Kelok Nona Itu Tidak Lagi Angker dan Menakutkan
Tapakis---Kelok
Nona di jalur Ketaping-Pariaman tidak lagi ditakuti oleh banyak orang
yang lalu-lalang di jalan itu. Ditambah lagi keberadaan Balai Pendidikan
dan Pelatihan Ilmu Pelayaran (BP2IP) yang dibangun pemerintah disitu.
Dulu, jalan itu angker. Ketika matahari mulai menghilang dan malam pun
datang, tak akan adalagi orang yang lewat, karena ada saja hal aneh yang
dilihatnya.
Walinagari Tapakis, Kecamatan Ulakan Tapakis, Rusli
Rangkayo Majo Basa menuturkan kalau lokasi pembangunan BP2IP dan
pelabuhan Tiram ini namanya Kelok Nona. Dinamakan demikian, banyak orang
melihat, terutama di malam hari perempuan cantik, sehingga orang yang
lewat merasa takut dan langsung cigin saja. Akibatnya, tidak sedikit
lagi
korban jiwa dilokasi ini dulunya, karena jatuh dari kendaraan, atau
masuk rawa.
"Upaya Pemkab Padang Pariaman membangun BP2IP dan
pelabuhan ini sungguh sebuah terobosan yang sangat luar biasa. Khusus
bagi masyarakat Tapakis, jelas tidak akan adalagi rasa takut. Bahkan,
sejak mulai pengerjaannya sudah banyak anak-anak yang bermain dilokasi
ini dikala senja. Mereka melihat indahnya matahari terbenam, yang
seolah-olah berciuman dengan air laut, kalau cuaca lagi rancak," cerita
Rusli dalam hantaran katanya, saat kedatangan tamu banyak dalam
pengecoran pembangunan BP2IP demikian, Sabtu lalu.
Rusli, adalah
satu dari 10 orang rajo dalam Ulayat Tapakis, Ketaping dan Ulakan. Dia
punya kekuasaan adat yang sama juga dengan Rangkayo Rajo Sampono di
Ketaping. Untuk ini, tentu seluk-beluk Nagari Tapakis khususnya sangat
diketahuinya. Mulai masyhurnya sebutan Kelok Nona, memang sudah sangat
lama. Dasarnya itu tadi. Bagi yang
pertama kali melihat gadis rancak dipinggir jalan, apalagi yang
bujang-bujang, tentu akan terperdaya sendiri. Namun, apabila dilihatnya
dari dekat, rupanya makhluk halus, yang kalau orang kampung bilang,
hantu.
Tetapi, bagi masyarakat Tapakis, Ketaping dan Ulakan yang
sudah tahu dengan kondisi demikian bila melihatnya hanya berdoa, dan
sekaligus berharap tidak akan terjadi malapetaka pada dirinya. Saat
kampung belum lagi dimasuki listrik, peristiwa itu sangat acapkali
dilihat orang. "Sejak beberapa bulan belakangan, Kelok Nona sudah
rancak. Bangunan megah tempat penggembelengan pelaut handal akan segera
hadir. Pelabuhan begitu juga. Tentu kampung yang dulunya sunyi, akan
menjadi ramai oleh hiruk-pikuknya aktivitas pendidikan dan
perekonomian," sebut Rusli lagi.
Bagi Rusli dan niniak mamak
dalam ulayat yang tiga itu, jelas pembangunan BP2IP punya arti
tersendiri. Walapun awalnya sempat terjadi pro dan kontra
dalam soal ini oleh sebagian masyarakat. Bupati Ali Mukhni sebagai
kepala daerah di Padang Pariaman yang sangat ingin hal itu terwujud,
tentu tidak gegabah untuk meletakkan pembangunan BP2IP di kawasan Kelok
Nona demikian. Untuk ini, seluruh kekuatan niniak mamak dan masyarakat
dijadikannya sebagai penopang pembangunan demikian. Dan yang tidak kalah
pentingnya, adalah kiprah yang dimainkan Rangkayo Rajo Sampono, yang
juga sebagai juru bicara bagi 10 orang rajo dalam Ulayat Tapakis,
Ketaping dan Ulakan dimaksud dalam merampungkan pembangunan BP2IP.
Tidak kalah serunya, dalam pengecoran Sabtu lalu itu, Bupati Ali Mukhni
dapat pujian dan apresiasi yang sangat luas sekali. Sampai-sampai Azwar
Anas, mantan Gubernur Sumatra Barat melihat Bupati Ali Mukhni hebat dan
pintar melakukan lobi-lobi ke pusat. Begitu juga Gubernur Irwan
Prayitno menyebut, kalau bupati dan walikota lainnya pada cemburu,
lantaran pembangunan nasional dan Sumbar
banyak dilakukan di Padang Pariaman.
"Bupati Ali Mukhni memang
terkenal gigih, dan mau bekerja. Pandai memanfaatkan momen, sehingga
proyek nasional bisa jatuh ke Padang Pariaman," kata Irwan Prayitno.
(damanhuri)
Senin, 21 Oktober 2013
Jumat, 18 Oktober 2013
Buluah Apo Kampung yang Masih Tertinggal di Padang Pariaman
Buluah Apo Kampung yang Masih Tertinggal di Padang Pariaman
Padang Sago---Buluah Apo, satu dari sekian banyak korong dalam Nagari Koto Dalam yang masih berstatus tertinggal dan terisolir. Disamping terletak dalam lurah, kampung ini masih banyak hutan belantaranya. Meskipun masih jalan tanah, Buluah Apo yang terletak di Kecamatan Padang Sago, Kabupaten Padang Pariaman ini sudah bisa dilewati kendaraan roda empat. Dengan masih banyaknya hutan tersebut, maka banyak pula ditemui binatang buas dalam kampung demikian.
Dulu, pada tahun 1980 an ada seorang ibu tua yang dimakan harimau disitu. Kejadian ini cukup menggemparkan bagi kampung yang bertetangga dengan Buluah Apo. Wakil Gubernur Sumatra Barat, Muslim Kasim yang sekaligus Ketua Umum Porbi Kabupaten Padang Pariaman tidak salah ketika memilih Buluah Apo sebagai tempat pelantikan pengurus Porbi periode 2013-2017.
Untuk menuju Buluah Apo ada tiga pintu masuk yang tersedia. Pertama lewat Bungin, Nagari Lareh Nan Panjang. Kemudian, lewat Barangan, terus ke Ambacang Gadang, lalu belok kanan sebelum tiba di Sungai Pua Tanjuang Mutuih. Terakhir, lewat pasar Padang Sago, terus kebawah, yakni ke Batang Piaman Gadang. Namun, yang kurang risikonya untuk kendaraan roda empat, ya lewat Barangan.
