Malamang Untuk Mengaji ka Puaso Itu
Pariaman---Sejak semalam kemarin, Mariani sibuk menyiapkan lamang. Karena malam ini dia mengadakan tradisi mengaji ka puaso dirumahnya sendiri. Lamang yang dia masak sejak pagi kemarin, rupanya harus dipersiapkan sejak malamnya, sehingga pagi tinggal lagi memasaknya dengan api yang dipajang disamping rumahnya.
Ditemani sejumlah tetangga dan dunsanaknya, tampak Mariani sangat serius dengan pembuatan lamang demikian. Baginya, dan masyarakat perkampung Padang Pariaman lainnya, sebulan menjelang puasa masuk, adalah tradisi mengaji ka puaso, dimana hal itu hampir dilakukan disetiap rumah penduduk. Tak heran, bulan Sya'ban saat ini, di Piaman dinamakan dengan 'bulan lamang'. Rupanya, ibu yang berusia sekitar 64 tahun itu selalu membuat acara tersebut di rumahnya, Lapau Kandang, Nagari Ulakan, Kecamatan Ulakan Tapakis.
Bagi dia, terasa asing kalau tidak diadakan mengaji diatas rumah menjelang bulan puasa masuk. "Menurut yang tua-tua dulunya, tanah yang kita pakai saat ini adalah hasil kerja keras orangtua, dimana yang bersangkutan telah mendahului kita. Untuk itu, kita merasa berkewajiban mendoakannya, agar dia selalu bersenang-senang ditempatnya," ujar Mariani.
"Lamang yang dimasak hari ini, disamping disuguhkan dalam suasana mengaji bersama urang siak, juga diperuntukkan buat ipar bisan, andan-pasumandan, dan karib-kerabat lainnya, yang dianggap punya hubungan dengan kita. Lamang ini adalah beras pulut yang diberi santan kelapa, lalu dikasih bumbu lainnya, lalu dimasukkan kedalam buluah, dan dimasak sampai matang. Biasanya, sampai matang itu akan memakan waktu yang cukup panjang. Ada agak setengah hari lamanya," ceritanya.
Menurut Mariani, dia mendapat giliran terakhir untuk mengaji ka puaso tahun ini. Dikampungnya itu rumah cukup banyak. Urang siak yang terdiri dari labai, khatib, imam, dan lainnya selalu tiap malam mengaji di rumah masyarakat. Batas terakhirnya, adalah pada saat malam orang melihat bulan. Setelah itu tidak adalagi mengaji ka puaso, karena sudah berada dalam bulan puasa. "Setahu ambo, dulu urang siak tu bisa mengaji pada tiga sampai lima rumah setiap malamnya. Sekarang telah berkurang, karena orang yang pandai membuat lamang semakin banyak yang meninggal dunia, dan kepandaian membuat lamang tersebut tak tersalurkan kepada generasi saat ini," ungkapnya.
Katanya lagi, lamang harus dimasak secara tradisional. Tukang masaknya harus banyak sabar, dan sungguh dalam memasak. Kalau saja tidak demikian, maka lamang yang dimasak akan rusak sendirinya. Seperti rasanya yang kurang lamak, dan lain sebagainya. Bagi Mariani dan ibuk-ibuk lainnya di Piaman, membuat lamang untuk keperluan mengaji ka puaso adalah bagian tradisi dan budaya yang sudah didapatkannya dari orangtuanya zaman saisuak.
Menurut banyak pihak didaerah itu, tradisi malamang dilakukan oleh masyarakat, disamping sebulan menjelang puasa masuk, juga selama bulan maulid, dan mengaji pada saat adanya peristiwa kematian diatas rumah masyarakat, yang dimulai pada peringatan tiga hari, hingga 100 hari meninggal. Peristiwa membuat lamang itu erat pula kaitannya dengan pengembangan Islam yang dilakukan oleh Syekh Burhanuddin dulunya, dimana sebelum itu masih kuat pengaruh Hindu dan Budha ditengah masyarakat.
Seperti diketahui, dalam mengajak orang beragama, Syekh Burhanuddin banyak memakai jalur tradisi yang berkembang sebelum dia datang. Nah, supaya makanan yang disuguhkan tidak bercampur dengan makanan masyarakat, yang kala itu masih bercampur antara yang halal dengan yang haram, maka Syekh Burhanuddin mau makan, apabila makanannya dimasak lewat buluah. Itulah yang dinamakan dengan lamang. Akhirnya, tradisi itu berkembang sampai sekarang. Kini, ditengah era globalisasi, tradisi malamang sedikit mulai tergerus, karena tidak ditopang oleh berbagai motivasi. Hal itu tumbuh sendiri, yang pada akhirnya bisa hilang dengan sendirinya pula. (damanhuri)
Selasa, 07 Agustus 2012
Sudah 20 Tahun Kundua Mengidap Penyakit
Sudah 20 Tahun Kundua Mengidap Penyakit
Nan Sabaris---Mawardi (38) menderita penyakit bintik-bintik disekujur tubuhnya. Penyakit itu dideritanya sejak 20 tahun yang silam. Hingga kini, bintik-bintik bagaikan bisul yang menyatu dengan kulitnya itu tak sembuh-sembuh. Seiring dengan itu, badannya semakin mengecil. Untuk mengantisipasinya, seminggu sekali dia datang ke Puskesmas Pauh Kambar, di Pinang Gadang, Kecamatan Nan Sabaris, Padang Pariaman untuk mendapatkan obat gratis.
Anak nomor satu dari delapan bersaudara, buah hati dari pasangan Nurdeli dengan Syafruddin Teja ini mengaku hanya mampu berobat ke Puskesmas. Pihak Puskesmas telah berkali-kali menyuruhnya untuk berobat ke dokter spesialis kulit. Namun, apa hendak dikata kedua orangtuanya tak punya banyak pitih. Dia pun tak punya pekerjaan, sejak pulang dari Medan setahun yang lalu.
Menurut Kundua, begitu putra lajang ini akrap disapa, penyakit itu mulai tumbuh dipangkal pahanya. Setiap hari bintik-bintik itu semakin banyak, dan kini seluruh badannya telah dipenuhi oleh hal demikian. "Anehnya, bengkakkannya terasa keras bagaikan kulit. Tidak gatal-gatal. Tumbuh hanya dibagian kulit yang tidak ditumbuhi rambut. Pertamakali tumbuhnya, saat saya masih tinggal di Medan. Karena banyak orang yang merasa kasihan melihatnya, lalu saya disuruh pulang kampung," ujar dia saat ditemui dirumah orangtuanya, Korong Kampuang Tangah, Nagari Padang Bintungan, Kecamatan Nan Sabaris.
Dan sejak penyakit itu pula, Kundua sering mengalami sesak nafas. Dia tidak kuat untuk berjalan jauh. 100 meter saja berjalan, itu terasa berat dan letih. "Pernah beberapa kali saya berhenti meminta obat, lantaran tidak ada ongkos ojek ke Puskesmas. Sedangkan berjalan tak kuat pula, karena sesak nafas tersebut," ujarnya.
Orangtuanya yang hanya sebagai petani kampung sama sekali tak kuat untuk membiayai pengobatan anak sulungnya itu. Dari sebanyak itu dia beradik kakak, hanya seorang yang tamat SMA, yaitu adiknya yang nomor dua. Selebihnya, termasuk Kundua itu sendiri tak tamat SD, dan malah ada yang tidak bersekolah sama sekali. Kini, Kundua kehidupannya hanya dari lapau-kelapau. Waktu sedang ada keberuntungan, ada orang yang iba melihatnya, dikasihlah duit, dibayarkan minumannya di lapau kopi.
Karena penyakit kulit yang disertai sesak nafas itulah Kundua tak kuat pula untuk menolong orangtuanya turun ke sawah. Hatinya ingin sekali bekerja, seperti yang pernah dia kerjakan dirantau, Medan dulu. Tapi apa hendak dikata. Kekuatannya untuk bekerja keras itu benar yang tak bisa. Dia merasa senang, ketika ada orang lain mengasihnya makan, minum, uang dan pakaian. Apalagi, dikampung itu ada tempat ziarah, yang sewaktu-waktu banyak orang lain yang datang kekampung itu melakukan ziarah.
"Awak ingin bana cegak. Berobat ke dokter spesialis kulit seperti yang disuruh oleh bidan Puskesmas itu. Ingin kulit awak ini bersih, tanpa adanya bintik-bintik seperti bagaikan dilahirkan dulu. Awak pun tak tahu persis, apa namanya penyakit yang awak tanggung ini. Aneknya, penyakit itu tidak menular kekeluarga lainnya. Hanya awak yang mengidap penyakit ini. Amak jo Abak dan semua adik-adiknya biasa-biasa saja kulitnya," ungkapnya sedih. (damanhuri)
Nan Sabaris---Mawardi (38) menderita penyakit bintik-bintik disekujur tubuhnya. Penyakit itu dideritanya sejak 20 tahun yang silam. Hingga kini, bintik-bintik bagaikan bisul yang menyatu dengan kulitnya itu tak sembuh-sembuh. Seiring dengan itu, badannya semakin mengecil. Untuk mengantisipasinya, seminggu sekali dia datang ke Puskesmas Pauh Kambar, di Pinang Gadang, Kecamatan Nan Sabaris, Padang Pariaman untuk mendapatkan obat gratis.
Anak nomor satu dari delapan bersaudara, buah hati dari pasangan Nurdeli dengan Syafruddin Teja ini mengaku hanya mampu berobat ke Puskesmas. Pihak Puskesmas telah berkali-kali menyuruhnya untuk berobat ke dokter spesialis kulit. Namun, apa hendak dikata kedua orangtuanya tak punya banyak pitih. Dia pun tak punya pekerjaan, sejak pulang dari Medan setahun yang lalu.
