kepada santrinya. Begitu juga kegiatan ziarah tidak pernah beliau agendakan di pesantren ini. Tetapi dia tidak pernah melarang santrinya untuk melakukan ziarah ke makam ulama-ulama terdahulu. Kemudian dia paling tidak suka tangannya dicium oleh santrinya ketika melakukan salaman. Artinya, dalam diri Abdullah Aminuddin tersirat, bahwa dia tidak ingin dikultuskan oleh santri dan masyarakat.
Kebiasaan yang tidak pernah ditinggalkannya akibat dari mendalami ilmu fiqh, adalah selalu melakukan shalat yang lima diawal waktu serta berjemaah. Kemana pun dia pergi, pasti membawa salah seorang santri, guna membantu beliau dalam mengerjakan shalat di perjalanan nantinya. Pengalaman saya ketika dibawa ke Tiku, Kabupaten Agam, untuk memenuhi undangan masyarakat setempat dalam memperingati israk mi’raj. Dalam perjalanan dengan menaiki mobil umum dari Pauah Kamba ke Tiku, dengan menaiki mobil jurusan Padang-Lubuk Basung, ketika sampai di Sungai Limau, waktu shalat 'Asar telah masuk. Hal itu ditandai dengan banyaknya suara azan yang berkumandang di sejumlah masjid dan surau. Otomatis dia minta turun di Sungai Limau, guna melakukan shalat. Di sini terjadi adu argumen dengan sang sopir. Sopir tidak mau menurunkan beliau, dengan alasan jangan sampai penumpang yang terus ke Lubuk Basung kemalaman sampai di tujuan. Dan lagi ini mobil terakhir berangkat dari Padang ke Lubuk Basung, kalau bapak turun di sini, nanti mobil yang terus ke Lubuk Basung tidak ada lagi, kata sang sopir kepada Abdullah Aminuddin. Dengan kuatnya komitmen yang dipegang Abdullah Aminuddin, dia tetap turun di Sungai Limau menunaikan kewajiban kepada Tuhan.
Kami turun dan terus ke masjid untuk selanjutnya melakukan shalat 'Asar dengan berjemaah. Sekitar 50 meter mobil tadi berjalan setelah kami turun, ternyata mobil tersebut mengalami pecah ban, sehingga awak mobil sibuk membuka ban dan memasang ban yang baru. Dan kami pun telah usai melakukan shalat. Akhirnya, kami tetap menaiki mobil yang tadi untuk terus ke Tiku. Banyak para penumpang yang membicarakan kami di atas mobil selama dalam perjalanan sampai di Tiku. Ada yang mengatakan, bahwa bapak ini tidak sembarang orang, bisa jadi dia seorang yang "keramat", tetapi kami tidak mempedulikan pembicaraan itu sampai kami turun di Tiku tempat tujuan awal, kata Marulis.
Abdullah Aminuddin menganjurkan kepada para santri yang pernah beliau didik, untuk lebih mengutamakan pengajaran ilmu-ilmu yang berkaitan dengan kecerdasan intelektual para santri setelah keluar dari pesantren itu, seperti tauhid (teologi), tajwib (tata cara membaca Al-Quran dengan baik), ilmu falak (astronomi), nahwu sharaf (gramatika), mantiq (logika) serta sejumlah ilmu lainya, ketimbang mengajarkan ilmu thariqat tersebut. Sebab ilmu thariqat akan lebih mudah dipelajari, apabila kita telah duluan mendalami ilmu fiqh.
Pentingnya mengutamakan kajian fiqh ini bagi Abdullah Aminuddin, terlihat sehari-hari dia selalu berhati-hati dalam melaksankan ibadah yang berhubungan dengan Tuhan. Mulai dari pelaksanaan wudhu’ misalnya ketika akan shalat. Hal itu memakan waktu yang cukup panjang, sehingga untuk hal itu, jauh sebelum waktu shalat masuk, beliau lebih duluan melaksanakan hal-hal yang berkaitan dengan kelengkapan shalat dimaksud, cerita Marulis. (Wawancara dengan Marulis Tuanku Mudo, Jumat 24 Mei 2002, di Koto Buruak, Lubuk Alung, dan Kamis 11 Mei 2006, di Pulau Aie, Padang Bintungan, Kecamatan Nan Sabaris bersama Afredison, AR).
Berangkat dari pendalaman ilmu fiqh itu, tercerminlah kedisiplinan dalam diri Abdullah Aminuddin. Sebab, segala sesuatu diatur dalam fiqh dengan teratur nan apik. Untuk melakukan ibadah shalat beliau paling disiplin. Baik waktu pelaksanaan, maupun tata cara pelaksanaan. Dalam mengajar, disiplin waktu yang telah disepakati. Beliau paling duluan hadir di tempat pengajian, sehingga bagi santri yang belajar pagi langsung dengan beliau tidak bisa bersantai-santai. Sangat jarang santri yang menunggu beliau ketika belajar pagi. Maklum para santri sehabis shalat Subuh, banyak yang mengulang tidur, lantaran kurang tidur malamnya.
Kemudian dampak dari mendalami kajian fiqh, Abdullah Aminuddin senantiasa melakukan amalan-amalan tambahan/ amalan sunnah. Seperti mewiridkan membaca bacaan yang memiliki fadhilah/kelebihan di sisi Allah swt, selalu mewarnai kehidupan beliau. Seperti sehabis shalat Maghrib sampai menjelang pelaksanaan shalat ‘Isya, beliau tidak pernah berbicara dengan pembicaraan lain dengan siapa pun, kecuali waktu yang singkat itu dia gunakan untuk melakukan amalan sunnah yang beliau ketahui faedahnya. Kalau ada tamu yang mau berbicara dengan beliau, terpaksa harus menunggu sampai selesai shalat ‘Isya.
Sabtu, 02 Februari 2019
Madrasatul ‘Ulum dan Pengembangan Ekonomi Masyarakat Lubuk Pandan
Keberadaan sebuah lembaga pendidikan pondok pesantren di tengah masyarakat tidak bisa dipungkiri, berdampak positif terhadap pengembangan ekonomi masyarakat sekitar lingkungannya. Tidak terkecuali di kalangan masyarakat Kampung Guci, Lubuk Pandan. Dimana pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat berkembang pesat, dengan keberadaan pesantren Madrasatul ‘Ulum. Sehingga kultur masyarakat Lubuk Pandan menerima kehadiran lembaga yang berbasis surau itu.
Hal itu terbukti, betapa semua kebutuhan santri sekecil apapun, disediakan oleh masyarakat Kampung Guci. Sebut saja menu makanan, yang menjadi kebutuhan harian santri, makanan ringan yang menjadi sarapan pagi menjelang belajar, sampai kepada kebutuhan informasi dan komunikasi seperti TV, semuanya tersedia di rumah dan warung milik masyarakat sekitar pesantren yang didirikan Syekh H. Abdullah Aminuddin ini.
Pada tahun 1993 pernah terjadi polemik antara pihak pesantren Madrasatul ‘Ulum dengan masyarakat sekitar. Polemik bermula dari sebuah persoalan kecil, santri dan majelis guru merasa dilecehkan oleh salah seorang anak pemilik warung masyarakat. Akibat dari persoalan itu, semua santri bersepakat malam hari untuk tidak sarapan pagi di warung yang biasa dijadikan sebagai tempat sarapan pagi itu untuk beberapa hari, sampai ada penyelesaian persoalannya. Santri pindah ke warung minum pagi lainnya. Dengan adanya persoalan itu, otomatis pemilik warung yang dekat pesantren merasa terkejut dan mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit. Sebab, semua dagangannya tidak bisa lagi dipergunakan untuk besoknya. Maklum, yang namanya sarapan pagi, ya untuk sekali pagi saja.
Persoalan itu semakin parah dengan berlanjutnya perlawanan yang dilakukan pihak masyarakat dengan cara menanami pohon pisang di tengah jalan menuju pesantren, sehingga mobil yang dikendarai pimpinan, waktu itu H. Iskandar Tuanku Mudo tidak bisa menuju halaman pesantren. Sebagai putra asli Lubuk Pandan, Buya Iskandar tidak merasa senang dengan perlakuan demikian. Akhirnya sang pimpinan mendatangi Kepala Desa Kampung Guci, Ilyas dan diadakan pertemuan antara petinggi pesantren dengan niniak mamak dari pemilik warung, atas prakarsa sang kepala desa. Setelah melalui perdebatan yang cukup alot dan melelahkan, semua persoalan yang berakibat terpecahnya masyarakat dengan pesantren sepakat untuk dihentikan. Dan para santri kembali seperti sediakala, melakukan sarapan pagi di warung dekat lokasi pesantren itu.
Itulah sebuah peristiwa kecil yang berakibat merosotnya ekonomi masyarakat sekitar selama beberapa hari. Jadi boleh dikatakan, keberadaan Madrasatul ‘Ulum di Lubuk Pandan menjadi sebuah investasi oleh masyarakat sekitar untuk mengembangkan ekonominya. Keberadaan pesantren dan masyarakat boleh dikatakan saling terkait antara yang satu dengan yang lainya dalam memenuhi kebutuhan hidup. Begitu juga masyarakat petani di Lubuk Pandan ketika musim panen, pada umunya mempergunakan tenaga santri untuk mengangkut padi yang baru saja dituwai keluar dari sawah, yang berjarak cukup jauh. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh santri yang berminat, terutama pada hari Kamis dan Jumat, dimana tradisi di pesantren salafiyah dua hari itu merupakan hari libur besar. Sekaligus untuk menambah biaya melanjutkan kelangsungan belajarnya di pesantren.