Ketiga jalan pintu masuk demikian masih jalan tanah, yang sebagiannya diberi kerikil. Listrik memang sudah masuk ke kampung itu. Kalau yang menggunakan mobil jenis sedang pergi kekampung itu bisa juga sampai. Tetapi harus eksra hati-hati. Secara kebetulan, Sabtu malam lalu, Singgalang bersama Herman Sikumbang, pemilik Sate Anak Ibu Lubuk Alung datang kesana menggunakan mobil sedan. Dan memang, tak bisa dilarikan kencang mobilnya. Konon ceritanya, setiap kali ada burubabi besar-besaran, selalu Buluah Apo dan Koto Dalam dijadikan tempat sasaran para pecandu olahraga burubabi demikian.
Ada satu nilai budaya yang melekat di masyarakat Buluah Apo yang hingga saat ini masih berjalan dengan dinamikanya. Yakni budaya gotong royong. Menurut cerita masyarakatnya, anggaran PNPM yang digelontorkan ke kampung itu selalu berlebih. Artinya, partisipasi masyarakat untuk membangun sangat tinggi. Masyarakat dengan senangnya melakukan goro. Mulai dari mengambil pasir dalam sungai, mengangkut pasir gunung yang juga tersedia dalam kampung itu, ketika PNPM akan membangun sebuah jalan kampung misalnya.
Menurut Alfa Edison, mantan Walinagari Koto Dalam yang kini menjadi caleg DPRD Padang Pariaman dari Partai NasDem, soal budaya goro di Buluah Apo memang tidak ada tandingannya. "Disini, kalau sudah disepakati untuk melakukan goro, masyarakatnya sampai membawa nasi bungkus. Artinya, hari yang sehari akan dihabiskan hanya untuk sosial masyarakat," kata dia.
Dan hal itu tidak terlihat sekarang saja. Kata Alfa Edison, budaya goro berlangsung sejak kampung itu ada. Untuk Nagari Koto Dalam, Buluah Apo ini paling terkenal, sehingga semasa zaman desa dulu kantor desanya paling rancak. Dibangun dan dirawat dengan budaya goro demikian.
Untung saja saat ini Wakil Gubernur Sumbar dijabat oleh Muslim Kasim. Kalau tidak, cerita masyarakat, tidak akan ada gubernur atau wakil gubernur yang datang kesana. Muslim Kasim saat melantik Porbi, Sabtu malam lalu sedikit kecewa dan sempat tabik rabo, lantaran tak seorang pun pejabat daerah yang hadir. Bupati Ali Mukhni, Wabup Damsuar tak pula tampak, meskipun secara resmi diundang oleh Porbi untuk hadir. (damanhuri)
Padang Sago---Buluah Apo, satu dari sekian banyak korong dalam Nagari Koto Dalam yang masih berstatus tertinggal dan terisolir. Disamping terletak dalam lurah, kampung ini masih banyak hutan belantaranya. Meskipun masih jalan tanah, Buluah Apo yang terletak di Kecamatan Padang Sago, Kabupaten Padang Pariaman ini sudah bisa dilewati kendaraan roda empat. Dengan masih banyaknya hutan tersebut, maka banyak pula ditemui binatang buas dalam kampung demikian.
Dulu, pada tahun 1980 an ada seorang ibu tua yang dimakan harimau disitu. Kejadian ini cukup menggemparkan bagi kampung yang bertetangga dengan Buluah Apo. Wakil Gubernur Sumatra Barat, Muslim Kasim yang sekaligus Ketua Umum Porbi Kabupaten Padang Pariaman tidak salah ketika memilih Buluah Apo sebagai tempat pelantikan pengurus Porbi periode 2013-2017.
Untuk menuju Buluah Apo ada tiga pintu masuk yang tersedia. Pertama lewat Bungin, Nagari Lareh Nan Panjang. Kemudian, lewat Barangan, terus ke Ambacang Gadang, lalu belok kanan sebelum tiba di Sungai Pua Tanjuang Mutuih. Terakhir, lewat pasar Padang Sago, terus kebawah, yakni ke Batang Piaman Gadang. Namun, yang kurang risikonya untuk kendaraan roda empat, ya lewat Barangan.
Ketiga jalan pintu masuk demikian masih jalan tanah, yang sebagiannya diberi kerikil. Listrik memang sudah masuk ke kampung itu. Kalau yang menggunakan mobil jenis sedang pergi kekampung itu bisa juga sampai. Tetapi harus eksra hati-hati. Secara kebetulan, Sabtu malam lalu, Singgalang bersama Herman Sikumbang, pemilik Sate Anak Ibu Lubuk Alung datang kesana menggunakan mobil sedan. Dan memang, tak bisa dilarikan kencang mobilnya. Konon ceritanya, setiap kali ada burubabi besar-besaran, selalu Buluah Apo dan Koto Dalam dijadikan tempat sasaran para pecandu olahraga burubabi demikian.
Ada satu nilai budaya yang melekat di masyarakat Buluah Apo yang hingga saat ini masih berjalan dengan dinamikanya. Yakni budaya gotong royong. Menurut cerita masyarakatnya, anggaran PNPM yang digelontorkan ke kampung itu selalu berlebih. Artinya, partisipasi masyarakat untuk membangun sangat tinggi. Masyarakat dengan senangnya melakukan goro. Mulai dari mengambil pasir dalam sungai, mengangkut pasir gunung yang juga tersedia dalam kampung itu, ketika PNPM akan membangun sebuah jalan kampung misalnya.
Menurut Alfa Edison, mantan Walinagari Koto Dalam yang kini menjadi caleg DPRD Padang Pariaman dari Partai NasDem, soal budaya goro di Buluah Apo memang tidak ada tandingannya. "Disini, kalau sudah disepakati untuk melakukan goro, masyarakatnya sampai membawa nasi bungkus. Artinya, hari yang sehari akan dihabiskan hanya untuk sosial masyarakat," kata dia.
Dan hal itu tidak terlihat sekarang saja. Kata Alfa Edison, budaya goro berlangsung sejak kampung itu ada. Untuk Nagari Koto Dalam, Buluah Apo ini paling terkenal, sehingga semasa zaman desa dulu kantor desanya paling rancak. Dibangun dan dirawat dengan budaya goro demikian.
Untung saja saat ini Wakil Gubernur Sumbar dijabat oleh Muslim Kasim. Kalau tidak, cerita masyarakat, tidak akan ada gubernur atau wakil gubernur yang datang kesana. Muslim Kasim saat melantik Porbi, Sabtu malam lalu sedikit kecewa dan sempat tabik rabo, lantaran tak seorang pun pejabat daerah yang hadir. Bupati Ali Mukhni, Wabup Damsuar tak pula tampak, meskipun secara resmi diundang oleh Porbi untuk hadir. (damanhuri)
Pintar Membuat Kerupuk, Piak Kenek Dapat Upah Rp10 Ribu Sehari
Pintar Membuat Kerupuk, Piak Kenek Dapat Upah Rp10 Ribu Sehari
Sintuak--Tangan Piak Kenek begitu lincah membuat kerupuk ubi. Ubi kayu yang sudah direbus lalu digiling dengan alat penggiling tradisional. Kemudian setelah rata ditancapkan malnya, sehingga jadilah sebuah kerupuk. Dalam waktu sekejap saja, ibu tua berusia sekitar 60 tahun ini bisa membuat makanan demikian dengan banyaknya. Setiap hari dia bekerja membuat kerupuk milik tetangganya itu.