Menurut Kundua, begitu putra lajang ini akrap disapa, penyakit itu mulai tumbuh dipangkal pahanya. Setiap hari bintik-bintik itu semakin banyak, dan kini seluruh badannya telah dipenuhi oleh hal demikian. "Anehnya, bengkakkannya terasa keras bagaikan kulit. Tidak gatal-gatal. Tumbuh hanya dibagian kulit yang tidak ditumbuhi rambut. Pertamakali tumbuhnya, saat saya masih tinggal di Medan. Karena banyak orang yang merasa kasihan melihatnya, lalu saya disuruh pulang kampung," ujar dia saat ditemui dirumah orangtuanya, Korong Kampuang Tangah, Nagari Padang Bintungan, Kecamatan Nan Sabaris.
Dan sejak penyakit itu pula, Kundua sering mengalami sesak nafas. Dia tidak kuat untuk berjalan jauh. 100 meter saja berjalan, itu terasa berat dan letih. "Pernah beberapa kali saya berhenti meminta obat, lantaran tidak ada ongkos ojek ke Puskesmas. Sedangkan berjalan tak kuat pula, karena sesak nafas tersebut," ujarnya.
Orangtuanya yang hanya sebagai petani kampung sama sekali tak kuat untuk membiayai pengobatan anak sulungnya itu. Dari sebanyak itu dia beradik kakak, hanya seorang yang tamat SMA, yaitu adiknya yang nomor dua. Selebihnya, termasuk Kundua itu sendiri tak tamat SD, dan malah ada yang tidak bersekolah sama sekali. Kini, Kundua kehidupannya hanya dari lapau-kelapau. Waktu sedang ada keberuntungan, ada orang yang iba melihatnya, dikasihlah duit, dibayarkan minumannya di lapau kopi.
Karena penyakit kulit yang disertai sesak nafas itulah Kundua tak kuat pula untuk menolong orangtuanya turun ke sawah. Hatinya ingin sekali bekerja, seperti yang pernah dia kerjakan dirantau, Medan dulu. Tapi apa hendak dikata. Kekuatannya untuk bekerja keras itu benar yang tak bisa. Dia merasa senang, ketika ada orang lain mengasihnya makan, minum, uang dan pakaian. Apalagi, dikampung itu ada tempat ziarah, yang sewaktu-waktu banyak orang lain yang datang kekampung itu melakukan ziarah.
"Awak ingin bana cegak. Berobat ke dokter spesialis kulit seperti yang disuruh oleh bidan Puskesmas itu. Ingin kulit awak ini bersih, tanpa adanya bintik-bintik seperti bagaikan dilahirkan dulu. Awak pun tak tahu persis, apa namanya penyakit yang awak tanggung ini. Aneknya, penyakit itu tidak menular kekeluarga lainnya. Hanya awak yang mengidap penyakit ini. Amak jo Abak dan semua adik-adiknya biasa-biasa saja kulitnya," ungkapnya sedih. (damanhuri)
Masjid Raya Ampek Lingkuang, Sejarah Nagari Lubuk Alung
Masjid Raya Ampek Lingkuang, Sejarah Nagari Lubuk Alung
Lubuk Alung---Masjid Raya Ampek Lingkuang merupakan masjid tertua di Lubuk Alung. Dibuat pertama kali pada 1415 M. Berdiri dilokasi perempatan empat sudut kampung sejarah dari Lubuk Alung itu sendiri. Dinamakan Ampek Lingkuang, karena empat kampung, masing-masing Koto Buruak, Singguliang, Sungai Abang dan Balah Hilia yang punya masjid itu. Jadi, boleh dikatakan, bahwa Masjid Raya Ampek Lingkuang adalah sejarah berdirinya Lubuk Alung, yang dimulai dari empat kampung tersebut.
Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Lubuk Alung, Suharman Datuak Pado Basa menilai masjid itu belum pernah direnovasi total. Kecuali diperbaiki disana-sininya. Arsitektur bangunannya tetap utuh seperti pada awal dibangun dulunya. Di masjid itulah tempat dipadukannya kekuatan syarak dan adat dalam nagari. Segala keputusan syarak atau agama dan adat oleh basa barampek, pucuak baranam harus melalui sidang dan mufakat di masjid tersebut.
Sekaitan namanya Masjid Ampek Lingkuang, maka labai atau ulama yang memegang kekuasaan dibidang syarak dalam masjid itu juga berempat. Disebut juga 'labai lingkuang yang empat'. Setiap peristiwa penting yang berhubungan dengan persoalan agama ditengah masyarakat Lubuk Alung, seperti memulai dan mengakhiri bulan Ramadhan, seluruh labai yang bertugas di seluruh surau-surau harus tunduk dan patuh, serta berada dibawah kekuasaan labai yang berempat tersebut.
Pada zaman saisuak, masjid itu terbilang ramai oleh jamaah, terutama pada momen-momen tertentu yang sedang dibuat dalam masjid. Didepan masjid itulah dulunya Pasar Lubuk Alung, yang sekarang lokasi pasar lama itu telah beralih fungsi menjadi pandam pakuburan masyarakat Ampek Lingkuang. Di pusara itulah dikuburan masyarakat enam suku; Sikumbang, Jambak, Panyalai, Tanjung, Guci dan Suku Koto yang meninggal dunia.
Menurut Datuak Pado Basa, Lubuk Alung adalah kepunyaan dari masyarakat enam suku demikian. Dari suku itu pula niniak mamak nagari atau orang yang 10, yakni basa barampek, pucuak baraman berasalnya. Sebelum tahun 1900 M, rel kereta api telah dibangun. Dan setelah tahun itu pula pasar nagari yang tadinya didepan Masjid Ampek Lingkuang dipindahkan oleh orang yang 10 ke luar, tepatnya dekat rel kereta api. Dan disanalah pasar Nagari Lubuk Alung hingga sekarang. Lokasi pasar sekarang itu adalah ulayat Datuak Marajo.
Sebagai masjid kepunyaan orang dalam kampung yang empat tersebut, maka semua kampung itu diberikan kedudukan yang sama. Duduak samo randah, tagak samo tinggi. Masing-masing kampung punya peran dan fungsi tersendiri dalam masjid itu. Imam masjid diambilkan dari orang Singguliang, bilal, alias tukang azan berasal dari Sungai Abang. Sedangkan khatib alias tukang baca khutbah Jumat berasal dari Koto Buruak, dan Tuanku Khadi dari Balah Hilia.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Lubuk Alung, Zainal Tuanku Mudo menyebutkan pihaknya sering menggunakan masjid tertua itu sebagai tempat muzakarah ulama. Melakukan diskusi, membahas persoalan aktual yang sedang berkembang ditengah masyarakat. Acara itu dilakukan secara berkesinambungan sebulan sekali, atau kadang-kadang dua minggu sekali. Ada juga majelis taklim melakukan kegiatan rutinnya dalam masjid tersebut.
Setahu Zainal, dulu masjid itu hanya digunakan untuk shalat Jumat. Baru belakangan mulai dilakukan shalat Tarwih setiap malam bulan puasa, dan kegiatan lainnya. Tatacara praktek keagamaan dalam masjid itu masih tetap mempertahankan nilai-nilai tradisi awal masjid itu ada.
Artinya, azan untuk shalat Jumat dua kali, khutbah dengan bahasa Arab, menggelar kegiatan peringatan maulid secara tradisional. Semua kegiatan tersebut tetap dipegang teguh oleh orang yang punya peran dalam masjid tersebut. Namun, yang perlu jadi perhatian, adalah semakin berkurangnya jamaah yang melakukan shalat jumat, dikarenakan pertumbuhan dan perkembangan masyarakat. Dan lagi, masjid tidak hanya sebuah. Ada banyak masjid yang berdiri diluar Masjid Ampek Lingkuang dalam Nagari Lubuk Alung itu. (damanhuri)
Lubuk Alung---Masjid Raya Ampek Lingkuang merupakan masjid tertua di Lubuk Alung. Dibuat pertama kali pada 1415 M. Berdiri dilokasi perempatan empat sudut kampung sejarah dari Lubuk Alung itu sendiri. Dinamakan Ampek Lingkuang, karena empat kampung, masing-masing Koto Buruak, Singguliang, Sungai Abang dan Balah Hilia yang punya masjid itu. Jadi, boleh dikatakan, bahwa Masjid Raya Ampek Lingkuang adalah sejarah berdirinya Lubuk Alung, yang dimulai dari empat kampung tersebut.
Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Lubuk Alung, Suharman Datuak Pado Basa menilai masjid itu belum pernah direnovasi total. Kecuali diperbaiki disana-sininya. Arsitektur bangunannya tetap utuh seperti pada awal dibangun dulunya. Di masjid itulah tempat dipadukannya kekuatan syarak dan adat dalam nagari. Segala keputusan syarak atau agama dan adat oleh basa barampek, pucuak baranam harus melalui sidang dan mufakat di masjid tersebut.
Sekaitan namanya Masjid Ampek Lingkuang, maka labai atau ulama yang memegang kekuasaan dibidang syarak dalam masjid itu juga berempat. Disebut juga 'labai lingkuang yang empat'. Setiap peristiwa penting yang berhubungan dengan persoalan agama ditengah masyarakat Lubuk Alung, seperti memulai dan mengakhiri bulan Ramadhan, seluruh labai yang bertugas di seluruh surau-surau harus tunduk dan patuh, serta berada dibawah kekuasaan labai yang berempat tersebut.