Santri Madrasatul ‘Ulum, umumnya dua hari libur itu dipergunakan untuk pulang kampung. Sebagian mempergunakan untuk bekerja di lingkungan masyarakat petani sekitar. Tidak tertutup kemungkinan sebagian kecil dari santri pergi jalan-jalan ke daerah lain untuk meminta belas kasihan dari orang lain (baca ; mamakiah, istilah pesantren). Kegiatan mamakiah yang oleh sebagian masyarakat menyebutnya dengan minta sedekah, ini merupakan sebuah tradisi di kalangan pesantren salafiyah.
Tujuan mamakiah antara lain, menambah biaya belajar di pesantren. Umumnya santri yang datang belajar ke pesantren salafiyah adalah orang yang hidup di bawah garis kemiskinan. Mamakiah juga sebagai sarana melatih diri menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Orangtua yang tidak sanggup menyekolahkan anaknya ke sekolah umum (SD, SMP dan SMA) yang memiliki biaya yang cukup mahal, maka diserahkan ke pesantren. Selanjutnya, melatih santri hidup mandiri, melatih santri menghadapi berbagai tantangan hidup dan sikap masyarakat yang ditemuinya ketika meminta sedekah.
Mamakiah juga merupakan keterampilan yang diwarisi oleh santri dari pendahulunya. Di Madrasatul ‘Ulum tidak menjadi kewajiban mamakiah itu. Bagi yang mau silakan, sang guru tidak menganjurkan dan tidak pula melarangnya.
Pada umumnya santri yang belajar di Pesantren Madrasatul ‘Ulum Lubuk Pandan, jarang memasak sambal untuk dimakan. Lazim mereka membeli kepada masyarakat sekitar yang sengaja membuat gulai sebanyak mungkin dua kali sehari, pagi dan sore. Tidak heran, ketika nasi selesai dimasak oleh santri yang piket memasak pagi, santri yang baru menjadi langganan pergi membeli gulai sebanyak mungkin. Santri senior/guru tuo biasanya minta tolong dibelikan gulai sama santri yunior. Begitu juga sorenya. Itulah sebuah pemandangan yang terlihat ketika santri pada berlari, saling berkejaran, lantaran takut kehabisan gulai nantinya.
Masyarakat sekitar pesantren juga tidak satu dua orang yang menjual gulai. Malah sampai tiap rumah di sekitar pesantren itu menyediakan gulai untuk dijual. Dari hasil penjualan dagangannya itu, masyarakat sekitar pada umumnya berhasil menjadi kelompok menengah ke atas di bidang ekonomi. Rumah masyarakat Kampung Guci termasuk rumah yang elit, untuk sebuah kampung kecil. Dari fenomena itu, jelas betapa besarnya kontribusi pesantren Madrasatul ‘Ulum terhadap pengembangan ekonomi masyarakat lingkungannya. Tidak bisa dibayangkan, apa kira-kira yang akan terjadi, seandainya pesantren Madrasatul ‘Ulum gulung tikar (hilang) dari peredaran/tidak lagi menjadi tempat lembaga pendidikan, melainkan hanya sebuah bangunan tua yang tidak ada penghuninya.
Itu barangkali bentuk sumbangsih yang diberikan seorang ulama kepada masyarakat sekitar tempat beliau mengembangkan ilmunya. Bahkan tidak saja berlaku di waktu sang ulama masih hidup, tetapi setelah wafat pun sang ulama masih memberikan manfaat kepada masyarakat sekitarnya. Keberadaan sebuah kuburan ulama di tengah masyarakat, juga mendatangkan rezeki bagi orang yang hidup. Lihat saja di Ulakan, dimana sang ulama besar yang terkenal dengan pengembangan Islam di Minangkabau, Syekh Burhanuddin dikuburkan, sampai sekarang tidak terbilang lagi berapa masyarakat yang telah melimpah kekayaannya dengan cara berdagang di sekitar komplek makam tersebut. Adakah rasa terima kasih yang disampaikan oleh masyarakat? Karena berkah adanya kuburan itulah dia bisa hidup, berkembang dengan pesatnya, entahlah. Hanya Tuhan Yang Maha Tahu semua.
Dulu, apapun yang akan dilakukan masyarakat, selalu mereka mendatangi ulama untuk minta petunjuk. Sebab, seorang ulama di samping ‘alim di bidang agama, juga mengetahui persoalan rumit di kalangan masyarakat. Tidak salah keberadaan seorang ulama di tengah masyarakat menjadi sitawa sidingin bagi masyarakat dalam menjalani kehidupan ini. Kalau seorang kepala desa/walinagari yang meninggal, yang akan menggantikannya sangat banyak. Bahkan belum meninggal saja sudah banyak yang mau menggantikannya. Tetapi kalau ulama yang pergi untuk selama-lamanya dari hadapan masyarakat, adakah gantinya dalam waktu yang tidak terlalu lama? Sulit sekali untuk mencari gantinya.
Menurut Muh. Hanif Dhakiri, kiai/ulama (baca; Tuanku di Pariaman) kampung merupakan kelompok yang paling cepat mengikuti perkembangan. Tidaklah terlalu sulit untuk dibuktikan karena kiai kampung memiliki tiga kelengkapan sekaligus. Pertama, ilmu pengetahuan agama yang dalam (sebagai hasil dari proses belajarnya yang dilakukan sepanjang masa atau long life education), kedua, pengetahuan tentang persoalan masyarakat yang bersifat menyeluruh (sebagai hasil dari proses interaksi sosialnya yang panjang) dan ketiga, kemampuan untuk meramu pengetahuan agama dan pengetahuan masalah masyarakat (sebagai hasil dari proses pergulatannya dengan berbagai persoalan masyarakat).
"Kehidupan kiai kampung yang dekat dan menyatu dengan masyarakat membuat masyarakat mengetahui kepribadian kiainya luar biasa dan dalam. Hal demikian mengharuskan kiai kampung berperilaku sebagai pihak yang bisa menjadi rujukan, dalam hal konsisten sikap, memberikan contoh yang baik dalam memelopori berbagai perubahan. Kepemimpinan berbasis keteladanan juga mengharuskan seorang pemimpin untuk berbaur dengan masyarakat, mendampingi, menampung berbagai aspirasi dan kepentingan, serta melayani mereka dengan hati yang lapang. Tidak ada motif-motif politik dan ekonomi dalam menjalankan fungsi pelayanan itu," kata Hanif Dhakiri, alumni Pondok Pesanten Sirajul Muhlasin Payaman Magelang yang saat ini jadi Menteri Tenaga Kerja RI ini. (Lihat Muh. Hanif Dhakiri dalam Kiai Kampung dan Demokrasi Lokal).
Hal itu terbukti, betapa semua kebutuhan santri sekecil apapun, disediakan oleh masyarakat Kampung Guci. Sebut saja menu makanan, yang menjadi kebutuhan harian santri, makanan ringan yang menjadi sarapan pagi menjelang belajar, sampai kepada kebutuhan informasi dan komunikasi seperti TV, semuanya tersedia di rumah dan warung milik masyarakat sekitar pesantren yang didirikan Syekh H. Abdullah Aminuddin ini.
Pada tahun 1993 pernah terjadi polemik antara pihak pesantren Madrasatul ‘Ulum dengan masyarakat sekitar. Polemik bermula dari sebuah persoalan kecil, santri dan majelis guru merasa dilecehkan oleh salah seorang anak pemilik warung masyarakat. Akibat dari persoalan itu, semua santri bersepakat malam hari untuk tidak sarapan pagi di warung yang biasa dijadikan sebagai tempat sarapan pagi itu untuk beberapa hari, sampai ada penyelesaian persoalannya. Santri pindah ke warung minum pagi lainnya. Dengan adanya persoalan itu, otomatis pemilik warung yang dekat pesantren merasa terkejut dan mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit. Sebab, semua dagangannya tidak bisa lagi dipergunakan untuk besoknya. Maklum, yang namanya sarapan pagi, ya untuk sekali pagi saja.
Persoalan itu semakin parah dengan berlanjutnya perlawanan yang dilakukan pihak masyarakat dengan cara menanami pohon pisang di tengah jalan menuju pesantren, sehingga mobil yang dikendarai pimpinan, waktu itu H. Iskandar Tuanku Mudo tidak bisa menuju halaman pesantren. Sebagai putra asli Lubuk Pandan, Buya Iskandar tidak merasa senang dengan perlakuan demikian. Akhirnya sang pimpinan mendatangi Kepala Desa Kampung Guci, Ilyas dan diadakan pertemuan antara petinggi pesantren dengan niniak mamak dari pemilik warung, atas prakarsa sang kepala desa. Setelah melalui perdebatan yang cukup alot dan melelahkan, semua persoalan yang berakibat terpecahnya masyarakat dengan pesantren sepakat untuk dihentikan. Dan para santri kembali seperti sediakala, melakukan sarapan pagi di warung dekat lokasi pesantren itu.