Artinya, Piak Kenek diupah oleh induk semangnya untuk membuat kerupuk. Kekuatan Piak Kenek lumayan. Untuk sehari, dia mampu menyudahkan sekitar 1.000 kerupuk. Dengan kekuatan seperti itu, dia mendapatkan upah dari induk semangnya sebanyak Rp10 ribu sehari. Dia merasa bersyukur, kalau induk semangnya lagi sedang banyak berproduksi.
Ketika bersua dengan Singgalang ditempat kerjanya di Korong Balai Usang, Nagari Sintuak, Kecamatan Sintuak Toboh Padang, Padang Pariaman beberapa waktu lalu, Piak Kenek menceritakan kalau mengolah ubi kayu untuk bisa menjadi kerupuk akan memakan waktu sedikitnya tiga hari. Mulai direbus, lalu ditumbuk dan dikasih resep, diolah jadi kerupuk. Kemudian dijemur sampai kering. Kalau sudah kering baru bisa dijual dan digoreng. Kerupuk yang sudah kering itu dijual oleh induk semangnya seharga Rp7.500 untuk 100 buah kerupuk.
Sedangkan harga ubi mentah yang dibeli induk semangnya, dalam sekarung itu mencapai Rp50-Rp75 ribu. "Kalau kerja ini yang diharapkan, tidak akan mampu menutupi biaya harian. Tetapi ini hanya kerja sambilan. Untung saja lima anak ambo sudah pada lepas. Yang perempuan sudah bersuami, dan yang laki-laki sudah pula beristri, sehingga tidak lagi menggantungkan hidup dengan ambo," kata Piak Kenek.
Bagi Piak Kenek bekerja membuat kerupuk yang hampir setiap hari dia lakoni, adalah mengisi waktu agar jangan terbuang sia-sia. Tak heran, nyaris setiap rumah di Balai Usang, Sintuak banyak ditemukan sentra pengrajin kerupuk ubi kayu. Kalau orang situ menyebutnya karupuak pancih. Malah sekarang, ubi kayu tidak sekedar untuk dijadikan kerupuk saja. Banyak makanan lainnya yang bisa dibuat dari ubi demikian. Bisa buat kue, tepung, dan lain sebagainya.
Kerupuk yang banyak ditemukan di Balai Usang ini pun banyak pula yang dikirim ke daerah tetangga, seperti Pekanbaru, Provinsi Riau. Maklum, urang awak banyak yang merantau ke Bumi Lancang Kuning itu. "Sebenarnya, untuk bisnis kerupuk ini yang paling banyak dapat untung itu, ya si penjual kerupuk kuah yang kita temukan di rumah sekolah, atau ditempat dimana anak-anak banyak bermain. Sebab, untuk satu buah kerupuk, ditambah mienya, itu bisa seharga seribu," ungkapnya menceritakan.
Piak Kenek mengaku sudah lama bekerja membuat kerupuk ini. Saking lamanya, untuk memcetak kerupuk yang banyak dia tak butuh waktu lama. Bayangka saja, seusianya yang sudah kepala enam, mampu menyudahkan 1.000 kerupuk dalam sehari. Menurut dia, pada umumnya kaum perempuan Sintuak ini pandai membuat kerupuk. Lihatlah, hampir satu kampung ini banyak ditemukan kerupuk yang sedang dijemur. (damanhuri)
Sintuak--Tangan Piak Kenek begitu lincah membuat kerupuk ubi. Ubi kayu yang sudah direbus lalu digiling dengan alat penggiling tradisional. Kemudian setelah rata ditancapkan malnya, sehingga jadilah sebuah kerupuk. Dalam waktu sekejap saja, ibu tua berusia sekitar 60 tahun ini bisa membuat makanan demikian dengan banyaknya. Setiap hari dia bekerja membuat kerupuk milik tetangganya itu.
Artinya, Piak Kenek diupah oleh induk semangnya untuk membuat kerupuk. Kekuatan Piak Kenek lumayan. Untuk sehari, dia mampu menyudahkan sekitar 1.000 kerupuk. Dengan kekuatan seperti itu, dia mendapatkan upah dari induk semangnya sebanyak Rp10 ribu sehari. Dia merasa bersyukur, kalau induk semangnya lagi sedang banyak berproduksi.
Ketika bersua dengan Singgalang ditempat kerjanya di Korong Balai Usang, Nagari Sintuak, Kecamatan Sintuak Toboh Padang, Padang Pariaman beberapa waktu lalu, Piak Kenek menceritakan kalau mengolah ubi kayu untuk bisa menjadi kerupuk akan memakan waktu sedikitnya tiga hari. Mulai direbus, lalu ditumbuk dan dikasih resep, diolah jadi kerupuk. Kemudian dijemur sampai kering. Kalau sudah kering baru bisa dijual dan digoreng. Kerupuk yang sudah kering itu dijual oleh induk semangnya seharga Rp7.500 untuk 100 buah kerupuk.
Sedangkan harga ubi mentah yang dibeli induk semangnya, dalam sekarung itu mencapai Rp50-Rp75 ribu. "Kalau kerja ini yang diharapkan, tidak akan mampu menutupi biaya harian. Tetapi ini hanya kerja sambilan. Untung saja lima anak ambo sudah pada lepas. Yang perempuan sudah bersuami, dan yang laki-laki sudah pula beristri, sehingga tidak lagi menggantungkan hidup dengan ambo," kata Piak Kenek.
Bagi Piak Kenek bekerja membuat kerupuk yang hampir setiap hari dia lakoni, adalah mengisi waktu agar jangan terbuang sia-sia. Tak heran, nyaris setiap rumah di Balai Usang, Sintuak banyak ditemukan sentra pengrajin kerupuk ubi kayu. Kalau orang situ menyebutnya karupuak pancih. Malah sekarang, ubi kayu tidak sekedar untuk dijadikan kerupuk saja. Banyak makanan lainnya yang bisa dibuat dari ubi demikian. Bisa buat kue, tepung, dan lain sebagainya.
Kerupuk yang banyak ditemukan di Balai Usang ini pun banyak pula yang dikirim ke daerah tetangga, seperti Pekanbaru, Provinsi Riau. Maklum, urang awak banyak yang merantau ke Bumi Lancang Kuning itu. "Sebenarnya, untuk bisnis kerupuk ini yang paling banyak dapat untung itu, ya si penjual kerupuk kuah yang kita temukan di rumah sekolah, atau ditempat dimana anak-anak banyak bermain. Sebab, untuk satu buah kerupuk, ditambah mienya, itu bisa seharga seribu," ungkapnya menceritakan.