Pada zaman saisuak, masjid itu terbilang ramai oleh jamaah, terutama pada momen-momen tertentu yang sedang dibuat dalam masjid. Didepan masjid itulah dulunya Pasar Lubuk Alung, yang sekarang lokasi pasar lama itu telah beralih fungsi menjadi pandam pakuburan masyarakat Ampek Lingkuang. Di pusara itulah dikuburan masyarakat enam suku; Sikumbang, Jambak, Panyalai, Tanjung, Guci dan Suku Koto yang meninggal dunia.
Menurut Datuak Pado Basa, Lubuk Alung adalah kepunyaan dari masyarakat enam suku demikian. Dari suku itu pula niniak mamak nagari atau orang yang 10, yakni basa barampek, pucuak baraman berasalnya. Sebelum tahun 1900 M, rel kereta api telah dibangun. Dan setelah tahun itu pula pasar nagari yang tadinya didepan Masjid Ampek Lingkuang dipindahkan oleh orang yang 10 ke luar, tepatnya dekat rel kereta api. Dan disanalah pasar Nagari Lubuk Alung hingga sekarang. Lokasi pasar sekarang itu adalah ulayat Datuak Marajo.
Sebagai masjid kepunyaan orang dalam kampung yang empat tersebut, maka semua kampung itu diberikan kedudukan yang sama. Duduak samo randah, tagak samo tinggi. Masing-masing kampung punya peran dan fungsi tersendiri dalam masjid itu. Imam masjid diambilkan dari orang Singguliang, bilal, alias tukang azan berasal dari Sungai Abang. Sedangkan khatib alias tukang baca khutbah Jumat berasal dari Koto Buruak, dan Tuanku Khadi dari Balah Hilia.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Lubuk Alung, Zainal Tuanku Mudo menyebutkan pihaknya sering menggunakan masjid tertua itu sebagai tempat muzakarah ulama. Melakukan diskusi, membahas persoalan aktual yang sedang berkembang ditengah masyarakat. Acara itu dilakukan secara berkesinambungan sebulan sekali, atau kadang-kadang dua minggu sekali. Ada juga majelis taklim melakukan kegiatan rutinnya dalam masjid tersebut.
Setahu Zainal, dulu masjid itu hanya digunakan untuk shalat Jumat. Baru belakangan mulai dilakukan shalat Tarwih setiap malam bulan puasa, dan kegiatan lainnya. Tatacara praktek keagamaan dalam masjid itu masih tetap mempertahankan nilai-nilai tradisi awal masjid itu ada.
Artinya, azan untuk shalat Jumat dua kali, khutbah dengan bahasa Arab, menggelar kegiatan peringatan maulid secara tradisional. Semua kegiatan tersebut tetap dipegang teguh oleh orang yang punya peran dalam masjid tersebut. Namun, yang perlu jadi perhatian, adalah semakin berkurangnya jamaah yang melakukan shalat jumat, dikarenakan pertumbuhan dan perkembangan masyarakat. Dan lagi, masjid tidak hanya sebuah. Ada banyak masjid yang berdiri diluar Masjid Ampek Lingkuang dalam Nagari Lubuk Alung itu. (damanhuri)
Memahami Karya Syekh Burhanuddin
Memahami Karya Syekh Burhanuddin
Pariaman---Banyak kisah menarik yang dituturkan oleh pengikutnya tentang kemampuan Syekh Burhanuddin berinteraksi dalam suatu pergaulan yang memuaskan semua lapisan masyarakat tanpa canggung. Pendekatan sosial yang diterapkan beliau sangat efektif bagi masyarakat yang memang sudah mengalami kemajuan berpikir yang baik dan memadai dengan adat dan budaya yang dimiliki setiap orang Minang.
Dia menyampaikan Islam secara perlahan-lahan dan mencari persesuaian antara norma-norma agama dengan kultur masyarakat. Gerakkannya dalam penobatan gelar setiap pemegang kekuasaan agama dalam masyarakat adalah bentuk nyata dari usaha beliau ke arah harmonisasi hubungan di dalam masyarakat, bahkan sampai sekarang kesan positifnya masih dirasakan.
Hasil dari gerakkan tersebut terlihat dari tumbuhnya ratusan ulama (imam, khatib, labai dan tuanku) yang akhirnya memberikan corak tersendiri bagi struktur budaya dan kultural, serta nuansa Islam di Minangkabau. Gerakkan ini sekaligus mendorong timbulnya beratus-ratus ribu surau, masjid dan rumah ibadah. Dan kemudian institusi ini menjadi cikal bakal dari lembaga pendidikan Islam dan kajian ke-Islaman lainnya di bawah pimpinan ulama. Hampir setiap Jorong, (sekarang dusun), Desa (dulu korong), dan Nagari memiliki surau berikut dengan ulama yang memimpinnya.
Paham dan Karya Syekh Burhanuddin
Seperti telah dijelaskan sebelumnya, jaringan intelektual Syekh Burhanuddin sejak dari guru pertamanya; Syekh Abdullah Arif (lebih populer dengan panggilan Syekh Madinah) di Tapakis Ulakan sampai belajar dengan Syekh Abdurrauf di Aceh masih berasal dari rumpun yang sama. Kedua guru ini sama-sama belajar dengan Syekh Ahmad Qusyasi di Madinah. Ulama Madinah ini merupakan tokoh yang menjadi sentral dalam jaringan Ulama Nusantara pada abad ke-17 dan ke-18 M. Sebab memalui Ahmad Qusyasilah para ulama nusantara menemukan warisan intelektual Islam Fiqh, Tafsîr, tak terkecuali juga tasawuf baik yang sudah melembaga menjadi tarekat, maupun yang masih menjadi anutan dari pribadi muslim.
Satu di antara murid Ahmad Qusyasi yang dikenal luas dalam jaringan ulama nusantara, adalah Abdurrauf al-Sinkili. Nama lengkapnya Amin al-Din Abdurrauf bin ‘Ali al-Jawi al-Fansuri al-Sinkili. Ia lahir diperkirakan sekitar tahun 1024/1615 M. disebuah kota kecil di pantai Barat pulau Sumatra. Ia berasal dari keluarga ulama, ayahnya Syekh al-Fansuri adalah seorang Arab yang mengawini seorang wanita setempat dari Fansur (Barus) dan bertempat tinggal di Singkil, di mana Abdurrauf dilahirkan.
Sistem dan pola pemikiran Syekh Burhanuddin tidak dapat ditunjukkan secara konkrit, karena tulisannya yang dapat dijadikan acuan tidak ditemukan. Meskipun ada dua manuskrip yang oleh pengikutnya dikaitkan dengan Syekh Burhanuddin dan disebut sebagai karya Syekh Burhanuddin, tetapi manuskrip ini hanyalah merupakan mukhtasar (ringkasan) dari beberapa kitab tasawuf yang disebut pada penutup manuskrip itu.
Pertama, manuskrip yang ditulis tangan oleh Syekh Burhanuddin sendiri yang oleh pengikutnya dinamakan dengan Kitab Tahqîq (Kitab Hakikat). Kitab aslinya masih tersimpan di tangan khalifah Syahril Luthan Tuanku Kuniang, khalifah yang ke-42, bertempat di Surau Syekh Burhanuddin, Tanjung Medan, Ulakan. Kitab yang ditulis dengan mengunakan bahasa Arab ini ditulis dengan tinta kanji dan kertas lama berwarna kuning, lebih tebal dari kertas biasa yang ada sekarang. Dilihat dari tulisan, tinta, dan kertas yang dipergunakan dapat diduga bahwa memang kitab ini sudah berusia sekitar 4 abad (zamannya Syekh Burhanuddin).
Satu hal yang menjadi catatan penting bahwa kitab Tahqîq tersebut tidak bisa dilihat oleh sembarang orang, dan juga tidak boleh dibawa keluar dari surau, karena hal itu merupakan amanah. Demikianlah seperti dikemukakan oleh khalifah yang memegang kitab ini. Pada bagian pendahuluan kitab Tahqîq, penulis dengan jelas menyatakan bahwa kitab ini (Mukhtasar) diringkaskan dari 20 (dua puluh) kitab tasawuf yang populer dan dipakai luas di lingkungan Mazhab Ahlussunnah wal Jamaah.
Kemudian kitab-kitab sumber tersebut oleh penulis dituliskan nama-namanya saja, seperti Kitab Tuhfah al-Mursalah ila ruhin Nabi, Kitab al-Ma`lumatt, Kitâb al-Jawahir al-Haqaiq, Kitab al-Mulahzhah, Kitab Khatimah, Kitab Fath al-Rahman, Kitab Maj al-Bahraiin, Kitab Mi`dan al-Asrar, Kitab Fusus al-Ma`rifah, Kitab Bayan al-Allah, Bahr al-Lahut, Asrar al-Shalah, Kitab al-Wahdah, Kitab Futuhat, Kitab Syarh al-Hikam, Kitab al-Asrar al-Insan, Kitab al-Anwar al-Haqaiq, Kitab al-Baitin, Kitab Tanbih al-Masyi’ dan Kitab Adab ‘Asyik wa Khalwat.
Memperhatikan kitab sumber yang dipakai oleh penulis kitab Tahqiq, dapat dipastikan bahwa kitab ini merupakan manuskrip tasawuf yang menjadi paham keagamaan yang dianut oleh penulisnya. Kedua, manuskrip tulisan tangan berbahasa Arab dan bahasa Arab Melayu terdiri dari lima kitab yang juga tidak dicantumkan nama penulisnya. Kitab ini lebih sedikit maju karena dicantumkan masa penulisannya. Pada bahagian akhirnya tertulis, Alhamdulilah tamatlah kitab ini ditulis pada hari Selasa bertepatan dengan tahun 1223 hijriah Nabi Muhamad SAW bersamaan dengan 1788 M.