Itulah sebuah peristiwa kecil yang berakibat merosotnya ekonomi masyarakat sekitar selama beberapa hari. Jadi boleh dikatakan, keberadaan Madrasatul ‘Ulum di Lubuk Pandan menjadi sebuah investasi oleh masyarakat sekitar untuk mengembangkan ekonominya. Keberadaan pesantren dan masyarakat boleh dikatakan saling terkait antara yang satu dengan yang lainya dalam memenuhi kebutuhan hidup. Begitu juga masyarakat petani di Lubuk Pandan ketika musim panen, pada umunya mempergunakan tenaga santri untuk mengangkut padi yang baru saja dituwai keluar dari sawah, yang berjarak cukup jauh. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh santri yang berminat, terutama pada hari Kamis dan Jumat, dimana tradisi di pesantren salafiyah dua hari itu merupakan hari libur besar. Sekaligus untuk menambah biaya melanjutkan kelangsungan belajarnya di pesantren.
Santri Madrasatul ‘Ulum, umumnya dua hari libur itu dipergunakan untuk pulang kampung. Sebagian mempergunakan untuk bekerja di lingkungan masyarakat petani sekitar. Tidak tertutup kemungkinan sebagian kecil dari santri pergi jalan-jalan ke daerah lain untuk meminta belas kasihan dari orang lain (baca ; mamakiah, istilah pesantren). Kegiatan mamakiah yang oleh sebagian masyarakat menyebutnya dengan minta sedekah, ini merupakan sebuah tradisi di kalangan pesantren salafiyah.
Tujuan mamakiah antara lain, menambah biaya belajar di pesantren. Umumnya santri yang datang belajar ke pesantren salafiyah adalah orang yang hidup di bawah garis kemiskinan. Mamakiah juga sebagai sarana melatih diri menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Orangtua yang tidak sanggup menyekolahkan anaknya ke sekolah umum (SD, SMP dan SMA) yang memiliki biaya yang cukup mahal, maka diserahkan ke pesantren. Selanjutnya, melatih santri hidup mandiri, melatih santri menghadapi berbagai tantangan hidup dan sikap masyarakat yang ditemuinya ketika meminta sedekah.
Mamakiah juga merupakan keterampilan yang diwarisi oleh santri dari pendahulunya. Di Madrasatul ‘Ulum tidak menjadi kewajiban mamakiah itu. Bagi yang mau silakan, sang guru tidak menganjurkan dan tidak pula melarangnya.
Pada umumnya santri yang belajar di Pesantren Madrasatul ‘Ulum Lubuk Pandan, jarang memasak sambal untuk dimakan. Lazim mereka membeli kepada masyarakat sekitar yang sengaja membuat gulai sebanyak mungkin dua kali sehari, pagi dan sore. Tidak heran, ketika nasi selesai dimasak oleh santri yang piket memasak pagi, santri yang baru menjadi langganan pergi membeli gulai sebanyak mungkin. Santri senior/guru tuo biasanya minta tolong dibelikan gulai sama santri yunior. Begitu juga sorenya. Itulah sebuah pemandangan yang terlihat ketika santri pada berlari, saling berkejaran, lantaran takut kehabisan gulai nantinya.
Masyarakat sekitar pesantren juga tidak satu dua orang yang menjual gulai. Malah sampai tiap rumah di sekitar pesantren itu menyediakan gulai untuk dijual. Dari hasil penjualan dagangannya itu, masyarakat sekitar pada umumnya berhasil menjadi kelompok menengah ke atas di bidang ekonomi. Rumah masyarakat Kampung Guci termasuk rumah yang elit, untuk sebuah kampung kecil. Dari fenomena itu, jelas betapa besarnya kontribusi pesantren Madrasatul ‘Ulum terhadap pengembangan ekonomi masyarakat lingkungannya. Tidak bisa dibayangkan, apa kira-kira yang akan terjadi, seandainya pesantren Madrasatul ‘Ulum gulung tikar (hilang) dari peredaran/tidak lagi menjadi tempat lembaga pendidikan, melainkan hanya sebuah bangunan tua yang tidak ada penghuninya.
Itu barangkali bentuk sumbangsih yang diberikan seorang ulama kepada masyarakat sekitar tempat beliau mengembangkan ilmunya. Bahkan tidak saja berlaku di waktu sang ulama masih hidup, tetapi setelah wafat pun sang ulama masih memberikan manfaat kepada masyarakat sekitarnya. Keberadaan sebuah kuburan ulama di tengah masyarakat, juga mendatangkan rezeki bagi orang yang hidup. Lihat saja di Ulakan, dimana sang ulama besar yang terkenal dengan pengembangan Islam di Minangkabau, Syekh Burhanuddin dikuburkan, sampai sekarang tidak terbilang lagi berapa masyarakat yang telah melimpah kekayaannya dengan cara berdagang di sekitar komplek makam tersebut. Adakah rasa terima kasih yang disampaikan oleh masyarakat? Karena berkah adanya kuburan itulah dia bisa hidup, berkembang dengan pesatnya, entahlah. Hanya Tuhan Yang Maha Tahu semua.
Dulu, apapun yang akan dilakukan masyarakat, selalu mereka mendatangi ulama untuk minta petunjuk. Sebab, seorang ulama di samping ‘alim di bidang agama, juga mengetahui persoalan rumit di kalangan masyarakat. Tidak salah keberadaan seorang ulama di tengah masyarakat menjadi sitawa sidingin bagi masyarakat dalam menjalani kehidupan ini. Kalau seorang kepala desa/walinagari yang meninggal, yang akan menggantikannya sangat banyak. Bahkan belum meninggal saja sudah banyak yang mau menggantikannya. Tetapi kalau ulama yang pergi untuk selama-lamanya dari hadapan masyarakat, adakah gantinya dalam waktu yang tidak terlalu lama? Sulit sekali untuk mencari gantinya.
Menurut Muh. Hanif Dhakiri, kiai/ulama (baca; Tuanku di Pariaman) kampung merupakan kelompok yang paling cepat mengikuti perkembangan. Tidaklah terlalu sulit untuk dibuktikan karena kiai kampung memiliki tiga kelengkapan sekaligus. Pertama, ilmu pengetahuan agama yang dalam (sebagai hasil dari proses belajarnya yang dilakukan sepanjang masa atau long life education), kedua, pengetahuan tentang persoalan masyarakat yang bersifat menyeluruh (sebagai hasil dari proses interaksi sosialnya yang panjang) dan ketiga, kemampuan untuk meramu pengetahuan agama dan pengetahuan masalah masyarakat (sebagai hasil dari proses pergulatannya dengan berbagai persoalan masyarakat).
"Kehidupan kiai kampung yang dekat dan menyatu dengan masyarakat membuat masyarakat mengetahui kepribadian kiainya luar biasa dan dalam. Hal demikian mengharuskan kiai kampung berperilaku sebagai pihak yang bisa menjadi rujukan, dalam hal konsisten sikap, memberikan contoh yang baik dalam memelopori berbagai perubahan. Kepemimpinan berbasis keteladanan juga mengharuskan seorang pemimpin untuk berbaur dengan masyarakat, mendampingi, menampung berbagai aspirasi dan kepentingan, serta melayani mereka dengan hati yang lapang. Tidak ada motif-motif politik dan ekonomi dalam menjalankan fungsi pelayanan itu," kata Hanif Dhakiri, alumni Pondok Pesanten Sirajul Muhlasin Payaman Magelang yang saat ini jadi Menteri Tenaga Kerja RI ini. (Lihat Muh. Hanif Dhakiri dalam Kiai Kampung dan Demokrasi Lokal).
Belajar Disiplin dari Buya
"Sabiah, Tuak," kata Buya kepada Mansurdin Datuak Panduko usai mengucapkan salam kedua dalam shalat. Dan memang, wirid membaca tasbih, tahmid dan tahlil usai shalat termasuk amalan yang rutin oleh Buya. Membacanya secara berjemaah, dan dipimpin oleh seseorang tidak surang-surang.
Sepertinya, untuk memimpin pembacaan tasbih setelah shalat, Buya lebih mempercayakan kepada Datuak Panduko. "Sabiah, Tuak," uajr Buya. "Datuak ndak ado doh Buya," kata kawan santri yang lain. "Waang, sabiah," lanjut Buya sambil melemparkan alat hitungan tasbih kepada santri yang ditujunya.
Itu pemandangan yang saya saksikan selama saya mengaji di Pesantren Madrasatul 'Ulum (1992-1997). Saya merasa beruntung, masih bisa belajar langsung sama Buya, dan saya salah seorang marapulai tafsir terakhir, yang langsung Buya menyerahkan ijazah setamat marapaulai akhir 1995 lalu. Setahun lamanya tiap pagi mengaji di atas anjung saat jadi marapulai tafsir, sangat banyak rasanya ilmu yang diajarkan Buya.
Selalu ada cerita-cerita tauladan dari ulama dulu yang disebut Buya, manakala pengajian menyangkut seorang ulama. Buya acap menyebut Ungku Mudiak Padang atau Ungku Ampalu (Syekh Muhammad Yatim) yang juga guru beliau semasa di Surau Kalampaian Ampalu Tinggi. Kini telah 22 tahun lamanya Buya tak lagi bersama kita. Adakah kisah menarik dari beliau yang kita sebut-sebut saat ini?
Tentu penyebutan kenangan kita bersama guru, adalah bagian dari sweet memories, karena kita merasakan dampak besar yang amat luar biasa dari berguru ke beliau dulunya. Saya yakin, setiap kita yang pernah bersua dan berinteraksi dengan Buya dulunya pasti punya kenangan tersendiri.