Piak Kenek mengaku sudah lama bekerja membuat kerupuk ini. Saking lamanya, untuk memcetak kerupuk yang banyak dia tak butuh waktu lama. Bayangka saja, seusianya yang sudah kepala enam, mampu menyudahkan 1.000 kerupuk dalam sehari. Menurut dia, pada umumnya kaum perempuan Sintuak ini pandai membuat kerupuk. Lihatlah, hampir satu kampung ini banyak ditemukan kerupuk yang sedang dijemur. (damanhuri)
Tiga Mayor Itu Dikubur Dalam Satu Tempat di Lubuak Kasai
Tiga Mayor Itu Dikubur Dalam Satu Tempat di Lubuak Kasai
Lubuk Alung--Tidak banyak orang yang tahu, kalau di Gamaran, Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman ada kuburan pahlawan. Maklum, generasi sudah banyak yang berganti, sehingga mengaburkan sejarah yang pernah terjadi dalam suatu kampung. Banyak orang bertanya-tanya, kuburan siapa gerangan, tatkala mulai tersingkapnya Air Terjun Nyarai oleh pemuda pelopor, karena diikuti banyak orang kelokasi demikian.
Nah, kuburan pahlawan itu terletak Lubuak Kasai, Gamaran. Di lokasi itu ada satu kuburan yang diisi oleh tiga orang Mayor TNI. Namanya; Mayor Latif, Mayor Ibrahim dan Mayor Ismael. Itu rekaman sejarah yang didapatkan Syafrizal, warga Gamaran yang saat ini berusia sekitar 62 tahun. "Dulu, di Lubuak Kasai ini adalah markas tentara Pemerintahan Revolisioner Republik Indonesia (PRRI)," cerita dia.
Singgalang yang datang ke Gamaran bersama Ketua Karang Taruna Lubuk Alung, Jasman Jay, Ketua DPC PAN Lubuk Alung, Hilman H, bertemu langsung dengan Syafrizal yang sewaktu peristiwa PRRI sudah remaja, dan pernah pula menyandang senjata, karena sering bermain dan makan-makan di markas tentara yang terletak diatas rimba belantara tersebut. Syafrizal menceritakan itu dengan Utiah Lipauk, yang juga seangkatan dengannya, dan seorang ketua pemuda Gamaran, Dedi.
Menurut Syafrizal, ketiga mayor demikian dibunuh atau tertembak oleh tentara pusat. Sebab, sejarah kelam PRRI yang terjadi dalam rentang waktu 1958-1960 ini, adalah perlawanan tentara pusat dan daerah. Artinya, awak sama kita. Ya, karena zaman perang, semuanya serba darurat, maka ketiga mayor itu dikubur saja dalam satu kuburan.
Secara pastinya, ketiga mayor itu dimana sasok jeraminya, Syafrizal tak tahu banyak. Yang diketahuinya, Mayor Latif orang Padang, dan bergabung kedalam Harimau Kuranji. Pernah suatu ketika anaknya datang ke Gamaran ini melihat kuburan tersebut. Tapi sudah lama, dan sekarang tak ada lagi datang. Masyarakat Gamaran yang ikut dalam markas tersebut ikut memakamkan ketiga tentara urang awak ini.
"Yang namanya markas, ya banyak tentaranya dulu. Ada mungkin satu kompi. Tetapi, markasnya hanya terbuat dari kayu. Dan itulah situasinya dalam hutan. Sebelum ketiga mayor ini dibunuh, mereka sempat memberikan perlawanan, dan membuang senjatanya ke sungai Batang Gamaran, untuk supaya diselamatkan oleh rekan-rekannya," ungkap Syafrizal.
Pasca PRRI, banyak yang ganjil-ganjil yang dilihat banyak orang dilokasi yang dijadikan markas oleh tentara demikian. "Kadang-kadang bunyi orang perang. Tiap sebentar bunyi letusan bedil. Itu terdengarnya malam hari. Dan dilokasi lainnya, juga di Gamaran ada pula kuburan tentara, yang tak lagi diketahui namanya. Mungkin karena tidak ada keluarganya yang tahu, sehingga kuburan itu bagaikan kuburan biasa saja, tidak ada bendera Merah Putih yang dipancangkan diatas pusaranya," sebut Syafrizal lagi.
Jasman Jay, Ketua Karang Taruna Lubuk Alung yang sudah datang langsung kelokasi makam itu, tersentak hatinya untuk membersihkan kuburan itu. Dia bersihkan, dan sekarang sudah ada tandanya, kalau itu kuburan orang yang berjasa terhadap daerah dan bangsa ini. Walaupun itu sejarah kelam, yang tidak boleh terulang lagi.
Dengan dibukanya objek wisata Air Terjun Nyarai, orang akan banyak datang ke Gamaran. Dengan sendirinya, kuburan itu tentu bisa pula dijadikan objek wisata relegius. Itulah yang sedang diupayakan oleh Karang Taruna Nagari Lubuk Alung, bagaimana sejarah panjang itu ikut pula mewarnai nagari ini. (damanhuri)
Lubuk Alung--Tidak banyak orang yang tahu, kalau di Gamaran, Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman ada kuburan pahlawan. Maklum, generasi sudah banyak yang berganti, sehingga mengaburkan sejarah yang pernah terjadi dalam suatu kampung. Banyak orang bertanya-tanya, kuburan siapa gerangan, tatkala mulai tersingkapnya Air Terjun Nyarai oleh pemuda pelopor, karena diikuti banyak orang kelokasi demikian.
Nah, kuburan pahlawan itu terletak Lubuak Kasai, Gamaran. Di lokasi itu ada satu kuburan yang diisi oleh tiga orang Mayor TNI. Namanya; Mayor Latif, Mayor Ibrahim dan Mayor Ismael. Itu rekaman sejarah yang didapatkan Syafrizal, warga Gamaran yang saat ini berusia sekitar 62 tahun. "Dulu, di Lubuak Kasai ini adalah markas tentara Pemerintahan Revolisioner Republik Indonesia (PRRI)," cerita dia.
Singgalang yang datang ke Gamaran bersama Ketua Karang Taruna Lubuk Alung, Jasman Jay, Ketua DPC PAN Lubuk Alung, Hilman H, bertemu langsung dengan Syafrizal yang sewaktu peristiwa PRRI sudah remaja, dan pernah pula menyandang senjata, karena sering bermain dan makan-makan di markas tentara yang terletak diatas rimba belantara tersebut. Syafrizal menceritakan itu dengan Utiah Lipauk, yang juga seangkatan dengannya, dan seorang ketua pemuda Gamaran, Dedi.
Menurut Syafrizal, ketiga mayor demikian dibunuh atau tertembak oleh tentara pusat. Sebab, sejarah kelam PRRI yang terjadi dalam rentang waktu 1958-1960 ini, adalah perlawanan tentara pusat dan daerah. Artinya, awak sama kita. Ya, karena zaman perang, semuanya serba darurat, maka ketiga mayor itu dikubur saja dalam satu kuburan.
Secara pastinya, ketiga mayor itu dimana sasok jeraminya, Syafrizal tak tahu banyak. Yang diketahuinya, Mayor Latif orang Padang, dan bergabung kedalam Harimau Kuranji. Pernah suatu ketika anaknya datang ke Gamaran ini melihat kuburan tersebut. Tapi sudah lama, dan sekarang tak ada lagi datang. Masyarakat Gamaran yang ikut dalam markas tersebut ikut memakamkan ketiga tentara urang awak ini.