Jelaslah bahwa kitab ini ditulis setelah satu abad Syekh Burhanuddin wafat. Kitab ini sekarang dipegang oleh Khalifah Syekh Burhanuddin yang berada di Sikabu, Ulakan melalui Tuanku Karimun, yaitu Tuanku Ali Bakri, Alumni S.1 Universitas Muhammadiyah Jakarta dan sekarang tinggal di Jakarta. Buku ini dapat dipinjamkan dan perlihatkan kepada pihak lain tanpa harus melalui tata cara ibadah zikir seperti buku Tahqiq yang dipegang Syahril Lutan Tuanku Kuniang tersebut di atas. Buku ini oleh khalifah yang lain termasuk oleh Tuanku Kuniang Syahril Luthan dikatakan ditulis oleh Syekh Abdurrahman, khalifah Syekh Burhanuddin ketiga, dan buku itu tidak lengkap dan bukan buku asli dari Syekh Burhanuddin.
Tuanku Ali Bakri yang memegang buku kedua saat ini menceritakan, bahwa buku ini diperolehnya dari gurunya yang bernama Tuanku Karimun Ulakan. Pada saat gurunya akan meninggal, ia berwasiat agar buku ini harus dipegang oleh orang yang tahu dengan kitab, maka Ali Bakri kemudian ditunjuk karena dialah murid sekaligus kemenakannya yang relatif bisa membaca kitab. Jadi, buku tersebut juga amanat yang mesti dijaga dan rasanya sulit untuk diserahkan kepada pihak lain.
Buku ini terdiri dari lima kitab yang digabung dalam satu buku yang cukup tebal dengan jumlah 315 halaman, diawali dengan pembukaan dan dilanjutkan dengan tulisan dalam bentuk esei panjang. Tiga dari kitab itu ditulis dengan menggunakan bahasa Arab murni dan dua yang lain ditulis dengan huruf Arab Melayu. Kitab pertama ditulis dengan bahasa Arab berisikan ringkasan dari Kitab Tanbih al-Masyi, buah karya Syekh Abdurrauf al-Sinkili ini dicantumkan secara jelas.
Empat kitab sesudahnya tidak diterangkan dari kitab apa diringkas dan siapa pengarangnya pun tidak dinukilkan. Dari isinya dapat ditangkap isyarat bahwa kitab ini jelas memiliki hubungan yang erat dengan kajian tasawuf, khususnya tarekat Syatthariyah. Misalnya pada kitab ketiga ada ungkapan yang menjelaskan hubungan murid dengan guru. Hubungan murid dengan guru itu laksana mayat di tangan orang yang memandikannya. Murid harus patuh terhadap semua perintah guru, kepatuhan murid pada guru itu haruslah ikhlas. (damanhuri)
Pariaman---Banyak kisah menarik yang dituturkan oleh pengikutnya tentang kemampuan Syekh Burhanuddin berinteraksi dalam suatu pergaulan yang memuaskan semua lapisan masyarakat tanpa canggung. Pendekatan sosial yang diterapkan beliau sangat efektif bagi masyarakat yang memang sudah mengalami kemajuan berpikir yang baik dan memadai dengan adat dan budaya yang dimiliki setiap orang Minang.
Dia menyampaikan Islam secara perlahan-lahan dan mencari persesuaian antara norma-norma agama dengan kultur masyarakat. Gerakkannya dalam penobatan gelar setiap pemegang kekuasaan agama dalam masyarakat adalah bentuk nyata dari usaha beliau ke arah harmonisasi hubungan di dalam masyarakat, bahkan sampai sekarang kesan positifnya masih dirasakan.
Hasil dari gerakkan tersebut terlihat dari tumbuhnya ratusan ulama (imam, khatib, labai dan tuanku) yang akhirnya memberikan corak tersendiri bagi struktur budaya dan kultural, serta nuansa Islam di Minangkabau. Gerakkan ini sekaligus mendorong timbulnya beratus-ratus ribu surau, masjid dan rumah ibadah. Dan kemudian institusi ini menjadi cikal bakal dari lembaga pendidikan Islam dan kajian ke-Islaman lainnya di bawah pimpinan ulama. Hampir setiap Jorong, (sekarang dusun), Desa (dulu korong), dan Nagari memiliki surau berikut dengan ulama yang memimpinnya.
Paham dan Karya Syekh Burhanuddin
Seperti telah dijelaskan sebelumnya, jaringan intelektual Syekh Burhanuddin sejak dari guru pertamanya; Syekh Abdullah Arif (lebih populer dengan panggilan Syekh Madinah) di Tapakis Ulakan sampai belajar dengan Syekh Abdurrauf di Aceh masih berasal dari rumpun yang sama. Kedua guru ini sama-sama belajar dengan Syekh Ahmad Qusyasi di Madinah. Ulama Madinah ini merupakan tokoh yang menjadi sentral dalam jaringan Ulama Nusantara pada abad ke-17 dan ke-18 M. Sebab memalui Ahmad Qusyasilah para ulama nusantara menemukan warisan intelektual Islam Fiqh, Tafsîr, tak terkecuali juga tasawuf baik yang sudah melembaga menjadi tarekat, maupun yang masih menjadi anutan dari pribadi muslim.
Satu di antara murid Ahmad Qusyasi yang dikenal luas dalam jaringan ulama nusantara, adalah Abdurrauf al-Sinkili. Nama lengkapnya Amin al-Din Abdurrauf bin ‘Ali al-Jawi al-Fansuri al-Sinkili. Ia lahir diperkirakan sekitar tahun 1024/1615 M. disebuah kota kecil di pantai Barat pulau Sumatra. Ia berasal dari keluarga ulama, ayahnya Syekh al-Fansuri adalah seorang Arab yang mengawini seorang wanita setempat dari Fansur (Barus) dan bertempat tinggal di Singkil, di mana Abdurrauf dilahirkan.
Sistem dan pola pemikiran Syekh Burhanuddin tidak dapat ditunjukkan secara konkrit, karena tulisannya yang dapat dijadikan acuan tidak ditemukan. Meskipun ada dua manuskrip yang oleh pengikutnya dikaitkan dengan Syekh Burhanuddin dan disebut sebagai karya Syekh Burhanuddin, tetapi manuskrip ini hanyalah merupakan mukhtasar (ringkasan) dari beberapa kitab tasawuf yang disebut pada penutup manuskrip itu.
Pertama, manuskrip yang ditulis tangan oleh Syekh Burhanuddin sendiri yang oleh pengikutnya dinamakan dengan Kitab Tahqîq (Kitab Hakikat). Kitab aslinya masih tersimpan di tangan khalifah Syahril Luthan Tuanku Kuniang, khalifah yang ke-42, bertempat di Surau Syekh Burhanuddin, Tanjung Medan, Ulakan. Kitab yang ditulis dengan mengunakan bahasa Arab ini ditulis dengan tinta kanji dan kertas lama berwarna kuning, lebih tebal dari kertas biasa yang ada sekarang. Dilihat dari tulisan, tinta, dan kertas yang dipergunakan dapat diduga bahwa memang kitab ini sudah berusia sekitar 4 abad (zamannya Syekh Burhanuddin).
Satu hal yang menjadi catatan penting bahwa kitab Tahqîq tersebut tidak bisa dilihat oleh sembarang orang, dan juga tidak boleh dibawa keluar dari surau, karena hal itu merupakan amanah. Demikianlah seperti dikemukakan oleh khalifah yang memegang kitab ini. Pada bagian pendahuluan kitab Tahqîq, penulis dengan jelas menyatakan bahwa kitab ini (Mukhtasar) diringkaskan dari 20 (dua puluh) kitab tasawuf yang populer dan dipakai luas di lingkungan Mazhab Ahlussunnah wal Jamaah.
Kemudian kitab-kitab sumber tersebut oleh penulis dituliskan nama-namanya saja, seperti Kitab Tuhfah al-Mursalah ila ruhin Nabi, Kitab al-Ma`lumatt, Kitâb al-Jawahir al-Haqaiq, Kitab al-Mulahzhah, Kitab Khatimah, Kitab Fath al-Rahman, Kitab Maj al-Bahraiin, Kitab Mi`dan al-Asrar, Kitab Fusus al-Ma`rifah, Kitab Bayan al-Allah, Bahr al-Lahut, Asrar al-Shalah, Kitab al-Wahdah, Kitab Futuhat, Kitab Syarh al-Hikam, Kitab al-Asrar al-Insan, Kitab al-Anwar al-Haqaiq, Kitab al-Baitin, Kitab Tanbih al-Masyi’ dan Kitab Adab ‘Asyik wa Khalwat.
Memperhatikan kitab sumber yang dipakai oleh penulis kitab Tahqiq, dapat dipastikan bahwa kitab ini merupakan manuskrip tasawuf yang menjadi paham keagamaan yang dianut oleh penulisnya. Kedua, manuskrip tulisan tangan berbahasa Arab dan bahasa Arab Melayu terdiri dari lima kitab yang juga tidak dicantumkan nama penulisnya. Kitab ini lebih sedikit maju karena dicantumkan masa penulisannya. Pada bahagian akhirnya tertulis, Alhamdulilah tamatlah kitab ini ditulis pada hari Selasa bertepatan dengan tahun 1223 hijriah Nabi Muhamad SAW bersamaan dengan 1788 M.