Kurang lebih lima tahun di Lubuk Pandan, banyak rasanya kenangan dan pelajaran yang saya dapatkan. Karena rajin membaca majalah, lantaran adanya majalah Media Dakwah yang menjadi media langganan Madrasatul 'Ulum samasa OSIP dipimpin oleh sahabat Tuo Afredison, dan sesekali saya beli koran Republika, saya terjun ke dunia jurnalistik.
Saya baru tahu, kalau jurnalistik awalnya lahir dari orang pendidikan surau. KH. Sirajuddin Abbas, adalah ulama PERTI yang pernah jadi wartawan, dan karya bukunya jadi bahan bacaan oleh santri dulunya. Buya Hamka, juga seorang ulama yang menjadi wartawan dan mendirikan media cetak. Dan tentunya banyak lagi orang surau lainnya yang suka melakukan dakwah secara tulisan tersebut.
Dunia jurnalistik telah mengantarkan saya melanglang buana ke berbagai daerah di nusantara ini. Dunia jurnailitik bukanlah dunia tempat mencari kekayaan. Sama juga halnya dengan dunia ulama yang ceramah di berbagai mimbar Jumat. Tetapi, lewat profesi dakwah belum terdengar pula ada wartawan dan ulama yang mati kelaparan.
Namun demikian, semuanya terpulang pada niat dan nawaitu kita. Mari kita luruskan niat, bahwa melakukan dakwah adalah untuk menyebar kebaikan, amar makruf nahi mungkar. Kita tiru keikhlasan niat Buya dulunya mendidik santri. Keikhlasan beliaulah menjadikan dia sebagai ulama panutan. Mampu menghadirkan santri dari berbagai belahan penjuru nagari di Minangkabau, bahkan semasa saya di Lubuk Pandan ada santri dari Aceh. Salamuddin namanya.
Disiplin. Dari Madrasatul 'Ulum saya belajar tentang disiplin. Buya sangat disiplin dalam melakukan shalat yang lima waktu dan tak pernah shalat sendirian. Makanya, kemana pun Buya pergi, selalu membawa santri. Saya selama di Lubuk Pandan pernah dua kali mendampingi Buya. Pertama ke Pasar Pauah Kamba, dan kedua ke Masjid Raya Ringan-Ringan pergi Maulid Nabi Muhammad saw. Dalam mengaji pagi mendampingi marapulai, belum pernah saya lihat marapulai yang tiba duluan di atas anjung. Selalu Buya yang duduk duluan di tempat duduknya.
Selamat HAUL XXII Buya, semoga Allah swt meninggikan derajat Buya bersama para Auliya Allah lainnya. Amien. Lahuuu Alfatihah.
Kamis, 13 September 2018
“Rekonsiliasi” di Ciganjur
Kalau tak ditanya, Mbak Yenny sebetulnya jarang omong politik praktis dengan kami-kami di Wahid Foundation. Beberapa kali ia mengatakan kepada kami. “Secara pribadi kita semua di sini tentu saja berhak memiliki pilihan politik masing-masing. Kalian tahu saya juga punya pilihan politik dan dekat dengan kehidupan politik. Tapi kita tak boleh menyeret-nyeret dan mengatasnamakan Wahid Foundation dalam politik praktis. Sayang. Kita harus berjuang agar Wahid berada di jalur sebagaimana dicita-citakan para pendirinya,” katanya dengan mimik serius.
Menjelang penetapan capres-cawapres, Mbak Yenny juga tak banyak omong langsung soal hiruk-pikuk itu. Belakangan saya baru tahu ia mendukung Pak Mahfud MD sebagai cawapres Pak Jokowi. Itu pun saya baca dari pernyataan-pernyataannya di media. Pilihannya itu bisa dipahami. Bagaimanapun Pak Mahfud ini “orang dalam” yang berjuang bersama Gus Dur. Pria kelahiran Madura itu juga pernah menjadi salah seorang Pembina di Wahid Foundation.
Lalu, kita semua tahu pada akhirnya Pak Mahfud benar-benar “terlempar” sebagai orang yang bakal mendampingi Jokowi dalam laga pemilu tahun depan. Ia terlempar di menit-menit penghabisan. Banyak orang kecewa. Mbak Yenny? Tentu saja. Coba perhatikan pernyataannya di Mata Najwa dalam episode Drama Orang Kedua. Ia betul-betul berawai, kecewa.
Saya sendiri ketar-ketir menunggu-nunggu jawaban Mbak Yenny ketika Najwa bertanya tentang KH Maruf Amin. Dari gestur tubuhnya, saya tahu ia tengah kecewa. Dalam situasi begitu, beruntung sekali ia masih bisa keluar dengan “selamat”. “Kyai NU, ulama besar, ahli fiqih, punya kemampuan orator yang baik. Beliau juga mengabdi lama di NU. Jadi kami hormati,” jawab Mbak Yenny. Meski demikian ia juga tetap melempar kritik tentang fatwa-fatwa MUI di bawah kepemimpinan KH Maruf yang dinilai bertentangan dengan semangat kebhinekaan dan toleransi.
Di antara barisan orang-orang yang kecewa terhadap keputusan Pak Jokowi itu adalah sejumlah tokoh Madura yang sudah kesemsem dengan Pak Mahfud. Jika kekecewaan semacam itu tak bisa dibereskan, sangat mungkin suara Jokowi-KH Maruf terkendala di Pulau Garam ini seperti pilpres 2014. Salah seorang yang kecewa adalah Haji Muhammad Rawi, Ketua Ikatan Keluarga Madura (IKAMA). Juragan besi tua terbesar di Jabodetabek ini nongol di pertemuan Jokowi dengan Ibu Shinta Nuriyah di Ciganjur, Jumat (7/9). Pendekatan kepada Haji Rawi bukannya tak ada. Sebelumnya ada tim Jokowi-KH Maruf yang mendekati. Tokoh Madura ini belum bersedia. Ia baru berkenan saat keluarga Gus Dur memintanya bertemu dengan Pak Jokowi.
“Memang banyak tokoh Madura yang terang-terangan kecewa atas keputusan terhadap Pak Mahfud ini. Termasuk di dalamnya Ikatan Keluarga Madura (IKAMA). Jadi, kita berinisiatif mempertemukan mereka dengan Pak Jokowi. Katakanlah ini rekonsiliasi setelah putusan tersebut,” kata Mbak Yenny.
Pertemuan itu lancar jaya. Pak Jokowi merespons langsung aspirasi warga agar tarif jembatan Suramadu turun dan arus barang-jasa lancar dan dampaknya bisa mendorong investasi di Pulau Madura. Dalam pertemuan, IKAMA memang menyampaikan harapan agar Pak Jokowi menurunkan tarif tol Suramadu.
Sayangnya, saya tak bisa ikut dalam rombongan pertemuan antara keluarga Ciganjur dan Pak Jokowi Jumat kemarin. Padahal, saya sudah punya rencana untuk bertanya hal ini pada Pak Jokowi: “Bagaimana perkembangan penyelesaian kasus-kasus pelanggaran hak beragama dan kekerasan terhadap kelompok minoritas?”
Kalimulya, Depok
Alamsyah M Djafar
Alamsyah M Djafar
Bu Shinta, Mbak Yenny, dan Sandi di Ciganjur
Melihat Sandiaga Salahudin Uno datang dan meriung di ruang tamu kediaman almarhum Gus Dur di Ciganjur, tiba-tiba saja saya ingat Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama. Seperti nasib kebanyakan suami yang sudah menghilangkan Tupperware yang dibeli isterinya, seberapapun hendak dilupakan, orang-orang rasanya masih akan mengingat jika Sandi “punya saham” yang mengantarkan nasib Ahok seperti sekarang ini. Dalam kontestasi yang membawa Sandi menjadi wakil gubernur, Jakarta memang “mendidih” dengan isu agama dan etnis.
Bu Shinta Nuriyah dan Mbak Yenny yang menerima Sandi Senin siang (10/9) itu menyinggung komitmen agar menjadikan pemilu adem. Bu Shinta berpesan agar pengusaha ini ikut menjaga keutuhan bangsa. “Kita berharap komitmen Bang Sandi agar menjaga pemilu ini adem ayem dan tidak ada lagi politisasi SARA,” kata Mbak Yenny pada Sandi.
Mendengar itu, saya lihat Sandi membetulkan posisi duduk. Ia duduk menghadap jendela depan rumah. Di samping kirinya Ibu Shinta, Mbak Yenny di samping kanan. “Saya dan Mas Bowo sangat berkomitmen agar pemilu adem ayem dan menjaga toleransi,” jawab Sandi. Mas Bowo, tak lain Pak Prabowo Subianto, calon presiden yang bakal menantang Pak Jokowi.
Sandi juga bercerita tentang situasi nasional. Ia mengaku memang ada banyak kemajuan yang sudah dilakukan pemerintah Jokowi. “Masalah kita sekarang ini justru pada ekonomi. Jika kita tanya masyarakat, mereka umumnya mengeluh soal harga-harga. Sementara para pengusaha kecil menangah soal pajak,” terangnya.
Untuk menggambarkan harga-harga yang melambung itu, seperti dimuat media, ia menyontohkan tempe yang sudah setipis anjungan tunai mandiri (ATM) dan seratus ribu rupiah hanya dapat membawa pulang cabe-bawang. “Tapi, tempe mendoan ini tidak setipis ATM ya …,” kata Sandi disambut tawa Bu Shinta dan Mbak Yenny. Siang itu Sandi memang disuguhi tempe mendoan. Ia tak makan karena alasan berpuasa dan meminta dibungkus untuk dibawa pulang.