"Yang namanya markas, ya banyak tentaranya dulu. Ada mungkin satu kompi. Tetapi, markasnya hanya terbuat dari kayu. Dan itulah situasinya dalam hutan. Sebelum ketiga mayor ini dibunuh, mereka sempat memberikan perlawanan, dan membuang senjatanya ke sungai Batang Gamaran, untuk supaya diselamatkan oleh rekan-rekannya," ungkap Syafrizal.
Pasca PRRI, banyak yang ganjil-ganjil yang dilihat banyak orang dilokasi yang dijadikan markas oleh tentara demikian. "Kadang-kadang bunyi orang perang. Tiap sebentar bunyi letusan bedil. Itu terdengarnya malam hari. Dan dilokasi lainnya, juga di Gamaran ada pula kuburan tentara, yang tak lagi diketahui namanya. Mungkin karena tidak ada keluarganya yang tahu, sehingga kuburan itu bagaikan kuburan biasa saja, tidak ada bendera Merah Putih yang dipancangkan diatas pusaranya," sebut Syafrizal lagi.
Jasman Jay, Ketua Karang Taruna Lubuk Alung yang sudah datang langsung kelokasi makam itu, tersentak hatinya untuk membersihkan kuburan itu. Dia bersihkan, dan sekarang sudah ada tandanya, kalau itu kuburan orang yang berjasa terhadap daerah dan bangsa ini. Walaupun itu sejarah kelam, yang tidak boleh terulang lagi.
Dengan dibukanya objek wisata Air Terjun Nyarai, orang akan banyak datang ke Gamaran. Dengan sendirinya, kuburan itu tentu bisa pula dijadikan objek wisata relegius. Itulah yang sedang diupayakan oleh Karang Taruna Nagari Lubuk Alung, bagaimana sejarah panjang itu ikut pula mewarnai nagari ini. (damanhuri)
Jumat, 20 September 2013
Nagari Buayan dan Sistim Patrilinial di Padang Pariaman
Nagari Buayan dan Sistim Patrilinial di Padang Pariaman
Buayan---Meskipun berada dibawah pemerintahan Kecamatan Batang Anai, Nagari Buayan merupakan pemekaran dari induknya, Nagari Lubuak Aluang. Dan ini dibunyikan dengan jelas; Nagari Buayan Lubuak Aluang. Menurut sejarahnya, Buayan itu mulai dihuni sekitar tahun 1789 M. Pertama kali kampung itu didiami oleh masyarakat yang datang dari Tapanuli Selatan, Padang Sidempuan yang waktu itu ada lima suku yang datang; Batu Bara, Harahap, Lubis, Siregar, dan Harahan.
Dengan ini, maka lima pula panghulu dalam nagari demikian. Batu Bara dengan panghulunya; Datuak Rajo Lelo, Harahap; Datuak Rajo Manih, Lubis; Datuak Manambin, Harahan; Datuak Rajo Mambang, dan Siregar dengan Datuak Sutan Paruhuman. Pada 1819 para panghulu ini meminta secara adat ke niniak mamak Lubuak Aluang untuk berdiri sendiri, karena berlainan adat yang selama ini terpakai di Minangkabau. Tentu adat diisi, limbago dituang. Permintaan itu dikabulkan secara tertulis, yang disebut dengan Trakat 17 April 1819, yang hingga kini dan sampai kapanpun masih dijadikan pedoman oleh masyarakat Buayan dan Lubuak Aluang dalam menata dan mengembangkan adat salingka nagari.
Datuak Rajo Sutan Paruhuman yang saat ini dipegang oleh Nasrul Yusuf ketika bersua dengan Singgalang menceritakan panjang lebar asal usul masyarakat Buayan demikian. Dalam panghulu Suku Siregar, bapak ini sudah generasi yang ke-6. Disamping bercerita, dia memberikan sejumlah dokumen penting yang menulis riwayat Buayan tersebut. Saat ini Buayan membawahi lima korong, masing-masing; Korong Padang Kunik, Kapalo Buayan, Kampuang Tangah, Simpang, dan Korong Titian Aka.
Fitri Eriyanti, dalam tesisnya yang berjudul; Integritas Sosial Suku Bangsa Batak Mandailing dengan Minangkabau menulis, bahwa nama Buayan yang dilekatkan kepada nagari tersebut diambilkan dari sebelum kampung itu diolah sebagai pemukiman, yakni berupa rawa yang kalau dinjak akan bergerak dan bergelombang, sehingga yang menginjaknya rasa berbuai diatasnya. Lama kelamaan, sebutan itu menjadi Buayan.
Berada di jalur Padang-Bukittinggi, Buayan ini luasnya mencapai 6.900 hektare, dengan rinciannya; areal persahawan 2.900 hektare, perkebunan; 2.030 hektare, dan untuk wilayah pemukiman seluas 1.9790 hektare. Data tahun 2000 yang dicatat Fitri Eriyanti, jumlah masyarakatnya mencapai 3.771 jiwa, yang terdiri dari Suku Batak Mandailing sebanyak 1.271 jiwa, dan Minangkabau sebanyak 1.000 jiwa. Dengan ini, mayoritas penduduknya adalah keturunan Batak.
Menurut Datuak Rajo Sutan Paruhuman, meskipun di Buayan berlaku sistem Patrilinial, yakni harta pusaka diturunkan kepada anak, sistim Matrilian, sebagaimana yang lazim di Minangkabau juga diberlakukan disini. Namun, secara umumnya tentu Patrilinial. "Lubuak Aluang baparuik panjang, Buayan pabaga bulek. Artinya, Buayan tetap berinduk ke Lubuak Aluang secara adat umumnya, tetapi gantiang putuih, biang tabuak juga berlaku di Buayan. Seperti dalam soal pusaka, itu sudah diberikan wewenang penuh oleh niniak mamak Lubuak Aluang untuk mengurisinya," kata dia.
Semasa pemerintahan nagari diberlakukan di Padang Pariaman sejak 2002 silam, Buayan masih tetap dalam status desa. Barulah tahun 2010, bersama dengan Nagari Pungguang Kasiak, Aie Tajun, Sikabu, Pasie Laweh, Buayan menjadi nagari otonom, yang setara dengan nagari lainnya di daerah tersebut. Kini, nagari itu dipimpin oleh seorang anak muda. Deni Setiawan namanya. Ketua Bamus-nya juga anak muda, Januar Bakri yang saat ini juga menjabat sebagai Ketua Komisi III DPRD Padang Pariaman. Anak muda aktivis ini berhasil jadi anggota tahun 2009 silam dari Partai Demokrat. Untuk Pemilu yang akan datang, dia maju lagi, bahkan caleg nomor satu di Dapil IV Padang Pariaman. Sedangkan, Nasrul Yusuf Datuak Rajo Sutan Paruhuman diamanahi memegang jabatan Ketua LAN, yang kekuasaannya tetap berada dibawah KAN Lubuak Aluang.