Jelaslah bahwa kitab ini ditulis setelah satu abad Syekh Burhanuddin wafat. Kitab ini sekarang dipegang oleh Khalifah Syekh Burhanuddin yang berada di Sikabu, Ulakan melalui Tuanku Karimun, yaitu Tuanku Ali Bakri, Alumni S.1 Universitas Muhammadiyah Jakarta dan sekarang tinggal di Jakarta. Buku ini dapat dipinjamkan dan perlihatkan kepada pihak lain tanpa harus melalui tata cara ibadah zikir seperti buku Tahqiq yang dipegang Syahril Lutan Tuanku Kuniang tersebut di atas. Buku ini oleh khalifah yang lain termasuk oleh Tuanku Kuniang Syahril Luthan dikatakan ditulis oleh Syekh Abdurrahman, khalifah Syekh Burhanuddin ketiga, dan buku itu tidak lengkap dan bukan buku asli dari Syekh Burhanuddin.
Tuanku Ali Bakri yang memegang buku kedua saat ini menceritakan, bahwa buku ini diperolehnya dari gurunya yang bernama Tuanku Karimun Ulakan. Pada saat gurunya akan meninggal, ia berwasiat agar buku ini harus dipegang oleh orang yang tahu dengan kitab, maka Ali Bakri kemudian ditunjuk karena dialah murid sekaligus kemenakannya yang relatif bisa membaca kitab. Jadi, buku tersebut juga amanat yang mesti dijaga dan rasanya sulit untuk diserahkan kepada pihak lain.
Buku ini terdiri dari lima kitab yang digabung dalam satu buku yang cukup tebal dengan jumlah 315 halaman, diawali dengan pembukaan dan dilanjutkan dengan tulisan dalam bentuk esei panjang. Tiga dari kitab itu ditulis dengan menggunakan bahasa Arab murni dan dua yang lain ditulis dengan huruf Arab Melayu. Kitab pertama ditulis dengan bahasa Arab berisikan ringkasan dari Kitab Tanbih al-Masyi, buah karya Syekh Abdurrauf al-Sinkili ini dicantumkan secara jelas.
Empat kitab sesudahnya tidak diterangkan dari kitab apa diringkas dan siapa pengarangnya pun tidak dinukilkan. Dari isinya dapat ditangkap isyarat bahwa kitab ini jelas memiliki hubungan yang erat dengan kajian tasawuf, khususnya tarekat Syatthariyah. Misalnya pada kitab ketiga ada ungkapan yang menjelaskan hubungan murid dengan guru. Hubungan murid dengan guru itu laksana mayat di tangan orang yang memandikannya. Murid harus patuh terhadap semua perintah guru, kepatuhan murid pada guru itu haruslah ikhlas. (damanhuri)
Perjuangan dan Gerakkan Dakwah Syekh Burhanuddin
Perjuangan dan Gerakkan Dakwah Syekh Burhanuddin
Pariaman, Singgalang
Berbicara tentang perjuangan Syekh Burhanuddin dalam Islamisasi di Minangkabau terlebih dahulu harus dipahami bagaimana perjalanan sejarah dakwah Islamiyah di ranah yang terkenal dengan adat dan istiadatnya yang bersandar pada alam takabambang jadi guru. Beberapa ahli dan penulis sejarah selalu mengklasifikasikan perkembangan Islam pada masyarakat Minangkabau menjadi dua tahapan.
Pertama, melalui saudagar Arab dan India yang berkunjung untuk berdagang rempah-rempah dengan orang-orang di pulau Sumatra. Pada umumnya mereka beragama Islam dan pada saat yang sama mereka juga memperkenalkan Islam kepada penduduk setempat. Mereka menyiarkan Islam belum lagi secara terencana, tetapi masih bersifat perseorangan dengan cara sembunyi-sembunyi.
Kedua, melalui pengaruh kerajaan Aceh yang memiliki pengaruh cukup luas di daerah pesisir barat pulau Sumatra. Tak terkecuali daerah Minangkabau, daerah yang mendapat pengaruh langsung dari Aceh, misalnya Pelabuhan Laut Tiku, Pariaman, Padang, dan Pesisir Selatan. Pengaruh kerajaan Aceh ini telah terjadi jauh sebelum Syekh Burhanuddin berkunjung untuk belajar ke Aceh. Sebab, kejayaan Aceh telah ada sebelum kedatangan Syekh Burhanuddin belajar kepada Syekh Abdurrauf.
Amir Azli dalam tulisannya yang berjudul, 'Pariaman Erat dengan Aceh Diperkirakan Berusia 420 Tahun' dalam Harian Haluan, Kamis 16 Januari 1992 mengungkapkan bahwa Pariaman dalam kajian sejarah sekurang-kurangnya mempunyai tiga peranan penting pada zaman dahulu.
Pertama, sebagai basis kekuatan militer, kedua sebagai pusat perdagangan dan ketiga sebagai pusat pengembangan agama Islam di pesisir pantai barat Sumatra.
Sebagai bagian dari basis kekuatan armada laut, kenyataan sejarah telah membuktikan bahwa ketika Aceh menyerang Portugis pada bulan Oktober 1556 M (di masa pemerintahan Sultan al-Kahhar) mengalami ketidak-berhasilan, maka putra Husein kemudian bergelar Sultan Ria’yat Syah meminta bantuan ke Pariaman, yang ketika itu diperintah oleh Sultan Sri Alam. Setelah ia wafat diganti oleh Zainal Abidin yang juga terbunuh tanggal 5 Oktober 1579 M.
Kemudian A.I.Mc.Gregor yang mengutip 'Vida de Mathias de Albuer-querquer' dalam buku Seaflight near singapore in the 1570’s menyebutkan bahwa tanggal 1 Januari 1577 M telah terjadi pertempuran antara armada Aceh yang dipimpin oleh Laksamana Serimaharaja berkekuatan 10.000 prajurit dan banyak meriam dengan Portugis di Selat Malaka. Pada pertempuran tersebut ikut juga Raja Ali Ria’yat Syah dari Pariaman. Diberitakan, pihak Portugis mempunyai 12 kapal perang, 1 batalion, 2 geleses, 3 geliot dan 3 briganyines.
Pariaman sebagai pusat perdagangan rempah-rempah menurut catatan dan laporan dari pelaut Inggris Sir James Lancaster bahwa penghormatan yang diterimanya dari Raja Aceh adalah sangat memuaskan, sebagai tanda bahwa orang Aceh adalah orang sopan dan suka pada tamu. Penghormatan ini dilakukan dengan memberikan jamuan yang terhidang dari bejana emas.
Selain itu, Sir Jame Lancaster pernah meminta kesempatan untuk membeli langsung lada ke Pariaman. Ia minta agar Sultan memberinya surat untuk dibawa ke Pariaman dengan mengunakan kapal Susanna. Surat tersebut masih tersimpan dalam Boendalan Library Oxford, bernomor M.S e.4 ditandatangani dan dicap dengan huruf Arab; Assultan Alauddinsyah Bin Firman.
Sedangkan peranan Pariaman sebagai pusat pengembangan agama Islam dapat disimak dari tulisan DR. Schrieke dengan judul, 'Atjehasche Invioed was dan ook niet te onderschatien'. Pengaruh Aceh di pantai barat tidaklah dapat dipandang kecil. Daghregister 1661, 1663 dan 1664 M mencatat pengaruh itu di beberapa tempat, diantaranya jelas di Pariaman, Pauah, dan Ulakan yang merupakan pusat pengembangan agama Islam.
Hampir semua penulis sejarah sepakat, bahwa masuk dan berkembangnya Islam di Minangkabau melukiskan betapa pesisir barat Minangkabau seperti Tiku, Pariaman sampai Indrapura telah berada dibawah pengaruh Aceh sejak masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M) yang pada waktu itu mencapai puncak kejayaannya dengan menguasai pantai Sumatra dari barat sampai ke timur.
Dari penjelasan sejarah di atas dapat dicatat, bahwa jauh sebelum kedatangan Syekh Burhanuddin ke Ulakan, pengaruh Aceh bersamaan dengan pengembangan Agama Islam sudah berjalan juga, meskipun itu baru sebatas masyarakat pedagang dan orang-orang pesisir pantai saja.
Sedangkan dalam catatan H.B.M Leter, Pono yang kemudian namanya diganti oleh Syekh Abdurrauf dengan Burhanuddin baru pulang ke Minangkabau tepatnya ke Ulakan pada tahun 1069 H/1649 M pada masa pemerintahan Aceh di bawah Raja Sultanah Tajul Alam Safyatuddin (1641-1675 M).
Dalam kondisi keagamaan sudah mulai terbentuk di Ulakan, Syekh Burhanuddin memulai perjuangannya menegakkan Islam melalui pendekatan persuasif dengan menggunakan lembaga surau yang didirikan oleh sahabatnya; Idris Khatib Majolelo di Tanjung Medan.
Perjuangan Syekh Burhanuddin dalam mengembangkan Islam melalui surau dibantu oleh empat orang teman dekatnya, yang dulu sama-sama belajar dengannya di Aceh. Keempat orang inipun dibuatkan pula surau untuk mempercepat proses pendidikan dan penyebaran Islam bagi masyarakat sekitarnya.
Kegigihan Syekh Burhanuddin dalam menyebarkan Islam di tengah masyarakat yang masih buta agama menjadi buah bibir dan catatan sejarah bagi pengikutnya dikemudian hari. Ada beberapa cara yang ditempuh Syekh Burhanuddin dalam meneruskan perjuangan agama bagi masyarakat; pertama, mengislamkan anak-anak dan remaja melalui permainan anak nagari yang masyhur dikala itu, antara lain main kelereng, gundu, main patuk lele (terbuat dari kayu yang dipukul dalam sebuah lobang, kemudian dilempar lagi untuk masuk ke lobang tersebut), dan main layang-layang.