Sandi bercerita bagaimana ia bisa dipilih sebagai calon wakil presiden. Apa yang terjadi dalam koalisi dan Ijtima’Ulama yang hasilnya diabaikan Pak Prabowo, termasuk komunikasi dengan tim Pak Jokowi. Seperti biasa politik selalu dinamis dan tak bisa hitam-putih. Rupanya ada pula rencana memasangkan Pak Jokowi dengan Pak Prabowo agar situasi bangsa lebih tenang.
Saya juga tertarik dengan cerita putera pengusaha Mien Uno itu tentang Gus Dur. Saat awal-awal Gus Dur jadi presiden, investor asing tak terlalu percaya untuk menanamkan modal di Indonesia. Negara ini dinggap tak aman untuk investasi. Salah satu cara meyakinkan mereka adalah mempertemukan dengan Presiden RI. Singkat cerita Sandi dan sejumlah pengusaha asing akhirnya bertemu Gus Dur.
Di tengah-tengah Sandi bicara tentang ekonomi, kepala Gus Dur jatuh lunglai, tertidur dan mendengkur. Sandi bingung dan menghentikan pembicaraan. Tapi seorang pejabat memberi kode untuk terus melanjutkan pembicaraan. Sandi melanjutkan. Dilanjut obrolan penguasaha-pengusaha asing tadi. Selesai mereka bicara, Gus Dur terbangun. Gus Dur menyetujui tantangan global yang tengah dihadapi seperti dibicarakian.
Bahkan Gus Dur minta sebuah buku tentang ekonomi dan globalisasi yang pernah ia baca sebelumnya. Sandi terkaget-kahget. Juga para pengusaha asing itu. Tapi karena itu mereka percaya untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Mereka mengakui keluasan pandangan Gus Dur.
Pertemuan dua jam ini diakhiri dengan pernyataan di muka pekerja pers yang sudah berkerumun di depan pintu rumah keluarga almarhum Gus Dur. Setelah itu Sandi pamit. Saya masih menunggu bagaimana wajah pemilu 2019. Hari ini, kata Sandi, Mas Bowo akan juga silaturrahim ke Ciganjur.
Kalimulya, Depok
Alamsyah M Djafar
Alamsyah M Djafar
Minggu, 08 Juli 2018
Potensi Ekonomi Warga NU Perlu Dikembangkan
Padang---Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama Sumatera Barat mengadakan Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) bersama PCNU se-Sumatera Barat yang diadakan pada 4 sampai 5 Juli 2018 di Aula Kantor Gubernur Sumatera Barat.
Ihwal ini diikuti seluruh Pengurus Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama se-Sumatera Barat sebanyak lebih kurang 100 peserta. Pada agenda ini dibuka langsung Ketua Bidang Perekonomian dan Pertanian Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH. Eman Suryaman, tak kalah penting agenda pembukaan ini juga dihadiri Wali Kota Padang Mahyeldi, Ketua PWNU Sumatera Barat KH Buya Zainal, sesepuh NU Sumatera Barat Buya Bagindo Leter, Kakanwil Sumatera Barat, serta perwakilan dari Polda dan Dinas terkait.
Selain dihadiri para sesepuh dan petinggi negeri, agenda Rakorwil ini pun di kawal langsung oleh Pasukan Banser PW GP Ansor Sumbar sebanyak 50 orang Banser yang siap mengawal dan mengamankan kedatangan PBNU dalam Kegiatan Rakorwil dan Shilaturahmi PWNU dengan PCNU Se-Sumatera Barat.
Pada pembahasan Rakorwil PWNU Sumbar kali ini mengkaji instrumen untuk mengembangkan potensi ekonomi Nahdliyin. Hal itu disampaikan KH Eman Suryaman bahwa pergerakkan Nahdiyin tergantung dalam kemandirian pengurus dalam mengembangkan ekonomi organisasi.Tiada pilihan kecuali para pengurus menginovasi dan membaca peluang dalam mengembangkan, wabilkhusus para kader NU untuk melek dalam mengembangkan perekonomian di wilayahnya masing-masing," ujarnya Rabu (4/07-2018).
Saat ini, kata Kiyai Eman menginventarisir berbagai potensi ekonomi agar bisa dikembangkan oleh anggota PCNU yang ada di Sumatera Barat.
"Untuk itu kami pengurus pusat akan support dan fasilitasi agar potensi tersebut bisa kita raih dan jalankan sehingga keluarga dan pengurus NU siap berdaya saing," ujarnya.
Selain itu, lanjutnya, pengembangan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) juga akan menjadi perhatian serius dalam menyambut era persaingan global tersebut.
"Saat ini beberapa kader GP Ansor di Jawa Barat sukses menjadi direktur utama di beberapa perusahaan milik daerah. Ini semata-mata tak lepas dari kapasitas SDM yang dimilikinya," tandasnya.
Sementara itu, Ketua PWNU Sumatera Barat Maswar menyampaikan, pihaknya akan terus mendorong pengurus PCNU se-Sumatera Barat untuk merebut potensi - potensi ekonomi demi kesejahteraan ummat.
"Masalah pendidikan dan kemiskinan, ini persoalan serius. Maka kita selaku pengurus selalu berupaya maksimal dengan melihat dan membaca potensi, baik secara umum dan khusus. Apalagi ini daerah kita lumbung dari agribisnis dan agrobisnis. Jika telah membuhul semuanya insyallah kader atau anak cucu NU akan sejahtera. Ohya selain mempercepat ekonomi juga memperkuat pendidikan dengan mendirikan sekolah sekolah kejuruan NU serta mengembangkan etos Universitas NU di Sumatera Barat," pungkasnya.
Ihwal ini diikuti seluruh Pengurus Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama se-Sumatera Barat sebanyak lebih kurang 100 peserta. Pada agenda ini dibuka langsung Ketua Bidang Perekonomian dan Pertanian Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH. Eman Suryaman, tak kalah penting agenda pembukaan ini juga dihadiri Wali Kota Padang Mahyeldi, Ketua PWNU Sumatera Barat KH Buya Zainal, sesepuh NU Sumatera Barat Buya Bagindo Leter, Kakanwil Sumatera Barat, serta perwakilan dari Polda dan Dinas terkait.
Selain dihadiri para sesepuh dan petinggi negeri, agenda Rakorwil ini pun di kawal langsung oleh Pasukan Banser PW GP Ansor Sumbar sebanyak 50 orang Banser yang siap mengawal dan mengamankan kedatangan PBNU dalam Kegiatan Rakorwil dan Shilaturahmi PWNU dengan PCNU Se-Sumatera Barat.
Pada pembahasan Rakorwil PWNU Sumbar kali ini mengkaji instrumen untuk mengembangkan potensi ekonomi Nahdliyin. Hal itu disampaikan KH Eman Suryaman bahwa pergerakkan Nahdiyin tergantung dalam kemandirian pengurus dalam mengembangkan ekonomi organisasi.Tiada pilihan kecuali para pengurus menginovasi dan membaca peluang dalam mengembangkan, wabilkhusus para kader NU untuk melek dalam mengembangkan perekonomian di wilayahnya masing-masing," ujarnya Rabu (4/07-2018).
Saat ini, kata Kiyai Eman menginventarisir berbagai potensi ekonomi agar bisa dikembangkan oleh anggota PCNU yang ada di Sumatera Barat.
"Untuk itu kami pengurus pusat akan support dan fasilitasi agar potensi tersebut bisa kita raih dan jalankan sehingga keluarga dan pengurus NU siap berdaya saing," ujarnya.
Selain itu, lanjutnya, pengembangan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) juga akan menjadi perhatian serius dalam menyambut era persaingan global tersebut.
"Saat ini beberapa kader GP Ansor di Jawa Barat sukses menjadi direktur utama di beberapa perusahaan milik daerah. Ini semata-mata tak lepas dari kapasitas SDM yang dimilikinya," tandasnya.
Sementara itu, Ketua PWNU Sumatera Barat Maswar menyampaikan, pihaknya akan terus mendorong pengurus PCNU se-Sumatera Barat untuk merebut potensi - potensi ekonomi demi kesejahteraan ummat.
"Masalah pendidikan dan kemiskinan, ini persoalan serius. Maka kita selaku pengurus selalu berupaya maksimal dengan melihat dan membaca potensi, baik secara umum dan khusus. Apalagi ini daerah kita lumbung dari agribisnis dan agrobisnis. Jika telah membuhul semuanya insyallah kader atau anak cucu NU akan sejahtera. Ohya selain mempercepat ekonomi juga memperkuat pendidikan dengan mendirikan sekolah sekolah kejuruan NU serta mengembangkan etos Universitas NU di Sumatera Barat," pungkasnya.
Jumat, 11 Agustus 2017
Wisata Rumah Pohon Sungai Buluah Semakin Ramai Dikunjungi
Wisata Rumah Pohon Sungai Buluah Semakin Ramai Dikunjungi
Batang Anai--Edo, laki-laki muda ini tampak bersemangat melangkahkan kaki mendaki menuju rumah pohon. Dia yang mengantarkan saya menuju tempat wisata itu. Rumah pohon dan Air Terjun Sarasah Kuau, merupakan dua destinasi wisata dalam paket ekowisata di Hutan Nagari Sungai Buluah, Kecamatan Batang Anai, Padang Pariaman, Sumatera Barat.