Dengan adanya campuran masyarakat antara Batak dan Minangkabau itu pula, seringnya terjadi kawin campuran di Buayan, sehingga tercipta suasana yang heterogen. Masyarakatnya cepat menangkap perkembangan demi perkembangan yang ada. Sebagaimana masyarakat Padang Pariaman lainnya, di Buayan pun berkembang dua aliran keagamaan, yang dalam kampung itu disebut dengan kaum maju dan kaum kuno. Atau sebagian ikut Muhammadiyah dan sekelompok yang lain ikut Ahlussunnah wal jamaah (Aswaja). Itu disimbolkan pula dengan dua masjid yang aktif ditengah masyarakat Buayan. Aswaja kampung itu menganut Tariqat Naqsabandiyah, seperti yang banyak ditemukan di daerah Tapanuli, tempat berasal masyarakat asli Buayan demikian. (damanhuri)
Buayan---Meskipun berada dibawah pemerintahan Kecamatan Batang Anai, Nagari Buayan merupakan pemekaran dari induknya, Nagari Lubuak Aluang. Dan ini dibunyikan dengan jelas; Nagari Buayan Lubuak Aluang. Menurut sejarahnya, Buayan itu mulai dihuni sekitar tahun 1789 M. Pertama kali kampung itu didiami oleh masyarakat yang datang dari Tapanuli Selatan, Padang Sidempuan yang waktu itu ada lima suku yang datang; Batu Bara, Harahap, Lubis, Siregar, dan Harahan.
Dengan ini, maka lima pula panghulu dalam nagari demikian. Batu Bara dengan panghulunya; Datuak Rajo Lelo, Harahap; Datuak Rajo Manih, Lubis; Datuak Manambin, Harahan; Datuak Rajo Mambang, dan Siregar dengan Datuak Sutan Paruhuman. Pada 1819 para panghulu ini meminta secara adat ke niniak mamak Lubuak Aluang untuk berdiri sendiri, karena berlainan adat yang selama ini terpakai di Minangkabau. Tentu adat diisi, limbago dituang. Permintaan itu dikabulkan secara tertulis, yang disebut dengan Trakat 17 April 1819, yang hingga kini dan sampai kapanpun masih dijadikan pedoman oleh masyarakat Buayan dan Lubuak Aluang dalam menata dan mengembangkan adat salingka nagari.
Datuak Rajo Sutan Paruhuman yang saat ini dipegang oleh Nasrul Yusuf ketika bersua dengan Singgalang menceritakan panjang lebar asal usul masyarakat Buayan demikian. Dalam panghulu Suku Siregar, bapak ini sudah generasi yang ke-6. Disamping bercerita, dia memberikan sejumlah dokumen penting yang menulis riwayat Buayan tersebut. Saat ini Buayan membawahi lima korong, masing-masing; Korong Padang Kunik, Kapalo Buayan, Kampuang Tangah, Simpang, dan Korong Titian Aka.
Fitri Eriyanti, dalam tesisnya yang berjudul; Integritas Sosial Suku Bangsa Batak Mandailing dengan Minangkabau menulis, bahwa nama Buayan yang dilekatkan kepada nagari tersebut diambilkan dari sebelum kampung itu diolah sebagai pemukiman, yakni berupa rawa yang kalau dinjak akan bergerak dan bergelombang, sehingga yang menginjaknya rasa berbuai diatasnya. Lama kelamaan, sebutan itu menjadi Buayan.
Berada di jalur Padang-Bukittinggi, Buayan ini luasnya mencapai 6.900 hektare, dengan rinciannya; areal persahawan 2.900 hektare, perkebunan; 2.030 hektare, dan untuk wilayah pemukiman seluas 1.9790 hektare. Data tahun 2000 yang dicatat Fitri Eriyanti, jumlah masyarakatnya mencapai 3.771 jiwa, yang terdiri dari Suku Batak Mandailing sebanyak 1.271 jiwa, dan Minangkabau sebanyak 1.000 jiwa. Dengan ini, mayoritas penduduknya adalah keturunan Batak.
Menurut Datuak Rajo Sutan Paruhuman, meskipun di Buayan berlaku sistem Patrilinial, yakni harta pusaka diturunkan kepada anak, sistim Matrilian, sebagaimana yang lazim di Minangkabau juga diberlakukan disini. Namun, secara umumnya tentu Patrilinial. "Lubuak Aluang baparuik panjang, Buayan pabaga bulek. Artinya, Buayan tetap berinduk ke Lubuak Aluang secara adat umumnya, tetapi gantiang putuih, biang tabuak juga berlaku di Buayan. Seperti dalam soal pusaka, itu sudah diberikan wewenang penuh oleh niniak mamak Lubuak Aluang untuk mengurisinya," kata dia.
Semasa pemerintahan nagari diberlakukan di Padang Pariaman sejak 2002 silam, Buayan masih tetap dalam status desa. Barulah tahun 2010, bersama dengan Nagari Pungguang Kasiak, Aie Tajun, Sikabu, Pasie Laweh, Buayan menjadi nagari otonom, yang setara dengan nagari lainnya di daerah tersebut. Kini, nagari itu dipimpin oleh seorang anak muda. Deni Setiawan namanya. Ketua Bamus-nya juga anak muda, Januar Bakri yang saat ini juga menjabat sebagai Ketua Komisi III DPRD Padang Pariaman. Anak muda aktivis ini berhasil jadi anggota tahun 2009 silam dari Partai Demokrat. Untuk Pemilu yang akan datang, dia maju lagi, bahkan caleg nomor satu di Dapil IV Padang Pariaman. Sedangkan, Nasrul Yusuf Datuak Rajo Sutan Paruhuman diamanahi memegang jabatan Ketua LAN, yang kekuasaannya tetap berada dibawah KAN Lubuak Aluang.
Dengan adanya campuran masyarakat antara Batak dan Minangkabau itu pula, seringnya terjadi kawin campuran di Buayan, sehingga tercipta suasana yang heterogen. Masyarakatnya cepat menangkap perkembangan demi perkembangan yang ada. Sebagaimana masyarakat Padang Pariaman lainnya, di Buayan pun berkembang dua aliran keagamaan, yang dalam kampung itu disebut dengan kaum maju dan kaum kuno. Atau sebagian ikut Muhammadiyah dan sekelompok yang lain ikut Ahlussunnah wal jamaah (Aswaja). Itu disimbolkan pula dengan dua masjid yang aktif ditengah masyarakat Buayan. Aswaja kampung itu menganut Tariqat Naqsabandiyah, seperti yang banyak ditemukan di daerah Tapanuli, tempat berasal masyarakat asli Buayan demikian. (damanhuri)
Yanti Bergantung Pada Mesin Jahit Pinjaman
Yanti Bergantung Pada Mesin Jahit Pinjaman
Batang Anai---Herma Yanti mengayuh biduk kehidupan sendirian. Janda dengan seorang anak ini disamping membiayai anaknya, dia bekerja untuk menghidupi ibunya yang juga janda ditinggal wafat suaminya. Tiap hari dia menjahit pakaian wanita dan kebutuhan lainnya, seperti kain untuk gorden pintu rumah. Pekerjaan itu dilakoninya sejak suaminya meninggal dunia beberapa tahun yang lalu. Ditengah cacat kakinya, dia kuatkan juga untuk bekerja demi sesuap nasi yang akan dinikmati oleh anak dan ibu kandungnya.