Setiap kali main, Burhanuddin selalu menang dan akhirnya pemuda bertanya bagaimana caranya beliau main, sehingga selalu menang. Burhanuddin menjelaskan dengan membaca bismillah setiap akan main. Melalui permainan ini ia diterima oleh anak-anak dan remaja atau pemuda dan pada gilirannya mereka inilah yang mengajak orangtuanya masing-masing untuk belajar ke surau. Karena memang surau dalam tradisi di Minangkabau, bahkan sampai saat ini masih berfungsi utuh sebagai pusat pembinaan pemuda sekaligus tempat tidur mereka.
Kedua, mengikuti permainan anak nagari, seperti main layang-layang dan main lainnya dengan tidak merusak nilai-nilai agama yang dimilikinya. Melalui permainan itu ia dapat memasuki semua lapisan masyarakat tanpa mengalami kesulitan yang berarti. Demikian sekilas catatan yang disampaikan oleh Prof. Duski Samad, dalam seminar sehari tentang Syekh Burhanuddin, beberapa waktu lalu di Pariaman. (525)
Pariaman, Singgalang
Berbicara tentang perjuangan Syekh Burhanuddin dalam Islamisasi di Minangkabau terlebih dahulu harus dipahami bagaimana perjalanan sejarah dakwah Islamiyah di ranah yang terkenal dengan adat dan istiadatnya yang bersandar pada alam takabambang jadi guru. Beberapa ahli dan penulis sejarah selalu mengklasifikasikan perkembangan Islam pada masyarakat Minangkabau menjadi dua tahapan.
Pertama, melalui saudagar Arab dan India yang berkunjung untuk berdagang rempah-rempah dengan orang-orang di pulau Sumatra. Pada umumnya mereka beragama Islam dan pada saat yang sama mereka juga memperkenalkan Islam kepada penduduk setempat. Mereka menyiarkan Islam belum lagi secara terencana, tetapi masih bersifat perseorangan dengan cara sembunyi-sembunyi.
Kedua, melalui pengaruh kerajaan Aceh yang memiliki pengaruh cukup luas di daerah pesisir barat pulau Sumatra. Tak terkecuali daerah Minangkabau, daerah yang mendapat pengaruh langsung dari Aceh, misalnya Pelabuhan Laut Tiku, Pariaman, Padang, dan Pesisir Selatan. Pengaruh kerajaan Aceh ini telah terjadi jauh sebelum Syekh Burhanuddin berkunjung untuk belajar ke Aceh. Sebab, kejayaan Aceh telah ada sebelum kedatangan Syekh Burhanuddin belajar kepada Syekh Abdurrauf.
Amir Azli dalam tulisannya yang berjudul, 'Pariaman Erat dengan Aceh Diperkirakan Berusia 420 Tahun' dalam Harian Haluan, Kamis 16 Januari 1992 mengungkapkan bahwa Pariaman dalam kajian sejarah sekurang-kurangnya mempunyai tiga peranan penting pada zaman dahulu.
Pertama, sebagai basis kekuatan militer, kedua sebagai pusat perdagangan dan ketiga sebagai pusat pengembangan agama Islam di pesisir pantai barat Sumatra.
Sebagai bagian dari basis kekuatan armada laut, kenyataan sejarah telah membuktikan bahwa ketika Aceh menyerang Portugis pada bulan Oktober 1556 M (di masa pemerintahan Sultan al-Kahhar) mengalami ketidak-berhasilan, maka putra Husein kemudian bergelar Sultan Ria’yat Syah meminta bantuan ke Pariaman, yang ketika itu diperintah oleh Sultan Sri Alam. Setelah ia wafat diganti oleh Zainal Abidin yang juga terbunuh tanggal 5 Oktober 1579 M.
Kemudian A.I.Mc.Gregor yang mengutip 'Vida de Mathias de Albuer-querquer' dalam buku Seaflight near singapore in the 1570’s menyebutkan bahwa tanggal 1 Januari 1577 M telah terjadi pertempuran antara armada Aceh yang dipimpin oleh Laksamana Serimaharaja berkekuatan 10.000 prajurit dan banyak meriam dengan Portugis di Selat Malaka. Pada pertempuran tersebut ikut juga Raja Ali Ria’yat Syah dari Pariaman. Diberitakan, pihak Portugis mempunyai 12 kapal perang, 1 batalion, 2 geleses, 3 geliot dan 3 briganyines.
Pariaman sebagai pusat perdagangan rempah-rempah menurut catatan dan laporan dari pelaut Inggris Sir James Lancaster bahwa penghormatan yang diterimanya dari Raja Aceh adalah sangat memuaskan, sebagai tanda bahwa orang Aceh adalah orang sopan dan suka pada tamu. Penghormatan ini dilakukan dengan memberikan jamuan yang terhidang dari bejana emas.
Selain itu, Sir Jame Lancaster pernah meminta kesempatan untuk membeli langsung lada ke Pariaman. Ia minta agar Sultan memberinya surat untuk dibawa ke Pariaman dengan mengunakan kapal Susanna. Surat tersebut masih tersimpan dalam Boendalan Library Oxford, bernomor M.S e.4 ditandatangani dan dicap dengan huruf Arab; Assultan Alauddinsyah Bin Firman.
Sedangkan peranan Pariaman sebagai pusat pengembangan agama Islam dapat disimak dari tulisan DR. Schrieke dengan judul, 'Atjehasche Invioed was dan ook niet te onderschatien'. Pengaruh Aceh di pantai barat tidaklah dapat dipandang kecil. Daghregister 1661, 1663 dan 1664 M mencatat pengaruh itu di beberapa tempat, diantaranya jelas di Pariaman, Pauah, dan Ulakan yang merupakan pusat pengembangan agama Islam.
Hampir semua penulis sejarah sepakat, bahwa masuk dan berkembangnya Islam di Minangkabau melukiskan betapa pesisir barat Minangkabau seperti Tiku, Pariaman sampai Indrapura telah berada dibawah pengaruh Aceh sejak masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M) yang pada waktu itu mencapai puncak kejayaannya dengan menguasai pantai Sumatra dari barat sampai ke timur.
Dari penjelasan sejarah di atas dapat dicatat, bahwa jauh sebelum kedatangan Syekh Burhanuddin ke Ulakan, pengaruh Aceh bersamaan dengan pengembangan Agama Islam sudah berjalan juga, meskipun itu baru sebatas masyarakat pedagang dan orang-orang pesisir pantai saja.
Sedangkan dalam catatan H.B.M Leter, Pono yang kemudian namanya diganti oleh Syekh Abdurrauf dengan Burhanuddin baru pulang ke Minangkabau tepatnya ke Ulakan pada tahun 1069 H/1649 M pada masa pemerintahan Aceh di bawah Raja Sultanah Tajul Alam Safyatuddin (1641-1675 M).
Dalam kondisi keagamaan sudah mulai terbentuk di Ulakan, Syekh Burhanuddin memulai perjuangannya menegakkan Islam melalui pendekatan persuasif dengan menggunakan lembaga surau yang didirikan oleh sahabatnya; Idris Khatib Majolelo di Tanjung Medan.
Perjuangan Syekh Burhanuddin dalam mengembangkan Islam melalui surau dibantu oleh empat orang teman dekatnya, yang dulu sama-sama belajar dengannya di Aceh. Keempat orang inipun dibuatkan pula surau untuk mempercepat proses pendidikan dan penyebaran Islam bagi masyarakat sekitarnya.
Kegigihan Syekh Burhanuddin dalam menyebarkan Islam di tengah masyarakat yang masih buta agama menjadi buah bibir dan catatan sejarah bagi pengikutnya dikemudian hari. Ada beberapa cara yang ditempuh Syekh Burhanuddin dalam meneruskan perjuangan agama bagi masyarakat; pertama, mengislamkan anak-anak dan remaja melalui permainan anak nagari yang masyhur dikala itu, antara lain main kelereng, gundu, main patuk lele (terbuat dari kayu yang dipukul dalam sebuah lobang, kemudian dilempar lagi untuk masuk ke lobang tersebut), dan main layang-layang.
Setiap kali main, Burhanuddin selalu menang dan akhirnya pemuda bertanya bagaimana caranya beliau main, sehingga selalu menang. Burhanuddin menjelaskan dengan membaca bismillah setiap akan main. Melalui permainan ini ia diterima oleh anak-anak dan remaja atau pemuda dan pada gilirannya mereka inilah yang mengajak orangtuanya masing-masing untuk belajar ke surau. Karena memang surau dalam tradisi di Minangkabau, bahkan sampai saat ini masih berfungsi utuh sebagai pusat pembinaan pemuda sekaligus tempat tidur mereka.
Kedua, mengikuti permainan anak nagari, seperti main layang-layang dan main lainnya dengan tidak merusak nilai-nilai agama yang dimilikinya. Melalui permainan itu ia dapat memasuki semua lapisan masyarakat tanpa mengalami kesulitan yang berarti. Demikian sekilas catatan yang disampaikan oleh Prof. Duski Samad, dalam seminar sehari tentang Syekh Burhanuddin, beberapa waktu lalu di Pariaman. (525)
Kamis, 14 Juni 2012
Hari Ini Setoran Terakhir di IAIN
Rini dan M. Hade Terkendala Uang Masuk
VII Koto---Rini Putri Handayani lulus sebagai mahasiswa undangan di IAIN Imam Bonjol Padang. Dia satu dari 13 siswa SMA N 1 Kecamatan VII Koto Sungai Sariak, Padang Pariaman yang dapat kesempatan itu. Namun, hingga ini hari anak nomor 8 dari 11 bersaudara, buah hati pasangan Yusmanidar dan Azhar ini masih belum bisa memutuskan, apa jadi masuk atau tidak ke perguruan tinggi agama tersebut. Orangtuanya tak mampu untu itu.