Sejak Oktober 2016, paket ekowisata ini sudah rilis dan didatangi banyak pengunjung. Edo bilang, selama empat bulan ini pengunjung bisa 300-400 orang setiap hari. "Ramai datang ke sini, sehari bisa sampai 400 orang. Sejak Maret mulai berkurang. Astrid, penyanyi itu pernah datang ke sini," kata dia.
Menjelang matahari terbenam, kami tiba di rumah pohon. Perjalanan memakan waktu hingga 30 menit. Bermandikan keringat, terbayar dengan suguhan pemandangan luar biasa.
Jejeran rumah di kelilingi hamparan sawah berselimut hutan hijau, perpaduan apik dan menenangkan. Bosan menghabiskan waktu di rumah pohon, bisa melanjutkan ke Air Terjun Sarasah Kuau dan menikmati kesejukan air yang bersumber dari Hutan Nagari Sungai Buluah ini. Meski berjarak kurang dari dua kilometer, tetapi medan menanjak dan curam membuat deru napas berkejar-kejaran.
Paket wisata ini bisa dinikmati dengan hanya membeli tiket masuk Rp5.000, jasa pengantar Rp30.000 untuk tujuh pengunjung. Berada tepat di pinggir Kota Padang, hanya memakan waktu sekitar 15 menit dari Bandara Internasional Minangkabau (BIM), sebenarnya menjadi pilihan wisata mudah dijangkau.
Beberapa kendala, seperti belum tersedia sarana kamar mandi, cuci dan kakus membuat pengunjung enggan. Ali Azwar Datuak Batuah, Ketua Lembaga Pengelola Hutan Nagari Sungai Buluah mengatakan, mereka terkendala beberapa fasilitas dalam pengambangan ekowisata ini.
"Kita belum ada kamar mandi, di rumah pohon itu. Jadi ini merepotkan pengunjung. Dalam waktu dekat ini kita akan membangun dengan duit kas terkumpul," katanya.
Mereka juga perlu jalan setapak untuk pengunjung. Kalau kondisi hujan, jalan yang ada becek dan susah dilalui.
Paket ekowisata ini salah satu dari rencana kerja hutan nagari yang sudah terwujud. Ali mengatakan, sejak SK penetapan areal kerja hutan nagari melalui SK nomor 856/Menhut-II/2013 pada 2 Desember 2013, kepada masyarakat Nagari Sungai Buluah seluas 1.336 hektare, mereka gencar mengajukan rencana kerja ke dinas-dinas terkait.
Kegigihan itu berbuah hasil dengan ada program-program yang berjalan, seperti budidaya jamur tiram, pembibitan gaharu, pengembangan madu lebah dan ekowisata. "Kita memang melakukan program pemberdayaan masyarakat untuk peningkatan perekonomian. Di sini banyak pemuda tak memiliki pekerjaan tetap," sebutnya.
Mak Datuak, demikian sapaan akrabnya menceritakan, tak mudah menyakinkan masyarakat akan kehadiran hutan nagari di Sungai Buluah ini. Namun bencana galodo (banjr bandang) pada 2013 membuat masyarakat menyakini hutan bagian dari ekosistem yang amat penting dalam kehidupan.
Sejak itu, mereka bahu membahu menjaga hutan. Bahkan sejak ada SK pengukuhan hutan nagari, masyarakat bergiliran patroli.
Sungai Buluah, nagari paling timur di Kecamatan Batang Anai itu berintegrasi langsung dengan hutan lindung di gugus Bukit Barisan. Topografi perbukitan dan kondisi hutan sangat mempengaruhi sistem kehidupan masyarakat.
Masyarakat nagari itu memang mengandalkan hidup dari pertanian dan perkebunan dengan pengelolaan berbasis agroforest. Karet, buah seperti durian, jengkol petai dan buah-buah lainnya tumbuh baik di kebun-kebun keloaan masyarakat, di kawasan berbukit.
Hutan di bagian hulu, tak terusik. Hutan di gugus Bukit Barisan ini daerah tangkapan air 14 anak sungai yang mengalir di Sungai Buluah, sebelum menyatu ke Sungai Batang Anai.
"Dulu kami pengelola hutan nagari dan walinagari pernah menangkap pelaku illegal logging beserta barang bukti kayu dan chainsaw, yang diserahkan ke pihak berwajib," katanya.
Air yang mengalir di Sungai Buluah ini, merupakan sumber pasokan PDAM untuk ribuan masyarakat Padang Pariaman, termasuk kebutuhan air bersih BIM. Potensi ekowisata amat banyak di Padang Pariaman yang memerlukan sentuhan dan perhatian pemerintah.
Hasan Basri, anggota Komisi I DPRD Padang Pariaman, mengatakan, selama ini sektor pariwisata dipandang bukan sumber utama pendapatan daerah yang menjanjikan. "Pemerintah harus benar-benar serius memajukan potensi-potensi ekowisata ini, karena banyak sekali yang belum terjamah dan terkelola dengan baik," kata anggota dewan dari PKB ini.
Mengasuh pohon di hutan nagari
Program pohon asuh di Sumbar sudah rilis sejak tahun lalu. Ada empat nagari yang memiliki program pohon asuh yaitu Hutan Nagari Sungai Buluh, Sirukam dan Simanau di Solok serta Hutan Nagari Simancuang.
Program ini dikelola oleh kelompok pengelola hutan nagari (KPHN) di masing-masing nagari, bersama dengan Komunitas Konservasi Indonesia Warsi. Pohon asuh upaya menjaga lingkungan dan mendukung pembangunan masyarakat nagari.
Astrid, penyanyi yang berkunjung ke Hutan Nagari Sungai Buluah langsung tertarik ikut mengasuh pohon. Pelantun lagu Jadikan Aku yang Kedua ini memilih langsung pohon di pinggir Air Terjun Sarasah Kuau, yaitu pohon tarok (Arthocarpus walichianus– moraceae).
Riche Rahma Dewita, Koordinator Regional Warsi Sumbar bilang, mekanisme pengasuhan pohon satu langkah memberikan nilai tambah pada masyarakat atas upaya mereka memelihara hutan. Pemilik pohon memberikan donasi Rp200.000 untuk satu pohon yang diasuh selama satu tahun.
---------------------------------------------------
Patroli Berjalan Penebang Liar Hilang
Batang Anai--Akhirnya penantian panjang masyarakat Nagari Sungai Buluh, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman membuahkan hasil. Gubernur Sumbar Irwan Prayitno menyerahkan Surat Keputusan Hak Pengelolaan Hutan Nagari (HPHN) seluas 780 hektare kepada Lembaga Pengelola Hutan Nagari (LPHN) nagari itu yang diterima langsung Walinagarinya 2014 lalu.
Dengan SK HPHN, masyarakat Nagari Sungai Buluah secara legal dapat mengelola hutan meraka sesuai dengan dokumen rencana kerja pengelolaan yang telah mereka susun. Penduduk Nagari Sungai Buluah berjumlah 14.672 jiwa yang terdiri dari 3.542 Kepala Keluarga dan luas wilayahnya mencapai 19.250 hektare.
Masyarakat Sungai Buluah memiliki kearifan lokal dalam membagi peruntukan pemanfaatan lahan. Kawasan yang berada di hulu sungai di tetapkan sebagai hutan larangan, yang tidak boleh dibuka. Ada kawasan hutan cadangan. Ada kawasan olahan untuk perkebunan dan areal persawahan, serta kawasan perladangan yang berada di luar kawasan hutan kesepakatan.
Kearifan ini menunjukkan kemampuan masyarakat dalam menata rencana pengelolaan terhadap kawasan yang dimiliki. Kawasan hutan yang diajukan sebagai areal kerja hutan nagari merupakan daerah peladangan masyarakat. Peladangan tersebut sudah dilakukan masyarakat sejak 1969 dan masyarakat telah menanami kawasan tersebut dengan tanaman tua seperti petai, jengkol dan durian.
Areal kerja yang diusulkan terletak di Korong Salisikan dan Korong Kuliek dengan luas 2500 hektare, dengan berbagai jenis kayu-kayuan seperti madang (Lauraceae), surian (Toona Sureni), paniang-paniang (Fagaceae).
Selanjutnya terdapat juga rotan, manau, bambu dan anggrek. Di lokasi itu juga masih ditemukan hewan seperti harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), kambing hutan (Capricornis sematraensis), kijang (Muntiacus muntjak), rusa (Cervus timorensis), landak (Hystrix brachyura), dan berbagai macam jenis burung.
Hal yang melatarbelakangi masyarakat mengajukan pengelolaan hutan nagari itu disebabkan keprihatinan terhadap aktifitas penebangan liar yang kerap dilakukan oleh beberapa orang yang berada tidak jauh dari Nagari Sungai Buluah. Aktifitas itu telah menyebabkan terjadinya galodo hampir setiap tahun. Tebing-tebing bukit banyak yang longsor. Walau sudah diperingatkan, namun mereka tetap saja nekat untuk menebangi kayu-kayu yang ada di hutan Bukit Barisan itu.
Masyarakat Sungai Buluah pada umumnya menggarap lahan pertanian. Untuk melakukan pengagarapan sawah membutuhkan banyak air. Jika tutupan hutan tidak terjaga, bisa saja sawah-sawah masyarakat kekeringan dan dapat berujung pada gagal panen dan sebagainya.