Yang memeriskan itu, mesin jahit yang dipakai Herma Yanti pinjaman pula dari tetangganya yang merasa iba melihatnya. Upahan jahitan pun kadang-kadang ada, kadang kosong. Perempuan yang tinggal di Korong Tanjuang Basuang I, Nagari Sungai Buluah, Kecamatan Batang Anai, Padang Pariaman ini juga terbilang seorang ibu yang cacat. Kakinya sakit, dan terpaksa pakai sebilah tongkat ketika berjalan. Namun, semangat hidupnya sangat kuat.
Kamis kemarin, Singgalang bersama anggota DPRD Padang Pariaman, Januar Bakri mendatangi rumah ibuk itu. Tampak dia menjahit tertatih-tatih. Baginya pekerjaan demikian sebagai usaha untuk melanjutkan kehidupan. Sempat sajalah tak ada orang yang mengupahkan jahitan kepadanya, maka tak bisa pula dia berkeluarga makan. Artinya, tidak akan berasap dapurnya, manakala jahitan tidak masuk dari orang lain.
Sebagai mesin jahit pinjaman, tentu Herma Yanti tidak bisa pula berbuat banyak. Paling tidak, dia tentu mengeluarkan pula biaya kepada yang punya sebagai perawatannya. Dia mengaku, pekerjaan menjahit didapatkan sejak dia masih gadis. Dan kepadaian ini dikembangkannya kembali, setelah tempat bergantungnya yang sudah tiada. "Alhamdulillah, ada-ada saja yang menjahit pakaiannya kesini. Kadang menjahit kain untuk gorden pintu rumah orang. Tetapi, sejak kaki sakit ini, tak bisa menjalankan jahitan terlalu banyak," kata dia.
Dalam kondisi demikian, Herma Yanti ingin punya usaha jahitan yang gadang. Artinya, paling tidak punya mesin sendiri. Untuk ini, dia sangat mengharapkan bantuan uluran tangan dari berbagai pihak dalam melanjutkan kehidupan rumah tangganya itu. Kalau masih mengandalkan mesin orang lain, tentu tak banyak keuntungan yang bisa dia dapatkan.
Selaku anggota dewan terhormat di daerah pemilihan itu, Januar Bakri yang juga caleg DPRD Padang Pariaman dengan nomor urut satu merasa terenyuh melihatnya. Politisi Demokrat ini mencoba mencarikan jalan keluar dari kesulitan yang dihadapi Herma Yanti kepada Pemkab Padang Pariaman, dan jaringan lainnya yang diketahuinya.
"Kita usahakan dalam waktu dekat ini, apa yang menjadi kebutuhan ibuk itu bisa diatasi. Apalagi, beban hidupnya terlalu banyak ditanggungnya dalam rumah tersebut. Patut diberikan bantuan, sehingga dia bisa pula bersaing dengan ibu rumah tangga lainnya di kampung itu," ungkap Januar Bakri. (damanhuri)
Batang Anai---Herma Yanti mengayuh biduk kehidupan sendirian. Janda dengan seorang anak ini disamping membiayai anaknya, dia bekerja untuk menghidupi ibunya yang juga janda ditinggal wafat suaminya. Tiap hari dia menjahit pakaian wanita dan kebutuhan lainnya, seperti kain untuk gorden pintu rumah. Pekerjaan itu dilakoninya sejak suaminya meninggal dunia beberapa tahun yang lalu. Ditengah cacat kakinya, dia kuatkan juga untuk bekerja demi sesuap nasi yang akan dinikmati oleh anak dan ibu kandungnya.
Yang memeriskan itu, mesin jahit yang dipakai Herma Yanti pinjaman pula dari tetangganya yang merasa iba melihatnya. Upahan jahitan pun kadang-kadang ada, kadang kosong. Perempuan yang tinggal di Korong Tanjuang Basuang I, Nagari Sungai Buluah, Kecamatan Batang Anai, Padang Pariaman ini juga terbilang seorang ibu yang cacat. Kakinya sakit, dan terpaksa pakai sebilah tongkat ketika berjalan. Namun, semangat hidupnya sangat kuat.
Kamis kemarin, Singgalang bersama anggota DPRD Padang Pariaman, Januar Bakri mendatangi rumah ibuk itu. Tampak dia menjahit tertatih-tatih. Baginya pekerjaan demikian sebagai usaha untuk melanjutkan kehidupan. Sempat sajalah tak ada orang yang mengupahkan jahitan kepadanya, maka tak bisa pula dia berkeluarga makan. Artinya, tidak akan berasap dapurnya, manakala jahitan tidak masuk dari orang lain.
Sebagai mesin jahit pinjaman, tentu Herma Yanti tidak bisa pula berbuat banyak. Paling tidak, dia tentu mengeluarkan pula biaya kepada yang punya sebagai perawatannya. Dia mengaku, pekerjaan menjahit didapatkan sejak dia masih gadis. Dan kepadaian ini dikembangkannya kembali, setelah tempat bergantungnya yang sudah tiada. "Alhamdulillah, ada-ada saja yang menjahit pakaiannya kesini. Kadang menjahit kain untuk gorden pintu rumah orang. Tetapi, sejak kaki sakit ini, tak bisa menjalankan jahitan terlalu banyak," kata dia.
Dalam kondisi demikian, Herma Yanti ingin punya usaha jahitan yang gadang. Artinya, paling tidak punya mesin sendiri. Untuk ini, dia sangat mengharapkan bantuan uluran tangan dari berbagai pihak dalam melanjutkan kehidupan rumah tangganya itu. Kalau masih mengandalkan mesin orang lain, tentu tak banyak keuntungan yang bisa dia dapatkan.
Selaku anggota dewan terhormat di daerah pemilihan itu, Januar Bakri yang juga caleg DPRD Padang Pariaman dengan nomor urut satu merasa terenyuh melihatnya. Politisi Demokrat ini mencoba mencarikan jalan keluar dari kesulitan yang dihadapi Herma Yanti kepada Pemkab Padang Pariaman, dan jaringan lainnya yang diketahuinya.
"Kita usahakan dalam waktu dekat ini, apa yang menjadi kebutuhan ibuk itu bisa diatasi. Apalagi, beban hidupnya terlalu banyak ditanggungnya dalam rumah tersebut. Patut diberikan bantuan, sehingga dia bisa pula bersaing dengan ibu rumah tangga lainnya di kampung itu," ungkap Januar Bakri. (damanhuri)
Sabtu, 07 September 2013
Diambil Dengan Sakral Tonggak Macu Masjid Bagian yang Paling Penting
Diambil Dengan Sakral
Tonggak Macu Masjid Bagian yang Paling Penting
Patamuan---Pagi itu bau asap kemenyan menyeruak, seolah-olah menyungkup kampung. Puluhan masyarakat berkumpul di sebuah pohon kayu besar. Lalu seorang orang siak membaca doa. Didepan mereka terletak sejumlah pekakas tukang, dan seekor ayam yang akan disembelih sehabis mendoa.