Dari sebanyak itu dia beradik kakak, hanya dia satu-satu dapat kesempatan mahasiswa undangan. Selebihnya, kebanyakan kakaknya paling tinggi hanya tamat SMA lalu berhenti, dan beralih pada tugas lain. Kalau kakaknya yang perempuan, yang dikawinkan oleh orangtuanya. Perempuan cantik kelahiran 1993 di Toboh Mandahiliang, Nagari Balah Aie ini sangat ingin kuliah. Batas akhir yang harus dia penuhi untuk masuk IAIN hari ini, Kamis (7/6). Dia harus membayar uang masuk Rp2 juta. Wali kelasnya sangat menganjurkan untuk mengusahakan uang masuk demikian.
Tetapi, bagi kedua orangtuanya yang hanya sebagai petani kampung dan ibu rumah tangga ini, uang sebanyak itu sangat besar sekali artinya. Untuk itu pula orantuanya tak memberikan jawaban apa-apa. Sebenarnya, kedua orangtuanya pun sangat ingin pula anak gadisnya itu bisa kuliah. Apalagi, dari sekian banyak anaknya, Rini Putri Handayani lah yang mampu menembus perguruan tinggi tanpa tes pula. Dia lulus pada Fakultas Tarbiyah. Kesempatan itu sesuai dengan cita-citanya yang ingin jadi orang berguna bagi masyarakat. Sebab, kalau telah jadi guru adalah profesi yang bermanfaat bagi banyak orang. Rini ingin jadi orang yang berhasil dalam segala hal. Untuk itu, sejak sekolah SD hingga SMA anak yang satu ini selalu dapat nilai terbaik, dan acapkali tampil sebagai juara kelas.
M. Hade Jamil
Anak nomor satu dari tujuh bersaudara ini juga dapat mahasiswa undangan ke IAIN Imam Bonjol Padang. Dia juga lulusan terbaik SMA N 1 VII Koto Sungai Sariak yang berasal dari kelaurga miskin. Lulus pada Fakultas Syariah, jurusan Manajemen Perbankan Islam. Ayahnya, Raidin Tuanku Andah dan ibunya Sari Bani telah memberikan ultimatum kepadanya. 'Kalau tidak ada beasiswa, tak mungkin ada biaya untuk kuliah', itu kata-kata ayahnya, yang dia terima ketika menyampaikan adanya kesempatan dapat sebagai mahasiswa undangan demikian.
Namun, Hade diminta oleh guru dan Kepala Sekolah tempat dia lulus untuk mengusahakan uang masuk Rp2 juta. sangat disayangkan kesempatan emas ini terputus begitu saja. Bagi kedua orangtuanya, Hade anak jolong gadang. Dari tujuh bersaudara, hanya dia nomor satu yang menyelesaikan pendidikan SMA, karena dia anak tertua. Ada enam lagi adiknya yang harus dibiayai oleh ibu bapaknya, yang saat ini masih sekolah semua.
Disamping sebagai petani kampung, ayah M. Hade Jamil juga sebagai juru dakwah. Berkeliling dari satu surau ke surau lainnya, memberikan siraman rohani kepada masyarakat banyak. Ibunya hanya sebagai pekerja rumah tangga, yang banyak menunggu dari suaminya.
Baik M. Hade Jamil, maupun Rini Putri Handayani adalah anak-anak masa depannya yang cukup bagus. Mereka butuh bimbingan banyak orang. Kemarin, mereka datang ke Ketua Komite SMA N 1 VII Koto Sungai Sariak; Jonifriadi. Mereka minta bantuan, memcarikan jalan keluar yang terbaik agar bisa kuliah. Tahap awal, ya untuk uang masuk Rp2 juta. Oleh Jonifriadi yang juga Walinagari Balah Aie dihubungilah Singgalang, membicarakan hal itu lebih lanjut.
"Kita sangat berharap, pada detik terakhir ini Rini Putri Handayani dan M. Hade Jamil mampu menembus perguruan tinggi yang telah memberikan kesempatan kepada mereka. Kita hanya mampu menolong dengan doa, dan minta agar bisa kuliah. Besar harapan kita kepada hamba Allah yang mau menyumbangkan kekayaannya untuk hal ini," harap Jonifriadi. (damanhuri)
Rini dan M. Hade Terkendala Uang Masuk
VII Koto---Rini Putri Handayani lulus sebagai mahasiswa undangan di IAIN Imam Bonjol Padang. Dia satu dari 13 siswa SMA N 1 Kecamatan VII Koto Sungai Sariak, Padang Pariaman yang dapat kesempatan itu. Namun, hingga ini hari anak nomor 8 dari 11 bersaudara, buah hati pasangan Yusmanidar dan Azhar ini masih belum bisa memutuskan, apa jadi masuk atau tidak ke perguruan tinggi agama tersebut. Orangtuanya tak mampu untu itu.
Dari sebanyak itu dia beradik kakak, hanya dia satu-satu dapat kesempatan mahasiswa undangan. Selebihnya, kebanyakan kakaknya paling tinggi hanya tamat SMA lalu berhenti, dan beralih pada tugas lain. Kalau kakaknya yang perempuan, yang dikawinkan oleh orangtuanya. Perempuan cantik kelahiran 1993 di Toboh Mandahiliang, Nagari Balah Aie ini sangat ingin kuliah. Batas akhir yang harus dia penuhi untuk masuk IAIN hari ini, Kamis (7/6). Dia harus membayar uang masuk Rp2 juta. Wali kelasnya sangat menganjurkan untuk mengusahakan uang masuk demikian.
Tetapi, bagi kedua orangtuanya yang hanya sebagai petani kampung dan ibu rumah tangga ini, uang sebanyak itu sangat besar sekali artinya. Untuk itu pula orantuanya tak memberikan jawaban apa-apa. Sebenarnya, kedua orangtuanya pun sangat ingin pula anak gadisnya itu bisa kuliah. Apalagi, dari sekian banyak anaknya, Rini Putri Handayani lah yang mampu menembus perguruan tinggi tanpa tes pula. Dia lulus pada Fakultas Tarbiyah. Kesempatan itu sesuai dengan cita-citanya yang ingin jadi orang berguna bagi masyarakat. Sebab, kalau telah jadi guru adalah profesi yang bermanfaat bagi banyak orang. Rini ingin jadi orang yang berhasil dalam segala hal. Untuk itu, sejak sekolah SD hingga SMA anak yang satu ini selalu dapat nilai terbaik, dan acapkali tampil sebagai juara kelas.
M. Hade Jamil
Anak nomor satu dari tujuh bersaudara ini juga dapat mahasiswa undangan ke IAIN Imam Bonjol Padang. Dia juga lulusan terbaik SMA N 1 VII Koto Sungai Sariak yang berasal dari kelaurga miskin. Lulus pada Fakultas Syariah, jurusan Manajemen Perbankan Islam. Ayahnya, Raidin Tuanku Andah dan ibunya Sari Bani telah memberikan ultimatum kepadanya. 'Kalau tidak ada beasiswa, tak mungkin ada biaya untuk kuliah', itu kata-kata ayahnya, yang dia terima ketika menyampaikan adanya kesempatan dapat sebagai mahasiswa undangan demikian.
Namun, Hade diminta oleh guru dan Kepala Sekolah tempat dia lulus untuk mengusahakan uang masuk Rp2 juta. sangat disayangkan kesempatan emas ini terputus begitu saja. Bagi kedua orangtuanya, Hade anak jolong gadang. Dari tujuh bersaudara, hanya dia nomor satu yang menyelesaikan pendidikan SMA, karena dia anak tertua. Ada enam lagi adiknya yang harus dibiayai oleh ibu bapaknya, yang saat ini masih sekolah semua.
Disamping sebagai petani kampung, ayah M. Hade Jamil juga sebagai juru dakwah. Berkeliling dari satu surau ke surau lainnya, memberikan siraman rohani kepada masyarakat banyak. Ibunya hanya sebagai pekerja rumah tangga, yang banyak menunggu dari suaminya.
Baik M. Hade Jamil, maupun Rini Putri Handayani adalah anak-anak masa depannya yang cukup bagus. Mereka butuh bimbingan banyak orang. Kemarin, mereka datang ke Ketua Komite SMA N 1 VII Koto Sungai Sariak; Jonifriadi. Mereka minta bantuan, memcarikan jalan keluar yang terbaik agar bisa kuliah. Tahap awal, ya untuk uang masuk Rp2 juta. Oleh Jonifriadi yang juga Walinagari Balah Aie dihubungilah Singgalang, membicarakan hal itu lebih lanjut.
"Kita sangat berharap, pada detik terakhir ini Rini Putri Handayani dan M. Hade Jamil mampu menembus perguruan tinggi yang telah memberikan kesempatan kepada mereka. Kita hanya mampu menolong dengan doa, dan minta agar bisa kuliah. Besar harapan kita kepada hamba Allah yang mau menyumbangkan kekayaannya untuk hal ini," harap Jonifriadi. (damanhuri)
Yusni, tak Kemana Batenggang Awak Kanker, Motor Ditarik Dealer
Yusni, tak Kemana Batenggang
Awak Kanker, Motor Ditarik Dealer
Ketaping---Yusni, 38, terserang penyakit kanker rahim akut. Keluarga miskin itu telah dua tahun menjalani penyakit demkikian. Penyakit tersebut telah menyerang keseluruh tubuhnya. Kini, kondisi ibu tiga putra-putri ini tak bisa lagi berjalan. Kaki dan tangannya semakin mengecil, sementara perutnya semakin membesar, bagaikan orang hamil sembilan bulan. Suaminya Rozi dapat kemalangan pula. Motor kredit yang diambilnya, lantaran menunggak tiga bulan telah ditarik pula oleh pihak dealer. Rozi pun tak lagi bisa mengojek, yang sebelumnya dengan hasil ojek itulah dia hidupi keluarganya.