Pilihan pengelolaan dengan skema hutan nagari yang dipilih merupakan hasil kesepakatan masyarakat nagari dan pengelolaannya pun dapat dilakukan oleh seluruh masyarakat nagari. Konsep pengelolaan komunal dapat diterapkan dengan skema ini.
Pada pertengahan 2013, Menteri Kehutanan mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 856/menhut-II/2013 tentang Penetapan Areal Kerja Hutan Nagari Sungai Buluah seluas 1336 hektare.
Setelah itu, masyarakat Sungai Buluah bertemu di kantor Walinagari, dengan mengundang pihak kecamatan, Kepolisian, Danramil, Bamus, Dinas Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perkebunan (Dipernakhutbun) Kabupaten Padang Pariaman, Nagari-Nagari tetangga, termasuk oknum Pelaku Penebangan Liar yang kerap beroperasi di hutan nagari.
Pertemuan tersebut membahas mengenai penetapan areal kerja yang diberikan oleh Menteri Kehutanan. Lembaga Pengelola Hutan Nagari (LPHN) Nagari Sungai Buluah menekankan kepada semua pihak bahwa berdasarkan Surat Keputusan tersebut pihaknya dapat bertindak langsung terhadap pelaku penebangan liar yang berada di kawasan hutan yang diajukan. Rencana kerja disusun, patroli hutan pun dilakukan.
"Semenjak SK itu keluar, kami sering melakukan patroli di hutan. Pernah suatu ketika saat melakukan patroli, kami menangkap pelaku penebangan liar tengah beroperasi tidak jauh dari hutan kawasan yang kami ajukan, lalu kami menangkapnya, membakar pondok mereka di hutan serta mengamankan alat bukti berupa satu buah mesin chainsaw. Semenjak kejadian itu, hampir tidak pernah ada kegiatan penebangan liar di Sungai Buluah," ucap Syafrizal, Walikorong Kuliek.
Seperti warga lain, Syafrizal memiliki ladang di lokasi hutan itu, yang ditanami jengkol, durian dan petai. Dengan panen setahun sekali pada kurun Juli – Agustus, mereka dapat memanen sebanyak 20 karung jengkol per harinya, dengan harga Rp400 ribu perkarung. Bahkan di waktu tertentu, harga bisa mencapai Rp1 juta perkarung.
Di hari-hari biasa, masyarakat Nagari Sungai Buluah tetap melakukan kegiatan pertanian sawah dan mengolah kebun jagung, karet, kakao dan lain-lain. Nagari itu banyak ditumbuhi pohon Asam Kandis yang digunakan untuk memasak gulai, yang dijual seharga Rp5ribu perkilonya. Ekonomi masyarakat bisa tumbuh dengan pengelolaan yang berkelanjutan, baik di ladang dan di hutan, tambahnya.
Dia mengatakan, setelah banyak industri kayu beroperasi yang mengakibatkan penurunan kualitas hutan. Oleh karena itu, masyarakat dihimbau untuk menjaga hutan-hutan yang tersisa, sehingga negara bisa memberikan insentif bagi masyarakat yang berbuat.
"Dalam proses persiapan itu kami datang ke Sumatera Barat, bekerjasama dengan gubernur, bupati dan walikota, untuk mulai mempersiapkan masyarakatnya, sehingga pada saat insentif itu datang, masyarakat mendapatkan langsung manfaatnya," kata William.
Pada akhirnya secara perlahan masyarakat mengerti keberadaan hutan, sebab tidak hanya kayu yang bernilai ekonomis, melainkan ada jasa ekosistem yang dapat dikembangkan. Keberadaan hutan tersebut juga berkontribusi pada penurunan emisi karbon.
Riche Rahma Dewita, Koordinator Program dari Komunitas Konservasi Indonesia (KKI WARSI) mengaku semenjak tahun 2012 melakukan pendampingan dengan mengajak masyarakat untuk mengelola hutan dan memanfaatkan hasil hutan bukan kayu (HHBK).
Selain itu, Warsi juga melakukan penguatan kelembagaan masyarakat pengelola hutan, melakukan pelatihan-pelatihan kepada masyarakat serta terlibat dalam penyusunan rencana kerja kelompok. Berbagai informasi mengenai pengelolaan hutan diberikan kepada masyarakat, bahkan juga sempat mengirim salah seorang masyarakat Sungai Buluah untuk mengikuti pelatihan pembuatan kerajinan tangan berupa anyaman di daerah Jambi.
"Kedepan kami akan memfasilitasi masyarakat untuk membuat rancangan tata ruang mikro pengelolaan hutan nagari," ucap Riche.
Batang Anai--Edo, laki-laki muda ini tampak bersemangat melangkahkan kaki mendaki menuju rumah pohon. Dia yang mengantarkan saya menuju tempat wisata itu. Rumah pohon dan Air Terjun Sarasah Kuau, merupakan dua destinasi wisata dalam paket ekowisata di Hutan Nagari Sungai Buluah, Kecamatan Batang Anai, Padang Pariaman, Sumatera Barat.
Sejak Oktober 2016, paket ekowisata ini sudah rilis dan didatangi banyak pengunjung. Edo bilang, selama empat bulan ini pengunjung bisa 300-400 orang setiap hari. "Ramai datang ke sini, sehari bisa sampai 400 orang. Sejak Maret mulai berkurang. Astrid, penyanyi itu pernah datang ke sini," kata dia.
Menjelang matahari terbenam, kami tiba di rumah pohon. Perjalanan memakan waktu hingga 30 menit. Bermandikan keringat, terbayar dengan suguhan pemandangan luar biasa.
Jejeran rumah di kelilingi hamparan sawah berselimut hutan hijau, perpaduan apik dan menenangkan. Bosan menghabiskan waktu di rumah pohon, bisa melanjutkan ke Air Terjun Sarasah Kuau dan menikmati kesejukan air yang bersumber dari Hutan Nagari Sungai Buluah ini. Meski berjarak kurang dari dua kilometer, tetapi medan menanjak dan curam membuat deru napas berkejar-kejaran.
Paket wisata ini bisa dinikmati dengan hanya membeli tiket masuk Rp5.000, jasa pengantar Rp30.000 untuk tujuh pengunjung. Berada tepat di pinggir Kota Padang, hanya memakan waktu sekitar 15 menit dari Bandara Internasional Minangkabau (BIM), sebenarnya menjadi pilihan wisata mudah dijangkau.
Beberapa kendala, seperti belum tersedia sarana kamar mandi, cuci dan kakus membuat pengunjung enggan. Ali Azwar Datuak Batuah, Ketua Lembaga Pengelola Hutan Nagari Sungai Buluah mengatakan, mereka terkendala beberapa fasilitas dalam pengambangan ekowisata ini.
"Kita belum ada kamar mandi, di rumah pohon itu. Jadi ini merepotkan pengunjung. Dalam waktu dekat ini kita akan membangun dengan duit kas terkumpul," katanya.
Mereka juga perlu jalan setapak untuk pengunjung. Kalau kondisi hujan, jalan yang ada becek dan susah dilalui.
Paket ekowisata ini salah satu dari rencana kerja hutan nagari yang sudah terwujud. Ali mengatakan, sejak SK penetapan areal kerja hutan nagari melalui SK nomor 856/Menhut-II/2013 pada 2 Desember 2013, kepada masyarakat Nagari Sungai Buluah seluas 1.336 hektare, mereka gencar mengajukan rencana kerja ke dinas-dinas terkait.
Kegigihan itu berbuah hasil dengan ada program-program yang berjalan, seperti budidaya jamur tiram, pembibitan gaharu, pengembangan madu lebah dan ekowisata. "Kita memang melakukan program pemberdayaan masyarakat untuk peningkatan perekonomian. Di sini banyak pemuda tak memiliki pekerjaan tetap," sebutnya.
Mak Datuak, demikian sapaan akrabnya menceritakan, tak mudah menyakinkan masyarakat akan kehadiran hutan nagari di Sungai Buluah ini. Namun bencana galodo (banjr bandang) pada 2013 membuat masyarakat menyakini hutan bagian dari ekosistem yang amat penting dalam kehidupan.
Sejak itu, mereka bahu membahu menjaga hutan. Bahkan sejak ada SK pengukuhan hutan nagari, masyarakat bergiliran patroli.
Sungai Buluah, nagari paling timur di Kecamatan Batang Anai itu berintegrasi langsung dengan hutan lindung di gugus Bukit Barisan. Topografi perbukitan dan kondisi hutan sangat mempengaruhi sistem kehidupan masyarakat.
Masyarakat nagari itu memang mengandalkan hidup dari pertanian dan perkebunan dengan pengelolaan berbasis agroforest. Karet, buah seperti durian, jengkol petai dan buah-buah lainnya tumbuh baik di kebun-kebun keloaan masyarakat, di kawasan berbukit.
Hutan di bagian hulu, tak terusik. Hutan di gugus Bukit Barisan ini daerah tangkapan air 14 anak sungai yang mengalir di Sungai Buluah, sebelum menyatu ke Sungai Batang Anai.
"Dulu kami pengelola hutan nagari dan walinagari pernah menangkap pelaku illegal logging beserta barang bukti kayu dan chainsaw, yang diserahkan ke pihak berwajib," katanya.
Air yang mengalir di Sungai Buluah ini, merupakan sumber pasokan PDAM untuk ribuan masyarakat Padang Pariaman, termasuk kebutuhan air bersih BIM. Potensi ekowisata amat banyak di Padang Pariaman yang memerlukan sentuhan dan perhatian pemerintah.