Demikian secercah tradisi untuk menebang kayu besar yang akan dijadikan sebagai tonggak macu Masjid Raya Sungai Durian, Kecamatan Patamuan, Kabupaten Padang Pariaman. Usai mendoa, ayam disembelih lalu darahnya diserakkan pada bagian Barat pohon kayu yang akan ditebang tersebut.
Sebelum kayu itu akan dipakai untuk tonggak macu, terlebih dulu di patuik-patuik oleh yang ahli dibidangnya. Untuk kecamatan itu Abu Kasin namanya. Bapak tua ini terkenal lihai dalam soal tonggak tuo, nama lain tonggak macu yang akan dipakai di masjid dan surau. Tak heran, setiap kali ada surau ataupun masjid yang akan menukar tonggak tersebut, selalu Abu Kasin yang dipanggil.
Bustanul Arifin Khatib Bandaro, khatib dalam nagari itu menyebutkan kalau prosesi pengambilan kayu tonggak macu termasuk bagian yang sangat sakral ditengah masyarakat. Hampir dipastikan, setiap masjid perkampungan di Padang Pariaman pakai prosesi ini. Pohon kayu ditanam ataupun tidak, jelas punya kesaktian. Dan dengan ini pula perlu dimintakan doa sepatah duanya kepada Yang Maha Kuasa, agar diberikan kemudahan dalam menebangnya.
Ada istilah yang cukup memasyarakat di daerah itu. Tonggak macu, tonggak musajik, katigo tonggak balai-balai. Biar anak tuanku ataupun anak khatib, kalau tak belajar tak akan pandai sendiri. Artinya, tonggak macu adalah kekuatan masjid. Kalau masjid dalam kampung tak pakai tonggak ini, akan menjadi pertanyaan besar.
"Masjid Raya Sungai Durian ini direhab. Dimana bagiannya dipertinggi, sehingga butuh tambahan tonggak macu. Sebab, tonggak yang lama terlalu rendah, sekaitan adanya penambahan tinggi masjid tersebut," kata dia saat melakukan pengambilan kayu itu, Kamis lalu.
Kayu itu cukup besar. Bukan tonggak macu namanya, kalau bukan gadang kayunya. Dengan itu, sehari penuh habis waktu menebang dan membawanya ke masjid. "Untungnya, kayu madang yang ditebang ini tak jauh dari lokasi masjid yang akan diganti tonggak macunya itu. Biasanya, sebagian masyarakat lain kalau mencari kayu macu itu jauh-jauh. Sampai ke Malalak, Kabupaten Agam bagai," ujarnya.
Senin kemarin, Bupati Padang Pariaman, H. Ali Mukhni sengaja datang ke kampung itu melihat kegiatan goro bersama masyarakat di masjid ini. Bupati Ali Mukhni didaulat masyarakat untuk mangarek kayu yang akan dijadikan tonggak maju tersebut.
Bupati pilihan masyarakat pada 2010 ini memberikan apresiasi kepada masyarakat Sungai Durian karena tingginya semangat gotong royong. Apalagi untuk pembangunan kembali masjid yang jadi kebanggaan masyarakat selama ini. (damanhuri)
Tonggak Macu Masjid Bagian yang Paling Penting
Patamuan---Pagi itu bau asap kemenyan menyeruak, seolah-olah menyungkup kampung. Puluhan masyarakat berkumpul di sebuah pohon kayu besar. Lalu seorang orang siak membaca doa. Didepan mereka terletak sejumlah pekakas tukang, dan seekor ayam yang akan disembelih sehabis mendoa.
Demikian secercah tradisi untuk menebang kayu besar yang akan dijadikan sebagai tonggak macu Masjid Raya Sungai Durian, Kecamatan Patamuan, Kabupaten Padang Pariaman. Usai mendoa, ayam disembelih lalu darahnya diserakkan pada bagian Barat pohon kayu yang akan ditebang tersebut.
Sebelum kayu itu akan dipakai untuk tonggak macu, terlebih dulu di patuik-patuik oleh yang ahli dibidangnya. Untuk kecamatan itu Abu Kasin namanya. Bapak tua ini terkenal lihai dalam soal tonggak tuo, nama lain tonggak macu yang akan dipakai di masjid dan surau. Tak heran, setiap kali ada surau ataupun masjid yang akan menukar tonggak tersebut, selalu Abu Kasin yang dipanggil.
Bustanul Arifin Khatib Bandaro, khatib dalam nagari itu menyebutkan kalau prosesi pengambilan kayu tonggak macu termasuk bagian yang sangat sakral ditengah masyarakat. Hampir dipastikan, setiap masjid perkampungan di Padang Pariaman pakai prosesi ini. Pohon kayu ditanam ataupun tidak, jelas punya kesaktian. Dan dengan ini pula perlu dimintakan doa sepatah duanya kepada Yang Maha Kuasa, agar diberikan kemudahan dalam menebangnya.
Ada istilah yang cukup memasyarakat di daerah itu. Tonggak macu, tonggak musajik, katigo tonggak balai-balai. Biar anak tuanku ataupun anak khatib, kalau tak belajar tak akan pandai sendiri. Artinya, tonggak macu adalah kekuatan masjid. Kalau masjid dalam kampung tak pakai tonggak ini, akan menjadi pertanyaan besar.
"Masjid Raya Sungai Durian ini direhab. Dimana bagiannya dipertinggi, sehingga butuh tambahan tonggak macu. Sebab, tonggak yang lama terlalu rendah, sekaitan adanya penambahan tinggi masjid tersebut," kata dia saat melakukan pengambilan kayu itu, Kamis lalu.
Kayu itu cukup besar. Bukan tonggak macu namanya, kalau bukan gadang kayunya. Dengan itu, sehari penuh habis waktu menebang dan membawanya ke masjid. "Untungnya, kayu madang yang ditebang ini tak jauh dari lokasi masjid yang akan diganti tonggak macunya itu. Biasanya, sebagian masyarakat lain kalau mencari kayu macu itu jauh-jauh. Sampai ke Malalak, Kabupaten Agam bagai," ujarnya.
Senin kemarin, Bupati Padang Pariaman, H. Ali Mukhni sengaja datang ke kampung itu melihat kegiatan goro bersama masyarakat di masjid ini. Bupati Ali Mukhni didaulat masyarakat untuk mangarek kayu yang akan dijadikan tonggak maju tersebut.
Bupati pilihan masyarakat pada 2010 ini memberikan apresiasi kepada masyarakat Sungai Durian karena tingginya semangat gotong royong. Apalagi untuk pembangunan kembali masjid yang jadi kebanggaan masyarakat selama ini. (damanhuri)
Langganan:
Postingan (Atom)