Sejak sakit terasa berat, Yusni tinggal dirumah orangtuanya, di Korong Pauah, Kenagarian Ketaping, Kecamatan Batang Anai, Padang Pariaman. Dia tinggal bersama kakak perempuannya, Ernawati yang juga
punya anak yang masih kecil-kecil. Otomatis bertambah beratlah tanggungjawab Ernawati setiap harinya. Disamping membereskan seorang ibunya yang telah tua dan buta, juga membereskan adiknya, Yusni yang
mengalami penyakit mematikan itu. Untuk buang air besar dan kecil, Yusni harus melakukan ditempat pembaringannya.
Rabu lalu, pihak Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Padang Pariaman datang dan ikut memberikan bantuan buat Yusni. Kedatangan pejabat Pemkab itu diprakarsai oleh anggota dewan asal
Ketaping, Bagindo Rosman yang merasa prihatin melihat kondisi Yusni. Dinas Kesehatan menyerahkan uang Rp3,5 juta, dan Dinas Sosial juga memberikan bantuan. "Kita menyerahkan beras, sarden, indomie, minyak
goreng dan sejumlah peralatan dapur lainnya," kata Kepala Dinas Sosial, Anwar pada Singgalang.
Ernawati menceritakan, diawal penyakit demikian menyerang Yusni adalah datangnya pendarahan, berupa darah putih dan darah merah dari rahimnya. Sempat diobati ke RS Pusat M. Djamil Padang. "Ada tujuh kali
berulang-ulang kesana. Yusni tak sempat dirawat, karena tak punya biaya untuk itu. Dengan menggunakan Jamkesmas pun, Yusni tak bisa mendapatkan obat yang berkualitas. Sebab, kalau beli obat diluar, Jamkesmas tak laku," kata dia.
Setelah pendarahan itu selesai, Yusni hamil anaknya yang ke-4. Anak itu lahir dalam keadaan meninggal. Dan menurut bidan yang menanganinya, anak yang dikandung Yusni ternyata telah lama meninggalnya. Untungnya, sang ibu, Yusni bisa selamat dari maut. Sebab, kebanyakan hal demikian selalu membawa petaka juga buat ibu yang mengandung anak yang telah meninggal dalam kandungan tersebut. Nah, pasca melahirkan anak itulah, penyakit Yusni semakin menjadi-jadi, sampai dia tak lagi kuat untuk duduk dan berjalan. "Tapaso lah awak yang mahabehkan kotorannya yang keluar dipembaringannya," ungkap Ernawati sedih.
Anak Yusni yang paling besar, saat ini baru duduk dibangku kelas lima SD. Dia sekolah dengan biaya yang dibantu ala kadarnya dari mamak dan mandenya yang merasa prihatin melihat nasibnya itu. Apalagi
ayahnya, Rozi tak lagi bisa banyak bekerja, sejak motor ditarik pihak dialer yang memberikan kredit. Memang, dalam hitungan bisnis orang tak kenal rasa kekeluaragaan. Baru saja tiga bulan menunggak, motor
langsung ditarik.
Kini, Ernawati hanya bisa pasrah. Penyakit Yusni yang menurut dokter rumah sakit; kanker mulut rahim itu tak kemana lagi mau diobati. Kalau ke rumah sakit, ya tentu butuh pitih banyak. Sementara, keluarga sudah kehabisan usaha. Ketika bantuan datang dari Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial tiba, Ernawati merasa terenyuh dan terharu sekali. Dia menyampaikan terima kasih banyak kepada Rosman, anggota dewan yang
sebelumnya Kepala Desa Pauah, yang sangat peduli terhadap nasibnya.
"Sebagai perempuan, ambo tak kuat lagi untuk menghadapi ini. Sudahlah tiga putra-putrinya diselamatkan, dia juga diurusi, dan juga amak yang tak lagi bisa melihat, yang harus dibersihkan setiap harinya," ujarnya.
Ernawati merasa kewalahan, disamping beratnya penyakit adiknya, Yusni itu, yang bersangkutan juga susah untuk makan. Semakin hari perutnya semakin membesar yang membuat seisi rumah itu terus dirundung
kecemasan. (damanhuri)
Awak Kanker, Motor Ditarik Dealer
Ketaping---Yusni, 38, terserang penyakit kanker rahim akut. Keluarga miskin itu telah dua tahun menjalani penyakit demkikian. Penyakit tersebut telah menyerang keseluruh tubuhnya. Kini, kondisi ibu tiga putra-putri ini tak bisa lagi berjalan. Kaki dan tangannya semakin mengecil, sementara perutnya semakin membesar, bagaikan orang hamil sembilan bulan. Suaminya Rozi dapat kemalangan pula. Motor kredit yang diambilnya, lantaran menunggak tiga bulan telah ditarik pula oleh pihak dealer. Rozi pun tak lagi bisa mengojek, yang sebelumnya dengan hasil ojek itulah dia hidupi keluarganya.
Sejak sakit terasa berat, Yusni tinggal dirumah orangtuanya, di Korong Pauah, Kenagarian Ketaping, Kecamatan Batang Anai, Padang Pariaman. Dia tinggal bersama kakak perempuannya, Ernawati yang juga
punya anak yang masih kecil-kecil. Otomatis bertambah beratlah tanggungjawab Ernawati setiap harinya. Disamping membereskan seorang ibunya yang telah tua dan buta, juga membereskan adiknya, Yusni yang
mengalami penyakit mematikan itu. Untuk buang air besar dan kecil, Yusni harus melakukan ditempat pembaringannya.
Rabu lalu, pihak Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Padang Pariaman datang dan ikut memberikan bantuan buat Yusni. Kedatangan pejabat Pemkab itu diprakarsai oleh anggota dewan asal
Ketaping, Bagindo Rosman yang merasa prihatin melihat kondisi Yusni. Dinas Kesehatan menyerahkan uang Rp3,5 juta, dan Dinas Sosial juga memberikan bantuan. "Kita menyerahkan beras, sarden, indomie, minyak
goreng dan sejumlah peralatan dapur lainnya," kata Kepala Dinas Sosial, Anwar pada Singgalang.
Ernawati menceritakan, diawal penyakit demikian menyerang Yusni adalah datangnya pendarahan, berupa darah putih dan darah merah dari rahimnya. Sempat diobati ke RS Pusat M. Djamil Padang. "Ada tujuh kali
berulang-ulang kesana. Yusni tak sempat dirawat, karena tak punya biaya untuk itu. Dengan menggunakan Jamkesmas pun, Yusni tak bisa mendapatkan obat yang berkualitas. Sebab, kalau beli obat diluar, Jamkesmas tak laku," kata dia.
Setelah pendarahan itu selesai, Yusni hamil anaknya yang ke-4. Anak itu lahir dalam keadaan meninggal. Dan menurut bidan yang menanganinya, anak yang dikandung Yusni ternyata telah lama meninggalnya. Untungnya, sang ibu, Yusni bisa selamat dari maut. Sebab, kebanyakan hal demikian selalu membawa petaka juga buat ibu yang mengandung anak yang telah meninggal dalam kandungan tersebut. Nah, pasca melahirkan anak itulah, penyakit Yusni semakin menjadi-jadi, sampai dia tak lagi kuat untuk duduk dan berjalan. "Tapaso lah awak yang mahabehkan kotorannya yang keluar dipembaringannya," ungkap Ernawati sedih.
Anak Yusni yang paling besar, saat ini baru duduk dibangku kelas lima SD. Dia sekolah dengan biaya yang dibantu ala kadarnya dari mamak dan mandenya yang merasa prihatin melihat nasibnya itu. Apalagi
ayahnya, Rozi tak lagi bisa banyak bekerja, sejak motor ditarik pihak dialer yang memberikan kredit. Memang, dalam hitungan bisnis orang tak kenal rasa kekeluaragaan. Baru saja tiga bulan menunggak, motor
langsung ditarik.
Kini, Ernawati hanya bisa pasrah. Penyakit Yusni yang menurut dokter rumah sakit; kanker mulut rahim itu tak kemana lagi mau diobati. Kalau ke rumah sakit, ya tentu butuh pitih banyak. Sementara, keluarga sudah kehabisan usaha. Ketika bantuan datang dari Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial tiba, Ernawati merasa terenyuh dan terharu sekali. Dia menyampaikan terima kasih banyak kepada Rosman, anggota dewan yang
sebelumnya Kepala Desa Pauah, yang sangat peduli terhadap nasibnya.
"Sebagai perempuan, ambo tak kuat lagi untuk menghadapi ini. Sudahlah tiga putra-putrinya diselamatkan, dia juga diurusi, dan juga amak yang tak lagi bisa melihat, yang harus dibersihkan setiap harinya," ujarnya.
Ernawati merasa kewalahan, disamping beratnya penyakit adiknya, Yusni itu, yang bersangkutan juga susah untuk makan. Semakin hari perutnya semakin membesar yang membuat seisi rumah itu terus dirundung
kecemasan. (damanhuri)
Langganan:
Postingan (Atom)