Hasan Basri, anggota Komisi I DPRD Padang Pariaman, mengatakan, selama ini sektor pariwisata dipandang bukan sumber utama pendapatan daerah yang menjanjikan. "Pemerintah harus benar-benar serius memajukan potensi-potensi ekowisata ini, karena banyak sekali yang belum terjamah dan terkelola dengan baik," kata anggota dewan dari PKB ini.
Mengasuh pohon di hutan nagari
Program pohon asuh di Sumbar sudah rilis sejak tahun lalu. Ada empat nagari yang memiliki program pohon asuh yaitu Hutan Nagari Sungai Buluh, Sirukam dan Simanau di Solok serta Hutan Nagari Simancuang.
Program ini dikelola oleh kelompok pengelola hutan nagari (KPHN) di masing-masing nagari, bersama dengan Komunitas Konservasi Indonesia Warsi. Pohon asuh upaya menjaga lingkungan dan mendukung pembangunan masyarakat nagari.
Astrid, penyanyi yang berkunjung ke Hutan Nagari Sungai Buluah langsung tertarik ikut mengasuh pohon. Pelantun lagu Jadikan Aku yang Kedua ini memilih langsung pohon di pinggir Air Terjun Sarasah Kuau, yaitu pohon tarok (Arthocarpus walichianus– moraceae).
Riche Rahma Dewita, Koordinator Regional Warsi Sumbar bilang, mekanisme pengasuhan pohon satu langkah memberikan nilai tambah pada masyarakat atas upaya mereka memelihara hutan. Pemilik pohon memberikan donasi Rp200.000 untuk satu pohon yang diasuh selama satu tahun.
---------------------------------------------------
Patroli Berjalan Penebang Liar Hilang
Batang Anai--Akhirnya penantian panjang masyarakat Nagari Sungai Buluh, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman membuahkan hasil. Gubernur Sumbar Irwan Prayitno menyerahkan Surat Keputusan Hak Pengelolaan Hutan Nagari (HPHN) seluas 780 hektare kepada Lembaga Pengelola Hutan Nagari (LPHN) nagari itu yang diterima langsung Walinagarinya 2014 lalu.
Dengan SK HPHN, masyarakat Nagari Sungai Buluah secara legal dapat mengelola hutan meraka sesuai dengan dokumen rencana kerja pengelolaan yang telah mereka susun. Penduduk Nagari Sungai Buluah berjumlah 14.672 jiwa yang terdiri dari 3.542 Kepala Keluarga dan luas wilayahnya mencapai 19.250 hektare.
Masyarakat Sungai Buluah memiliki kearifan lokal dalam membagi peruntukan pemanfaatan lahan. Kawasan yang berada di hulu sungai di tetapkan sebagai hutan larangan, yang tidak boleh dibuka. Ada kawasan hutan cadangan. Ada kawasan olahan untuk perkebunan dan areal persawahan, serta kawasan perladangan yang berada di luar kawasan hutan kesepakatan.
Kearifan ini menunjukkan kemampuan masyarakat dalam menata rencana pengelolaan terhadap kawasan yang dimiliki. Kawasan hutan yang diajukan sebagai areal kerja hutan nagari merupakan daerah peladangan masyarakat. Peladangan tersebut sudah dilakukan masyarakat sejak 1969 dan masyarakat telah menanami kawasan tersebut dengan tanaman tua seperti petai, jengkol dan durian.
Areal kerja yang diusulkan terletak di Korong Salisikan dan Korong Kuliek dengan luas 2500 hektare, dengan berbagai jenis kayu-kayuan seperti madang (Lauraceae), surian (Toona Sureni), paniang-paniang (Fagaceae).
Selanjutnya terdapat juga rotan, manau, bambu dan anggrek. Di lokasi itu juga masih ditemukan hewan seperti harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), kambing hutan (Capricornis sematraensis), kijang (Muntiacus muntjak), rusa (Cervus timorensis), landak (Hystrix brachyura), dan berbagai macam jenis burung.
Hal yang melatarbelakangi masyarakat mengajukan pengelolaan hutan nagari itu disebabkan keprihatinan terhadap aktifitas penebangan liar yang kerap dilakukan oleh beberapa orang yang berada tidak jauh dari Nagari Sungai Buluah. Aktifitas itu telah menyebabkan terjadinya galodo hampir setiap tahun. Tebing-tebing bukit banyak yang longsor. Walau sudah diperingatkan, namun mereka tetap saja nekat untuk menebangi kayu-kayu yang ada di hutan Bukit Barisan itu.
Masyarakat Sungai Buluah pada umumnya menggarap lahan pertanian. Untuk melakukan pengagarapan sawah membutuhkan banyak air. Jika tutupan hutan tidak terjaga, bisa saja sawah-sawah masyarakat kekeringan dan dapat berujung pada gagal panen dan sebagainya.
Pilihan pengelolaan dengan skema hutan nagari yang dipilih merupakan hasil kesepakatan masyarakat nagari dan pengelolaannya pun dapat dilakukan oleh seluruh masyarakat nagari. Konsep pengelolaan komunal dapat diterapkan dengan skema ini.
Pada pertengahan 2013, Menteri Kehutanan mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 856/menhut-II/2013 tentang Penetapan Areal Kerja Hutan Nagari Sungai Buluah seluas 1336 hektare.
Setelah itu, masyarakat Sungai Buluah bertemu di kantor Walinagari, dengan mengundang pihak kecamatan, Kepolisian, Danramil, Bamus, Dinas Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perkebunan (Dipernakhutbun) Kabupaten Padang Pariaman, Nagari-Nagari tetangga, termasuk oknum Pelaku Penebangan Liar yang kerap beroperasi di hutan nagari.
Pertemuan tersebut membahas mengenai penetapan areal kerja yang diberikan oleh Menteri Kehutanan. Lembaga Pengelola Hutan Nagari (LPHN) Nagari Sungai Buluah menekankan kepada semua pihak bahwa berdasarkan Surat Keputusan tersebut pihaknya dapat bertindak langsung terhadap pelaku penebangan liar yang berada di kawasan hutan yang diajukan. Rencana kerja disusun, patroli hutan pun dilakukan.
"Semenjak SK itu keluar, kami sering melakukan patroli di hutan. Pernah suatu ketika saat melakukan patroli, kami menangkap pelaku penebangan liar tengah beroperasi tidak jauh dari hutan kawasan yang kami ajukan, lalu kami menangkapnya, membakar pondok mereka di hutan serta mengamankan alat bukti berupa satu buah mesin chainsaw. Semenjak kejadian itu, hampir tidak pernah ada kegiatan penebangan liar di Sungai Buluah," ucap Syafrizal, Walikorong Kuliek.
Seperti warga lain, Syafrizal memiliki ladang di lokasi hutan itu, yang ditanami jengkol, durian dan petai. Dengan panen setahun sekali pada kurun Juli – Agustus, mereka dapat memanen sebanyak 20 karung jengkol per harinya, dengan harga Rp400 ribu perkarung. Bahkan di waktu tertentu, harga bisa mencapai Rp1 juta perkarung.
Di hari-hari biasa, masyarakat Nagari Sungai Buluah tetap melakukan kegiatan pertanian sawah dan mengolah kebun jagung, karet, kakao dan lain-lain. Nagari itu banyak ditumbuhi pohon Asam Kandis yang digunakan untuk memasak gulai, yang dijual seharga Rp5ribu perkilonya. Ekonomi masyarakat bisa tumbuh dengan pengelolaan yang berkelanjutan, baik di ladang dan di hutan, tambahnya.
Dia mengatakan, setelah banyak industri kayu beroperasi yang mengakibatkan penurunan kualitas hutan. Oleh karena itu, masyarakat dihimbau untuk menjaga hutan-hutan yang tersisa, sehingga negara bisa memberikan insentif bagi masyarakat yang berbuat.
"Dalam proses persiapan itu kami datang ke Sumatera Barat, bekerjasama dengan gubernur, bupati dan walikota, untuk mulai mempersiapkan masyarakatnya, sehingga pada saat insentif itu datang, masyarakat mendapatkan langsung manfaatnya," kata William.
Pada akhirnya secara perlahan masyarakat mengerti keberadaan hutan, sebab tidak hanya kayu yang bernilai ekonomis, melainkan ada jasa ekosistem yang dapat dikembangkan. Keberadaan hutan tersebut juga berkontribusi pada penurunan emisi karbon.
Riche Rahma Dewita, Koordinator Program dari Komunitas Konservasi Indonesia (KKI WARSI) mengaku semenjak tahun 2012 melakukan pendampingan dengan mengajak masyarakat untuk mengelola hutan dan memanfaatkan hasil hutan bukan kayu (HHBK).
Selain itu, Warsi juga melakukan penguatan kelembagaan masyarakat pengelola hutan, melakukan pelatihan-pelatihan kepada masyarakat serta terlibat dalam penyusunan rencana kerja kelompok. Berbagai informasi mengenai pengelolaan hutan diberikan kepada masyarakat, bahkan juga sempat mengirim salah seorang masyarakat Sungai Buluah untuk mengikuti pelatihan pembuatan kerajinan tangan berupa anyaman di daerah Jambi.
"Kedepan kami akan memfasilitasi masyarakat untuk membuat rancangan tata ruang mikro pengelolaan hutan nagari," ucap Riche.
Langganan:
Postingan (Atom)






